Halo,
Judul ini dari Pentolan Busuk mungkin namanya sudah diubah menjadi Ratu Busuk.
Maaf ya jika judulnya saya tambahkan, dan isinya sedikit beda tapi masih sama kok tokoh utamanya seorang mahasiswi.
Selamat Membaca
Semoga Suka
——O——
Universitas Indonesia Jakarta adalah universitas terbesar dan termewah.Banyak para mahasiswa yang lulusan dari sana, langsung mendapatkan pekerjaan.Ia juga mempunyai fasilitas-fasilitas yang tak kalah dengan universitas lainnya, selain itu kampus yang dikenal favorit ini juga terkesan angker, walaupun angker mahasiswa yang belajar disana tidak menghiraukannya. Mereka mengira bahwa itu hanyalah sekedar rumor. Bagaimana mungkin universitas favorit ini dibilang angker. Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang pernah membicarakannya mulai melupakannya dan tidak menyebutkan satu ruangan yang dikenal angker, yaitu ruangan musik sebelah ruangan fakultas seni.
Hari dimana penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru pun tiba.
Tak lama sebulan kemudian, salah satu mahasiswi baru mengalami hal tak terduga, ia mendengar suara berupa tangisan, kadang tawaan dan pukulan pintu yang keras. Mahasiswi itu adalah Nur Aini Fatmawati, dari Fakultas Seni. Ceritanya bahwa Aini sedang mengambil bukunya yang tertinggal dikelas. Setelah itu ia mendengar suara tersebut, sekitar pukul 5 sore.
"Des, aku ke kelas dulu yak!" Tegas Aini teringat sesuatu.
"Mau ngapain?" Jawab Desi penasaran.
"Mau ambil buku, kayaknya ada yang ketinggalan deh dikelas." Kata Aini sambil mengingat-ingat sesuatu apakah hanya perasaannya, ada yang tertinggal.
"Ya sudah aku temani ya, kamu juga ikut Rani?!" Desi menawarkan diri ikut bersama Aini dan mengajak Rani untuk ikut juga.
"Oke, deh!" Tanpa basa-basi Rani menyetujui ajakan Desi.
Sesampainya didepan kampus, Aini dan kedua temannya sudah tak melihat seorang pun yang ada dikampus. Kampus sudah sepi dan sunyi, namun mereka bertiga langsung masuk dan Aini segera menuju ruangan fakultas seni dan mengambil bukunya yang masih tergeletak diatas meja.Sesaat tangan Aini berhenti mengambil buku, karena mendengar suara aneh.
"Ini sungguh aneh, apa perasaan aja yah?" Gumam Aini mendengar tawaan seseorang.
Aini berpikir bahwa itu suara temannya yang sedang bercanda. Ia kemudian mengambil bukunya dan segera keluar. Aini tak menyadari bahwa ruangan disebelahnya angker.Semua orang sudah mengetahui tentang ruangan itu, namun tidak untuk mahasiswa baru.
Aini melewati ruangan itu, sekali lagi ia mendengar suara tangisan kali ini dan pukulan pintu keras seperti ingin ada yang membukanya. Aini sejenak penasaran, apakah didalam ada seseorang yang terkurung?
Kedua temannya yang menunggu dibawah, menerima panggilan telepon.
"Halo?" Kata Desi menyapa.
"Kalian sedang dimana?lama amat, kita sudah nunggu nih di cafe." Ucap seseorang ditelepon.
"Kak, aku masih dikampus.Tadi Aini ada yang ketinggalan dikelas.Jadi kami balik lagi ke kampus." Jawab Desi.
"Ya ampun, Des! Cepat kembali!" Ucap kakaknya ditelepon dengan suara tegas.
"Ada apa sih kak, cuma sebentar kok!" Kata Desi kaget dengan teriakan kakaknya.
"Des, kamu gak tau yah? ruangan yang ada disebelah fakultas seni itu angker" Ucap kakaknya mencoba menjelaskan.
"Yang bener sih kak, jangan becanda disore gini." Ucap Desi semakin bingung dengan perkataan kakaknya.
"Kamu lihat kan, gak ada orang satu pun disana?"
"Iya, kak.Cuma ada kami bertiga.Aku juga sedang nunggu Aini turun."
"Emang kamu gak temenin Aini?"
"Enggak sih kak, katanya biar Aini sendiri yang ke dalam."
"Astaga, cepat telepon.Jangan biarin dia dekati ruangan itu apalagi mencoba membukanya."
"Emang ada apa sih diruangan itu?"
"Udah cepet telepon aja, atau kalian susul dia."
"Iya, ini lagi ditelpon sama Rani."
Rani pun segera mengambil teleponnya dan memanggil Aini.
Sejenak dering telepon Aini bergetar, sesaat ia akan memegang gagang pintu.
"Gimana?ada jawaban?"Ucap kakaknya khawatir.
"Sebentar kak, belom diangkat." Jawab Desi mengkode pada Rani.
"Sudah di angkat, nih!." Kata Rani
"Halo, Aini?"
"Iya, ada apa?"
"Kamu lagi ngapain sih, lama amat.Udah ketemu kan? bukunya?"
"Udah, tinggal turun aja."
"Oh, ya udah.Kamu jangan dekati ruangan disebelah itu yah, apalagi kamu mencoba membukanya."
"Emangnya ada apa, Rani?"
"Udah cepet turun aja, nanti aku ceritain."
"Iya, aku turun nih."
Telepon pun berakhir.Aini tak jadi mendekati ruangan itu, sebenarnya ia juga hampir akan membukanya.
Sesaat ditutupnya telepon, Aini sudah terlihat di anak tangga.Temannya yang khawatir dengan teriakan kakaknya untuk menjauhi dan membiarkan ruangan itu bila ada suara aneh.
Kedua temannya, termasuk Aini penasaran mengapa kakaknya sampai seperti itu.Ia akan menceritakannya setelah sampai di cafe menurut kakaknya.
Kakaknya menjelaskan bahwa ruangan itu adalah ruangan fakultas musik, dulu ada seorang mahasiswi yang sangat menggemari alat musik.Mahasiswi itu terus memainkan alat musik itu sampai malam.Tanpa disadari, listrik tiba-tiba mati.Mahasiswi yang masih ada diruangan itu mencoba mencari pintu keluar, namun karena sangat gelap, tidak ada satu cahaya pun sehingga membuatnya terjatuh karena tersandung kabel, saat itu mahasiswi tersebut sedang memakai kacamata yang bahannya kaca.
Pagi harinya, saat mahasiswa memasuki ruangan itu untuk mengambil gitar, dia melihat seseorang tergeletak dengan simpah darah mengalir melalui matanya.Setelah diselidiki, mahasiswi itu bernama Gina Anastasya Putri, fakultas musik dan salah satu kaca yang ada di kacamata itu menancap pada kedua bola matanya.Hingga sampai sekarang ruangan musik itu ditutup.Memang ruangan itu tidak terkunci, bahkan digembok karena tidak ingin berita meninggalnya mahasiswi itu tersebar dan mencoreng nama baik universitas.
Sekian...
Nama dan tempat tidak yang sebenarnya.
Semoga Suka