Sean adalah seorang loper koran. Setiap hari ia bersepeda mengirimkan koran satu per satu ke rumah-rumah di suatu kompleks perumahan. Hampir seluruh rumah di sana minta dikirimi koran dan hanya beberapa saja yang tidak.
Suatu hari, dari sebuah rumah yang tidak pernah meminta dikirimi koran, keluarlah seorang lelaki paruh baya yang memanggil Sean.
"Hey anak muda, bisakah kau bawakan koran padaku mulai besok?"
"Baik Tuan, apakah Tuan akan melakukan pembayaran melalui saya atau langsung ke koran Moriarty?"
"Aku akan membayar padamu"
"Baik Tuan. Apakah Tuan menginginkan koran hari ini? Masih ada satu tersisa"
"Berikan padaku. Aku akan membayar setiap satu pekan"
"Baik Tuan...?"
"Stone"
"Baik Tuan Stone, sampai jumpa lagi"
"Letakkan saja korannya di kotak surat!"
Sean pun kembali keesokan harinya ke perumahan Tuan Stone. Rumah Tuan Stone terletak paling jauh dari gerbang sehingga ketika sampai, ia hanya tinggal membawa beberapa koran terakhir. Seperti pesan Tuan Stone, Sean meninggalkan koran di dalam kotak surat.
Hari berikutnya, Sean datang lagi, namun ia melihat koran kemarin masih berada dalam kotak surat. Ia berpikir apakah mungkin Tuan Stone sedang pergi keluar kota. Tanpa berlama-lama, Sean meninggalkan koran hari itu di atas koran hari sebelumnya.
Sean pun kembali ke kediamannya. Ia tinggal sendiri di sebuah kamar yang ia sewa. Sean tidak ingat sudah berapa lama ia tinggal sendiri.
Hari berikutnua tiba, dan Sean kembali mengantarkan koran ke rumah-rumah tak terkecuali rumah Tuan Stone. Kali ini ia tidak lagi melihat koran hari sebelumnya di dalam kotak surat. Sean berpikir pasti Tuan Stone sedang bepergian saat itu. Pada saat Sean meletakkan koran hari ini di dalam kotak surat, Tuan Stone membuka pintu rumahnya.
"Hey anak muda. Mengapa kamu begitu rajin? Ini masih pukul 6 pagi"
"Hari ini aku ingin menonton pertandingan basket Tuan, jadi aku harus bekerja lebih pagi. Tuan, kapan kamu kembali?"
"Anak muda memang harus mencari hiburan. Aku kembali tadi malam. Bagaimana kamu tahu aku tidak di rumah?
"Hanya perasaanku saja. Karena aku menumpuk koran dua hari kemarin"
"Ah benar juga. Baiklah, terimakasih anak muda!"
"Sean, Tuan Stone!"
Begitulah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pikir Sean. Ia pun pergi menonton pertandingan basket di sebuah sekolah menengah. Sepulangnya dari sana, Sean mampir ke agen koran Moriarty untuk mengembalikan beberapa koran yang tersisa. Saat hendak mengambil sepedanya, ia melihat Tuan Stone berada di dalam mobil yang terparkir di dekat situ. Sean pun mencoba menghampiri Tuan Stone.
"Tuan Stone, kita bertemu lagi."
"Halo Sean!"
"Apakah Anda sedang mengantar istri Anda berbelanja?"
"Tidak. Aku menemani anakku"
"Baiklah Tuan Stone, sampai jumpa"
Sean sedikit penasaran. Ia tidak langsung pulang melainkan bersembunyi dan memperhatikan gerak-gerik Tuan Stone. Ia juga ingin melihat seperti apa rupa anak dari Tuan Stone. 10 menit, 20 menit, 30 menit berlalu dan mobil Tuan Stone belum bergerak. Tuan Stone juga tidak keluar dari mobil sama sekali. Sean juga tidak melihat seseorang yang mungkin adalah anak Tuan Stone di sekitar situ. Lama kelamaan Sean bosan dan memutuskan untuk kembali.
Keesokan harinya, seperti biasa, Sean mengantarkan koran. Setibanya di depan rumah Tuan Stone, ia melihat pemilik rumah itu sudah menunggu di teras rumahnya.
"Hai, Sean! Maukah kau masuk dulu ke rumah?"
"Terima kasih Tuan Stone, tapi aku tidak bisa berlama-lama karena ada koran yang belum kuantar"
"Baiklah. Apakah setelah selesai kau bisa kembali ke sini?"
"Apakah ini begitu penting, Tuan Stone? Apa yang bisa kubantu?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengundangmu mengobrol."
"Aku akan kesini lagi nanti. Sampai jumpa Tuan Stone!"
Sean sedikit curiga dan takut, namun ia sudah kepalang berjanji dan kembali ke rumah Tuan Stone setelah mengantar koran terakhir. Ia memarkir sepedanya dan berjalan ke arah pintu rumah Tuan Stone.
Sean mengetuk pintu dan menekan bel.
"Tuan Stone, ini aku, Sean."
"Tunggu sebentar aku akan segera keluar"
Sean menunggu Tuan Stone membuka pintu sambil duduk di teras. Ia melihat taman kecil milik Tuan Stone dan jatuh cinta pada bunga-bunga di situ. Selama ini Sean tidak pernah memperhatikan meskipun sudah beberapa kali ke rumah ini. Tak lama, pintu terbuka.
"Masuklah Sean!"
"Terima kasih Tuan. Aku tidak membawa apapun untukmu. Lain kali aku akan membawakanmu kopi atau teh yang enak"
"Tidak perlu. Aku yang mengundangmu kemari."
Sean pun duduk di sofa. Ia melihat Tuan Stone tampak segar, mungkin baru saja mandi.
"Apa yang ingin kau minum, Sean?"
"Apa saja aku suka, Tuan dan yang penting tidak merepotkanmu"
"Kalau begitu ikut aku ambil sendiri di lemari es. Pilih yang kau suka!"
"Baik, Tuan Stone!"
Sean mengikuti Tuan Stone menuju lemari es. Ia memilih sekotak susu dan mengucapkan terima kasih.
"Sean, apakah kamu membaca koran yang kamu antar setiap hari?"
"Tidak, Tuan. Aku hanya membaca headlinenya saja. Jika menarik, aku akan membacanya. Jika tidak, aku tidak akan membukanya sama sekali. Apakah ada berita bagus akhir-akhir ini, Tuan?"
"Tidak, tidak. Sebenarnya aku baru mulai membaca koran di hari kita pertama kali bertemu. Apakah kau ingin tahu kenapa?"
"Ini mengejutkan. Kukira Anda adalah orang baru di kompleks ini sehingga Tuan baru sempat berlangganan koran hari itu"
"Aku sudah lama tinggal di sini hanya saja aku jarang keluar rumah. Bagaimana, apakah kamu ingin tahu kenapa aku mulai membaca koran?"
"Ceritakan padaku, Tuan"
"Apakah kamu ingat hari apa saat kita bertemu?"
"Hari Selasa, Tuan"
"Baik. Bisakah kau ambilkan koran hari Selasa untukku? Aku menaruhnya di rak itu"
Tuan Stone menyuruh Sean mengambil koran hari Selasa sembari menunjuk rak yang berada di dekat pintu. Sean pun mengambilkannya tanpa sepatah kata. Ia merasa semakin takut namun Tuan Stone juga begitu hangat.
"Terima kasih Sean. Apakah kau mau membacakannya untukku? Hanya di halaman 15 saja, kolom terakhir"
"'Seseorang ditemukan...'" Sean menghentikan apa yang dibacanya.
"Sean, maafkan aku"
"Tuan Stone, apakah ini Anda?"
"..."
"Aku tidak mengerti Tuan Stone"
"Pulanglah, Sean. Kau boleh kemari kapan saja jika kau ingin"
Sean pun segera meninggalkan kediaman Tuan Stone. Namun ia berhenti sejenak di atas sepedanya.
"Tuan Stone, apakah kau benar-benar menunggu anakmu kemarin?"
"..."
Tuan Stone tidak menjawab.
(tbc.)