kisah sepasang kekasih ini sudah mempersiapkan untuk pernikahan mereka..
revo dan vanya
vanya yang sibuk menyiapkan segala keperluan pernikahan nya dengan revo.. sedangkan revo masih bergulat dengan pekerjaan nya mempercayai semua urusan kepada vanya
Dari semua kisah pernikahan.. yang paling didera rasa pusing dan repot pasti pihak pria.. karna pihak pria lah yang seharusnya mengurus sedangkan wanita cukup terima beres.. beda dengan pasangan ini..
tak lama revo datang setelah sekitar setengah jam rapat bersama kliennya
lalu ia mengatakan meminta 1 undangan untuk temannya
"sayang, aku ambil 1 undangan ya, buat temanku" kata revo
"oh boleh sayang"
vanya tidak merasakan curiga karna mungkin yang akan diundang revo, adalah klien nya tadi atau temannya
awalnya memang vanya tak pernah mempermasalahkan hal itu..
"sayang.. kalau misalkan tema utama kita putih, tapi putih tulang, jangan putih susu, terlalu putih kalau putih susu, gimana?" tanya vanya
"oh iya bisa"
"kalau putih tulang seperti nya sedikit menguning kan agak cream gitu"
"iya bisa"
hanya saja ketika revo dinner bersama vanya.. qualiti time sebelum pernikahan pun terlewatkan begitu saja hanya karna revo asik dengan ponsel nya
sampai vanya meminta pulang karna sedikit kesal refo acuh didepan nya..
"sudah belum kamu makan?" tanya vanya
"sudah sudah"
"yaudah aku pamit pulang"
"loh kenapa cepat? aku antar"
"terserah aja"
revo mengantarkan pulang vanya seperti biasanya
keesokan harinya..
saat revo sedang bersama vanya
"pak, permisi, klien kita meeting sudah datang" kata sekertaris kantor revo
"ruangannya sudah kamu siapkan kan?"
"sudah pak, siap"
vanya sedang ada diruang kerja revo..
revo meminta izin untuk menemui klien..
"aku temui klien dulu ya sayang" kata revo
"em" jawab vanya
vanya tak sengaja melihat ponsel revo yang entahlah memang sengaja ditinggal atau memang karna lupa
vanya mengecek mengapa bisa ponsel itu lebih berharga dari persiapan pernikahan nya sendiri..
yang dapati adalah foto revo dengan seorang wanita cantik tidak ada apa-apa nya dibanding vanya yang semua orang kenal itu adalah model..
bernama Shinta.. nama orang yang sedang dekat dengan calon suami vanya itu..
bukti itu cukup menunjukan kedekatan calon suami nya dengan wanita yang ia sebut didepan vanya adalah klien..
yap, memang sempat vanya tau soal Shinta, model yang akan bekerja sama dengan suaminya..
dengan cukup, ini benar benar perselingkuhan...
termasuk banyak permasalahan vanya menyempatkan diri untuk kesalon..
vanya memanjakan diri dengan ke salon langganan yang lama sudah tak ia kunjungi
"waaah kakak vanya, sudah lama tidak datang" sapa kasir disana
"iya ini sempat jadi mampir"
"silahkan langsung saja"
"terimakasih"
saat sampai di tempat.. vanya menuju kamar yang dipersiapkan pegawai salah satu salon itu
tapi vanya berpapasan dengan wanita yang mirip dengan foto bersama revo...
tapi vanya belum mengingat itu Shinta
"kak.. sudah?"ucap pegawai salon kepada pelanggan itu
"Eh.. iya terimakasih kak, aku duluan yaa" ucap gadis itu seraya menyentuh lengan karyawan itu
pegawai yang sedang bersama vanya
saat baru memasuki kamar perawatan untuk vanya, vanya bertanya pada pegawai salon
"kak.. tadi itu siapa yaa?"
"Oh yang tadi papasan ya? itu Shinta.. kenapa? kak vanya kaya perna kenal yaa? Jelas kak kan dia itu model.. itu foto nya" seraya menunjukkan foto Shinta yang ada di ruangan itu dimana ternyata Shinta adalah artis promotion salin itu
"saya saya ambil peralatan nya dulu yaa" ucap pegawai salon..
vanya melihat dengan teliti lebih dekat tentang foto Shinta yang ada diruang itu..
tiba-tiba ia dikagetkan dengan pegawai salon yang sudah memanggilnya
"kak, mari.. saya mulai yaa"
"Oh iya" jawab vanya dengan wajah masih memikirkan tentang foto itu
ia sudah sadar jika gadis itu adalah gadis yang sama dengan calon suaminya di salah satu foto hape milik revo..
Saat spa dimulai vanya tertidur..
ia bermimpi..
revo mengembalikan kepada vanya cincin yang sudah vanya pesan untuk pernikahan nya dan revo berkata
"van.. maafin aku.. aku tidak bisa melanjutkan ini"
"Kenapa?"
"Aku lebih mencintai.."
Belum selesai mimpi.. vanya terbangun atas panggilan dari pelayan salon
"kak.. udah selesai"
"ahh astaga iya, aduh ketiduran saya.. gak sengaja.."
"Gakpapa kak saya tau.. kan lagi kecapekan karna persiapan pernikahan kan, jadi enak ketiduran"
"haha iya, terimakasih ya saya pamit dulu.. makasih loh"
"ya kak vanya sama sama, lain kali balik ya"
beberapa hari setelahnya, juga vanya menuju rumah yang baru dibelinya bersama revo untuk didiami setelah pernikahan..
vanya diam lantai dua sambil memandangi langit..
"apa itu adalah mimpi, mengapa terasa begitu nyata?" ucap vanya pelan
vanya membuang muka nya dan melamun kembali..
"Seandainya ini benar-benar berakhir.. ikhlaskan aku Tuhan.." ucapnya dalam hati
tak lama kemudian revo datang..
"sayang" teriaknya
"hai" sapa vanya
revo yang datang langsung berlari menuju lantai dua..
"sayang.. maafin aku yaa.. aku janji apapun pilihan kamu.. aku akan terima.. sekalipun nikah ditengah laut disaksikan hiu dan ikan-ikan.. asal sama kamu.. aku terima" sembari memasukkan cincin ke jari vanya..
vanya tersenyum dan berkata "iya" saja
begitupun vanya memasukkannya ke jari Refo tapi saat memasukkan pada jari revo justru cincinnya terjatuh..
melihat itu revo bergegas menuju lantai bawah dan keluar ke latar rumah itu untuk mencari cincin itu
saat revo mencarinya vanya berpikir apa ini firasat buruk nya tentang batalnya pernikahan..
entahlah.. semoga itu hanya sekedar firasat..
setelah cincinnya ketemu..
"sayang, ada" teriak revo"
vanya hanya tersenyum
revo menyimpan nya untuk hari esok, saat pernikahan mereka tiba
revo naik lagi dan mengobrol dengan vanya di balkon atas tadi, tapi di akhir mereka mengobrol sebelum revo berpamitan pulang, vanya melihat revo sibuk dengan ponselnya lagi
tak beberapa lama, revo benar saja berpamitan..
karna penasaran..
vanya mengikutinya
tapi justru pulang dari bersama nya yang dilakukan revo adalah pergi menemui Shinta..
tak habis pikir vanya atas perlakuan revo padanya, ia menangisi yang ia lihat karna ia melihat calon suaminya, yang akan menikah dengannya berkomitmen selamanya tapi didepan matanya menjemput wanita lain dan berboncengan dengan motor besar milik revo
hari berlalu
tiba di hari akan mereka mengadakan pernikahannya
tiba tiba revo pergi meninggalkan vanya..
vanya melihat arah revo dengan heran dan berpikir jika revo seperti tidak yakin
ia masih menahan sakit hatinya, menahan dan mencoba menerima atas perlakuan itu..
vanya pun meminta para staff make up untuk membantunya mengganti kan bajunya..
setelah semua siap
dihari pernikahan revo vanya..
vanya berjalan menuju refo yang sudah sedari tadi sudah ada dihadapan pendeta yang akan menikahkan mereka..
tapi vanya kaget ketika ia mendapati Shinta berada ditempat yang sama dengan para tamu undangannya...
sesampainya vanya di depan revo dan dihadapan pendeta..
tatapan tajam sudah vanya tunjukkan..
ini keterlaluan, bahkan sampai Shinta berani datang ke pernikahannya
"Bukankah aku tidak pernah mengundang model mu itu?" tanya vanya berbisik
revo hanya diam dan melirik kearah Shinta dengan bingung..
sementara semua para tamu undangan yang tau siapa saja yang diundang ya hanya vanya..
tapi perna waktu itu revo meminta satu undangan..
berati kelas itu untuk Shinta..
seketika lamunan vanya terhenti karna suara pendeta yang akan memulai acara
"sudah siap pengantin pria?" tanya pendeta
"siap pak" kata revo
"Sudah siap untuk mempelai wanita?" tanya pendeta setelah bertanya pada pengantin pria
vanya masih menatap tajam arah revo, karna tidak ada jawaban, pendeta mengulang ucapan, dan revo memberikan kode pada vanya agar fokus
"Tidak pak" jawab vanya tegas..
jawaban yang membuat para tamu undangan tercengang termasuk pendeta..
dan vanya berlari menjauh dari sana tapi revo mencoba mengejarnya..
"vanya.." teriak revo
"vanyaaaa"
beberapa kali memanggil, revo berlari dan menarik lengan vanya
"vanya.. kamu kenapa sih?" tanya revo
"aku? aku kenapa? tanya dirimu, kamu yang kenapa.. kenapa kamu gak batalin semuanya pernikahan kita kalau hatimu masih setengah untukku?" ucap vanya
"kamu bicara apa? aku tidak akan lanjutkan sampai kita menikah sejauh ini persiapan vanya" jelas revo
vanya terus berjalan meninggalkan revo tapi revo terus mengikutinya
"vanyaaa.. aku sumpah mati mencintai kamu" ucap revo sembari mengejar vanya
tapi sampai ditengah jalan..
vanya melihat mobil dengan laju kencang sedikit lagi menabraknya
ia pasrah, tidak bergerak biar yang disana juga melihat kecelakaan dan membuat nya mati
revo yang tidak sadar adanya mobil melaju kencang, karna terlalu memikirkan yang baru saja ia alami, kecelakaan tak terhindarkan
revo yang justru tertabrak dan vanya justru hanya terjatuh tapi terhindar kecelakaan
"Revoooo...." teriak histeris vanya
semua kaget, seperti melihat drama di kehidupan nyata, semua berteriak lalu berlarian mendekati tempat kejadian
saat dilarikan ke RS terdekat
dokter memeriksa beberapa menit baru keluar dan dokter menyatakan...
"maaf.. saya dan yang lain sudah semaksimal mungkin.. tapi ini yang terbaik untuk pasien" ucap dokter
semua yang ada disana langsung paham yang dikatakan dokter
termasuk vanya yang hanya terdiam lemas dan terjatuh seolah kakinya tak kuat menahan badannya..
"vanya" teriak orang orang membantunya berdiri
hari berlalu..
karna memang revo harus segera di makamkan, vanya hanya bisa diam, tanpa mengeluarkan apapun satu katanya..
saat semua balik, vanya memutuskan ikut balik karna tidak kuat menahan ia ingin sekali teriak akan kebodohannya
keesokan harinya...
vanya mendatangi rumah yang sudah dibeli nya bersama revo..
ia berjalan, dan diikuti anjing yang sudah menjadi anaknya bersama revo, anjing lucu berbulu coklat muda itu hanya bisa diam dan tengkurap memerhatikan majikannya terdiam
disana vanya diam dan seketika berteriak saat ia mengingat masa bahagia bersama revo sebelum akhirnya masalah itu datang disaat mereka akan menikah..
"aaaarrrrrgh" teriaknya seketika membuat anjingnya kaget dan berlari masuk rumah
anjingnya hanya melihat kondisi majikannya dari pintu kaca yang ada di balkon itu
dilantai dua ia mengenang tentang revo.. tapi ia melihat dari dibawah sudah ada Shinta..
Shinta melambaikan tangannya kearah vanya bermaksud menyapanya
vanya turun dan menemui shinta..
"kamu yang sabar yaa.. semua sudah ada yang atur dan pasti ada hikmah disetiap cobaanmu" ucap Shinta
Vanya hanya diam, ia melihat kearah Shinta dari atas hingga kearah bawah kaki nya, dengan penuh kekesalan
shinta berjalan kearah salah satu sisi taman didepan teras rumah baru itu
"hubungan aku dan revo memang klien.. aku hanya model produk parfum revo.. tapi aku adalah sahabatnya, aku mengenalnya ketika kami sama sama baru mengerti dunia ini, sangat kecil kita kenal" kata shinta
vanya menatap kaget arah shinta yang membelakanginya..
"aku dan dia bersama, apapun tentang aku dan tentang dia tentang kehidupan dari keuangan, cinta, perasaan, semua hal, kami saling ceritakan, dia seperti keluargaku" kata shinta
lalu shinta membalikkan badannya
"sampai kami berpisah karna pekerjaan, kami saling sibuk dengan perjuangan masing masing dia dengan usaha dan produk produknya aku dengan dunia model"
shinta melihat ke arah rumah yang dia injak tanahnya lalu tersenyum
"sampai kita bertemu lagi karna pekerjaan yang memisahkan kita, tapi aku melihat dia sudah mendapatkan perempuan yang sejak kecil ia sukai" kata shinta
"yang revo sukai?" tanya vanya
"iya. kamu, dia suka padamu, sejak lama, sejak jaman awal masuk kuliah, hingga aku dengar darinya kamu dan dia akan menikah bahkan membuat rumah, itu adalah keputusan besar dari sosok se cuek revo" kata shinta
semua nya shinta buka, ia jelaskan tentang refo juga sering meminta saran,
untuk hubungan nya bersama vanya, setelah menikah ia harus bagaimana agar dia tidak mengecewakan dan menjadi suami yang selalu membahagiakan..
"karna revo tau, aku lebih berpengalaman dengan pernikahan, dimana aku telah berada disituasi hubungan sangat saling cinta dan disatukan atas pernikahan, tapi kami tetap harus pisah" jelas shinta
tidak tau lagi, mengapa bisa ia sebesar itu salah paham kepada revo..harusnya ia percaya..
"dia juga pernah menitipkan mu padaku saat nantinya dia harus pergi terlebih dulu sebelum mu.. dan itu dialami nya bahkan sebelum kamu benar benar jadi miliknya" kata shinta
penjelasan shinta membuat vanya menangis histeris..
ia langsung terjungkal kebawa dan merasakan kakinya seperti lumpuh total
dan sinta mencoba menenangkan nya
"aku masih bersama kamu, aku akan jadi sahabat yang baik seperti aku menganggap revo sahabat paling baik didunia" kata shinta memeluk vanya
sejak itu, fakta yang ia dapat sangat besar dan jauh dari apa yang ada dipikirannya
vanya sering mencoba melakukan bunuh diri, tapi beberapa kali juga ia mendapatkan kegagalan karna selalu dihalangi oleh keluarganya dan shinta juga
karna kesal dengan sikap vanya yang prustasi berlebihan itu, shinta yang terbilang kalem seketika membentak vanya
"kalau kamu mau mati, jangan bunuh diri, biar aku membunuhmu, biar kamu tidak mendapatkan masalah di alam baka karna bunuh diri" bentak shinta menarik pisau ditangan vanya dan bersiap menusuk vanya
tapi vanya justru menitihkan air mata, seketika memeluk shinta
"maafkan aku.. terimakasih atas selama ini menemani revo dan menemani aku di akhir akhir ini" kata vanya
tapi vanya dengan cepat mengambil pisau itu dan menusukkan keperutnya hingga ia mati didepan shinta..
shinta terbangun..
ia ternyata hanya mendapatkan mimpi buruk
seketika ia menelfon vanya tapi tidak ada jawaban
dan dapat telfon balik dari kakak vanya dimana kakak vanya memberikan kabar jika adiknya GILA..
vanya kaget, bukan main ia kaget, seketika tanpa peduli pakaian tidur dipakainya, ia berjalan menuju mobil dan menuju rumah vanya
benar saja, vanya dirumah dan sudah ada beberapa petugas medis yang akan membawa vanya keluar dari rumah
"kak" sapa shinta
"shinta" sapa kakak vanya
"vanya mau kemana?"
kakak vanya menjelaskan jika itu akan pergi ke RSJ
sejak itu, vanya dirawat di rumah sakit jiwa karna selalu mencoba bunuh diri
tapi beruntung sejak pindah, ia tidak lagi berusaha membunuh diri karna menurut suster jaga, ia mengatakan pada shinta jika vanya memiliki teman "gaib" nya bernama revo
seketika itu, vanya shock
hari demi hari, shinta selalu rutin datang melihat kondisi vanya
dimana setiap harinya vanya memang terlihat seolah selalu bersama dengan seseorang yang dianggap vanya itu revo
-SELESAI-
pesan yang dapat diambil :
jangan ambil keputusan, sebelum membuktikan, pembuktian memang tidak mudah tapi kita mampu mengambil keputusan yang mana yang tepat sebelum semua pergi dengan takdirnya...