Suatu hari , Azlen dan kakaknya bermain disebuah rumah merah didekat rumahnya.
kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba ,kakaknya berteriak" Ah", dan kemudian tidak ada suara lagi ,Azlen berteriak: "Kakak! Kakak!"
Azlen yang tadinya bersembunyi dibelakang pohon besar yang terletak di halaman rumah mewah itu , berlari mendekati dan berdiri di bawah anak tangga depan pintu raksasa rumah merah mewah itu , dengan perasaan yang campur aduk dan tidak ada seorangpun disana membuatnya semakin ketakutan .
Azlen menoleh ke kanan dan kekiri : " kakak " lirihnya , menit demi menit masih belum mendengar suara kakaknya , azlen pun menangis sekencang-kencangnya.
Akhirnya Azlen memberanikan diri melangkahkan kakinya perlahan menaiki tangga rumah mewah itu, diusapnya sisa air mata yang masih melekat dipipi cabinya.
"Kakak " lagi-lagi Azlen mengucap lirih saat berada diujung tangga
Tangannya memegang handle pintu , dia diam sesaat , deru nafasnya terdengar hingga ditelinganya sendiri kemudian mendorong pintu itu namun terasa sangat berat .
" Kenapa berat sekali? apakah terkunci dari dalam?" kening Azlen berkerut
Azlen sekali lagi mencoba membuka handle pintu itu dan didorongnya, namun lagi-lagi pintu itu masih belum bergerak .
Azlen mengatur nafasnya kembali , memundurkan 1 langkahnya melihat sekitar , sama sekali tidak ada orang yang melewati rumah itu ,lalu Azlen menghembuskan nafasnya kasar.
*FlashBack On*
Rumah terlihat mewah itu memang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Azlen, namun terletak diujung jalan dengan halaman yang sangat luas dengan banyak pepohonan besar ,dan rumah itu sudah tak berpenghuni semenjak 3 tahun lalu.
Keluarga Patrick Adalah penghuni terakhir rumah merah itu .Mereka dikenal sebagai keluarga yang sangat kaya raya tapi sangat humble berbeda dengan orang yang kaya raya lain di Kota B itu , yang selalu menyombongkan harta benda yang mereka miliki . Dan hampir setiap akhir bulan , Tuan Patrick selalu memerintahkan Anak buahnya untuk selalu mengumpulkan orang-orang dikalangan apapun di Kota B itu ,hanya untuk membagikan rejeki supaya ikut merasakan kebahagian yang diperolehnya , dan bisa dipastikan hampir semua Di Kota B menyukai Tuan Patrick .
Namun suatu ketika , Kota B digegerkan dengan berita ,yang entah apa penyebabnya seluruh anggota keluarga Patrick ,pengawal dan para maid di rumah itu ditemukan terbunuh dan hingga kini masih belum ditemukan penyebabnya , seolah case Closed. Tragedi itu membuat suasana Kota B menjadi redup, pemakaman yang serentak menorehkan traumatik yang sangat mendalam bagi warga kota B dan hingga saat ini sangat jarang yang berani melewati jalan sekitar rumah mewah itu yang akhirnya mempunyai julukan
" Rumah Merah yang artinya Rumah Berdarah "
" Flashback OFF"
Langit pun seolah tak mendukungnya , cuaca yang tenang tiba-tiba berubah menjadi gelap dan menghujani pekarangan rumah itu dengan derasnya, bahkan dentuman petir dan kilat yang tiba-tiba mengagetkan Azlen hingga memegang dadanya yang gemetar
"Tuhan tolong kirimkan seseorang untuk membantu ku" bathin Azlen memohon
Kemudian Azlen memajukan langkahnya lagi ,Azlen sudah bertekad harus bisa menemukan kakaknya.
" Bismillah" ucapnya lantang namun belum sempat Azlen memegang handle pintunya
Klek
klek
Terdengar suara seperti membuka kunci pintu mewah itu lalu perlahan pintu itu terbuka dengan sendirinya
Azlen yang sangat terkejut hingga memundurkan kakinya dan tangannya seketika meraih pegangan anak tangga yang ada dibelakangnya
" Auh " rintihnya memegang bahunya , tiba-tiba badan azlen terplental keras membentur anak tangga
"Seperti ada angin besar yang baru saja melewatiku" gumamnya sembari mencoba berdiri
Azlen menegakan badannya , membenarkan rambutnya yang berantakan
" Aku harus tahu apa yang terjadi dengan Kakak " ucap Azlen dengan mantap melangkahkan kaki menuju pintu megah yang masih terbuka
" Bismilahhh !" ucapnya sangat lantang membuat beberapa lukisan yang terpasang didinding bergerak dengan sendirinya , Azlen menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan nyalinya ciut seketika
Azlen memundurkan tubuhnya lagi , namun Azlen terhenyak saat merasa punggungnya tiba-tiba dingin
"Seperti ada tangan yang menempel dipunggungku" gumamnya lirih lalu melirik kebelakang namun tidak melihat apapun membuatnya bergidik ngeri
" Astaga Tuhan " Azlen menutup wajahnya dengan kedua tangannya , baginya ini hal pertama yang dialami dalam hidup Azlen
Azlen menggelengkan-geleng kepalanya , ia tidak ingin keberaniannya pudar hanya karena ketakutan mulai menghampiri
" Tidak , Aku harus menemukan kakakku " ucapnya sambil berjalan menuju pintu masuk ,langkahnya terhenti
" Stop Azlen !!" Azlen mendengar suara kakaknya
" Kakak !! kakak dimana " teriak Azlen
" No, Azlen jangan masuk !!! " Azlen mendengar suara kakaknya kembali
" Kakak baik-baik saja ?" tanyanya penasaran namun tidak ada sahutan
"Kak ,tolong jawab Azlen !!" teriak Azlen yang masih berdiri didepan pintu ,Azlen terdiam memikirkan permintaan kakaknya bahwa azlen tidak diperbolehkan masuk
" Baiklah kak , Azlen akan menurutimu " saat Azlen akan membalikan badannya tiba-tiba badannya terseret memasuki rumah mewah itu
" Aaaaaa kakakkkkkkkkk " teriaknya
Dan pintu rumah mewah itu tertutup seketika
BRAKKKKK
Azlen melebarkan matanya saat berada di ruang tengah rumah itu ,lampu menyala seketika , menampakan keadaan rumah yang sudah tidak terawat , debu dan sarang laba-laba disetiap pigura ,kursi ,meja dan semua benda disana.
Nafasnya naik turun, posisinya masih terduduk dekat ujung bawah anak tangga, perlahan Azlen mengamati kondisi rumah itu ,namun tatapan matanya berhenti saat mengamati ruang kamar , ruang dapur , dan beberapa ruang dengan pintu terbuka
" kenapa ruangan disana sangat bersih , seperti masih ditempati seseorang" ucapnya dalam hati
Azlen perlahan berdiri dengan menggapai gagang anak tangga , berjalan mengendap- endap perlahan ke sebuah kamar dengan pintu terbuka ,namun tidak menemukan seseorang
" kamarnya wangi sekali seperti ada seseorang yang membersihkan diri" ucapnya lirih
Azlen perlahan berbalik ingin memeriksa ruangan yang lain namun
PRAAAAANG
Suara piring pecah terdengar , membuatnya memiringkan kepalanya, mata elangnya mengamati ruang Dapur .Perlahan kakinya melangkah menuju dapur , dan pada saat sudah mendekat ke pintu dapur matanya membulat seketika karena melihat kakaknya terikat di kursi dengan mulutnya yang tertutup
" Kakakkkk!!!!!" teriaknya menghampiri Kakaknya yang sudah sangat lemah tak berdaya dan darah mengalir disekujur tubuhnya
Azlen berusaha melepaskan ikatan yang melilit ditubuh sang kakak
" Kak Bangun kak " ditepuknya perlahan pipi sang kakak namun kesadaran masih belum berpihak pada kakaknya
Azlen mendesis kesal
" Siapa yang melakukannya kak ?" tanyanya lirih tak terasa air mata menetes
" Maaf aku belum bisa melindungiMu " isak tangisnya semakin kencang ,Azlen merengkuh tubuh kakaknya , tiba-tiba suara tepuk tangan muncul dari arah dibelakang dan mau tidak mau membuatnya menoleh kebelakang
PROK
PROK
PROK
" si siapa kamu ?" ucap Azlen terbata-bata saat melihat lelaki itu
seorang laki-laki ,perawakan tinggi besar ,kulit putih memakai kemeja kotak- kotak warna merah dan celana panjang berwarna biru 7/8 muncul di balik pintu bersama dengan seorang wanita cantik yang tengah hamil
Azlen menelan salivanya perlahan
"Untuk apa kalian kemari ,Hah !"
" Aku ingin membawa pulang kakakku " jawabnya cepat
" hahahaha tidak semudah itu "
"Memangnya kalian siapa ?" tanya Azlen
" kami ?" ucap lelaki itu kemudian menatap wanita cantik disebelahnya
Lelaki itu berjalan perlahan menuju Azlen dan kakaknya , membuat Azlen memundurkan posisinya hingga dinding menempel dipunggungnya
" Kalian sudah masuk terlalu dalam ! akankah kami melepaskan kalian begitu saja?"
" Ma ma maksudnya apa ?" tanya Azlen
" Kalian pasti penasaran kenapa Patrick sekeluarga musnah dan dengan Rumah ini,betul tidak?HAHAHA" Jawab lelaki itu
"Me memangnya siapa patrick ?" tanya Azlen penasaran
" eng eh " Azlen menoleh asal suara itu , kakaknya mengulai perlahan
" kakak!!!" ucap Azlen
Kakaknya melihat kearah azlen dan terkejut dua orang ada didepannya , kakinya seketika menendang kursi yang ada didepannya
" Pergi kalian !!!!! " teriaknya
" Azlen , cepat pergi " titahnya menatap mata adiknya , Azlen menggelengkan kepalanya
" Kita pergi bersama kak " ajak Azlen namun kakaknya menggeleng
" kakak sudah ga kuat "
" ga, kakak pasti kuat , ayo kak semangat !" teriak Azlen namun lagi-lagi suara yang tak diharapkan datang
" Tolong " suara berasal dari kamar mandi yang ada dipojok ruangan dapur
Azlen dan kakaknya terkejut ,tak terkecuali lelaki dan wanita cantik itu saling memandang
" kak " ucap wanita hamil itu
" kamu tenanglah " disentunya kedua bahu wanita itu
" mereka datang lagi kak " ucap histeris wanita itu
Azlen dan kakaknya saling pandang , didalam pikiran mereka terbesit pikiran yang mungkin sama
" siapa , apa dan kenapa ?" bathin mereka masing2
" ssst ssst tenang , kakak akan menjagamu disini , tidak akan ada yang menyakitimu lagi " ucap lelaki itu kemudian pandangannya beralih kearah azlen dan kakaknya
Azlen dan kakaknya menelan saliva perlahan berkali-kali dan tangannya saling memegang erat
" Kamu !!!"
" Semua gara-gara kamuuuuu!" lelaki itu menunjuk Azlen , kedua tangan kakak Azlen menutupi tubuh azlen
" Jangan berani menyentuhnya " ucap kakak Azlen
" Hahaha kamu mau merasakan lagi ?" lelaki meraih tongkat kasti dibalik pintu dan siap dihuyungkan ke arah azlen
" Azlen lariiii" teriak kakaknya
" Tidak kak , Azlen ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi "
" Baiklah , sepertinya kamu keras kepala seperti keluargamu " Azlen bingung apa maksud lelaki itu
" ke keluarga siapa yang kamu maksud ?"
" ck ,keluarga siapa lagi kalau bukan keluarga Patrickkkkkkk!!!"
seketika lampu mati , semua foto didinding berjatuhan
PYARRR
BRAKKKK
PRANGGG
Bagai disambai petir Azlen karena lelaki yang tidak dikenalnya mengatakan dia termasuk keluarga Patrick yang terkenal itu
" Bagaimana bisa ?" ucap Azlen lirih
" tanyakan pada kakakmu !" bentaknya membuat Azlen menoleh kearah kakaknya namun hanya gelengan kepala yang azlen dapat
"Arggghhhhh " teriak azlen memegang kepalanya , rasa pusing yang teramat sangat menghampirinya,tangannya mengusap kasar rambutnya hingga berantakan
Bayangan hitam putih masa lalu yang belum pernah azlen lihat tiba-tiba muncul dikepalanya
" Apa iniiii" ucap Azlen menahan sakit kepalanya
" Apa kamu sudah mengingatnya sekarang Tuan Muda Azlen ?"
Azlen masih memegang kepalanya ,dipijat-pijat kepalanya. Azlen melihat dia berada dirumah mewah namun dengan siapa dia kurang mengenalinya .
" Auh kakak ,sakit " rintihnya masih memegang kepalanya
" kalian !!! pergi dari kehidupan kami atau "
Belum selesai berbicara kelaki itu memukulkan tongkat kastinya ke meja makan ,membuat Azlen dan kakaknya terkejut ketakutan
BRAKKK
" Kali ini kalian tidak akan lolos !!"
Saat langkah kaki lelaki itu maju demi sedikit , begitupula keping demi keping ingatan Azlen mulai kembali
Azlen menatap seseorang yang selama ini yang dipanggil dengan sebutan Kakak , tangannya merengkuh tubuh itu
" Terimakasih sudah menyelamatkanku kak "
*Flashback On*
5 Tahun yang lalu
" maafkan ibu nak , karena kesalahan ibu harus menghadirkan kamu , dan yang lebih parahnya lagi ayahmu tidak mengakuimu " tangis ibu Dasthine pecah ketika Edward menanyakan kebenaran siapa ayah Dhastin , disentuhnya kaca pembatas itu
" Siapa ayah Dasthine bu , Dasthine harus segera mendapat donor darah , jika tidak nyawanya taruhannya " ucap Edward menatap erat ibunya
Ibu Dasthine masih menggelengkan kepalanya
"tapi ibu tidak yakin ayahnya akan datang menyelamatkannya " ucapnya lirih
" kita harus mencobanya bu ,lihat Adikku terbaring lemah disana , hidupnya diujung tanduk , please bu " ucap Edward memohon menatap dibalik kaca ruang ICU karena Dasthine terbaring tak sadar beberapa hari dan kekurangan darah
Ibu Dasthine masih menangis , Edward diam sesaat memberi waktu ibunya berpikir , setelah 30 menit berlalu , ibunya menghampiri pos suster jaga untuk meminjam kertas dan pen lalu menuliskan sebuah alamat
" Datanglah kealamat ini , katakanlah sebenarnya"
Edward melihat alamat itu mengerutkan keningnya
" Alamat ini sepertinya tidak asing " seketika ibunya menoleh kearahnya
" Kamu sudah mengetahuinya?" tanya ibunya namun Edward mengangkat bahunya
" Entahlah , aku kurang yakin , kupastikan besok " ucapnya
" bertahanlah ,kakak akan membawanya dihadapanmu " ucap Edward dalam hati ,tangannya ditempelkan ke kaca pembatas ruang Icu itu
" ibu pulang dan istirahatlah, aku akan berjaga disini "
Ibunya pun mengangguk perlahan
" Diluar dingin , kenakan jaketmu , jangan lupa makan nak "
Edward menganggukan kepalanya ,memeluk ibunya kemudian membiarkan ibunya berlalu meninggalkannya
***
Edward berada didepan rumah mewah
" Apa ibu salah memberikan alamat?" gumamnya lirih sambil melihat kertas yang dia bawa ,kemudian masuk kedalam rumah itu
" Halo Edward , kenapa pagi sekali kamu datang ?" ucap Tessa
Tessa adalah anak kedua Tuan Patrick , diam -diam menaruh hati pada Edward seorang tangan kanan ayahnya sendiri.
" Ah iya nona , Ada yang ingin aku sampaikan ke tuan Patrick " jawabnya terbata karena tidak menyangka alamat itu adalah alamat tuannya
" Baiklah kalau begitu ,masuk kamarku dulu ya " ucapnya sembari mencari celah supaya Edward menyukainya ,tapi sayang , Edward yang bersikap dingin dan acuh tak acuh hanya menghormati sebagai anak Tuannya tidak lebih ,kasih sayangnya hanya tercurah untuk sang adik dan ibunya.
Tiba didepan ruang kerja Tua Patrick , Edward mengetuk pintu dan mendapat jawaban
" masuk "
" permisi Tuan Patrick "
Tuan Patrick meliriknya sebentar kemudian kembali melanjutkan menyelesaikan laporannya
" Terlalu pagi kamu datang , ada apa ?"
" eng itu tuan "
Tuan Patrick melihat ada sesuatu yang tidak beres akhirnya meletakan pen yang dipegangnya
" Katakanlah "
" Apakah tuan mengenal wanita ini tuan ?"
Edward meletakan foto ibunya diatas meja kerja tuan Patrick
" Anita " ucap Tuan patrick yang terkejut dan berdiri dari duduknya lalu melihat Edward
" dimana kamu menemukannya ?"
Edward masih diam , mengepalkan tangannya , karena setahunya lelaki yang menghamili ibunya dan melahirkan Dasthine itu adalah lelaki penyebab kematian ayahnya .
Ayah Edward mengalami kelumpuhan pada alat vitalnya dan ia merasa syok ketika mendengar bahwa istrinya sedang mengandung , karena bukan benihnya , dan karena itulah ayahnya mendapat sakit jantung dan pergi untuk selamanya dan membuatnya harus menjadi pengganti ayahnya .
Melihat Edward yang tegang dan diam membuat Tuan Patrick memanggilnya
" Edward !!"
" Ya tuan " jawabnya singkat
" Dimana sekarang Anita ?"
" Jangan sebut Nama ibuku !!"" ucap Edward dengan menghadiahi Tuannya pukulan di pipi , Tuan Patrick yang tidak siap akhirnya limbung
" Tunggu , Ada apa ini ?" tanta tuan Patrick
" Kamu lupa , karena pemerkosaan yang kamu lakukan membuahkan hasil !" terang Edward
" Ha ha sil, maksud kamu apa?"
" Tidak perlu berpura-pura lagi tuan Patrick "
" Ingatlah beberapa tahun lalu kamu memperkosa seorang wanita ! dan dia adalah ibuku !" ucap Edward dan itu membuat tuan patrick yang berusaha bangkit berdiri terkejut dan tubuhnya terjatuh
" I Ibumu ?" tanyanya lagi
" Ya , apa Anda Puas Tuan Patrick , karena perbuatan anda Ayahku meninggalkan kami karena serangan Jantung" Edward menahan amarahnya
" Katakan tuan !"
" Tidakkkkk , kamu salah "
" Salah ?!" Edward memicingkan matanya
" Anita adalah kekasihku sebelum aq mendapatkan Bela dan saat kita bertemu lagi , aku berharap bisa meminangnya lagi "
" Tidak mungkin Ibuku menghianati ayahku !"
"Aku bahkan tidak tau Anita sudah menikah dan punya anak , Aku menyelidikinya namun tidak mendapatkan info apapun "
Edward Semakin geram
" Tidak mungkin !!"
" Tadi kami bilang membuahkan hasil , apakah ? " tanya Tuan Patrick kemudian terhenti
" Ya , sayangnya aku sangat mencintainya dan ingin menjaganya "
" Mencintai ? maksud kamu menyayangi ?
" Tidak !! Aku yakin aq mencintainya , ingin mejaga dan memilikinya "
Seketika ruangan itu penuh gema tawa tuan Patrick
" Aku tidak menyangka , tangan kananku mempunyai prilaku yang aku tak mengerti "
" Kalian satu ibu ingatlah itu !"
" Jangan terlalu ikut campur !"
" Kamu yang membukanya sendiri , bahwa ternyata aku memilik anak bersama anita ! maka aku berhak atasnya !" bentak Tuan Patrick dengan menggebrak meja kerjanya
Edward yang semenjak tadi menahan amarahnya , akhirnya tersulut emosi juga , dihampirinya tuanya dan di letakan tangannya dileher tuannya ,karena tubuhnya tinggi besar dan tenaganya melebihi Tuan patrick membuatnya semakin tak terkontrol dan tanpa sadar menghilangkan nyawa tuannya
" Tu tuan "
Saat Tangannya hendak terlepas dari leher tuannya , pintu kerja terbuka dan munculah Tessa dan Roni dibalik pintu
" Ayah " ucapnya bersamaan namun mereka terkejut kemudian menutup mulutnya dengan tangan mereka sendiri kemudian akhirnya berteriak yang membuat para pengawal berdatangan
Karena Edward adalah tangan kanan Tuan Patrick , sudah pasti kapasitas , tenaga dan kekuatannta lebih besar dibanding semua yang ada dirumah itu , Akhirnya Edwardpun menghabisi satu persatu bahkan semua yang ada di rumah itu , dan mayatnya banyak yang dibuang di dalam kamar mandi ruang kerja tuannya dan dikunci dari luar ,namun ia melewatkan satu orang , sang pewaris.
( Sang pewaris walaupun terpental cukup keras yang mengakibatkan kepalanya terbentur tembok dan lupa ingatan ternyata masih hidup )
*Flashback Off*
Azlen dan Kakaknya terkejut mendengar pengakuan Edward
" Kamu Gila Edward " histeris Dasthine yang memukul-mukul dada Edward , wanita yang tengah hamil itu pun baru menyadari bahwa Ayahnya dibunuh lelaki yang ia cintai
" hus hus husss tenang sayang , Aku bukan membunuh, tapi aku menyelamatkanmu " ucapnya bangga
" menyelamatku ?"
" Ya , karena demi nyawamu , aku mendapatkan darahnya untukmu , sehingga kamu bisa berdiri hingga saat ni "
" Da darah apa yang kamu maksud ? dulu kamu cerita ayahku mendonorkan sukarela untukku "
" Yah memang sukarela , sukarela aku mengambil nyawanya , hahaha " tawanya menggelegar seisi ruangan
" Tidakkkk " ucap Dasthine memegang kepalanya namun tiba-tiba meraung kesakitan pada perutnta
" sepertinya kamu mau melahirkan " ucap Kakak Azlen membuat Edward segera menggendong Dasthine dan membawa keluar ,memasukan dalam sebuah mobil yang tak jauh dari halaman rumah dan melaju kencang pergi meninggalkan Azlen dan kakaknya
Azlen menatap kakaknya
" Setelah kamu mengingat semua , bagaimana keputusanmu Azlen?"
" Aku akan melaporkannya , aku pastikan edward mendapat hukuman setimpal" ucapnya sambil menangis mengingat ayah ibu serta kakak dan smua pengawal ,seluruh maid yang azlen sayangi
Beberapa menit kemudian terdengarlah suara dentuman keras Dan Meledak
DUM DORRRR
Azlen dan kakaknya berlari tertatih- tatih ,tak lama mereka menutup mulutnya seketika melihat mobil yang Edward dan Dasthine kendarai menabrak dinding pembatas membuat Mobil itu terbalik dan meledak ,dipastikan keduanya tidak terselamatkan.
Seperti sebuah mimpi , saat Azlen menolehkan kepalanya kearah rumahnya , azlen melihat ayah, ibu, kakak, para maid serta seluruh pengawal berdiri di halaman depan rumah , mereka tampak tersenyum , seolah Mengatakan
" SUDAH TERBALASKAN "
TAMAT
TERIMAKASIH
YUK MAMPIR YA KE NOVELKU 😘😘
IG ; Bunda.ajah
.