Sepotong Koran Minggu yang selalu terpampang di papan mading sekolah tak pernah luput dari pandanganku, berharap tiba-tiba ada namaku di sana. Seorang murid menyapaku lalu berdiri di sampingku sambil bertanya,
“Sedang baca apa, Bu?” Abil bertanya dengan sangat antusias.
“Rubrik Budaya, Abil, Ibu suka baca cerpen dan puisi yang terbit setiap hari Minggu di koran ini, bagus-bagus isinya.” jelasku kepadanya yang tampak serius mencari-cari rubrik yang kubaca.
“Oh, saya juga suka baca cerpen, Bu,” ucapnya polos.
“Wah, bagus itu, dengan membaca, pengetahuan kita akan bertambah,” Aku senang sekali ternyata dia senang membaca.
“Bu, kok bisa ya tulisan orang-orang itu dimuat di koran?” tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan yang mengingatkanku pada masa laluku.
“Ada caranya, Abil,” ucapku. Belum selesai aku menjelaskan, ia bertanya lagi.
“Apa Ibu pernah mengirim tulisan ke koran juga?” Aku terdiam lama tak langsung menjawab pertanyaannya.
Kala itu laptop masih jarang, komputer masih berlayar kuning. Aku duduk di depan komputer milik ayahku. Kubuka buku tulis berisi cerita. Ibu menghampiriku dan mengecek tugas-tugas sekolahku.
“Buk, Zuma izin ngetik cerita ini dulu ya, tugas-tugas sekolah sudah selesai dikerjakan.”
“Iya Zuma sayang, boleh saja, asalkan tugas utamamu sudah selesai.”
Saat itu, ibu mengusap kepalaku lalu menciumku. Aku semakin semangat dalam mengetik cerita panjang pertamaku ini. Cerita itu berjudul Friends Forevermore. Cerita itu tak pernah kutunjukkan pada orang lain, dan belum ada niatan untuk mengirimnya ke koran atau penerbit. Usiaku masih 12 tahun.
Ketika usia itu, aku memang suka menulis sesuatu di buku harian dan tak jarang kucoret-coret di buku pelajaran juga. Tak terhitung berapa buku harian yang sudah kupenuhi lembar demi lembarnya dengan tulisanku. Hingga aku tak menyangka hobiku itu nantinya bisa menghasilkan sebuah cerita utuh yang cukup panjang untuk disebut sebuah cerpen.
Entah sejak kapan aku menemukan ketertarikanku di dunia tulis-menulis. Sesuatu yang mencuri perhatianku selalu ingin kutulis. Aku terus menerus menulis, meskipun saat itu aku menyadari bahwa aku tidak ada bakat dari lahir atau bakat alam dalam dunia tulis-menulis.
Aku mulai menulis buku harian setelah aku melakukan perjalanan wisata bersama sahabat-sahabatku di sekolah dasar. Selama perjalanan wisata itu banyak sekali hal-hal yang berkesan. Karena aku adalah seorang pelupa, aku tak mau perjalanan wisata itu begitu saja hilang dari ingatanku. Akhirnya kuabadikan perjalanan wisata itu di sebuah tulisan. Sepertinya itulah tulisan pertamaku di buku harian.
Menulis tentang diri sendiri di buku harian membuatku semakin ketagihan untuk menulis. Aku pun mulai menuliskan kisah sahabat-sahabatku dan kujadikan kisahnya menjadi sebuah cerita pendek. Setelah berhasil membuat beberapa cerita pendek, kuputuskan untuk mengetik cerita itu di komputer.
Kugunakaan waktu luang untuk menulis dan mengetik cerita-cerita karanganku hingga lambat laun terciptalah kumpulan cerpen yang berserakan di meja dan rak buku. Tanpa kusadari, kumpulan cerpen yang berserakan itu memiliki satu tema yang sama, yaitu persahabatan. Setelah kupikir-pikir, cerita-ceritaku di masa remaja memang sangat kuat dalam mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan persahabatan.
Kurasa masuk akal jika tema persahabatan adalah karakter tulisanku pada masa itu, karena pada masa itu aku sedang menikmati masa-masa persahabatan: memiliki sahabat laki-laki dan perempuan yang gokil, unik, jail, baik, perhatian, dan segalanya. Dengan menjalin persahabatan dengan mereka, membuatku sadar bahwa persahabatan adalah hubungan terbaik dan terpenting kedua setelah keluarga.
Setelah kuketik ceritaku yang berjudul Friend Forevermore, aku kembali membuat cerita berjudul Shohibi Gibol. Ketika aku membuat cerita panjang yang kedua itu, aku merasakan kesenangan yang luar biasa dalam menulis karena bisa menuangkan apa yang diangan-angankan.
Shohibi Gibol, judul itu kubuat dengan uraian kata “Shohibi” berasal dari bahasa Arab yang artinya sahabatku, dan kata “Gibol” yang merupakan singkatan dari Gila Bola. Isi cerita itu bercerita tentang seorang perempuan yang hobi sepak bola bersama teman-temannya. Meskipun dia seorang perempuan dan sedang menjadi santriwati di sebuah pondok pesantren, hobi sepak bolanya itu tak bisa hilang darinya. Ia selalu ikut bergabung dengan santri laki-laki ketika mereka bermain sepak bola hingga tak jarang ia mendapat hukuman dari pengurus pondok.
Akhir cerita dari kisah Shohibi Gibol kutambahi dengan bumbu-bumbu cinta yang kudapatkan resepnya dari kisah teman-temanku. Setelah itu, kisah Shohibi Gibol kuketik di komputer seperti kisah Friend Forevermore. Jadilah dua cerita panjangku yang sudah berubah jadi file ketikan di komputer. Tetapi, sejauh ini, dua cerita panjangku itu maupun cerita-cerita pendek yang lain, belum ada satu pun yang dibaca orang lain, termasuk dibaca oleh keluargaku sendiri. Sejauh ini, aku hanya menulis untuk kesenanganku sendiri, aku merasa tak perlu orang lain untuk membaca tulisan-tulisanku.
Beranjak SMP, aku tetap menulis. Aku tetap menulis tentang persahabatan. Persahabatan yang kutulis masih tentang persahabatan di sekolah dasar karena di SMP ini aku belum menemukan sahabat-sahabat seperti di sekolah dasar dulu. Berpisah dengan sahabat-sahabat di sekolah dasar ternyata menambah tema dari tulisanku, yaitu tentang kerinduan.
“Zuma, coba tulisan-tulisanmu itu kamu suruh baca teman-temanmu, siapa tahu mereka suka dan bisa memberi masukan tentang tulisanmu itu.”
“Zuma tidak yakin, Bu,”
“Kamu harus mencobanya, sebuah karya itu jangan hanya disimpan untuk dinikmati sendiri, kamu perlu memberikannya pada para penikmatnya.”
“Ibu benar, Kak, sini aku yang pertama kali baca!” Ryan, adikku, tiba-tiba ingin membaca tulisanku.
“Halah kamu kan gak suka baca, Ryan, yang ada malah kamu ngejek tulisan Kakak,” Aku tak langsung setuju dengan ide Ryan.
“Terserah deh, berarti Kakak gak siap buat nerima penilaian dari orang lain, anggurin aja tulisan-tulisan itu biar dimakan rayap!”
Aku semakin terbawa emosi, hampir saja buku harianku melayang di kepalanya kalau saja ayah tidak datang untuk menenangkan kami berdua.
“Zuma, semua itu memang butuh proses, mungkin saat ini kamu cukup menulis untuk dirimu sendiri, tetapi suatu saat, jika kamu memang ingin jadi penulis yang sukses, kamu harus menulis untuk orang lain juga, agar tulisanmu itu bisa bermanfaat bagi orang lain.”
Aku termenung mendengar nasihat dari ayahku, ucapan adikku juga terngiang-ngiang di telingaku, serta semangat ibu membuatku kembali membuka lembaran cerita-ceritaku lalu membacanya lagi.
“Apa tulisanku ini perlu dibaca orang lain?” Aku membaca halaman berikutnya.
“Apa tulisanku ini sudah bisa dikatakan sebagai bagian dari karya sastra?” Aku membaca halaman berikutnya lebih cepat dari sebelumnya.
“Bagaimana ya pendapat orang lain terhadap tulisan ini?” Aku kembali membuka halaman awal.
“Apa tulisan ini layak dibaca orang lain?” Kuletakkan kembali tulisan itu di meja dan meninggalkannya tergeletak di sana.
Beberapa hari terombang-ambing oleh kebimbangan dan keraguan. Aku kembali menulis dan mengabaikan sejenak apa yang dipikirkan orang lain. Aku tetap fokus menulis untuk diriku sendiri.
Proses menulisku kali ini tak selancar biasanya, aku tak terlalu menikmati kata demi kata yang kutulis. Apakah ini disebabkan oleh diriku yang mulai berpikir tentang menulis untuk orang lain. Jika menulis untuk orang lain, aku harus memperhatikan kata demi kata yang kutulis, apakah berpotensi menyinggung orang lain atau tidak, apakah ini dan itu, apakah harus begini atau begitu. Maka aku butuh proses yang lama untuk bisa menyesuaikan itu.
Aku tidak bisa membayangkan jika tulisanku ini kelak akan berhadapan dengan khalayak ramai dan mereka berbondong-bondong memberi penilaian mereka kepadaku, apakah aku sanggup menerimanya, baik buruknya tulisanku di mata mereka. Akibat gejolak batin itu, karyaku selanjutnya ini baru selesai selama satu bulan. Biasanya aku hanya butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikan cerita panjangku.
Cerita panjangku yang ketiga berjudul Malaikat Penjaga Hati. Cerita itu berisi tentang empat bersaudara yang harus terpisah karena masalah keluarga. Sang kakak tinggal bersama kedua orang tuanya, sementara dua adiknya yang kembar dan adik terakhirnya harus dikirim ke pesantren yang berada di plosok desa. Mereka sengaja dikirim jauh ke pesantrean agar tidak terlibat dalam masalah keluarga yang begitu pelik. Identitas mereka di pesantren pun disamarkan agar tidak bisa dilacak oleh pihak yang berniat buruk kepada keluarga mereka.
Seperti cerita-cerita yang lain, cerita Malaikat Penjaga Hati juga kuketik di komputer. Pada ketikan ini, aku mulai hafal dengan letak abjad dalam keyboard sehingga lebih cepat dalam pengetikannya.
Berbeda dengan dua cerita sebelumnya, aku memutuskan untuk mencetak cerita ketiga ini. Setelah kuhitung lagi lembaran yang sudah tercetak ternyata jumlahnya 20 halaman. Iseng-iseng aku mendesain kover depannya supaya terlihat seperti buku sungguhan. Kemudian kupajang hasil cetakan itu di rak buku bersama buku bacaan yang lain.
Suatu hari seorang teman berkunjung ke rumah. Kebetulan ia hobi membaca buku, terutama buku fiksi. Jelas saja, niatnya berkunjung ke rumah adalah untuk meminjam buku-buku fiksi koleksiku. Kalau dia sudah membaca buku koleksiku, dia suka lupa waktu dan akhirnya menginap di rumahku. Dia satu-satunya teman dekatku yang suka membaca.
“Serius amat bacanya, Mel,” ucapku padanya. Sejak datang ke rumahku dan menemukan buku yang ia cari,, ia tak bicara sepatah kata pun denganku.
“Haha sori Lazuma, saking asiknya nih,” katanya sambil tertawa kecil.
“Ini camilannya sambil di makan ya, Mel,”
“Wah mantap nih, makasih Lazuma, kamu memang teman yang terbaik,”
“Hmm,” kupukul lengan Meli dengan bantal saking gemesnya.
“Eh, Lazuma, kamu gak ada niatan buat karya sendiri gitu, cerpen atau puisi, kalau kamu buat, aku mau kok jadi pembaca karyamu, aku akan beri nilai dan komentar buat karya-karyamu, mantap kan?” Tiba-tiba Meli menanyakan pertanyaan yang tak pernah aku duga-duga.
“Aku gak salah denger?”
“Seratus persen enggak salah, Lazuma, aku serius,”
“Ada sih,”
“Serius?”
“Tapi masih di angan-angan, haha,”
“Hmm,”
Entah mengapa aku malah menanggapi ucapan Meli seperti itu. Mengapa aku jadi tak mengatakan yang sejujurnya pada Meli, padahal itu adalah kesempatan untukku. Kesempatan agar karyaku bisa dibaca oleh orang lain.
Setelah percakapan itu, aku semakin bimbang. Berkali-kali aku melirik cetakan buku hasil karyaku yang tertata di rak buku. Aku pun berdebat dengan diri sendiri, antara memberi tahu karyaku pada Meli atau tetap menyimpannya untuk diri sendiri. Berdebatan itu tak kunjung selesai hingga malam hari tiba dan Meli hendak berpamitan pulang.
“Mel, kok cepet banget pulangnya, katanya mau nginap di sini? Emangnya udah selesai baca bukunya?” Aku terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan agar Meli ragu untuk pulang dan akhirnya menginap di rumahku. Karena jika Meli masih ada di rumahku, kesempatanku masih panjang.
“Aku sudah selesai bacanya kok Lazuma, aku pulang saja, nginapnya kapan-kapan aja, makasih banyak ya Lazuma,”
Rasanya aku masih ingin menahan langkah Meli agar tidak pergi, tetapi gejolak batin ini tak kunjung henti.
“Bagaimana kalau Meli tidak paham dengan ceritaku, bagaimana kalau kata-kataku banyak yang tidak nyambung, bagaimana kalau, kalau, kalau,”
Banyak sekali kalau yang muncul dalam benakku. Aku pun membiarkan Meli melangkah pergi dari rumah dan membiarkan karyaku tetap tak terbaca oleh orang lain. Akhirnya keraguanku menang atas diriku sendiri
“Ah sudahlah, kurasa memang tulisanku tak perlu dibaca oleh orang lain,”
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, hingga kubuka kembali buku cerita yang sudah kucetak. Apakah harus kuizinkan Meli untuk membaca karyaku ini. Apakah sudah waktunya kuberi ruang pada para pembaca untuk membaca karyaku, ah bukan hanya membaca tapi juga menikmati karyaku.
Tuhan, aku yakin Engkau bersamaku, aku pun selalu pasrahkan semuanya pada-Mu. Jika memang karya ini bisa bermanfaat bagi orang lain, maka lapangkanlah dadaku untuk mengizinkan karya ini dibaca oleh orang lain dan menerima semua komentar atau kritikan mereka setelah membaca karya ini.
Doa pun menjadi puncak kegelisahan dan kepasrahanku. Di lubuk hati paling dalam, sejujurnya, aku sangat ingin agar karyaku bisa dibaca orang lain. Aku ingin karyaku dinilai. Aku ingin tahu apakah karyaku baik atau buruk dan diterima atau tidak oleh masyarakat. Aku ingin bisa lebih dari biasanya, aku ingin tak hanya aku yang menikmati karyaku. Aku ingin menumpahkan segala perasaanku dan membaginya dengan orang lain lewat tulisan ini. Aku tak ingin karyaku kesepian. Aku ingin karyaku berbicara.
Aku ingin…….
Sebuah gagasan pamungkas akhirnya muncul secara tiba-tiba dan membuat keraguan serta kebimbanganku runtuh: Sebuah karya jangan hanya jadi artefak yang terpendam di tanah, sebuah karya harus dikenalkan, dipamerkan, atau dipublikasikan kepada para penikmatnya. Terlepas dari baik buruknya karya itu, itu hanya soal selera, biarkan mereka yang menilai. Yang terpenting kita bertanggung jawab atas karya-karya kita serta tulus ikhlas dalam menciptakannya.
***
Kuhampiri Meli dan kuberikan karyaku kepadanya. Rasanya kali ini berbeda dengan ketika pertama kali aku memberikan karyaku ke orang lain. Aku benar-benar ikhlas karyaku dibaca oleh orang lain. Apapun respon dan penilaiannya aku harus siap menerimanya.
“Ini karyamu sendiri, Lazuma?” tanya Meli dengan terkejut.
“Hehe iya, Mel,” jawabku malu.
“Katanya kemarin masih di angan-angan? Kamu ya bisa aja memendam bakatmu sendiri!”
“Aku gak memendam bakatku kok Mel, sampai sekarang aku tidak tahu apakah aku punya bakat dalam hal itu atau mungkin itu hanya sekadar hobiku saja yang mendatangkan kesenangan buatku. Oh ya, tolong dibaca ya Mel, dan aku minta pendapatmu setelah membacanya karena karya ini belum pernah dibaca oleh siapapun, kamulah yang pertama,” Jelasku pada Meli.
Meli tampak antusias mendengar penjelasanku. Kurasa dia juga senang menjadi orang pertama yang membaca dan menilai karyaku. Dia langsung membaca karyaku di kelas, untung saja saat itu sedang istirahat sekolah, ada waktu 30 menit untuk membaca karya itu.
“Kamu tidak mau beli jajanan dulu, Mel?”
“Tidak Lazuma, aku sudah sarapan tadi, aku mau membaca karyamu saja,”
Karyaku untuk pertama kalinya dibaca oleh orang lain, aku tak sabar untuk mendengar penilaian darinya. Setelah Meli, aku akan meminta keluargaku untuk membacanya juga. Maaf ya ayah, ibu, adik, kalian bukan yang pertama membaca karyaku, tapi terima kasih karena kalian sudah memberiku nasihat dan membuka mataku bahwa sebuah karya itu harus dinikmati oleh para penikmatnya, seperti karya seni rupa harus dinikmati para pengagumnya, karya seni musik harus dinikmati oleh para pendengarnya, karya seni drama atau teater harus dinikmati oleh para penonton, karya seni tulis harus dinikmati oleh para pembacanya, dan karya-karya seni lainnya yang harus dinikmati oleh para penikmat yang berbeda-beda.
Butuh waktu dua hari bagi Meli untuk menyelesaikan bacaannya dan memberi komentar tentangnya. Kurasa mungkin ini pertama kali juga Meli memberikan komentar dan penilaian sebuah karya langsung kepada penulisnya.
“Jadi, bagaimana Mel?” tanyaku sedikit memancingnya.
“ Iya iya, aku sudah selesai bacanya, dan komentarku adalah ….” Meli tak segera mengatakan komentarnya, aku jadi penasaran. Sepertinya dia sengaja ingin membuatku deg-degan karena ini pertama kalinya karyaku dibaca dan dikomentari orang lain.
“Bagaimana?” Aku tak sabar mendengarnya.
“Ini penilaian dan komentar dari kacamataku ya, jadi jangan tersinggung ya, Lazuma,”
“Oke aku siap,” Aku duduk di bangku depan Meli dan menghadap ke arahnya. Saat itu jam istirahat sekolah.
“Secara keseluruhan, cerita kamu bagus dan menarik, untuk pertama kalinya aku baca karyamu, aku tidak menyangka kalau kamu bisa menciptakan konflik serumit itu. Tapi, aku mau dengar klarifikasi kamu ya? “ jelas Meli.
“Klarifikasi bagaimana?”
“Aku mau tanya, apa bener kamu terinspirasi dari kisah di pondokku?”
“Kamu kok bisa punya pandangan seperti itu?”
“Karena di pondokku berada dalam satu lingkungan antara santri laki-laki dan perempuan, yang memisahkan hanya halaman pondok yang tidak terlalu luas, sama seperti yang ada di dalam ceritamu,”
“Emm iya sih, latarnya memang terinspirasi dari pondok kamu,” jelasku. Perasaanku mulai tidak enak, aku takut jika yang kutulis ternyata menyinggung golongan tertentu.
“Nah kan bener, tapi aku mau menegaskan sama kamu bahwa di pondokku meskipun santri laki-laki dan perempuan berada dalam satu lingkungan pondok, pergaulan kami pun tak sebebas itu, tak sebebas yang kau ceritakan dalam ceritamu, kami tahu batasan-batasan kami.”
Apa aku bilang, inilah yang akan aku terima jika karyaku dibaca orang lain. Yang aku takutkan selama ini telah terjadi: kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman itu terjadi pada pembaca pertamaku, bagaimana jika karyaku dibaca lebih banyak orang, bisa-bisa karyaku akan disobek-sobek atau dibakar oleh mereka.
Bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya tentang apa yang kutulis sebenarnya tidak mengarah ke sana, Tapi dia terlanjur salah paham.
“Ohh maaf sebelumnya, Meli, kamu salah paham dengan yang kutulis, sama sekali aku tak ada niatan ke arah situ, aku memang terinspirasi dari pondokmu, tapi yang kutulis bukan tentang pondokmu atau pondok yang lain, pondok itu hanya ada dalam ceritaku, seperti tentang pergaulannya, kamu lihat dulu isi cerita secara keseluruhan dan pahami maksudnya.”
Meli hanya diam sambil membolak-balik ceritaku, sepertinya dia sangat tersinggung. Akhirnya kulanjutkan lagi penjelasanku agar kesalahpahaman ini tak berlarut-larut.
“Oke maaf Meli kalau secara tidak langsung, aku sudah menyinggung perasaanmu, dan tentang pergaulan itu aku akan belajar lagi, mungkin saat ini aku memang melampaui batasku, terima kasih kamu sudah mau menegurku.”
“Aku tahu kok Lazuma, karena kamu masih pemula kan, gak papa, jadi pelajaran buat karyamu selanjutnya.”
Pembicaraan di antara kami berdua harus berakhir karena jam pelajaran sudah kembali dimulai. Setelah pembicaraan itu, di antara kami tidak ada yang membahas masalah karyaku lagi seolah-olah karyaku tak pernah tercipta dan Meli tak pernah membacanya. Kami fokus membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan tugas sekolah.
Sejak saat itu, aku tak pernah membuka karyaku yang sudah kucetak itu. Aku menyimpannya ke rak buku yang lebih dalam. Sama sekali aku tak ingin meliriknya, karya itu adalah kegagalanku. Karya itu adalah teguran keras bagiku bahwa selama ini aku belum menulis apapun, aku hanya sekadar mencurahkana isi hati dan pikiranku, aku tak memikirkan yang lain, termasuk perasaan dan pandangan pembaca. Selama ini aku hanya membuat karya yang gagal. Aku berhenti, aku tak berbakat di bidang tulis-menulis ini. Tulisanku hanya akan menyakiti orang lain. Lebih baik tulisan ini berakhir di tong sampah saja, lebih aman.
Ketika aku hendak membuang karya ini ke tong sampah, ibu datang dan langsung mencegahnya. Badanku pun lemas lalu terduduk layu.
“Zuma, seburuk apapun karya kita, jangan dibuang! Sama saja kamu tidak menerima penilaian dari orang lain, tetap simpan ini ya sayang, jadikan pembelajaran buatmu supaya karyamu nanti lebih baik dari ini.”
Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan ibu. Semua beban dalam pikiranku tumpah dalam uraian air mata. Komentar Meli masih saja menghantui pikiranku. Seberapa keras aku melupakannya, tetap tidak berhasil. Komentar Meli adalah cambukan terbesar dalam hidupku semenjak aku menyukai dunia tulis-menulis. Baru satu karya dan satu pembaca, tapi pengaruhnya seperti ini. Entah ada berapa Meli di depan sana yang sudah siap melahap karya-karyaku.
Sebuah karya ketika lepas dari tangan pengarangnya, dia akan hidup sebatang kara, dihujat atau dipuji orang lain, dia tetap berdiri sendiri sebagai sebuah karya. Seperti kata Mbah Pramoedya Ananta Toer, bahwa karya sastra adalah anak rohani dari pengarangnya, mereka punya sejarah sendiri-sendiri, dilepas dari pengarangnya (Pagunta GB Channel: 12/082015).
Aku mengurung diri selama beberapa hari di kamar. Keluargaku yang ada di rumah merasa serba salah denganku. Jujur, saat itu aku tidak bersemangat melakukan apapun. Aku merasa, saat itu adalah hari-hari terberat di masa remajaku, bukan karena putus cinta, tapi karena karyaku gagal.
Lalu adikku yang tak sabaran menghadapi masalah berkepanjangan pun angkat bicara, “Sudahlah Kak, jangan diambil hati begitu, itu hanya satu karya dari beberapa karya Kakak, belum tentu karya Kakak yang lain juga gagal, bisa jadi karya Kakak yang lain yang belum dibaca orang lain ternyata lebih bagus.”
“Ryan,”
Tiba-tiba Ryan mengambil pena dan buku tulis, kemudian memberikannya padaku.
“Iya aku serius, Kak, jangan berhenti menulis ya, meskipun aku tidak jamin akan jadi pembaca karya-karya Kakak, setidaknya aku ikut bangga jika suatu saat, Kakakku akan jadi penulis yang hebat, kalau kata ayah dan ibu jadi penulis yang bermanfaat.”
Kudekap erat pena dan buku tulis itu dalam pelukanku. Kulihat mata berbinar adikku yang penuh keyakinan. Lalu mengapa aku ragu? Hanya satu kerikil kecil apakah sudah menghentikan langkahku?
Berdamailah dengan kegagalan karena dibaliknya ada pelajaran. Teruslah berjalan karena langkah sekecil apapun akan mempengaruhi masa depan. Terkadang hidup rumit, tapi coba berpikir sederhana. Meski ekspektasi tak selalu sejalur dengan realita, jangan berhenti berusaha dan berdoa karena Tuhan bersama kita.
Setelah berdamai dengan diri sendiri, aku kembali menggoreskan tinta ke lembaran buku harianku. Tanganku rupanya masih kaku untuk sekadar menulis muqoddimah. Komentar Meli masih terngiang di telingaku. Sesekali aku menghentikan penaku untuk sejenak menguatkan dan menenangkan diri.
Butuh perjuangan yang cukup berat untuk menyelesaikan cerita panjangku selanjutnya, karena yang ada dalam pikiranku kini bukan hanya diriku sendiri, aku mulai memikirkan orang lain. Aku mulai memikirkan jika karyaku itu akan dibaca oleh orang lain. Semakin banyak pembaca, semakin banyak pula penilaian dan komentar yang beragam. Sepertinya seru sih, tapi apakah aku siap? Usiaku masih belasan tahun, apa aku bisa melaluinya?
Cerita panjang selanjutnya membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan. Akhirnya terciptalah cerita panjang berjudul Persahabatan di Atas Kursi Roda. Sedikit berbeda dengan cerita panjangku yang lain, cerita kali ini langsung kuketik di komputer tanpa kutulis terlebih dahulu di kertas. Hal itu terjadi karena setiap aku memegang pena dan hendak menulis, aku selalu berhenti dan kehilangan kata-kata untuk ditulis. Berkat saran dari keluargaku, aku pun langsung mengetiknya di komputer dan memang aku merasa lebih baik sehingga kata-kata yang keluar pun mengalir lancar.
“Eh, Kak, sepertinya ini bukan lagi cerita panjang, ini sudah bisa disebut novel,” celtuk Ryan.
“Sok tahu kamu,”
“Coba deh Kakak baca artikel tentang novel, apa karya Kakak sudah masuk kriteria novel apa belum,”
“Iya juga sih,”
Aku segera mengecek artikel-artikel tentang karya sastra termasuk novel. Beberapa kriteria kucocokkan pada karyaku ini.
“Bagaimana Kak?”
“Setelah baca artikel-artikel ini, sepertinya karya Kakak ini sudah bisa dikatakan sebuah novel, Ryan,”
“Tuh kan, apa aku bilang, Kakak harus bersyukur, karena dapat penilaian yang buruk kemarin akhirnya Kakak berusaha membuat karya yang lebih baik dari karya sebelumnya, bahkan Kakak berhasil membuat sebuah novel,” ucap Ryan. Seperti biasa, kata-katanya selalu berapi-api dan meyakinkan.
“Terima kasih ya atas dukungannya,” kataku padanya sambil tersenyum lega.
“Selanjutnya, siapa orang pertama yang Kakak suruh baca?”
“Emm rahasia dong,”
Baiklah untuk sementara, aku menunggu karyaku berumur kurang lebih satu minggu sebelum siap dipublikasi ke khalayak ramai.
***
Masa SMP merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Banyak hal yang terjadi, banyak yang berubah. Semua itu adalah proses yang pasti kita lalui sebagai manusia. Ketika proses itu terjadi pada diriku, ada satu hal yang kurindukan dari masa kanak-kanakku, yaitu kehadiran sahabat-sahabat kecilku. Bagaimana kabar mereka sekarang, di mana mereka bersekolah, dan hal apa sajakah yang sudah berhasil mereka capai?
Masa SD menjadi sumber inspirasi terbesarku dalam menyusun karya-karyaku. Sambil menunggu masa karantina karyaku yang berjudul Persahabatan di Atas Kursi Roda, aku mencoba membuat karya tulis bentuk lain, yaitu puisi.
Membuat puisi ternyata lebih mudah. Itu pendapat pertamaku ketika baru beranjak dari bentuk cerita panjang dan penuh konflik yang biasa kutulis. Puisi adalah karya sastra yang paling sederhana daripada dua karya sastra lainnya, yaitu prosa dan drama. Aku mulai nyaman menuliskan bait demi bait puisiku.
Setelah beberapa judul puisi yang kutulis, aku berhenti sejenak dan membaca ulang puisi-puisi itu.
“Kok cuma seperti ini ya puisiku?” Kubaca ulang puisi itu dengan penuh penghayatan.
“Kok hambar banget,” Aku mulai panik.
“Apakah ini yang dinamakan puisi?” Aku terus mengicau di hadapan puisiku sendiri.
Rasa frustasi mulai bergentayangan di langit-langit rumah. Aku mulai meragukan karyaku sendiri. Daripada gejolak batinku muncul lagi, lebih baik aku cari pencerahan dengan membaca puisi-puisi karya sastrawan terkenal seperti Chairil Anwar, WS. Rendra, dan Sapardi Djoko Damono. Kebetulan karya-karya mereka ada di buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Kubandingkan karyaku dengan karya-karya mereka. Pertama, kulihat dari segi judulnya. Judul mereka penuh makna dan tanda tanya, sedangkan judulku sudah menggambarkan isi dari puisiku, tanpa membaca isi puisiku, para pembaca sudah bisa mengetahui isi dan maksud puisiku hanya dari judulnya saja. Apakah ini yang dinamakan puisi?
Kedua, kulihat dari segi tipografi. Tipografi mereka sederhana, tetapi setiap penggantian barisnya penuh makna dan tanda tanya, sedangkan tipografiku termasuk sederhana. Terlihat sederhana karena penggantian barisnya memang sudah sewajarnya begitu, tidak menimbulkan makna apapun, apalagi tanda tanya.
Ketiga, kulihat dari segi isinya, yaitu dari diksinya. Diksi mereka sangat hidup dan menimbulkan banyak penafsiran. Setiap kata yang mereka tulis semua berbicara, semua punya makna masing-masing. Mereka berkata bunga, belum tentu bunga itu bermakna bunga. Mereka menggiring pembaca untuk bisa memberi makna lain pada kata bunga itu. Sedangkan diksi-diksi dalam puisiku, aku berkata matahari, artinya sudah bisa dipahami bahwa yang dimaksud adalah matahari. Bukankah puisi itu suatu permainan kata yang menimbulkan ambiguitas dan multitafsir pada setiap katanya? Lalu puisiku itu?
Wajah Meli sebagai kritikus karyaku sudah berkali-kali berkelebat dalam pandanganku. Bagaimana jika puisi-puisiku itu dibaca olehnya? Kubolak-balik lagi lembaran puisi-puisiku itu. Aku kan sudah tahu bahwa puisiku itu biasa saja, jadi kalau aku berikan karya itu ke Meli dan Meli kemudian memberi komentar negatif tentang karyaku, seharusnya aku akan baik-baik saja? Hmm sepertinya kali ini aku harus memberikan karya puisiku ini kepada Meli.
“Jadi kamu sekarang nulis puisi juga, Lazuma?” Meli tampak terkejut ketika aku menyodorkan puisi-puisiku yang berjumlah sepuluh judul.
“Iya dong, hehe, tolong kamu baca dan kamu komentari juga ya,” pintaku pada Meli.
Meli menanggapi permintaanku dengan terus membolak-balik lembaran puisiku. Sepertinya ia tertarik dengan puisi-puisiku atau mungkin ia sengaja mengulur waktu untuk mencari alasan yang tepat untuk menolak membaca karya-karyaku.
“Oke, aku baca dulu ya, karena ini puisi, aku perlu pemahaman yang lebih dalam membacanya,”
“Siapp,, kamu terbaik pokoknya, Meli, sang kritikus!” Kuberi dia dua jempol karena mau membaca karya-karyaku.
“Aku suka gelar itu, haha,” Dia tertawa senang mendengar gelar baru yang kuberikan kepadanya.
Aku harus menunggu selama seminggu demi mendapatkan komentar dari Meli tentang puisi-puisiku. Begitu pula karyaku yang berjudul Persahabatan di Atas Kursi Roda yang harus kukarantina selama satu minggu juga. Sambil menunggu semua itu, aku iseng-iseng membaca koran harian yang jadi langganan sekolahku.
“Lagi baca apa, Lazu?” tanya temanku, Rita.
“Eh ada Rita, ini lagi baca Rubrik Budaya, ternyata setiap Minggu, koran ini menerbitkan cerpen dan puisi loh, keren banget kan,”
“Oh iya? Kok aku baru tahu ya,”
“Sama, aku juga baru tahu,”
“Lazu, kenapa kamu tidak mengirimkan karya-karyamu ke koran itu, lagipula kamu kan suka menulis, sayang kalau tidak disalurkan bakatmu itu,”
“Ah Rita, bukan berbakat sih, lebih tepatnya hobi, kalau bakat sudah pasti karya yang kutulis hasilnya pasti bagus,”
“Terserah deh kamu mau menganggapnya apa, tapi ya itu saranku, kamu perlu mengirim karyamu ke koran, siapa tahu nanti dimuat dan namamu jadi dikenal banyak orang.”
“Tapi bagaimana caranya?” Rita tak mengetahui caranya, begitu pula aku.
Aku berinisiatif untuk mencari informasi tentang pengiriman karya ke media cetak atau koran di situs-situs internet, karena di sana pasti banyak informasi tentang itu. Dan benar, aku menemukan informasi dari situs website yang menjelaskan tatacara pengiriman karya ke media cetak. Aku pun mengikuti langkah-langkahnya. Ternyata ada dua pilihan cara pengiriman karya yaitu melalui email atau dikirim langsung ke kantor media cetak tersebut. Saat itu aku memilih cara mengirim karya melalui email. Menurutku itu lebih hemat waktu dan biaya.
Setelah paham tatacaranya, aku mengirim lima karya puisiku ke koran yang sudah jadi langganan di sekolahku. Ketika aku mengirimkan karyaku, aku sudah paham bahwa butuh waktu lama untuk memastikan karya kita dimuat atau tidak, sekurang-kurangnya tiga bulan dari waktu pengiriman. Baiklah, waktu penantian dimulai.
Aku sudah mengirim karyaku ke koran itu, selebihnya biar Tuhan dan redakturnya yang mengatur apakah karyaku layak dimuat atau tidak. Sebaiknya aku melupakan atau lebih tepatnya mengikhlaskan karya-karyaku itu karena telah terlepas dari tanganku, terlepas dari pengarangnya. Soal dimuat atau tidak, itu rezeki dari Tuhan.
Setelah mengirim karyaku ke koran, aku baru sadar bahwa dalam beberapa waktu ke depan aku mempunyai tiga penantian, yaitu penantian selesainya masa karantina karyaku yang berjudul Persahabatan di Atas Kursi Roda, penantian komentar Meli atas puisi-puisiku, dan penantian dimuat atau tidaknya karyaku di koran itu. Kurasa aku harus menikmati penantian itu dengan tetap berkarya, tetap menulis dan memperbaiki kualitas karyaku. Aku juga harus lebih banyak membaca referensi karya-karya sastra dari sastrawan yang masyhur. Setidaknya, aku bisa mengadaptasi sedikit-sedikit dari cara mereka menuliskan karyanya.
***
Suatu hari saudara sepupuku datang ke rumah untuk melihat koleksi bukuku. Dia salah satu saudara sepupuku yang hobi membaca. Wafiq namanya. Dia tinggal di lingkungan pesantren, karena kedua orang tuanya adalah guru di sana. Setiap hari Minggu, ia berkunjung ke rumahku. Aku pun senang dengan kedatangannya karena kami akan bercerita seru tentang buku-buku yang pernah kami baca.
Ketika Wafiq sedang menjelajahi rak bukuku, tiba-tiba ia menemukan sebuah buku cetakan dari kertas HVS A4 berjudul Persahabatan di Atas Kursi Roda. Ia mengambilnya lalu menunjukkan padaku.
“Kak Lazu, novel ini betul karya Kakak?” tanyanya penasaran.
“Loh, Fiq, kamu dapat dari mana buku itu?” Aku pun terkejut melihat Wafiq membawa bukuku yang masih kukarantina itu.
“Aku menemukannya di rak buku pas pilih-pilih buku tadi,”
Aduh, Wafiq sudah terlanjur menemukan karyaku yang masih kukarantina itu. Apakah dia beniat untuk membacanya juga?
“Kak, aku boleh baca buku ini? Aku penasaran dengan cerita yang Kak Lazu buat,” pinta Wafiq dengan wajah memelas.
“Memang kamu pingin banget baca buku itu ya?”
“Pingin banget, nanti buku ini juga akan kupinjamkan ke Nia, temanku di pondok, supaya dia bisa membaca karya Kak Lazu.”
“Nia suka baca novel?”
“Iya, sama kayak aku, Kak,”
“Baiklah terserah kamu, tapi jangan sampai hilang ya bukunya, kalau sudah selesai baca langsung dikembalikan,” jelasku padanya.
“Siap Kak Lazu,” Dia tampak senang mendapatkan izin dariku.
Entah kenapa ketika karyaku yang berjudul Persahabatan di Atas Kursi Roda kuserahkan pada pembaca, rasanya lebih ringan dan aku lebih ikhlas untuk melepasnya. Tidak seperti ketika aku memberikan karyaku kepada Meli. Apakah karena kali ini aku mulai terbiasa dengan yang namanya pembaca, sehingga aku mulai mengizinkan mereka untuk menikmati karya-karyaku. Apakah aku sudah bersedia berbagi dengan mereka?
Seminggu kemudian, Meli berkunjung ke rumahku lagi sambil membawa puisi-puisi karyaku yang telah ia baca. Ia kemudian mulai berkomentar tentang puisi-puisiku itu. Menurutnya, puisiku sudah bagus, tetapi ia merasa ada sesuatu yang kurang dari puisiku itu.
“Kalau di cerpen atau novel, kamu bisa menceritakan kisahmu dengan panjang lebar karena di sana ada ruang yang luas untuk kau tuangkan kisahmu, tetapi di dalam puisi, ruang itu semakin sempit, kisahmu yang panjang itu harus kamu pendekkan, harus kamu padatkan. Jadi kamu harus memikirkan betul-betul diksi yang kamu gunakan, kalau bisa diksi-diksi itu bisa mewakili semua kisahmu, termasuk sesuatu yang kurang atau tidak bisa ditampung secara panjang lebar dalam puisimu itu.”
“Tumben komentarmu panjang banget, Mel,” ledekku padanya.
“Eh beneran ini aku serius,” Meli memasang wajah serius setelah mendengar ucapanku.
“Maaf deh Mel, kan cuma bercanda biar gak tegang,” jelasku.
“Ide dalam puisimu ini sudah bagus, tinggal bagaimana kamu bisa mengolah kata-katanya,” ucapnya.
“Siap kritikus terbaikku, terima kasih atas masukannya, aku jadi semangat untuk berkarya lagi,”
“Ya ya, Meli gitu ohl, haha,” Dia sangat senang bisa memberiku komentar serta nasihatnya.
Memang tidak bisa dipungkiri, Meli adalah salah satu penyemangatku dalam berkarya, Meskipun komentar pertamanya pernah jadi cambukan buatku, tapi itulah yang membuatku tak berhenti berkarya. Meli mengambil peran yang penting dalam proses menulisku. Dia menjadi penikmat setia karyaku serta kritikus handal dalam menilai karya-karyaku. Setelah keluargaku, dia adalah orang yang mendukungku untuk menjadi penulis. Aku sangat berterima kasih kepada mereka, karena mereka telah mengiringi proses demi proses yang kulalui.
Tiga bulan berlalu setelah aku mendengar komentar Meli. Aku tetap menulis dan mengirim karya-karyaku ke koran. Tidak hanya puisi, aku juga mengirimkan beberapa cerita pendek. Seperti yang sudah-sudah, tidak ada kabar apapun dari koran itu. Aku pun berpikir, apakah aku sudah salah kirim, atau karyaku tidak memenuhi persyaratan mereka. Ah sudahlah, yang penting aku sudah mengirimkan karyaku, tugasku sudah selesai, soal dimuat atau tidak itu adalah rezeki yang sudah diatur oleh Tuhan.
Ketika jam istirahat sekolah tinggal lima menit lagi, seorang teman berteriak dari depan papan mading. Saat itu aku masih berada di koperasi sekolah yang letakknya tepat di hadapan papan mading.
“Lazu! Ada namamu, Lazuma Prameswari, cepat ke sini!” Mayang sangat heboh meneriakkan namaku. Aku bergegas menghampirinya sebelum seluruh sekolah ikut heboh dibuatnya.
“Ada apa, May?”
“Ini loh, puisimu dimuat di koran, Lazu!” jelas Mayang sambil menunjukkan puisiku yang dimuat di koran.
“Seriusan?” aku masih memastikan bahwa memang benar namaku yang terpampang di sana, “Iya benar May, itu memang puisiku, terima kasih Tuhan,” Aku memeluk Mayang saking bahagianya.
“Selamat ya Lazu! Aku harus sebarkan berita hangat ini ke teman-teman kita!” ucap Mayang bersemangat sambil berjalan ke kelas.
“Akhirnya puisiku dimuat juga di Koran Minggu itu. Terima kasih Tuhan, ayah, ibu, adikku, dan Meli.”
Petugas koperasi yang melihat kehebohanku dan Mayang bertanya dengan serius, “Ada apa Lazu?”
“Puisiku dimaut di koran Bu Fia!” jawabku penuh kebahagiaan,
“Oh iya? Selamat ya Lazu, memangnya di koran ada rubrik puisinya juga?”
“Ada Bu Fia, setiap hari Minggu, koran itu menyediakan Rubrik Budaya yang berisi cerpen, puisi, resensi, opini, dan lain-lain,” Setelah menjelaskannya kepada Bu Fia, aku kembali ke kelas.
Setibanya di kelas, Mayang menghampiriku dengan muka muram, aku punya firasat buruk tentang itu.
“Sepulang sekolah, kamu disuruh menemui kepala sekolah di kediamannya,” Mayang berucap tanpa senyum sedikit pun.
“Tiba-tiba seperti ini, ada apa?” Aku masih tak percaya dengan ucapan Mayang. Aku pun berpikir macam-macam, apakah aku melakukan kesalahan yang fatal?
Kegembiraanku berubah setelah mendengar kabar itu. Sampai pulang sekolah, aku tak bicara sepatah kata pun.
“Semangat Lazu! Karyamu sudah dimuat di koran, seharusnya kamu bahagia kan,” ucap Meli. Aku tidak bisa merespon kata-kata Meli, hingga ia masuk ke pondoknya dan aku meneruskan perjalanan ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, aku seperti orang linglung. Antara gembira dan sedih bercampur jadi satu. Padahal aku ingin merayakan keberhasilanku karena salah satu karyaku dimuat di koran, tetapi mengapa kepala sekolah memanggilku ke kediamannya, mengapa tidak di sekolah saja tadi? Apakah seserius itu masalahku.
Aku berusaha mengubah raut wajahku menjadi gembira tatkala sampai di rumah. Aku ingin memberitahukan kabar gembira dulu kepada keluargaku. Baru kemudian akan kuberitahu bahwa aku juga dipanggil oleh kepala sekolah.
“Ayah, ibu, adik, puisiku dimuat di koran hari ini loh, koran hari Minggu.”
“Wah Kakak gak bohong kan?” s
“Ngapain Kakak bohong,”
“Alhamdulillah,” ucap ibuku. Beliau memang sangat religious sehingga begitu mendengar kabar ini, beliau langsung sujud syukur.
“Kalau begitu, kita beli koran hari ini yuk, lalu bagian puisinya kita potong untuk disimpan sebagai arsip, nanti bisa jadi bukti bahwa karya kamu pernah dimuat di koran,”
“Ide bagus Ayah, ayo kita beli sekarang!” Aku sangat bahagia melihat respon keluargaku, ternyata mereka juga antusias mendengar berita gembira ini, sampai-sampai aku lupa untuk memberi tahu kabar selanjutnya.
Aku dan ayahku segera menuju kios koran langganan kami, kios itu milik saudara kami sendiri. Kami pun membeli koran hari ini, untung saja masih tersisa satu. Setelah koran itu di tanganku, aku langsung membuka halaman Rubrik Budaya. Kutunjukkan puisiku kepada ayah. Ia pun tersenyum bangga.
Ketika ayah mengajakku pulang, aku teringat pesan Mayang tentang panggilan dari kepala sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku memberi tahu ayah bahwa aku disuruh kepala sekolah untuk datang ke kediamannya.
“Kamu disuruh Bu Wati datang ke kediamannya? Untuk apa Zuma?”
“Zuma juga tidak tahu Ayah, tadi teman Zuma yang menyampaikan pesan itu.”
“Ya sudah, Ayah antar kamu ke sana ya, kebetulan satu jalur dengan arah pulang,”
“Tapi Ayah, Zuma takut,”
“Tenang saja Zuma, kalau kamu merasa tidak melakukan sebuah pelanggaran, tidak perlu takut,”
Ayah dengan penuh kesabarannya mengantarkanku ke kediaman Bu Wati, kepala sekolahku. Sepanjang jalan aku berdoa semoga ini bukan sesuatu yang buruk. Pintu kediaman Bu Wati sudah terlihat dan aku semakin gugup.
“Tenang saja,” Ayah menyuruhku untuk tetap tenang.
Kami mengetuk pintu kediaman Bu Wati. Cukup lama kami menunggu di luar hingga Bu Wati membukakan pintu pada kami 15 menit kemudian.
Hening sekali suasana di ruang tamu itu. Bu Wati membuka tutup toples-toplesnya lalu mempersilakan kami untuk menikmatinya. Bu Wati belum membuka pembicaraan inti, kami baru sekadar basa-basi. Aku mencoba untuk tenang sesuai nasihat ayah. Kemudian Bu Wati masuk ke dalam meninggalkan ruang tamu, sepertinya beliau akan mengambil sesuatu.
“Ibu mendengar kehebohan di kelasmu tadi,” Bu Wati kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam.
“Iya Bu, kelas kami sempat ramai tadi, maafkan kami Bu,” Keringatku mulai mengalir deras.
“Ibu dengar dari temanmu, Mayang,”
“Maafkan saya Bu,”
“Katanya puisimu dimuat di koran hari ini ya?” ucap Bu Wati sambil tersenyum. Seketika itu ketakutanku menghilang. Senyum Bu Wati membuatku tersenyum pula.
“Alhamdulillah, Bu,”
“Selamat ya, Lazuma, Ibu bangga sama kamu,”
“Terima kasih, Bu,”
“Anak Bapak sudah mengharumkan nama sekolah lewat karyanya, dia tidak lupa untuk menuliskan asal sekolahnya, sehingga nama sekolah kami terpampang nyata di sana. Terima kasih ya Lazuma,” jelas Bu Wati kepada ayahku.
“Alhamudulillah Bu, anak kami juga masih belajar, dengan dimuatnya karya Lazuma di koran semoga bisa menambah semangatnya untuk menekuni dunia tulis-menulis.”
Aku sangat terharu mendengar penjelasan ayah. Bu Wati juga tampak gembira mendengarkan penjelasan tersebut. Di akhir pembicaraan kami, Bu Wati memberikan sebuah bingkisan kepadaku sambil memberiku nasihat.
“Ini Lazuma, sebagai bentuk apresiasi Ibu terhadap karyamu, isinya memang hanya buah mangga, tetapi semoga ini bisa menjadi penyemangatmu untuk terus berkarya, mengharumkan nama sekolah dan menginspirasi teman-temanmu,”
“Terima kasih Bu, Insya Allah,” ucapku penuh haru. Rasanya air mataku ingin menetes saat itu, tetapi aku malu jika harus meneteskannya di depan guruku.
Sepotong Koran Minggu yang berisi karyaku sudah kusimpan rapi di sebuah kotak khusus yang berisi kumpulan karyaku. Ini belum akhir, tapi baru awal langkahku untuk semakin menekuni dunia tulis-menulis. Walaupun aku bukan orang yang berbakat dalam dunia tulis-menulis, tetapi hobi dan kesenanganku dalam dunia itu membuatku tak bisa berhenti berkarya, peduli amat karya itu berbobot atau hanya sekumpulan kata-kata biasa, yang terpenting aku sudah berkarya.
Ketika kurapikan lagi kotak itu ke dalam lemari, tiba-tiba saudara sepupuku datang. Ia membawa buku ceritaku yang ia pinjam dan mau mengembalikannya.
“Kak Lazu, aku sudah selesai baca cerita ini! Bagus sekali Kak,” Wafiq memberikan buku itu padaku dan tanpa kuminta, ia menyampaikan komentarnya tentang buku itu.
“Sungguh bagus? Ngeledek ya kamu?”
“Enggak Kak, beneran bagus, aku sudah selesai baca begitu pula temanku di pondok, kami berdua sampai nangis membaca cerita Kakak.”
“Ha, sampai menangis?”
“Kami berdua terharu dengan perjuangan dua sahabat yang sama-sama penghafal Al-Qur’an Kak, kami jadi terinspirasi untuk semakin giat menghafalkan Al-Qur’an.”
“Alhamdulillah, Kakak tidak menyangka ternyata cerita itu bisa menginspirasi kalian ya, terima kasih ya sudah mau baca cerita Kakak,”
Ia meneruskan komentarnya pada bagian-bagian cerita yang lain. Kurasa dia memang sangat menikmati karya itu sampai hafal siapa nama tokohnya dan di mana konflik cerita itu berkembang menjadi semakin seru dan kompleks. Dia sama seperti Meli yang jujur ketika menilai karyaku. Terima kasih ya Duo Kritikusku.
Ia kemudian memberikan selamat padaku karena karyaku telah dimuat di koran, ia pun memintaku untuk mengajarinya menulis agar bisa dimuat di koran juga. Kami saling bertukar gagasan hingga larut malam.
Masa berlalu begitu cepat. Giliran masa putih abu-abu yang kulalui. Di masa itu, hobiku masih tetap dan malah semakin meningkat. Aku terus mengirim karya-karyaku ke koran dan majalah-majalah, bahkan aku mencoba untuk mengirim novelku yang pernah dikomentari oleh Wafiq ke suatu penerbit mayor. Aku tidak peduli apakah karyaku akan mereka terima atau tidak, karena prinsipku, tugasku adalah berkarya, yang lain-lain adalah rezeki yang sudah diatur oleh Tuhan. Sambil menunggu kabar dari mereka, aku terus memperbaiki karya-karyaku dengan membaca karya para sastrawan.
Suatu hari ketika jam istirahat sekolah, seorang teman berteriak dari koperasi sekolah dengan memanggil namaku. Saat itu aku sedang membaca koran hari senin di papan mading sekolah.
“Lazuma cepat ke sini!” Sontak kami berdua menjadi pusat perhatian.
“Meli, gak usah pake teriak kali,”
“Cepat ke sini!”
Aku bergegas menemui Meli di koperasi sebelum ia semakin menciptakan kehebohan di sekolah.
“Ada apa, Mel?”
“Ini lihat, di potongan Koran Minggu yang jadi pembungkus gorenganku, ternyata ada namamu di sana, cerpenmu dimuat di koran ini, Lazuma!” Meli menunjukkan potongan Koran Minggu yang sudah jadi bungkus gorengan dan penuh dengan minyak goreng.
“Ya Tuhan, kamu kok bisa menemukan koran ini, Mel? Dan ini Koran Minggu, berarti sudah dari kemarin dong, kok aku gak tau ya padahal kemarin aku juga membaca koran di papan mading sekolah.
“Ah sudahlah mungkin kamu kelewatan pas bacanya, jadi selamat ya Lazuma, karyamu dimuat lagi di koran,”
“Terima kasih Mel, terima kasih sudah menemukan karyaku di koran ini, kalau boleh, aku mau menyimpan potongan Koran Minggu itu, Mel?”
“Oh ini, boleh banget, pasti mau kamu arsipkan ya, tapi korannya sudah terkena minyak dari gorengan ini,”
“Tidak apa-apa, terima kasih ya Mel,”
Sepotong Koran Minggu, pembungkus gorengan di koperasi, yang berisi karyaku, yaitu cerpen yang berjudul Petualangan Tiga Serangkai. Aku lupa kapan cerpen itu kukirim ke koran, tiba-tiba saja dia sudah dimuat dan aku tidak mengetahuinya. Mungkin karena aku jarang membuka email sehingga aku tidak tahu jika ada pemberitahuan dari koran bahwa karyaku sudah dimuat.
***
Suara bel masuk kelas berbunyi nyaring.
“Eh sudah bel masuk ya,” Aku terkejut mendengar suara bel itu. Aku lupa kalau di sampingku ada muridku, Abil.
“Ibu belum menjawab pertanyaan saya,” Aku lupa dengan pertanyaan Abil.
“Jadi, apakah Ibu pernah mengirim tulisan ke koran, apakah pernah dimuat?” Abil mengulang kembali pertanyaannya, ia tahu aku melamun.
“Oh itu, oke Ibu ceritakan sambil jalan ke kelas ya, jadi Ibu dulu pernah mengirim karya ke koran, Ibu mengirimnya lewat email dan Alhamdulillah pernah dimuat juga,” jelasku padanya sambil berjalan menuju kelas, kebetulan setelah istirahat, aku ada jam mengajar di kelasnya.
“Ibu ajari aku ya, supaya bisa seperti ibu yang karyanya pernah dimuat di koran,” pintanya penuh harap.
“Insya Allah,” ucapku sambil mengelus kepalanya.
“Lalu, sampai saat ini, apakah Ibu juga pernah menerbitkan buku?” Ia bertanya lagi sesampainya kami di kelas.
“Pernah dong,”
“Sungguh Bu? Bagaimana prosesnya Bu, Abil ingin tahu?”
“Oke, nanti Ibu ceritakan padamu bagaimana prosesnya, sekarang pelajaran dulu ya,”