18 oktober 2007
Di ruang kelas pulang sekolah…
Semua siswa-siswi sudah pulang, kecuali Dita dan Shilla. Sebelum pulang mereka diminta menempelkan hasil karya para siswa-siswi di mading. Kemudian turun hujan sehingga mereka berdua menunggu hujan reda. Sembari menunggu hujan, mereka berdua duduk-duduk di kelas.
“Lo jahat ya! Jahat banget sama gua!” Kata Dita.
“Emang gua salah apa sih?” Shilla heran.
“Udah, jangan munafik! gua kan udah pernah bilang kalo gua suka banget sama Ricky! Tapi kenapa lo malah jadian sama Ricky?” Tanya Dita.
“Tapi jujur, gua gak suka sama Ricky. Tapi Ricky yang nembak gua!” Kata Shilla.
“Iya gua tau! Lo gak suka kan sama Ricky? Tapi kenapa lo sampai jadian sama Ricky? padahal lo kan tau kalo gua sayang banget sama Ricky! Kenapa sih lo mesti nusuk gua dari belakang? Kenapa? gua ini sahabat lo Shilla” Kata Dita sambil terisak.
“Tapi… tapi…” Belum sempat Shilla melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Dita menusuk Shilla dengan pisau. Seketika Shilla tergeletak di lantai bersimbah darah. Lalu Dita meneteskan darah di pisau ke buku diary milik Shilla.
“Ini pembalasan dari gua, selamat tinggal Shilla” lalu Dita meninggalkan mayat Shilla di kelas.
5 tahun kemudian…
“Anak-anak, kalian diminta untuk membuat sebuah puisi, yang terbaik akan dipajang di mading” kata Pak Andhika, guru Bahasa Indonesia.
“Baiik pak” akhirnya pelajaran selesai. Para siswa-siswi segera pulang.
Perjalanan pulang…
“Aih, gua gak jago bikin puisi” kata Nadine.
“gua sih gak terlalu” kata Vianni.
“gua sih bisa-bisa aja” kata Marchella.
“Iya, lo kan pinter. Gak kayak gua, bikin puisi aja gak bisa” kata Tiara.
Malam harinya…
“Hmm, kali ini bikin puisi apa ya?” Kata Marchella dalam hati.
“Aha!” Tiba-tiba Marchella menemukan ide.
Esok harinya…
“Ya, anak-anak. Sudah dikerjakan tugas yang bapak berikan kemarin?” Tanya Pak Andhika.
“Sudah pak”
“Nah, sekarang coba Marchella maju ke depan, bacakan puisi mu” kata Pak Andhika.
Marchella maju ke depan, sedangkan teman-temannya menunggu giliran dengan gelisah.
Ketika malam tiba
Aku termenung di sudut jendela
Memandangi langit malam
Yang penuh dengan bintang-bintang
Aku mencoba melihat kembali ke atas
Akhirnya telah tampak sang bulan
Bulan yang berdiam di langit
Ditemani oleh sang bintang
Andai saja tuhan memberiku sayap
Maka aku akan terbang ke atas
Jauh ke atas dan akan kuraih bintang-bintang di langit.
Setelah Marchella membacakan puisinya, seluruh siswa-siswi bertepuk tangan.
“Ya, sangat bagus Marchella! Good job” kata Pak Andhika.
Machella segera duduk kembali. Lalu, Pak Andhika memanggil murid-murid yang lain untuk membacakan puisi.
“Baiklah anak-anak, puisi yang akan dipajang di mading adalah milik Marchella, Dhika, Astri, Frans, dan Zee” kata Pak Andhika.
Selesai sekolah Marchella, Andi, Chintya, dan Dimas masih harus tinggal di sekolah untuk piket dan memajang puisi di Mading. Saat sedang menyapu, Marchella menemukan sesuatu di kolong lemari.
“Apaan sih?” Lalu Marchella mengambil benda itu.
“Hah? diary? punya siapa nih?” Marchella heran.
“Eh Marchella, ngapain lo jongkok disitu?” Tanya Dimas.
“gua nemuin diary” kata Marchella.
“Iih, punya siapa sih? Jangan sembarangan diambil” kata Chintya.
“Lo mah percaya takhayul banget” kata Andi.
“gua bawa pulang ah” kata Marchella.
“Terserah! Ya udah yuk kita pulang” kata Dimas.
Lalu mereka berempat segera pulang.
Di rumah, malam hari…
“Ini kira-kira punya siapa sih?” Kemudian Marchella membuka diary itu.
Milik: Ashilla Fiona Michella
Since: 19 maret 2006
“Ashilla itu siapa sih?” Marchella heran.
Marchella penasaran, ia membuka halaman terakhir di diary itu.
“Haaaahhhh!!” Marchella kaget, ada bercak darah di diary itu.
Lalu Marchella segera menutup buku itu dan menyimpannya di laci. Kemudian Marchella pergi tidur.
Malam semakin larut, tetapi Marchella belum bisa tidur. Kamarnya gelap, ia segera menyalakan lampu. Kemudian Marchella memberanikan diri untuk mengambil diary itu.
“Baca-baca aah” kata Marchella sembari membuka buku itu.
14 oktober 2007
Hari ini Ricky nembak aku. Sebenernya aku gak suka sama Ricky. Lagipula aku tau kalo Dita suka banget sama Ricky. Tapi Ricky udah lama banget suka sama aku. Dan Ricky kena penyakit kanker. Ricky bilang, hidup dia mungkin gak akan lama lagi. Karena kasihan, aku terima aja.
“Ricky? Dita? Mereka sebenernya siapa ya?” Marchella masih heran.
“Aah bodo amat lah. Ini kan diary orang. Tapi ngomong-ngomong ngapain juga ya gua bawa-bawa diary orang? Aah tapi kan gak ada yang punya. Mending gua bawa. Secara kan gua kepo. Hahahaha” Marchella tertawa sendiri.
Marchella segera meletakkan diary itu di laci. Lalu Marchella kembali tidur.
Esok harinya…
“Eh, kemarin ya gua nemu diary. Gak jelas gitu deh. Terus di belakangnya ada bercak darah” kata Marchella kepada teman-temannya.
“Terus lo bawa pulang?” Tanya Tiara.
“Yupz” kata Marchella.
“Emang lo gak takut apa?” Kata Vianni.
“Enggak” kata Marchella
“Eh, ngomong-ngomong itu diary punya siapa?” Tanya Nadine.
“Ashilla fiona Michella” jawab Marchella.
“Astaga naga bonar ebuset” Nadine kaget.
“Emang kenapa?” Tanya Tiara.
“Nih, jadi si Ashilla itu seangkatan sama kakak gua, si Naura. Kakak gua kan lulusnya tahun 2008. Tapi si Ashilla meninggal tahun 2007″ kata Nadine.
“Berarti Ashilla meninggal pas kelas SMA 2 dong” kata Vianni.
“Iya, kayak kita. Kita kan sekarang juga kelas SMA 2″ kata Nadine.
“Terus, kok bisa meninggal?” Tanya Marchella.
“Kalo gak salah sih dibunuh sama sahabatnya sendiri, si Dita. Ceritanya Dita sukaan sama cowok namanya Ricky. Terus Ricky malah jadian sama Shilla. Dibunuh deh” kata Nadine.
“Kok lo tau banget sih ceritanya?” Tanya Tiara.
“gua dikasih tau kakak gua” kata Nadine.
“Terus, si Shilla meninggal dimana?” Tanya Vianni.
“Kejadiannya di kelas kita” kata Nadine.
“Hiiiiyy!” Marchella bergidik ngeri.
Pulang sekolah…
“gua jadi penasaran sama kejadian itu” kata Marchella.
“Sama nih, gua pengen selidikin” kata Nadine.
“Kan kakak lo bisa kita mintain informasi” kata Marchella.
“Masalahnya kakak gua di kuliah di Amerika” kata Nadine.
“Yaah, terus gimana dong?” Kata Marchella.
“Gimana kalo kita ke ruang perpus aja? Siapa tau kita bisa nemuin data tentang Ashilla dan Dita” kata Nadine.
Di ruang perpus…
“Duh, buanyak banget” kata Nadine.
“Ribet nih carinya” kata Marchella.
Kemudian mereka mencari arsip tahun 2006-2007.
“Ini dia!” Kata Nadine.
“Apaan tuh?” Tanya Marchella.
“Ini arsip nya Ashilla dan Dita” kata Nadine.
Kemudian mereka berdua menyelidiki arsip itu.
“Ooo… gua dapet alamat mereka berdua” kata Nadine
Perjalanan pulang…
“Lo udah catat alamat mereka?” Tanya Marchella.
“Udah” kata Nadine.
“Terus kapan kita pergi?” Tanya Marchella.
“Besok. Kan besok hari sabtu” kata Nadine.
“Oh iya, libur” kata Marchella.
Di rumah…
“Haaa… Akhirnya bisa rebahan lagi di kasur yang serba empuk ini” kata Marchella sambil berguling-guling di kasur.
“Tapiii… Ini kok panas banget ya kayak di pantai kuta?” Tanya Marchella.
“Ooo iya! gua belum nyalain AC” lalu Marchella segera menyalakan AC.
Kemudian Marchella kembali mengeluarkan diary yang kemarin ia temukan. Tanpa sengaja Marchella membuka halaman terakhir.
“TOLONG AKU!” Tertulis sebuah kalimat di halaman terakhir.
“Hah? Ini tulisan siapa sih? Bikin merinding aja” kata Marchella.
Malam hari…
Marchella akan beranjak tidur. Matanya terasa berat. Saat Marchella sedang menatap ke kaca, ia melihat seorang perempuan. Perempuan itu berambut panjang sepinggang, memakai baju putih abu-abu, dan ada bekas tusukan di perutnya.
“Haaahhh!!! Hantu!! Hantuu!!” Marchella takut sekali.
Tiba-tiba mama Marchella masuk ke kamar Marchella.
“Ya ampun, kok teriak-teriak sih?” Tanya mama.