Langit di atas Jakarta tidak pernah benar-benar biru; ia adalah kanvas abu-abu yang lebam, dicoreng oleh asap knalpot dan ambisi manusia-manusia yang saling sikut demi sepotong roti. Di sebuah sudut pengap gedung teknik universitas negeri, Rangga duduk termangu. Di tangannya, selembar kertas kuning dengan stempel basah universitas terasa lebih berat dari tumpukan beton manapun. Surat Keputusan Drop Out. Sebuah vonis mati bagi masa depan yang dijanjikan oleh sistem pendidikan kolonial yang hanya berganti baju menjadi nasional.
Sepuluh tahun ia menghuni selasar kampus ini. Sepuluh tahun ia menjadi saksi bagaimana pemuda-pemuda penuh idealisme masuk lewat pintu gerbang, lalu keluar melalui pintu yang sama sebagai sekrup-sekrup kecil dalam mesin birokrasi yang rakus. Ia disebut "mahasiswa abadi," sebuah ejekan bagi mereka yang gagal beradaptasi dengan kecepatan zaman yang memuja angka-angka di atas kertas.
"Kau bukan sedang menuntut ilmu, Rangga," suara ibunya kembali terngiang, muncul dari balik kabut ingatan. Ibunya, seorang perempuan yang menghabiskan hidupnya di depan mesin jahit, buta huruf namun melek akan hakikat kehidupan. "Kau sedang membeli harga diri dengan keringatku. Tapi ingat, harga diri tidak terletak pada toga, melainkan pada bagaimana kau berdiri di depan cermin tanpa rasa malu."
Setahun lalu, perempuan itu mangkat. Ia mati dalam diam, meninggalkan Rangga dengan beban hutang pada harapan. Namun, kematian itu tidak berakhir di liang lahat. Sebuah wasiat aneh menyusul, dibawa oleh seorang notaris perlente yang aromanya seperti uang kertas baru.
Wasiat itu bukan tentang tanah atau deposito, karena kemiskinan mereka adalah harta yang paling setia. Wasiat itu berbunyi: Rangga harus tampil di panggung komedi rakyat sebanyak tiga kali, atau gubuk satu-satunya tempat mereka berteduh akan diserahkan kepada negara.
Masyarakat kita adalah penonton yang kejam. Mereka tidak butuh kebenaran; mereka butuh dongeng untuk melupakan lapar di perut. Di sebuah kedai bernama "Lentera Rakyat"—yang ironisnya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa borjuis yang berpura-pura peduli pada proletar—Rangga berdiri di atas panggung kayu yang reyot. Lampu sorot kuning mengenainya, membuatnya tampak seperti pesakitan di depan meja hijau.
"Malam ini, saya tidak datang untuk menghibur," Rangga memulai, suaranya parau menahan amarah yang telah mengendap sepuluh tahun. "Saya berdiri di sini karena saya adalah produk gagal. Saya adalah mahasiswa teknik yang tidak tahu cara membangun jembatan, tapi saya tahu persis bagaimana rasanya menjadi jembatan yang diinjak-injak oleh kepentingan penguasa kampus."
Keheningan jatuh seberat timah. Rangga tidak melemparkan punchline murahan tentang mertua atau pacar. Ia membedah sosiologi kelaparan. Ia menertawakan bagaimana universitas hanya menjadi pabrik ijazah yang menjual mimpi palsu kepada anak-anak orang miskin, hanya agar mereka bisa membayar cicilan motor seumur hidup.
Tiba-tiba, ledakan tawa membuncah. Itu bukan tawa yang melegakan. Itu adalah tawa histeris dari manusia-manusia yang sadar bahwa mereka sedang ditelanjangi. Di pojok ruangan, seorang perempuan dengan tatapan setajam sembilu memperhatikannya. Mira.
Mira adalah kawan masa kecilnya, putri seorang camat yang dulu selalu memandang Rangga seperti hama di sawah ayahnya. Kini, Mira telah menjelma menjadi produser televisi dan sutradara film yang tangannya menentukan siapa yang akan jadi bintang dan siapa yang akan jadi debu.
"Kau punya bakat, Rangga," ucap Mira setelah pertunjukan usai, asap rokoknya membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang seolah hendak mencekik leher Rangga. "Bukan bakat melawak, tapi bakat untuk memanipulasi kepedihan menjadi uang. Masyarakat kita haus akan tontonan tentang orang kecil yang menderita. Bergabunglah denganku, dan kau akan memiliki dunia."
Waktu berjalan merayap seperti ulat nangka, namun bagi Rangga, ia terbang seperti peluru. Dalam tiga tahun, Rangga bukan lagi pemuda kumal yang makan sisa kantin. Ia adalah "Rangga Sang Komika," aktor watak yang dipuja-puji kritikus film sebagai "suara kaum pinggiran." Ia kaya. Ia memiliki apartemen di lantai tiga puluh yang menyentuh awan, jauh dari bau selokan rumah lamanya.
Namun, semakin tinggi ia naik, semakin ia merasa menjadi hantu bagi dirinya sendiri. Ia merasa seperti se-rangga—serangga kecil yang hanya bisa hinggap di atas kemewahan yang bukan miliknya.
Suatu sore, saat ia sedang membersihkan rumah lamanya yang kini ia jadikan gudang kenangan, ia menemukan sebuah kotak kayu jati. Di dalamnya, terselip naskah kuno yang ditulisnya dengan tinta murah saat ia masih menjadi mahasiswa baru yang penuh api. Judulnya: "Lakon Badut yang Menulis Nasibnya Sendiri."
Halaman demi halaman ia baca. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah setiap kata adalah cambukan yang mengenai punggungnya. Segala hal—setiap detail penderitaannya, kematian ibunya yang tragis karena kurang biaya, bahkan dialog-dialog yang diucapkan Mira saat menawarinya pekerjaan—semuanya ada di sana. Tertulis rapi. Persis.
"Itu adalah naskah terbaik yang pernah aku baca," suara Mira muncul dari kegelapan pintu gudang.
Rangga berbalik, tubuhnya gemetar. "Bagaimana mungkin? Ini naskah yang kutulis sepuluh tahun lalu. Mengapa hidupku berjalan persis seperti naskah fiksi ini?"
Mira melangkah masuk, sepatunya yang mahal menginjak lantai tanah dengan angkuh. "Ibumu memberikannya padaku sebelum dia meninggal. Dia tahu kau terlalu pengecut untuk mewujudkan mimpimu sendiri. Dia memintaku untuk 'mementaskan' hidupmu. Dia ingin kau sukses, Rangga, meski harus dengan cara menjadi boneka dalam skenariomu sendiri."
"Jadi... surat wasiat itu? Ancaman penyitaan rumah?"
"Semua itu sandiwara, Rangga. Sandiwara untuk memicu 'konflik' dalam narasi hidupmu. Rakyat tidak akan menyukaimu jika kau sukses tanpa air mata. Jadi, kami ciptakan air mata itu untukmu. Aku menyuap notaris, aku mengatur panggung pertama itu, dan aku memastikan kau jatuh sejatuh-jatuhnya agar ledakan suksesmu terasa lebih dramatis di layar kaca."
Rangga merasa dunia berputar. Ia menyadari sebuah realitas sosiologis yang mengerikan: di negeri ini, martabat manusia hanyalah bahan baku industri hiburan. Kebahagiaan dan kesedihannya telah dikomodifikasi sebelum ia sempat merasakannya sendiri. Ia sukses bukan karena perjuangannya, melainkan karena ia adalah komoditas yang dikemas dengan apik oleh tangan-tangan kekuasaan.
"Kau adalah pahlawan bagi orang-orang miskin itu, Rangga," Mira melanjutkan, suaranya kini terdengar seperti desis ular. "Mereka melihatmu dan mereka merasa punya harapan. Mereka tidak perlu tahu bahwa harapan itu adalah hasil produksi dari naskah yang sudah basi."
Rangga menatap naskah di tangannya. Ia melihat dirinya di sana, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai fungsi. Sebagai simbol. Sebagai se-rangga yang dipajang dalam kotak kaca untuk dikagumi kolektor borjuis.
Ia teringat ibunya. Apakah ibunya benar-benar melakukan ini demi kebahagiaannya? Ataukah ibunya sendiri telah menjadi korban dari pemikiran bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menjadi bagian dari mesin yang paling ia benci?
Malam itu, Rangga dijadwalkan menerima penghargaan aktor terbaik. Ribuan orang bersorak meneriakkan namanya di depan teater megah. Lampu-lampu kilat kamera wartawan menyambar-nyambar seperti petir di tengah badai.
Mira berdiri di sayap panggung, tersenyum bangga—seorang dalang yang baru saja menyelesaikan pertunjukan wayang paling gemilang dalam karirnya.
Rangga melangkah ke podium. Ia memegang piala emas yang terasa dingin dan mati. Ia menatap lautan manusia di depannya—campuran antara penguasa yang sombong dan rakyat jelata yang memuja bayangan.
"Terima kasih," suara Rangga menggema melalui pelantang suara, memecah kesunyian malam Jakarta. "Malam ini, saya menyadari satu hal. Saya memenangkan penghargaan ini karena saya adalah aktor yang baik. Begitu baiknya saya berakting, hingga saya berhasil meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya adalah manusia bebas."
Ia berhenti sejenak, menatap ke arah Mira yang wajahnya mulai mengeras.
"Padahal, saya hanyalah serangga yang terjebak dalam jaring laba-laba skenario orang lain. Masyarakat kita suka tertawa melihat penderitaan yang dibungkus komedi, dan saya telah memberikan itu kepada kalian. Tapi mulai malam ini, pertunjukan selesai."
Rangga menjatuhkan piala itu ke lantai panggung. Bunyi dentang logamnya terdengar seperti lonceng kematian bagi karirnya. Ia turun dari panggung, mengabaikan teriakan Mira, mengabaikan lampu kilat, mengabaikan dunia yang telah menjadikannya tuhan sekaligus budak.
Ia berjalan menuju kegelapan gang-gang Jakarta, kembali menjadi manusia yang tak bernama. Penyesalannya bukanlah karena ia kehilangan harta, melainkan karena ia butuh sepuluh tahun dan sebuah skenario palsu untuk menyadari bahwa satu-satunya kebebasan yang dimiliki manusia adalah hak untuk tidak menjadi bagian dari sandiwara siapapun.
Di bawah langit Jakarta yang tetap lebam, Rangga terus berjalan. Ia bukan lagi (se) rangga. Ia adalah manusia. Pahit, gagal, tapi setidaknya, ia bukan lagi selembar kertas yang bisa dibaca dan diatur oleh tangan-tangan asing.