"Iya, aku masih baik-baik saja dengan apa yang tersisa," jawabku kala semua orang menatap pilu ke arahku. Nasib baik bukan takdirku. Jika itu takdirku tidak mungkin aku berdiri di sini sebagai seorang yang dijamu.
***
Kemarin terus berlalu dan aku harus terus melangkah maju, meskipun itu tidak bersamamu. Orang tahu kita dekat dan semua baik-baik saja, tetapi dalam diri tidak kutemukan hal seperti itu. Setelah pengucapan 'bukan siapa-siapa' itu mewarnai hubungan kita.
Ah, aku lupa memang siapa aku? Seharusnya dari awal tiada pernah kita mengenal dan sedekat ini. Tidak perlu ada rasa untuk orang yang telah mati rasa, sepertimu. Kukira aku bisa memberi obat merah padamu, tetapi sepertinya malah luka merah itu semakin menjalar dan bahkan menjadi-jadi di sana.
Benar, hatimu telah mati semati-matinya, bahkan tiada yang mencium aroma kehidupan lagi di sana. Namun, apa aku salah jika ingin menarik tanganmu ... mengajakmu menikmati hidup. Bahwasanya hidup tidak hanya hitam-putih, ada banyak warna lagi dan kamu harus tahu.
Dunia tempatmu berpijak bukan tentang dunia yang diisi oleh orang-orang mengecewakan, karena di dunia ini ada juga yang mengharapkanmu tersenyum tanpa beban mengikat di pundak, dan aku yakin kamu bisa. Layaknya tawamu pertama kali itu, saat rajukku malah membuatmu geram, dan memutuskan tertawa.
Suara itu, senyum itu, dan itu kamu. Sesuatu yang istimewa dan sesuatu yang tidak suka kamu ulangi. Meskipun sudah menjadi canduku detik itu juga.
"Melamun mulu!" Aku tersentak, ternyata itu kamu orangnya.
Senyum menarik ujung bibirku, cahaya terang memantul dari ujung ekor mata. Sebuah gelas kecil menghiasi tanganmu, tetapi bukannya kamu hanya perlu satu? Hendak bertanya nanti dikira ge'er.
"Mau?" tanyamu yang masih menatapku sayu, ya, dinginnya pegunungan ini pasti membuatmu mengantuk. Terlebih sudah berapa hari matamu tidak terpejam? Heran, bisa-bisa kamu menyiksa diri hanya karena sebuah pengalihan emosi.
"Iya, kalau dikasih mau." Jujur itu lebih baik, bukan? Aku tidak terlalu naif.
Beberapa saat kamu terdiam, ah, mungkin saja tidak ingin membagi. Berharap padamu adalah hal yang mustahil---mustahil kucegah. Meskipun dingin membanting perasaanku, tetap saja aku menorehkan cinta pada hubungan 'bukan siapa-siapa' yang selalu kamu ingatkan.
Tanganmu mengulur, seolah memintaku untuk menerima uluran itu. Aku mau, tetapi mau ditaruh mana muka ini. Untuk kesekian kalinya kamu hanya menghina perasaanku, kenapa tidak dengan kali ini?
Beberapa menit dari waktu itu, aku kembali melirik ... tanganmu masih ada di sana. Apa harapan layak kutaruh kembali di sana?
Hatiku memang bandel. Kubalas uluran tangan itu.
"Bawakan gelasku," ucapmu dengan gamblangnya. Kecut.
Kuhempaskan napas dongkol ke bawah tanah kabut ini. Langkahmu sudah menghilang dari pandangan, tetapi kenapa rasa cinta tidak terbalas ini lebih masuk dan terdengar bersorak-sorai tidak terima?
Hah, buat apa aku mengetuk pintu yang sudah dengan nyata di gembok dan dibuang kuncinya di hadapan secara terang-terangan? Lucu sekali ; aku.
Kopi ini akan segera dingin dan tuan pemiliknya tidak kunjung kembali. Lagi-lagi rindu meminang kehadiranmu, tetapi lupa surat lamarannya sudah kamu bakar saat awal pertama kali terbaca. Miris sekali asmara hidupku.
"Kau tahu ini bisa dingin? Sebenarnya ke mana saja, sih, kau ini?! Aku ditinggal sendiri juga! Iya, aku tahu aku gak penting," celotehku meletupkan emosi, bukan untuk kesekian kali. Karena bahasa diammu telah mengajari dan kini ubunku tidak kuasa menahan lagi. "Aku bukan dia dan aku tidak akan pernah jadi dia ataupun menggantikan dia. Dia adalah dia dan aku adalah aku. Ini ambil gelasmu," sambungku mengakhiri kekesalan dan memberikan gelas tadi padamu.
Seperti biasa, diammu selalu menjadi tanda tanya dan aku adalah tanda seru yang tidak tepat untuk suatu pertanyaan itu.
Menepi dan tahu diri adalah kunciku bertahan sejauh ini. Entah bagaimana bisa begini, aku mencintaimu tanpa mengingat apa yang akan kupatahkan untuk kesekian kali ; hati.
***
Tepian danau merupakan salah satu tempat nyaman yang pernah kukunjungi, setelah kutemukan bahumu.
"Nona, boleh saya duduk di sini?" Seorang dengan kulit sawo matang meminta izin. Aku mengangguk, melirik sekilas pria itu tanpa berucap lebih.
"Nona, saya sedang rasa sakit di dada. Kamu tahu itu kenapa?" Dialog pria itu yang mungkin mencoba menarik perhatian. Sikapku dingin, iya, tentu ini adalah sikap yang selalu kudapat darimu dan sudah khatam kupelajari.
"Karena cinta. Cinta itu gila, Nona. Apa kamu di sini juga karena itu?"
Memejamkan mata malas, kenapa orang ini terus berbicara. Apa seperti ini rasanya mendengar apa yang tidak ingin didengarkan? Lagaknya aku sekarang tahu kenapa kamu terus diam dengan ribuan pertanyaanku.
Aku beranjak pergi dari duduk, membiarkan pria itu terus mengoceh. Sialnya kini aku telah menjadi orang batu sepertimu, tidak berhati, dan tidak peduli dengan sekitar. Benar-benar sial.
***
"Dari mana kau?" cegahmu saat kakiku mulai memasuki ruangan kerja.
Aku yakin kamu tengah menatapku tidak suka, bukannya sikap ini yang selalu kamu berikan padaku? Bagaimana?
Balas dendam? Ah, aku tidak terlalu kejam sepertimu. Aku hanya ingin tahu sejauh mana aku menempati 'bukan siapa-siapa' dalam hidupmu.
"Mau ke mana?" Tanganmu melingkar di pergelanganku. Aku takut menatap mata itu, bintik kecil yang terus saja mengutarakan jujur bila bertemu. Memang sengaja aku tidak merespon setiap pertanyaan dan sikapmu. Namun, egoku selalu turun dengan genggamanmu.
"Gak ke mana-mana, lagi pula juga tidak penting."
Sekilas aku aku menatap wajahmu, seolah mencari-cari ... apa kamu akan menanyakan perasaanku?
"Aku ada pertemuan, bisa kautunggu sampai selesai?" tanyamu yang kutebak maksudnya. "Motorku--"
"Iya." Singkat dan begitu menyakitkan, apa lagi yang kuharapkan? Semua itu tidak akan terjadi, sampai kapan pun.
"Terima kasih!" teriakmu yang masih kudengar, meskipun sudah jauh aku melangkah pergi menuju kantin.
Kukibaskan tangan, iya, tidak peduli. Namun, ganjal menyelubungi langkah kaki kala semburat senyum merekah di parasmu terpantul dari dinding kaca di depanku. Bohong kalau aku tidak tersipu, tetapi terlalu naif jika aku membalikan badan membalas senyum itu. Karena kekasihmu berlawan arah denganku. Sahabat hanya bisa menjadi sahabat, begitu pun dengan hubungan teman 'bukan siapa-siapa' ini.
***
Kejadian itu tiga tahun lalu, tetapi ingatan tentangmu masih saja mengusik kehidupanku. Bukan tidak bisa menerima kenyataan hidup, melainkan untuk menghapus nama yang sudah lekat sekali itu sulit, dan waktu terkadang main-main terlebih dahulu.
Iya, meskipun sering kali aku menyeduh apa yang tidak seharusnya kuseduh ; rindu. Karena semua itu hanya sia-sia dan tidak akan mengembalikanmu padaku. Terlebih kulihat kamu tersenyum bungah di bawah genting rumah itu, bersama wanita dan gadis cilik cantik yang selalu menyambutmu usai bergelut dengan rutinitas kehidupan.
Binar penat dalam pelupukmu seolah lenyap saat menemui wanita dan gadis itu, lalu aku? Untuk apa menyimpan rasa candu ini lama-lama lagi. Harus sudahi dan menemukan kehidupan baru. Hidupku, sendiri.
~Sekian~