Judul dari : penahitam
Ini karya dari sebuah judul keren buatan kak
penahitam. Selamat membaca dan mohon maaf bila tidak menarik 🙏😊
_______________________
(Maaf, anda gagal mengikuti audisi. Harap mencoba lagi.)
Pengumuman dengan delapan kata dan dua titik selalu Kalisa dapatkan acapkali mengikuti audisi. Kalisa kini mulai menyerah, tubuh bagus dan wajah cantik ternyata bukan jaminan seseorang diterima atau tidak. Halnya Kalisa, dia bagus dalam visual tapi anjlok dalam kemampuan.
Namanya Kalisa Candrakirana. Gadis berusia 21 tahun yang bermimpi menjadi aktris. Sudah dua tahun ia melanglang buana mengikuti audisi berbagai peran, namun tak ada cocok baginya hingga kata ‘penolakan’ sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Sejujurnya, Kalisa memang tidak belajar akting secara profesional, hanya karena sang ibu merupakan aktris senior tidak menjamin namanya cemerlang di dunia peran. Hingga sebuah selebaran menarik minatnya.
MAU JADI AKTRIS? TAPI KURANG KEMAMPUAN?
YUK DATANG DAN GABUNG DI KLUB TEATER GARDENIA
Jl. Nyimas Asih No.5 Jakarta Selatan
Begitulah isi selebaran yang Kalisa temukan di meja bar cafe tempatnya biasa nongkrong. Didorong penasaran, Kalisa memberanikan diri mendaftar.
Saat itu juga, Kalisa datang ke alamat yang tertera, dia berkendara hingga satu jam dari kediamannya. Kalisa sampai di tempat. Dia melihat dengan takjub gedung teater mewah dan menjulang tinggi di depannya. Nama Teater Gardenia terpampang gagah dengan lampu neon putih. Dan jangan lupakan dengan deretan bunga warna-warni berjajar layaknya membentuk jalan menuju aula utama.
Kalisa masuk ke dalam gedung teater. Tampak banyak anggota yang didominasi laki-laki tengah melakukan pemanasan. Sepertinya sesi latihan akan dimulai. Kalisa langsung disambut dengan tatapan menyelidik dari semua anggota klub tak terkecuali seseorang dengan tubuh tegap yang tadi memimpin pemanasan. Kalisa melangkah pelan dan merasa malu. Dia juga menatap ke sekeliling, mencari ketuanya.
“Ada yang bisa gue bantu?” tegur seseorang menyambutnya. Dia adalah lelaki yang tadi sedang memimpin pemanasan.
“Ah, gue Kalisa. Gue ngeliat selebaran soal rekruitmen anggota baru.” Balas Kalisa sopan.
“Oh gitu, jadi lo tertarik buat ikutan?” tanya lelaki itu. Kalisa mengangguk.
“Oh ya, gue Adrian, ketua klub teater. Kalau gitu lo ikutin gue.” Kata Adrian.
Adrian membawa Kalisa lebih masuk ke dalam gedung. Setelah melewati aula utama, mereka sampai di jalan kecil yang sekelilingnya dipenuhi kaca, bunga yang sama yang ditemui Kalisa di pintu masuk juga turut ada. Keelokan bunga itu yang entah apa namanya membuat Kalisa berdecak kagum. Orang awam mungkin akan mengatakan kalau ini galeri seni dibanding gedung teater.
Adrian membawa Kalisa menuju sebuah pintu jati berukuran besar. Setelah mengetuk beberapa kali, suara seseorang lelaki menyilahkan mereka masuk. Adrian dan Kalisa pun masuk.
“Mas Sen, ini calon anggota baru yang mau bergabung.” Kata Adrian.
Seseorang yang dipanggil Mas Sen itu mendongak dan tersenyum ramah pada Kalisa yanag nampak canggung. Dia lekas berdiri dan mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Kalisa.
“Gue Sendy, pemilik teater Gardenia ini. Salam kenal.” Sapa Sendy ramah. Ternyata Sendy memakai bahasa gaul, bisa dilihat sih dari usianya yang mungkin tiga tahun diatas Kalisa.
Kalisa mengangguk sopan, “Gue Kalisa.” Balasnya.
“Selamat datang di klub gue yang kecil ini.” kata Sendy tersenyum. Kecil? Kalisa bahkan berani jamin kalau teater ini dua kali lebih luas dibanding rumahnya.
“Adrian bawa Kalisa buat jalan-jalan, kenalkan seluk beluk tempat ini. Dan soal biaya administrasi kita bicarakan nanti ya.” Kata Sendy. Kalisa mengangguk sembari tersenyum.
***
Adrian membawa Kalisa berjalan-jalan mengelilingi gedung itu. Catnya keseluruhan berwarna coklat. Tidak sepenuhnya klasik, namun ada kesan modern juga. Dan sejak awal Kalisa sudah tertarik dengan patung singa yang berdiri tegak tepat di pinggir aula utama.
“Ini aula utama. Tempat kita biasanya berlatih dan melakukan pentas. Itu panggung utamanya.” Tunjuk Adrian pada panggung selebar lima puluh meter dengan panjang yang sama. Panggung itu sungguh indah, hiasan relief mengiringi depan panggung.
“Itu patung apa?” tanya Kalisa yang sejak tadi penasaran.
“Oh itu patung singa milik Mas Sendy. Katanya patung itu dia bawa ketika jalan-jalan ke Yunani.”
“Yunani? Seriusan?” pekik Kalisa terkejut.
“Gak tau juga. Tapi yang perlu lo tau jangan sentuh patung itu apapun alasannya.”
“Kenapa?”
“Itu terbuat dari perak murni katanya. Dan kalau sampe rusak, gue gak berani jamin berapa yang harus lo bayar buat ganti rugi.”
Selesai mengenalkan aula utama, Adrian menyuruh semua orang berkumpul. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Kalisa. Kalisa hanya berdiri canggung di samping Adrian.
:Guys, kenalin anggota baru kita. Namanya Kalisa.” Kata Adrian.
“Akhirnya ada juga anggota cewek. Sumpek gue liat muka sesama jenis semua.” Celetuk seseorang. Namanya Beri.
“Eh, gue cewek ya. Enak aja lo bilang sesama jenis.” Tukas perempuan dengan rambut ikat kuda. Namanya Desi.
“Iya, masih ada gue juga tau.” timpal perempuan satunya. Namanya Tesa.
“Salam kenal semuanya.” Ucap Kalisa tersenyum.
***
Kalisa sedang mengganti baju di ruang ganti bersama Desi dan Tesa. Ada pertanyaan yang bersarang difikirannya hingga ia memberanikan diri bertanya.
“Eh, gue mau tanya dong. Disini kalian doang anggota ceweknya?”
Desi menghentikan kegiataannya begitupun Tesa.
.
“Ada banyak kok awalnya, cuma pada keluar.” kata Desi.
“Kenapa?”
Sebelum menjawab pertanyaan, Desi mengalihkan pandangan lagi pada Tesa, “Gue gak tau.” Balasnya menggeleng.
“Oh ya ada satu lagi yang mesti lo tau.” kata Desi.
“Lo harus pulang sebelum jam enam sore.”
“Kenapa?”
“Selalu ada kejadian ganjil kalau kita lewat jam segitu. Pernah ada anggota yang terpaksa harus lembur karena tugasnya belum selesai, keesokan paginya dia dilarikan ke rumah sakit, kepalanya bocor kena lampu sorot yang jatuh.” Ujar Tesa.
“Dan suka ada penandanya kalau kita harus cepat pulang, misalnya telfon aula utama yang tiba-tiba berdering, lo jangan angkat tapi. Atau bau melati yang tiba-tiba kecium dan yang lebih parah, tiba-tiba ada suara gamelan padahal kita gak punya gamelan sama sekali.” Tambah Desi. Kalisa seketika merinding.
***
Kalisa masih kepikiran dengan perkataan Desi dan Tesa. Dia tidak percaya hal-hal mistis seperti itu tapi cerita itu masih menghantuinya. Latihan selesai, dan jam sudah menginjak angka lima lebih empat puluh menit.
“Oke, latihannya sampai disini. Inget beresin secepatnya dan langsung pulang. Jangan ada yang lembur.” Kata Adrian. Semua anggota pun segera membubarkan diri.
Tak lama, Kalisa sudah siap pulang begitupun dengan Desi dan Tesa. Lima menit lagi sebelum jam enam. Mereka berpisah jalan. Ketika Kalisa dan Desi sudah pergi. Tesa yang sedang menunggu taksi, tiba-tiba terfikirkan sesuatu.
“Ya ampun, dompet gue masih di loker!” pekik Tesa. Dia melihat jam tangannya, masih ada tiga menit sebelum jam enam. Jarak antara ruang ganti dan lobi hanya beberapa puluh meter, dia bisa berlari dan keluar sebelum jam enam.
Akhirnya Tesa kembali masuk ke gedung, lampu sudah dimatikan semua. Dia mencoba menyalakan sakelar tapi beberapa kali ditekan, lampu tak mau menyala. Mengusir ketakutannya, dia menyalakan lampu flash dan berjalan sedikit cepat.
Tesa sampai di ruang ganti, dia langsung menuju lokernya, namun loker itu macet. Dan tiba-tiba terdengar dering telfon. Tesa makin berkeringat dingin, ini pertanda sudah masuk jam enam. Tesa terus berusaha membuka lokernya hingga loker itu berhasil dibuka. Setelah mengambil dompetnya dia hendak berbalik dan tiba-tiba.
Bug
Ada yang memukul kepalanya hingga jatuh tak sadarkan diri.
***
Tesa bangun dengan kepala pusing. Dia seketika membulat ketika dia berada di aula utama. Bau bunga lily putih menyebar disekelilingnya. Seketika Tesa merinding ketakutan.
Tesa mencoba melepaskan diri tapi tidak bisa, tangan dan kakinya diikat terlalu kencang. Aula utama yang remang-remang membuat bulu kuduknya berdiri. Lalu terdengar derit pintu terbuka, Tesa menoleh dan terlihat segerombolan orang berjubah merah dengan topeng iblis masuk beriringan. Ada satu orang didepannya yang membawa pisau dan palu.
Orang-orang berjubah itu mengelilingi Tesa. Lalu orang yang seperti pemimpin yang tadi membawa pisau dan palu maju mendekati Tesa. Tesa makin ketakutan.
“Ketika siang dan malam bertemu. Pintu dunia gaib dan dunia nyata terbuka. Dan kami persembahkan gadis penuh dosa di hari Jum’at kliwon sebagi tumbal.” Katanya menggelegar.
“Tuhan kami sudah menunggu hambanya. Terimalah persembahan kami!”
Seketika Tesa ditusuk jantungnya dengan pisau. Kepalanya dipukul dengan palu hingga hancur, isi otaknya keluar. Tesa meregang nyawa seketika.
Lalu sesuatu seperti kepulan asap hitam keluar dari patung singa, dia mendekat pada mayat Tesa dan wujud mahluknya berubah.
“Darah hari ini terlihat lezat.” Desisnya. Dan tanpa lama, makhluk itu mengisap semua darah Tesa hingga Tesa hanyalah tubuh kosong. Seketika bau amis darah menyebar ke seluruh ruangan.
“Ambil hatinya, ada orang yang menginginkannya dan kau akan dapat uang ratusan juta.” Kata makhluk itu lagi. Suaranya sangat mengerikan. Orang-orang berjubah itu seketika bersujud dan mengucapkan terimakasih. Mahluk itu pun menghilang.
“Bersihkan aula ini dengan bau gardenia.” Kata pemimpin pada bawahannya.
***
Paginya Kalisa datang dan hidungnya lalu bereaksi. Bau harum gardenia menyebar di aula utama. Pantas nama gedung ini Gardenia, ternyata ini maksudnya.
“Kemana Tesa?” tanyanya pada Desi ketika waktu latihan sudah mau dimulai.
Desi menggeleng, “Enggak tau, gue ngechat dia tapi dia gak aktif. Kayaknya dia bolos lagi.”
“Bolos?”
“Iya, dia suka kerja serabutan gitu.”
Namun hingga hari demi hari, Tesa tidak terlihat lagi batang hidungnya. Banyak yang bingung dengan ketidakhadiran Tesa hingga Mas Sendy mengumumkan bahwa Tesa keluar dari klub karena masalah finansial. Tetapi anehnya, Kalisa tidak mempercayainya.
Jum’at kliwon tiba. Desi dan Kalisa bersiap pulang. Namun ketika hendak keluar gedung. Desi tiba-tiba ingin buang air kecil.
“Gue ke toilet aja deh, daripada ditahan.” Katanya meringis.
“Lo yakin? Ini udah jam enam loh dan toilet cuma ada di dalam.” Kata Kalisa khawatir.
“Sebenernya gue gak percaya juga sih ada yang gituan. Udah ya, gue masuk duluan, udah gak tahan nih. Lo pulang aja duluan.” Katanya lalu bergegas kembali ke dalam.
Kalisa yang khawatir hanya berdiri menunggu Desi. Pasalnya perasaannya sungguh tidaklah enak. Apalagi ini malam Jum’at. Desi juga tengah berhalangan.
Kalisa menunggu hingga satu jam namun tidak ada tanda-tanda Desi kembali. Dia mulai cemas, jangan-jangan Desi kenapa-kenapa! Fikir Kalisa cemas. Dia pun memberanikan diri masuk mencari Desi.
Kalisa dengan perlahan masuk ke dalam gedung, jarak lobi dan aula utama hanya beberapa jengkal lagi, perlahan dan perlahan Kalisa melangkah. Sunyinya gedung membuat bulu kuduknya berdiri.
“Aaaa!” terdengar suara teriakan dari dalam. Kalisa tersentak ketika itu adalah suara Desi, dia bergegas membuka pintu namun tangannya dicegah dan mulutnya dibekap seseorang.
“Shut, diem.” Desis orang itu.
Kalisa melepaskan bekapan di mulutnya dan matanya membulat ketika dia melihat Adrian, “Lo? Ngapain lo bekap gue!” bisiknya kesal.
“Kalau gak gitu, bukan cuma Desi yang bakal jadi tumbal, tapi lo juga.” Balas Adrian tetap berbisik.
“Tumbal?” pekik pelan Kalisa. “Maksud lo apa?”
“Lo tau kenapa gak banyak anggota cewek disini?” Kalisa mengangguk.
“Katanya mereka ngundurin diri.” Jawab Kalisa.
Adrian menggeleng. “Salah, mereka gak ngundurin diri. Tapi mereka dibunuh buat dijadiin tumbal. Di dalam itu adalah sekte pemujaan setan.” Kata Adrian.
“Sekte? “
Adrian mengangguk, “Lo inget sama patung singa yang gue bilang jangan disentuh itu?” Kalisa mengangguk. “Itu adalah tempat bersemayamnya setan yang di puja mereka. Dan alasannya kenapa patung itu gak boleh disentuh karena persembunyian setan itu akan jadi hancur kalau disentuh orang yang punya hati bersih.”
“Lo tau darimana ini semua?” kata Kalisa.
“Udah lama gue curiga. Apalagi teater yang awalnya kecil hanya dalam hitungan bulan jadi gede. Ditambah banyak anggota cewek yang katanya ngundurin diri dan polanya sama mereka akan keluar satu-satu tiap hari Jum’at Kliwon.”
“Gue yakin banget, Tesa juga jadi korban. Dan sekarang giliran Desi dan kalau kita gak hentiin praktek keji itu bisa jadi setelahnya lo.” Kata Adrian menatap Kalisa yang ketakutan.
“Jadi apa yang harus dilakuin?” tanya Kalisa.
“Gue yakin mereka lagi ngelakuin ritual. Ada pintu keluar yang ngarah ke bawah panggung. Kita masuk lewat sana. Dan kita bagi tugas, lo pecahin patung itu dan gue selamatin Desi.”
***
Kalisa masuk mengikuti Adrian yang memimpin jalan. Bau lily putih makin menyengat. Kalisa tahu makna bunga ini, dan membuatnya makin ketakutan. Setelah berjalan menunduk hampir satu menit, Adrian dan Kalisa sampai di pintu keluar panggung. Adrian mengangguk, Kalisa juga ikut mengangguk sebagai isyarat. Kalisa mendekati perlahan patung itu sementara Adrian berlari dengan gagahnya mendekati kerumunan orang berjubah merah itu. Dia menendang palu yang hampir menghancurkan kepala Desi.
“Kalisa!” teriak Adrian.
Begitu Adrian berteriak, Kalisa langsung menghancurkan patung itu dengan balok besi yang dia bawa. Patung itu seketika hancur.
Prang
Kepulan asap hitam membumbung keluar. Terus naik ke atas sembari berubah wujud. Sebentar asap, sebentar wajud mengerikan. Wujudnya seperti singa dengan mata memerah dan bau darah mengelilinginya. Makhluk itu berteriak sejadinya hingga menghilang.
Kalisa menghembuskan nafas lega dan tanpa tahu ada yang memukulnya dari belakang. Kalisa pingsan.
***
Kalisa membuka matanya dan samar-samar melihat aula utama yang masih temaram. Bau lily putih makin menguat. Disampingnya ada Desi yang sudah meninggal dengan satu kaki tidak ada.
“Good Job Kalisa. Thanks buat bantuan lo nyingkirin makhluk jadi-jadian itu.” Adrian berdiri didepannya. Wajahnya berubah menakutkan dan dia memakai jubah merah?
“Adrian lo! Apa maksud semua ini?” teriak Kalisa marah.
“Seperti yang gue bilang, kalau ini adalah sekte pemujaan setan dan gue pemimpinnya. Awalnya gue emang bekerja sama dengan makhluk itu, namanya Baje, btw. Dia dapet darah dan gue dapet organ manusia buat dijual. Hasilnya cukup gede. Tapi lama kelamaan, Baje licik. Dia bukan hanya pengen tumbal cewek tapi juga cowok dan gue yang akan jadi target pertama. Jadi buat ngehalangin rencana Baje, gue minta bantuan lo buat hancurin patung itu. Karena gue sendiri gak bisa.” Jawab Adrian dengan wajah bengis.
“Itu sebabnya lo nyuruh gue, karena hati lo gak bersih. Lo udah ngebunuh banyak orang.” Seru Kalisa.
“Dimana Mas Sendy, lo juga sekongkol sama dia kan?”
Setelah itu seseorang dengan tudung kebawah maju.dia membuka tudungnya dan muncullah wajah Sendy. Kalisa terkejut dan tambah terkejut ketika semua orang membuka tudungnya. Wajah-wajah anggota klub.
“Kalian?” Kalisa tak percaya.
“Kita udah janji buat gak ngelakuin praktek keji ini tapi kita yakin kalau lo selamat, lo akan lapor polisi.” Kata Adrian.
“Yaiyalah, yakali gue lapor ke RT!” kata Kalisa kesal.
“Jadi buat hilangin jejak, kita akan jadiin lo sebagai korban terakhir.” Ucap Adrian.
Kalisa mematung. dia menggeleng keras, dia makin ketakutan. “Enggak, jangan. Gue janji gue gak bakal lapor polisi, please jangan bunuh gue.” Mohon Kalisa dengan gemetar.
Tubuhnya makin dingin selaras dengan mata pisau mendekati jantungnya. Kalisa menutup matanya erat-erat.
"Selamat tinggal, Kalisa.”
Bles
Mata pisau itu menancap tepat di jantung Kalisa.