Cerpen ini ditulis berdasarkan tantangan tema dari Kak Lisaa (@ᶠˡᵃ•Lisaa Hoshinova)
***
Pagi ini adalah waktunya pelajaran olahraga. Teman-teman sekelasnya sedang beraktivitas di lapangan. Berbeda dengan Lisaa yang tidak tertarik dengan kegiatan berat dan memicu keringat. Lisaa memilih duduk di koridor sembari membaca buku Sherlock Holmes yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah.
Ketika hanyut di dalam cerita, seorang wanita paruh baya yang tampak elegan berdiri di hadapannya. Ternyata dia adalah Bu Menier, kepala sekolahnya.
"Lisaa, tolong kamu carikan sebuah buku berjudul VILO Diary's di gudang perpustakaan sekolah. Nanti berikan pada saya di kantor, yah," titah Bu Menier. Lisaa mengangguk paham, lalu berjalan ke arah perpustakaan. Ini bukanlah kali pertama Bu Menier menyuruh Lisaa untuk mencarikan buku dari sana.
Setelah berjam-jam mencari di gudang perpustakaan, tampak sebuah buku tipis bersampul hard cover yang masih awet di rak reyot paling ujung. Kertasnya berwarna kekuningan, juga dihiasi bercak hitam dan coklat yang menandakan umur buku itu sudah puluhan tahun. Lisaa membersihkan debu yang menempel, lalu membawanya.
Ketika Lisaa tiba di luar, dia melihat mobil ambulans terparkir di dalam halaman sekolah. Kemudian tampak tiga petugas medis sedang mendorong hospital bed beroda yang dihuni oleh seorang wanita.
"Katanya Bu Menier minum kopi beracun di kantornya, yah?" bisik seorang siswi yang sedang berada di koridor kepada temannya. Namun, Lisaa tidak sengaja ikut mendengar gosip itu.
"Semua murid silakan pulang. Tolong jangan panik, dan jangan menyebarkan berita tentang Bu Menier sampai pelakunya tertangkap. Terima kasih."
Pengumuman tadi berasal dari speaker sekolah, tepatnya ruang auditorium. Mendengar hal itu, semua murid segera bergegas pulang. Termasuk Lisaa yang masih bingung dan penasaran.
***
Sesampainya di rumah, Lisaa langsung membaca buku harian itu di dalam kamar.
Isi buku harian itu adalah tentang seorang gadis dua belas tahun bernama Viviana Lopester, yang marah dan kesal kepada pamannya, Rion Lopester.
Rion selalu datang dengan aroma alkohol yang pekat, lalu membuat keributan di rumah. Tak jarang dia melakukan kekerasan pada Ibunya, Vania Lopester, ketika ayahnya, Anselot Lopester, sedang pergi ke luar kota.
Satu-satunya tujuan Rion adalah meminta uang sebanyak mungkin untuk dipakai berpesta di club malam.
Karena tidak ingin mencoreng nama keluarga, Vania selalu memberinya uang. Namun dengan syarat, Rion tidak akan pernah lagi menggunakan nama Lopester. Jika sudah cukup umur nanti, Viviana ingin sekali mengajukan Rion ke persidangan bersama Tuan Hazlet, pengacara keluarga Lopester.
Kemudian di halaman-halaman selanjutnya, Viviana bercerita tentang kepahitan menjadi bagian dari keluarga Lopester. Ayah yang jarang dirumah, ibu yang selalu tertekan karena paman pemabuk, dan rasa kesepiannya sebagai anak tunggal di rumah besar yang dingin itu.
Viviana merasa sedih, kecewa, dan ingin sekali kabur dari sana. Dia bahkan sudah membuat rencana pelarian pada tanggal 20 oktober 1981. Namun setelah halaman tentang rencana itu, seluruh halaman diary selanjutnya kosong melompong.
Kemudian Lisaa mencari info tentang pengacara keluarga Lopester, Tuan Hazlet, di internet. Ternyata saat ini dia sudah pensiun dan beristirahat di Panti Jompo Santa Irene. Karena lokasinya dekat, Lisaa langsung berangkat naik taksi ke sana. Ia hendak mencari tahu makna dari diary itu, karena saat ini kondisi Bu Menier tidak mendukung.
Setelah sampai di Panti Jompo Santa Irene, Lisaa diizinkan bertemu dengan Tuan Hazlet yang dingin dan terlihat berumur 80 tahunan. Tanpa basa basi, Lisaa langsung menunjukkan buku diary Viviana kepada Tuan Hazlet, agar dia membacanya.
Ketika selesai membaca dengan kaca mata tebal, Hazlet meraba sebuah bekas sobekan. Matanya mengintimidasi Lisaa, kemudian bertanya, "Kenapa ada halaman yang disobek?"
"Aku tidak tahu. Aku bahkan baru sadar ada bekas halaman yang disobek," jawab Lisaa jujur.
Hazlet terdiam, dari raut wajahnya tampak masih curiga. Sesudah pertimbangan yang cukup berat di dalam kepalanya, Hazlet memutuskan untuk bercerita.
Keluarga Lopester yang bengis dulu selalu disegani dan dijunjung tinggi oleh orang lain. Hazlet pun memaki Nyonya Vania Lopester, yang ternyata selalu telat membayar biaya sewa pengacara. Padahal Hazlet sudah bersusah payah menutupi kasus dan kejahatan yang kerap dilakukan oleh adik bodohnya, yaitu Rion Lopester.
Karena itu kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, Hazlet memutuskan untuk berhenti sebagai pengacara keluarga Lopester setelah hampir lima tahun bekerja untuk mereka. Namun seminggu kemudian, dia mendapat kabar bahwa seisi rumah itu telah dibantai.
Ada 5 orang korban yang dibunuh dengan kejam, tetapi identitas mereka ditutupi dari khalayak. Menurut Hazlet, korbannya adalah Viviana, Vania, Anselot, dan dua orang pelayan yang kurang beruntung. Namun setelah melihat diary Viviana, dia yakin bahwa si penerus tunggal tidak menjadi korban dari tragedi tiga puluh tahun lalu.
Karena Viviana pergi beberapa hari sebelum kejadian itu terjadi di rumahnya.
Hazlet tertawa sinis ketika menyadari bahwa Nyonya Menik, rekan kerja Nyonya Vania yang licik, tidak disebutkan di buku itu. Mungkin karena dulu Viviana cukup akrab dengannya.
"Anak yang malang, dia berhadapan dengan ular yang menyamar sebagai pita. Pasti wanita ular itu sudah mati," ketus Hazlet.
Lisaa terdiam sejenak, lalu permisi pulang karena waktu berkunjung sudah habis.
***
Keesokan harinya, Lisaa datang ke sekolah pagi-pagi buta, agar bisa memasuki ruangan kepala sekolah. Beberapa garis kuning yang menghadang di pintu ia lewati dengan mudah, karena tubuh Lisaa ramping dan lincah.
Segelas kopi dingin yang masih penuh dan diduga beracun ada di atas meja. Di sebelahnya terdapat kertas kecil yang bertuliskan 'Nyonya Menier alergi kopi. Ini sebuah jebakan'.
Lisaa semakin bingung dan cemas, takut dipergoki menyelinap. Ia merampas kertas itu, lalu berlari keluar dari ruangan.
Ketika sampai di koridor, seorang pembersih sekolah yang sedang menyapu meneriakinya. "Jangan berlari! Nanti Nyonya Menik marah!"
Lisaa tersentak kaget mendengar nama Menik disebut. Dia langsung berjalan menghampiri pria tua pemarah yang sedang memegang sapu itu.
"Siapa itu menik?" tanya Lisaa.
"Dasar anak sekolah kurang ajar! Kalian semua memang nakal dan berotak udang! Nama kepala sekolah sendiri tidak tahu!" omel pria tua itu.
Lisaa mengernyit heran. "Bukankah namanya Bu Menier?" Lalu si pria tua menjawab, "Nama aslinya adalah Menik Eresta, Menier itu hanya singkatan."
Mata Lisaa terbelalak. Dia segera mengucapkan terima kasih, dan buru-buru pamit.
Si pembersih sekolah tersenyum miring melihat punggungnya menjauh.
Kemudian Lisaa pergi menyelinap dari gerbang belakang, dan menaiki sebuah taksi menuju Panti Jompo Santa Irene.
Ketika bertemu lagi dengan Hazlet, Lisaa langsung menjelaskan semua info yang dia miliki. Mulai dari kedatangan ambulans, alergi kopi, catatan misterius, hingga siapa Bu Menier sebenarnya.
Hezlet tersenyum miring, lalu mengatakan, "Mungkin ... ambulans itu tidak membawanya menuju rumah sakit."
Lisaa terkesiap dan refleks menggeleng, karena seingatnya yang membawa Bu Menier adalah petugas medis sungguhan.
Hazlet tampak berpikir sejenak. "Coba kau geledah ruangan kantornya. Mungkin ada satu kertas lusuh sobekan dari diary Nyonya Viviana yang bisa menjawab semua ini."
Ia langsung mengangguk paham, dan bergegas kembali ke sekolah sebelum gerbang ditutup. Ketika semua murid dan guru berbaris di lapangan untuk sebuah pengumuman penting, Lisaa menyelinap masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Secepat kilat dia membongkar lemari, laci, dan tempat sampah diruangan itu. Tetapi, tidak ada satu kertas lusuh pun yang terlihat.
"Mencari ini?" Seseorang bersuara berat mengagetkan Lisaa. Pria yang suduh cukup tua itu berdiri di depan pintu, sembari menunjukkan kertas yang menjadi tujuan Lisaa. Dia terkesiap, lalu mengambil posisi siaga.
"Aku adalah Rion, paman Viviana. Dua hari lalu aku baru bebas dari penjara. Aku langsung datang ke sekolah ini untuk menyelesaikan masalah dengan Menik, karena dia kembali mengancamku. Tetapi dia menolak, dan mengusirku keluar," jelas Rion tiba-tiba, membuat Lisaa shock dan kebingungan.
"Semalam sore aku datang untuk mencari kertas ini, dan mendapatkannya duluan sebelum kau. Pria tua pembersih sekolah yang memberikan kertas ini padaku. Dia curiga saat menemukannya di tempat sampah sebelum menutup gerbang, lalu tidak sengaja berpapasan denganku," jelas Rion.
Kemudian dia melanjutkan, "Aku meminta kertas itu, lalu pulang. Besok paginya si pembersih sekolah meninggalkan pesan di atas meja untukku, tapi ternyata kaulah yang membaca pesan itu."
Lisaa terpaku di tempat, berusaha mencerna semua fakta yang berlompatan dari mulut Rion.
"Dulu Menik jatuh cinta padaku saat dia masih menjadi rekan kerja Vania. Aku tahu dia terobsesi padaku karena menginginkan harta Lopester. Untuk membuktikan cintanya, aku menantang Menik," jelas Rion, memulai cerita.
"Aku ingin mendapatkan semua harta warisan keluarga Lopester, entah bagaimana pun caranya. Karena itu, Menik mengutus orang untuk membantai semua keluarga Lopester, maka otomatis segala harta akan diberikan padaku. Namun ternyata ...." Raut wajah Rion tampak berubah dingin.
" ... Viviana tidak ada dirumah itu saat terjadi pembantaian. Jadi, Menik gagal karena persidangan tertutup memutuskan semua harta jatuh ke tangan Viviana. Aku malah masuk penjara, karena kejahatanku terkuak setelah Hazlet berhenti bekerja pada keluargaku. Sudah pasti cinta Menik kutolak."
Rion berjalan mendekat, lalu memberikan sobekan diary Viviana kepada Lisaa yang berdiri di balik meja kepala sekolah. Lisaa pun menerima kertas itu dengan raut wajah kebingungan.
"Menik dendam dan terus berusaha mencari Viviana untuk dibunuh. Ternyata setelah puluhan tahun, Menik belakangan ini menemukan diary itu di gudang rumah keluarga Lopester. Dia membaca isinya, dan merobek kertas yang menceritakan tentang kecurigaan Viviana bahwa Menik dan aku terlibat hubungan. Namanya juga hanya muncul di halaman itu."
Rion menghela napas sejenak. "Dia sengaja meletakkan buku itu di gudang perpustakaan. Karena dendam, dia ingin siapapun yang menemukan buku itu menuduh bahwa akulah yang membantai keluarga Lopester. Dia sengaja memilihmu, karena tahu bahwa kau sering meminjam buku detektif dan misteri dari perpustakaan sekolah."
Rion meraih kopi dingin yang ada di atas meja, lalu menyeruputnya sedikit. "Dia juga memalsukan kopi beracun ini, agar kau tidak menemuinya, dan malah langsung melaporkan buku itu ke polisi. Namun ternyata, rasa penasaran dan kecerdikanmu di luar ekspektasinya."
Lisaa masih curiga dan tidak menurunkan kewaspadaan. Dia menatap tajam pria itu sambil bertanya, "Dari mana kau tahu semua ini?!"
Dia malah tertawa kecil. "Kemarin Menik dijemput oleh ambulans palsu, subuh ini dia dijemput oleh mobil polisi. Dia sudah mengakui segalanya, dan polisi memberikan salinan rekaman itu kepadaku ketika aku sampai di sini. Bahkan hal ini sudah diumumkan kepada semua murid oleh polisi, sebagai hukuman tambahan untuk Menik," jelas Rion.
Akhirnya Lisaa mengangguk paham, lalu mulai bernapas lega.
Pada sore hari, sepulang sekolah, Lisaa kembali berkunjung ke Panti Jompo Santa Irene. Dia menceritakan semua fakta dan cerita yang dia dapatkan tadi pagi kepada Hazlet. Kemudian Hazlet mengangguk paham seraya tersenyum puas. "Kau anak yang hebat," pujinya. Lisaa tersenyum malu, lalu tertawa kecil.
Namun, ada satu hal yang masih membuatnya penasaran.
Di mana Viviana saat ini?
***
Terima kasih sudah membaca!;)