Judul dari : Yellowbitz Lero1bitto
Meeeooooooonnggggg..
Rintihan terakhir kucing itu terdengar begitu miris, rintihan panjang yang mengakhiri kesakitannya.
Krak.. Kruk.. Krak.. Kruk.. Glupppp..
Rahangnya sibuk mengunyah sesuatu
"Ahahaha.. Jantungmu selezat rupamu, kucing kecil."
*****
"Mamiii.. bolehkah aku makan lagi, pemotretan sangat membuatku lapar dan lelah"
"Tidak Lyana. Kamu harus mempertahankan bentuk tubuhmu jika ingin terus eksis. Kamu bisa minum air hangat yang banyak jika lapar." Tegas Hazel.
Lyana mencebik mendengar perkataan ibunya.
Seperti yang sudah-sudah, kali ini dia tidak bisa membantah.
Dengan sangat terpaksa ia mengambil segelas besar air hangat dan membawa ke kamarnya.
Gluuuuk. Gluuuuk..
Lagi, Lyana menelan sebutir obat tidur dan meminumnya. Setidaknya cara ini membuatnya kenyang dan mudah terlelap.
Oh.. Kenapa aku harus menuruti setiap perkataan mami? Kapan aku jadi diriku sendiri ?
*****
Krak.. Kruk.. Krak.. Kruk.. Glupppp..
Lagi, rahangnya sibuk mengunyah jantung yang masih segar walaupun sudah 2 hari disimpan di lemari pendingin.
"Ahahaha.. Jantungmu semanis wajahmu, nona."
---
"Kamu tidak ada jadwal hari ini Lyana?"
"Tidak mi. Adisty ditemukan tewas 2 hari yang lalu dan siang nanti dimakamkan, semua kegiatan pemotreatan dikosongkan."
"Ah.. Apa dia meninggal dengan luka di dada dan jantung yang hilang?
"He'eh.. Sepertinya korban pencurian organ tubuh lagi, mi."
"Ah.., Benar-benar mengerikan. Jesica, Yovita, Albert, dan sekarang Adisty, kenapa? Lagi-lagi temanmu meninggal mengenaskan dengan cara yang sama. Kamu harus berhati-hati, bisa saja kamu jadi target selanjutnya." Hazel memperingatkan Lyana.
"Mami jangan menakutiku dong. Terlepas dari bagaimana mereka lenyap, sebenarnya aku senang karena sainganku berkurang, haha."
Hazel mengernyit mendengar tawa kejam Lyana.
"Heiii Lyana, bisa saja kamu kehilangan jantungmu jika tidak bisa menjaga mulut dan sikapmu itu." Hazel memperingatkan.
"Sudahlah mi, aku mau kencan dengan Edward." Ujar Lyana ketika mendengar ketukan pintu rumahnya.
"Jangan terlalu asik pacaran. Ingat fokus pada tujuanmu, menjadi model terkenal. Bahkan kamu harus go international bagaimanapun caranya."
"Mamiii.. Aku bosan mendengar kata-kata itu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, sesekali bersantai memangnya tidak boleh?"
"Aku hanya mengingatkan Lyana, bagimanapun kamu harus.."
Cupppp.
"Aku tahu, mami sayang. Aku pergi dulu ya,mi. Bye." Lyana memotong perkataan Hazel dan melesat ke pintu menemui kekasihnya.
*****
Aku pernah diposisi Lyana.
Gadis periang, banyak keinginan, dan selalu bersemangat mengejar harapan.
Lyana juga mewarisi memiliki kecantikan yang khas, tubuh mulus, tinggi dengan bentuk proposional, rambut berwarna madu bergelombang indah..
Sebab itu aku tau persis apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk menjadi model terkenal dan mendapat bayaran mahal.
Ada hal yang harus dipertahankan, ditingkatkan atau singkirkan jika ingin selalu dipuja.
Ah.. Semua karena ibuku.
Andai ibu tidak membawa lelaki pengganti ayah tinggal bersama kami..
Karena itulah awal penderitaanku.
Aku berulang kali diperkosa lalu hamil, ibuku menuduhku telah menggoda suami barunya, lalu aku diusir dari rumah.
Aku benci ibu yang tidak mau mendengar penjelasanku.
Jika memang aku ingin menggoda pria, kenapa harus lelaki itu.
Siapa yang mau seperti aku?
Cita-citaku kandas, masa depanku hancur begitu mendapati diriku mengandung benih laki-laki kepar*at itu.
Mereka tidak boleh tertawa dibalik penderitaanku.
Mereka harus membayar semua yang kurasakan, tidak hanya dengan harta tapi juga hidup mereka.
Anakku harus melanjutkan cita-citaku.
Anakku harus jadi seseorang yang kumau.
Anakku harus jadi yang terbaik.
*****
Hazel menghirup aroma lezat yang menggelitik indera penciumannya.
Amis darah segar.
Dan mengikuti panggilan aroma itu menuju kamar Lyana.
"Lyana ! Apa yang kau lakukan?"
"Sama seperti yang kau lakukan pada teman-temanku dan.. ayah kandungku, Hazel. Aku memakan jantung Edward, lelaki yang baru saja menodaiku!"
"Kamu.. Bagaimana kamu.."
"Sekarang giliranmu Hazel, aku benci karena kamu terlalu mengatur hidupku, lebih-lebih membuatku lahir didunia ini. Hahaha. Kamu akan rasakan akibat mengizinkanku hidup."
"Tidak, tidak. Jangan Lyana, semua yang kulakukan untuk kebaikanmu nak." Hazel mencoba meminta pengertian anaknya.
"Tidak hanya sainganku, bahkan para sahabatku telah kau lahap jantungnya, huuu.. huuu..." Lyana bersujud menangis. "Mami, aku mengasihimu. Hanya mami yang paling mengerti aku." Lanjutnya lagi.
Hazel mendekati anaknya yang tampak sangat terpuruk.
"Lyana sayang.. Bicaralah baik-baik. Mami siap mendengarkan dan mencarikan jalan keluarnya. Tidak ada masalah yang tidak selesai."
"Aaaa... Aaaah..." Hazel yang tidak awas, tersadar ketika Lyana sudah mencekik lehernya.
"Bodoh. Hazel kamu memang wanita bodoh ! Harusnya kamu tidak perlu membiarkanku lahir agar kau tidak menderita, hahaha.. Kau biarkan dirimu tersiksa lalu membawaku bersama menderita, hahaha.. Tidak akan pernah lagi, Hazel." Hingga tawa Lyana menggema masih dapat didengar sebelum ia merasa nyeri di dadanya.
Ringan.
Sendiri.
Hening.
Kosong.
Gelap.
*****
Krak.. Kruk.. Krak.. Kruk.. Glupppp..
Lagi, rahangnya sibuk mengunyah sesuatu.
"Sayang, makan apa kedengarannya enak banget."
"Tentu saja makan kripik kentang, mau?"
"Boleh. Mamimu mana?"
"Ada dikamarnya. Paling lagi senang meratap dikamarnya, biarkan saja dia asik dengan dunianya. Aku bosan mendengar tangisan yang tidak jelas itu. Satu sisi dia kelihatan lemah dan rapuh, sisi lain dia sangat keras mendorongku agar memiliki karir gemilang."
"Sayang, semua yang dilakukan orangtua pasti demi kebaikan anaknya."
"Harusnya begitu tapi...
"Aaaaaaaaaaaa...."
"Huuuuuu... Huuuuuu."
"Lyanaaaaaa..."
"Tidaaak."
Terdengar pekikan dan tangis yang nyaring dari lantai atas.
"Itu.. Mamimu, kenapa?"
"Ah, biarkan saja Edward. Aku sudah terbiasa sejak kecil mamiku seperti itu. Nanti juga tenang sendiri."
"Tapi kan.. Apa kamu tidak ingin.." Tanya Edward menggantung.
"Mengobatinya gitu maksudmu, sayang? Ah, mami ga akan bisa sembuh, karena dia memang tidak mau sembuh." Sahut Lyana sambil terus mengunyah kripiknya.
Krak.. Kruk.. Krak.. Kruk..
*****
"Bunuh orang itu.. atau anakmu yang dibunuh."
"Lyana, mami lakukan semua demi kebaikanmu, demi masa depanmu sayang."
"Kamu harus memuluskan jalan Lyana menuju puncak karirnya, kamu tidak ingin dia gagal kan?"
"Hazel, maafkan ibu telah membuatmu begini."
"Lakukan. Jangan ragu. Kamu harus melenyapkan penghalang kebahagiaan putrimu."
"Hazel, kamu memang manis seperti ibumu. Pemberontakanmu justru membuatmu makin menggairahkan, haha."
"Kamu terikat kontrak, bagimana kamu biarkan dirimu hamil? Pergi, kami tidak perlu modal yang tidak profesional."
"Lyana adalah satu-satunya alasan mengapa aku bertahan hidup."
"Ibu, aku ini korban. Aku tidak pernah merayu lelaki itu. Tolong bu dengarkan aku."
"Lyana, kamu harus melanjutkan cita-cita mami. Mami akan mendukungmu, bahkan jika harus mengorbankan nyawa mami.
Aaaaaaaaa...
Bisikan-bisikan itu..
Suara-suara itu seolah tidak pernah lelah menari di benak Hazel.
"Lyana, bagaimana Lyana bisa tahu semuanya?" Gumam Hazel disela isaknya.
Mmmeeeeoooooongggg...
.
.
.
.
.
- TAMAT -
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.. nanti aq fdbck. Terima kasih.