Tidak ada kelebihan dalam diri manusia,melainkan Tuhan yang menganugrahi-Nya. Dan tidak ada kekurangan dalam diri manusia pula,melainkan atas Kehendak-Nya. Tuhan semesta alam,Maha Adil atas penciptaan bumi seisinya.
Rasa syukur dan alhamdulillah keluarga Bapak Hamidi panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Alkhirnya,proses melahirkan putra pertamanya itu berjalan dengan lancar. Rasa bahagia menyelimuti keluarga mereka dengan kehadiran bayi tersebut. Betapa tidak,setelah 9 bulan 10 hari lamanya mereka menantikan kelahiran bayi yang ada dalam kandungan itu.
Namun,kesedihan tidak dapat berpaling dari wajah keduanya,ketika dokter menfonis putranya memiliki kelainan pada alat pendengaran dan di pita suaranya. Dan menginjak dewasa barulah kelainan itu akan terlihat jelas. Jika pun ada harapan untuk menyembuhkan,harapanya sangat kecil. Ucap dokter yang membantu persalinan istrinya tersebut.
Air mata terus menetes dari pelupuk mata sang ibu setelah mendengar penjelasan dari dokter. Kesedihan mendalam begitu mengeruak relung hatinya. Pak Hamidi mencoba menguatkan hati istrinya tersebut. Meski hatinya sendiri merasakan kesedihan sama halnya istrinya.
"Sudah lah bu..jangan menangis terus. Kita harus tabah menjalani ini semua. Bagaimana pun keadaan dan kondisi anak kita saat ini,itu adalah anugrah terbesar dari Tuhan untuk kita. Dan Tuhan telah mempercayakan kita untuk merawatnya" ujar sang suami
Sang istri tersenyum sambil menyeka air matanya. Ia menyadari bahwa yang dikatakan suaminya itu memang benar. Apapun kondisi putranya saat ini,ia adalah buah hati yang selalu dirindukannya sewaktu masa kehamilan. Dan ia bertaruh nyawa untuk melahirkan bayi tersebut. Jadi, apapun kekurangan dari putranya,ia tetap darah dagingnya sendiri. Ia masih suci dan tak berdosa. Baginya, tak ada alasan untuk menolak arti hadirnya.
Pak Hamidi berjalan menghampiri bayi yang berada disamping istrinya itu. Dengan tulus ia menimang putranya dan mengumandagkan adzan di telinganya. Diciumnya kening putranya penuh rasa kasih sayang. Putranya itu diberikan nama Muhamad. Agar besar nanti, ia memiliki akhlak terpuji seperti Nabi Muhamad SAW.
Hari,bulan,dan tahun silih berganti. Kini Muhamad putranya telah tumbuh menjadi dewasa. Usianya sudah menginjak 13 tahun. Ia sangat tampan. Ia memiliki kulit putih dengan tahi lalat di pipi sebelah kanannya. Ketika tersenyum lebar, kemerahan manis diwajahnya.
Kini Muhamad duduk di bangku sekolah dasar kelas 6 SD. Temannya biasanya memanggilnya dengan nama Ahmad. Di sekolah, ia sosok anak yang rendah hati dan berperilaku baik. Ia juga sosok anak yang sangat cerdas.
Sejak dari kelas 1 SD, ia meraih peringkat terbaik dikelasnya. Iya,Meski ia tahu memiliki keterbatasan fisik, ia tetap percaya diri dengan keadaan dirinya. Baginya,kekurangan dalam dirinya itu hanya terlihat dimata manusia. Tapi tidak dimata sang Pencipta.
Kata itulah yang selalu ia tanamkan dalam dirinya.
Ahmad tidak pernah mengeluhkan keadaanya kepada ke dua orang tuanya. Ia mensyukuri pemberian Tuhan untuk dirinya. Ia begitu bahagia karena ke dua orang tuanya sangat menyayanginya. Bagi Ahmad, ayah dan ibunya adalah penyemangat terbesar untuk dirinya.
-----------*
Suatu hari,Ahmad mengikuti lomba futsal yang diadakan sekolahnya. Ya.. sejak umur 3 tahun, ia menyukai dunia perbolaan. Ia bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola seperti Andik Firmansyah, pemain sepak bola idolanya. Ia berharap bisa mewujudkan mimpinya itu.
Saat mengikuti lomba futsal, Beny berteriak untuk meminta ia mengumpankan bola ke arahnya. Dengan suara keras dan berulang kali memanggilnya,tapi ia tetap tidak mendengar suara teriakan Beny.
"Ahmad...oper bolanya cepat" Beny berteriak kesal
Tetap saja Ahmad tidak mendengarkan ucapan tersebut. Ahmad menggiring bola maju kedepan,hingga lawan mainnya berhasil merebut bola dari kuasanya. Seketika lawannya berhasil mencetak skor 1:0.
"Sialannn,gara-gara Ahmad harus kalah" grutu Beny
Tampak Beny sangat kesal dengan kekalahnnya. Beny tetap berfikir ini adalah kesalahan Ahmad yang bermain sangat egois,dengan menguasai bola sendirian. Saking kesal nya,Beny mengeluarkan kata-kata kasarnya kepada Ahmad.
"Dasarr budekkkkk(dalam bahasa jawa)gara-gara kamu jadi kalah kan. Emang gak gunaa jadi orang" ucap Beny
Ahmad hanya diam tertunduk tanpa membalas ucapan Beny yang menyakitkan hatinya. Dengan berlapang hati ia segera memaafkan ucapan Beny tersebut. Ia tak ingin menaruh kebencian dalam hatinya. Ia tak ingin mengotori hatinya dengan keburukan.
Yusuf yang saat itu mendengar ucapan Beny hanya mengerenyitkan dahi. Ia merasa prihatin kepada Ahmad sahabatnya itu. Didekatinya Ahmad dengan menepuk pundaknya pelan.
"(menghela nafas panjang)Ahmad...tak usah dihiraukan ucapan Beny tadi. Kamu harus kuat.OK?"
"Aku tudah terbiata Tuf,jadi udah kuat (sambil tersenyum)"
Iya.,pendengaran Ahmad memang tidak sempurna seperti anak pada umumnya. Ia hanya bisa mendengar jelas ketika lawan bicaranya dekat dengannya. Ketika jarak jauh, ia sangat sulit untuk menangkap setiap suara.
Selain itu, nada bicaranya juga tidak begitu jelas. Lidah Ahmad sangat kaku untuk mengucapkan huruf vokal S. Setiap kata yang berhubungan dengan huruf S, ia selalu mengucap huruf T. Iya, banyak orang yang malas mengajaknya untuk berbicara. Terlebih mengajaknya berteman akrab. Hanya Yusuf lah yang mau berteman baik dengannya.
Hari demi hari,Ahmad lalui dengan rasa syukur. Ia tidak pernah terlihat sedih dan muram. Ia selalu tampil ceria dihadapan siapapun. Ia tidak ingin kesedihan yang mungkin ia rasa menjadi dirasakan orang lain. Termasuk untuk ayah dan ibunya.
Ahmad hidup dilingkungan dengan paham agama yang begitu kurang mendukung. Tapi sejak ia kecil, kedua orang tuanya telah mendidik Ahmad dengan ilmu agama sebisa orang tuanya. Ia tidak ingin putranya terjerumus ke dunia kelam yang kelak menghancurkan hidupnya. Iya.,tak jarang Ahmad menghabiskan waktunya untuk berada didalm rumah. Iya tidak ingin karena kekurangan yang dimilikinya itu justru mengganggu orang lain.
Melihat keadaan putranya itu,ada rasa iba dalam naluri keiibuannya. Iya begitu ingin putranya seperti anak pada umumnya. Ibunya ingin Ahmad bisa mendengar dan berbicara selayaknya anak normal. Ia tidak ingin putranya selalu dicemooh oleh teman-temannya.
Jika mengingat itu,seketika Air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Ahmad yang tak sengaja melihat ibunya menangis,segera menghampirinya. Diusapnya air mata ibunya dan dipeluknya erat.
"Kenapa ibu menangit? Ada teteorang yang menyakiti ibu ya?" tanya Ahmad
"Tidak putraku sayang. Ibu baik-baik saja nak"
Ibunya mencium kening Ahmad dengan penuh kasih sayang. Dan dipeluknya Ahmad penuh kecintaan.
"Andai ibu boleh meminta 1 hal sekarang nak. Ibu hanya ingin menggantikan kekurangan yang kamu miliki sekarang. Tanpa harus ada kata "TETAPI".
Tapi,ibu tidak bisa melakukan nya nak" ucap ibunya dalam hati.
----------*
Siang itu Ahmad dengan semangat dan senyum ceria pulang dari sekolah. Dengan mengendarai sepeda kesayangannya,dikayuhnya sepeda itu menuju arah rumahnya. Saat itu Ahmad tidak sadar,bahwa ia mengendarai sepedanyaa terlalu ke tengah jalan.
"Tett..tetttt...tetttt(suara klakson mobil dari jauh)"
Pertanda menyuruh Ahmad untuk minggir dari tengah jalan. Entah bunyi klakson ke berapa kalinya itu memperingatkan Ahmad. Karena jarak yang cukup jauh,Ahmad tidak mendengar bunyi klakson tersebut. Ia tetap mengayuh sepedanya di tengah jalan. Merasa kesal karena Ahmad tetap tidak menghiraukan bunyi klaksonnya, ditubruknya sepeda Ahmad dari belakang.
"Brukkkk....."
Ahmad terjatuh dari sepeda yang ditumpanginya. Pengendara itu langung turun dan memaki-maki Ahmad seenaknya. Tanpa menolong Ahmad yang terjatuh,pengendara itu langsung pergi meninggalkan Ahmad.
Terdapat luka di siku dan Lutut Ahmad. Darah mengalir dari keduanya akibat terjatuh di aspal. Ia langsung berdiri dan menuntun sepedanya. Ahmad berjalan cingklak clingkuk pelan,karena kakinya terkilir.Suasana jalan saat itu sangat sepi.
Bu Dewi yang tak sengaja melihat Ahmad memanggilnya. Ahmad terus berjalan pelan. Ia tak mendengar panggilan Bu Dewi tersebut.
Seketika Bu Dewi teringat, bahwa Ahmad tidak bisa mendengar dengan jarak yang cukup jauh. Lalu segera di hampirinya Ahmad.
Bu Dewi yang meliat Ahmad terluka,mengajaknya kerumah untuk mengobati luka tersebut. Bu Dewi membantu Ahmad menuntun sepedanya. Sesampainya di rumah, Bu Dewi langsung mengambil obat dan mengobati luka Ahmad. Tak lupa Bu Dewi menawarkan Ahamd untuk makan, tetapi Ahmad menolaknya. Ia mengatakan bahwa ia harus segera pulang, takutnya Ibunya mengkhawatirkannya. Ahmad mengucapkan terimakasih kepada Bu Dewi karena telah menolongnya. Setelah itu, Ahmad berpamitan untuk pulang.
Di perjalanan ke rumahnya, dari jauh Breto berteriak-teriak memanggilinya. Breto jauh lebih tua dari Ahmad. Breto terkenal anak paling nakal didaerahnya. Breto senang dengan hal-hal yang berbau keburukan.
Iya.,dengan keras Breto memanggili Ahmad. Ahmad yang tak mendengar panggilan Breto terus berjalan dengan santai nya. Merasa kesal dengan Ahmad yang tak mendengarkan panggilannya,Breto berlari mendekati Ahmad sambil mengatainya.
"Dasarrr tuliii,Anjing kau. Dipanggil gak denger" maki Breto
"Maaf Mat Breto, aku benar-benar tidak mendengar panggilan mu. Ada apa Mat?"
"Temenin mas main judi apa minum alkohol. Nanti aku ajarin" jelas Breto
"Maaf Mat Breto, aku tidak berani. Aku takut bermaktsiat. Dan aku takut Allah. Aku harut pulang Mat"
Ahmad langsung berjalan meninggalkan Breto. Tampak Breto sangat kesal dengan Ahmad yang sokk suci dan sok alim. Ia mengikuti Ahmad dari belakang dan berteriak-teriak keras dengan perkataan yang sangat kotor. Ahmad yang mendengar ucapan Breto hanya bisa tersenyum. Ia tidak ingin membalas perbuatan Breto kepadanya. Baginya ia sudah terbiasa dicemooh. Baginya, hatinya sudah kuat seperti bangunan pondasi rumah.
Sesampainya di rumah,ia langsung memakirkan sepedanya di halaman rumah. Ia langsung mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya. Ibunya yang melihat luka Ahmad, langsung menanyai Ahmad. Dengan tenang, Ahmad menjelaskan sejelas-jelasnya kejadian tadi kepada sang ibu. Tanpa ada sedikitpun kebohongan yang ditutupinya.
Setelah Ibunya mendengar cerita Ahmad,ia segera memeluk Ahmad dan mencium keningnya lembut. Seketika,air matanya jatuh mengenai pelipis putranya. Ahmad yang merasakan tetesaan air mata ibunya langsung memandang ibunya. Diusapnya air mata ibunya dengan jari manisnya. Ia tahu,ibunya pasti sedih karena dirinya.
"Bu...Maafkan Ahmad ya Bu? Karena keadaan Ahmad yang teperti ini, membuat ibu kerap menangit" ucap Ahmad lembut kepada ibunya
"Tidak sayang. Tidak ada sedikit pun Ahmad melukai ibu. Ibu sangat menyayangi Ahmad"
Mereka berdua berpelukan sangat erat. Ahmad merasakan ketenangan saat dipelukan ibunya. Bagi Ahmad, ibunya lah penyemangat sekaligus teman terbaik untuknya. Tidak ada satu orang pun yang mampu menyainginya perihal kasih sayang.
Malam harinya,Ahmad belajar dengan giat dan rajin. Ia ingin menjadi anak yang memiliki wawasan luas dengan giat membaca. Ia tidak ingin waktu panjangnya terbuang sia-sia begitu saja. Baginya,ada harapan setiap harinya. Dan baginya juga,ada sebuah mimpi yang harus diwujudkankannya.
Malam semakin larut. Ahmad tetap berada di meja belajarnya. Ia masih sibuk dengan buku yang ada ditangannya tersebut. Halaman demi halaman dibacanya untuk mengetahui apa isinya. Sesekali Ahmad menguak menahan kantuknya. Tapi ia tetap melanjutkan belajarnya. Hingga akhirnya Ahmad tertidur pulas.
Ketika mendengar adzan subuh, Ahmad lagsung terbangun dari tidurnya. Ia segera merapikan bukunya yang masih berserakan dimejanya. Dan setelah itu, ia mengambil air wudhu dan sholat berjamaah bersama ayah ibunya.
Selama menunggu kedua orang tuanya bersiap-siap, Ahmad mengaji terlebih dahulu. Kurang lebih 10 menit kedua orang tuanya menghampiri Ahmad. Ayah dan ibunya tersenyum manis mendengar Ahmad yang sedang mengaji itu. Tak menunggu lama, mereka langsung menunaikan sholat subuh. Dan setelah selesai,tak lupa Ahmad mencium tangan Ayah ibunya.
Pukul 06.00 WIB, Ahmad telah berdandan rapi untuk berangkat sekolah. Seperti biasanya, ia selalu sarapan pagi bersama orang tuanya. Dengan senyum manis ia menghampiri Ayah ibunya dimeja makan. Ahmad makan dengan lahap sekali. Setelah itu, barulah ia berangkat sekolah. Tak lupa ia memohon doa restu kepada ayah ibunya dan mencium tangan keduanya.
Perlahan demi perlahan dikayuhnya sepeda miliknya. Sesekali ia bernyanyi gembira menyambut alam seisinya. Ia sangat bersyukur masih bisa menghirup udara segar pagi ini. Dan tak lama berseling sampailah ia disekolahnya. Segera sepedanya diparkir dan langsung berjalan menuju kelasnya.
Suasana kelas belum begitu ramai. Ahmad mengisi waktu kosongnya dengan membuka-mbuka buku. Satu demi satu siswa berdatangan dan suasana kelas mulai gaduh. Dari bangku belakang, Taro memanggil-manggil Ahmad. Karena suara kelas yang amat bising, Ahmad tidak mendengarkannya. Taro nampak kesal karena si tuli Ahmad tidak kedengeran juga. Taro pun langsung menghampiri Ahmad.
"Ehh tuli,dipanggil juga gak denger. Parah banget tu telinga mu. Pasti gak pernah dibersiin ya?" ledek Taro
Ahmad yang mendengar ejekan menyakitkan itu hanya tersenyum manis. Ia tak ingin mengambil hati ucapan temannya itu. Baginya, itu menjadi makanan yang selalu menguatkan dirinya.
"Maaf Taro, aku benar-benar tidak mendengar tuaramu tadi. Ada apa Taro?" tanya Ahmad
"Pulang sekolah nanti,aku mau ngajak kamu buat nyuri jeruk Pak Damar. Tadi,pas aku lewat kebun Pak Damar jeruknya udah pada masak. Sayangkan kalau busuk nanti?" Ujar Taro
"Maaf Taro aku tidak berani. Itu berarti kita mencuri dan mengambil apa yang bukan menjadi hak milik kita. Haram hukumnya untuk kita makan" ucap Ahmad
"Tuli aja blagu banget. Udah gak usah munafik lah lu Mad. Apalagi sok suci pakek nasehatin gua segala, gak bakal ngaruh. Dasar babi kau" kesal Taro
Ahmad hanya tertunduk mendengar cemooh dari Taro. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Perihal perkataan yang kerap kali menyakitkan hatinya, ia tak pernah menyimpannya dalam hati. Ia tak ingin hatinya dipenuhi luka karena menyimpan dendam dan kebencian.
-----------*
Waktu telah menunjukkan pulang sekolah. Ahmad segera menuju tempat dimana ia memarkirkan sepedanya. Ketika ingin mengendarai sepedanya, ia melihat kedua ban sepedanya bocor. Ahmad berusaha kuat dan sabar atas musibah yang menimpannya itu.
Taro dan kedua temannya menghampiri Ahmad sambil ketawa lebar. Rupanya Taro lah yang sudah menjahati Ahmad. Ahmad yang mengetahui hal itu, hanya berusaha memaafkan apa yang Taro perbuat terhadap dirinya. Dalam hatinya,ia tak ingin membalas kejahatan Taro dan temannya.
Ahmad pulang dengan menuntun sepedanya. Dengan pelan, ia berjalan menelusuri jalan beraspal dengan terik matahari yang panas memayungi dirinya. Keringat bercucuran membasahi wajah putihnya. Sedikitpun ia tak mengeluh menjalani ini semua. Ia terus berjalan menyisiri jalan beraspal tersebut.
Sesampainya didepan warung, Breto dan Yuki yang melihat Ahmad menuntun sepeda menghampirinya. Ditangannya ada segelas minuman berbau alkhohol. Sesekali keduanya meneguk minuman itu. Tapi Ahmad yang mengetahui tingkah Breto itu hanya terdiam. Ia tidak ingin meladeni anak yang terkenal berandalan didaerahnya itu. Dan ia memilih untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.
Ketika ingin melanjutkan perjalanannya,Breto menarik tasnya. Ahmad pun menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Breto.
"Apa Mat Breto?" ucap Ahmad lembut
"Gimana kalau kamu gabung sama kita aja?
Dijamin kamu gak bakal nyesel" ajak Breto
"Gabung apa Mat Breto?
Aku buru-buru mau pulang mat" jelas Ahmad
"Yealahhh kenapa buru-buru segala. Udah nongkrong bareng kita berdua aja lah(sambil meneguk minuman) dijamin hausmu langsung ilang. Kamu pasti panas dan kehausan kan? Minumlah segelas atau dua gelas untuk menghela rasa capekmu Mad" ucap Breto
"Maaf Mat Breto, minuman itu tidak baik untuk ketehatan. Lebih baik Mat Breto berhenti mengkontumti minuman haram itu" tegur Ahmad
"Kamu itu masih kecil, gak usah sok-sokan nasehati orang dewasa. Pakek bawa-bawa haram segala lagi. Tau apa tentang haram? Sok suci banget lu. Dasar Anjing. Udah pergi sana" bentak Breto
Ahmad langsung berjalan pergi meninggalkan keduanya. Dadanya menghela nafas panjang atas ucapan Breto kepadanya. Raut wajahnya tampak menahan kesedihan. Tapi ia berusaha menyembunyikan itu semua.
Ketika akan tiba dirumahnya,Ahmad melintas didepan seorang pengemis yang membawa seorang anak kecil. Anak kecil itu merengek-rengek menangis sambil memegangi perutnya,
"Ibu...ibuu..aku laper ibu..." rengek anak kecil itu
Suara itulah yang didengar Ahmad. Ahmad sangat iba melihat sang pengemis dan anak kecil itu. Tapi Ahmad tidak memiliki makanan utuk diberikan kepada sang pengemis itu. Tapi ia teringat, bahwa ibunya tadi pagi memberikan uang saku untuknya.
Segera ia mengorek-ngorek tas untuk mencari uang tersebut. Setelah mengorek seisi tas, ia mendapati uang yang diberikan ibunya tadi. Dalam hatinya, uang 10 ribu apa cukup untuk membeli makan di warung. Tapi cuma itu yang Ahmad punya dan tidak ada yang lain lagi.
Tanpa berfikir panjang lebar, Ahmad menghampiri pengemis itu dan memasukkan uang itu kedalam sebuah gelas aqua. Betapa bahagianya wajah pengemis itu.
Ahmad melanjutkan perjalanan kerumah dengan rasa bahagia. Ia senang dapat berbagi apa yang ia punya meski tidak seberapa. Dan baginya, ia telah mendapatkan pelajaran yang begitu berharga.
"Bahwa saat kita selalu mengeluh dengan nikmat yang berkecukupan, ternyata diluar sana ada seseorang yang dengan semangatnya melewati pahitnya sebuah kesulitan"
_Muhamad Faiz_
Sesampainya dirumah, Ahmad langsung memarkirkan sepedanya dan masuk rumah. Tidak terlihat ada kesedihan di raut wajahnya, meski banyak hal menyakitkan terjadi hari ini. Ia tetap terlihat sangat bahagia.
Ahmad segera berganti baju dan mencuci kedua tangan dan kakinya. Ia menghampiri ibunya yang sedang berada di dapur. Ibunya pun langsung menyuruhnya makan siang.
Malam harinya, Ahmad keluar dan duduk diteras rumahnya. Ia memandang langit bertabur bintang yang berkelip-kelip di kejauhan. Sinar rembulan pun menambah keindahan malam itu. Ahmad duduk terdiam sambil merenung diri.
Ibunya yanng melihat Ahmad duduk sendirian dan termenung menghampiri putranya. Di samping putranya itu,ia memperhatikan apa yang tengah difikirkan putra kesayangannya itu. Seketika Ahamd tersadar dari renungannya.
"Apa yang tengah kamu fikirkan sayang?" tanya ibunya
"Bu.. Ahmad begitu tangat bahagia tskali bu(sambil tersenyum)" ucap Ahmad
"Bahagia? Perihal apa putraku?" tanya ibunya penasara
"Bu..metki Ahmad punya kekurangan fitik,tapi Tuhan tangat menyayangi Ahmad. Ahmad dijauhkan dari pendengaran yang buruk,dijauhkan berbicara kotor,dijauhkan dari perkataan yang mampu melukai hati teteorang. Dan ibu tau yang lebih betar dari itu? Tuhan juga menjaga Ahmad dari rata takut berbuat maktiat. Tuhan begitu tayang kan bu dengan Ahamd? Itulah bu.... mengapa Tuhan memberikan aku tebuah kekurangan(tersenyum). Dan terkadang teteorang yang tudah memiliki ketempurnaan fitik,mereka merata bahwa dirinya kurang tempurna. Jadi, mereka lupa untuk telalu berucap tukur" terang Ahmad
Ibunya tak kuasa menahan linangan air matanya. Ia tak menyangka, diusia Ahmad yang masih sangat terbilang anak-anak bisa berfikiran sebegitu cerdasnya. Segera dipeluknya Ahmad erat-erat sambil mencium pelipisnya. Air matanya terus membanjir dari kedua matanya. Ia begitu terharu atas pembelajaran dari putranya itu.
Ahmad pun membalas pelukan dan ciuman ibunya dengan kasih sayang.
°-°------------------------------------------------------------------------°-°
Sebesar apapun nikmat,akan terasa kurang untuk mereka yang kufur.
Dan sekecil apapun nikmat,akan terasa cukup untuk mereka yang pandai bersyukur.
°-°------------------------------------------------------------------------°-°
Jazakumullah Khairan Khatsiran