Kegiatan pagiku adalah memasak sarapan untuk mas Yudha, dia sudah pasti akan memakan apa yang aku masak untuk sekedar menghormati makanan yang telah aku buatkan untuknya.
Walau begitu, tidak sekalipun dia mau menyapaku kecuali memberi komentar yang cukup pedas tentang rasa masakanku. Padahal, cita rasa makanan yang kumasak cukup enak dan layak dimakan.
"Hari ini aku pulang malam, kau bisa bersenang-senang bersama kekasihmu!" ucap mas Yudha sinis dan raut wajahnya sudah sedingin kutub utara.
Kekasih? apakah dia tidak sedang salah berbicara? atau sedang membual? aku jelas tidak memiliki kekasih. Jangankan memiliki kekasih, berdekatan dengan pria saja aku akan menjaga jarak aman.
Kecuali, ketika aku bersama dengan Reihan. Sahabat baikku yang selalu ada untukku, pria baik hati yang akan menghibur diriku saat mas Yudha bertingkah kasar atau mengajak kekasih gilanya main kerumah.
Ya, mas Yudha memiliki seorang kekasih. Wanita cantik dan anggun yang cukup menyebalkan, dia bahkan pernah menjadikanku layaknya pelayan dirumahku sendiri!
Dan mas Yudha malah membiarkan kelakuan dan tingkah gila kekasihnya, jujur aku ingin membenci pasangan bre*gsek tersebut tapi nanti, setelah mas Yudha memutuskan kekasihnya dan bertekuk lutut dikaki cantikku.
Kalian tahu, dulu pernikahan adalah sebuah kata yang menurutku melambangkan kebahagiaan, dan aku tidak pernah berpikir akan pernikahanku yang bahkan tanpa adanya rasa cinta. Miris sekali.
Hatiku tidaklah sekuat baja, perasaanku lembut seperti kapas. Tetapi mas Yudha dengan sengaja menghancurkan semuanya, bahkan dia dengan paksa mengambil kesucianku.
Aku tahu, dia adalah suamiku. Sudah kewajibanku memberikan haknya, tetapi kenapa dia harus mengambil dengan cara paksa? dia bahkan sengaja memberiku obat pera*gsang.
Ditambah dia sudah memiliki kekasih, pernikahan kami hanya sebuah pernikahan tanpa adanya rasa cinta. Jika papaku tidak sakit, mungkin aku tidak akan mengenal pria sebreng*ek mas Yudha.
"Jangan mengada-ada mas, aku tidak senaif dirimu yang memiliki dua orang wanita didalam hidupmu!" seruku marah, tentu aku marah karna dia menuduh tanpa alasan yang jelas dan tanpa adanya bukti.
"Cih, masih berpura-pura ternyata! kau pikir aku buta tidak melihat kau berpelukan dengan baji*gan Reihan!" sinisnya, aku merasa ada leser dimatanya yang siap membumi hanguskan diriku.
Oh, ternyata dia melihat kejadian ketika Reihan memelukku. Jangan salah paham terlebih dahulu, saat itu aku hanya memberikan sandaran kepada Reihan karna dia harus berpisah dengan kekasih yang sangat disayanginya.
Kekasih hati Reihan bernama Kaisya, gadis cantik yang akan menempuh pendidikan disalah satu universitas besar Jerman. Karna alasan pendidikan, hubungan asmara Rei dan Kai harus berakhir.
Oke, balik ketopik awal. Saat ini kita bukan sedang membahas asmara Rei dan Kai. Tapi hubungan rumah tangga aku dan mas Yudha, rumah tangga seorang Andrea dan Yudha yang mungkin tidak akan bertahan lama.
Namun, jangan sedih kawan. Aku tidak akan kalah sebelum perang dimulai, sekarang mas Yudha adalah suamiku, dia adalah lelakiku, dan hanya aku wanita yang boleh memiliki mas Yudha seutuhnya.
Jangan kalian pikir aku akan mengalah dengan kekasih mas Yudha, untuk apa aku menyerah jika hubunganku dan mas Yudha sudah sah secara hukum dan agama. Tidak akan kubiarkam seekor lalat menganggu rumah tangga kami.
Akan kurebut hati mas Yudha, akan kurebut cinta mas Yudha, akan kurebut perhatian mas Yudha, akan kurebut kasih sayang mas Yudha, akan kurebut senyumnya hanya untukku. Aku akan merebut hati suamiku.
🌼🌼🌼
Perutku terasa diaduk-aduk, wajahmu sepertinya sudah pucat dan mungkin sangat pias. Mas Yudha yang melihatku mendadak khawatir, tapi aku sempat melihat seringaian diwajahnya.
"Kau kenapa?" tanyanya dingin.
"Aku baik-baik saja, huekkk, permisi aku mau kekamar mandi!" seruku tidak tahan, sedikit berlari menuju kamar mandi.
Mas Yudha ternyata mengikuti langkahku, pria itu membantuku dengan menepuk pelan punggungku yang tampak sedikit bergetar membuatnya tambah panik tidak karuan.
"Ayo kedokter, tidak akan kubiarkan bocah nakal itu menyakiti dirimu!" seru mas Yudha menarik tanganku cepat tapi kurasa masih sedikit lembut.
Bocah nakal? menyakiti? apa maksudnya? kenapa pria menyebalkan itu melontarkan kalimat aneh? apa dia sedang mengkhawatirkan diriku? cih, aku tidak percaya jika dia mengkhawatirkanku.
Tubuhku yang sudah lemas karna memuntahkan semua isi perutku hanya bisa pasrah mengikuti langkah besar mas Yudha, dia sangat menyebalkan. Seharusnya dia bisa sedikit lebih pelan, kakiku tidak sebesar kakinya.
"Kita mau kemana?" tanyaku pelan, seakan tidak lagi memiliki tenaga untuk menyerukan kalimat-kalimat yang kini menghiasi kepalaku.
"Dokter, kau harus diperiksa dan diberi obat agar bocah kecil itu tidak menyakitimu!" jawabnya masih dengan nada dingin, entahlah, aku penasaran akan apa yang bunda idamkan saat hamil mas Yudha.
Tidak lama, mobil mas Yudha yang dikendarai pak supir memasuki pekarangan rumah sakit tampat mas Yudha bekerja. Ya, suamiku adalah seorang dokter ahli bedah disini, dia bahkan dihormati dan cukup digilai oleh kaum hawa.
Sepanjang perjalanan memasuki rumah sakit, aku melihat banyak kaum hawa yang menatap kami dengan tatapan sulit diartikan, mungkin mereka patah hati melihat dokter tampan mereka sedang menggandeng seorang wanita.
"Mas, kenapa kedokter kandungan?" tanyaku heran, masih tidak memahami maksudnya.
"Gadis bodoh," gumam mas Yudha gemash, tangannya seperti ingin mencubit pipiku.
Akhirnya namaku keluar, mas Yudha masih siaga mendampingi diriku. Bukankah dia cukup romantis? untuk ukuran suami yang tidak memiliki rasa cinta terhadap istirnya, mas Yudha layak mendapat penghargaan lelaki yang care.
"Dokter Yudha!" seru dokter wanita didalam ruangan dimana aku dan mas Yudha masuki.
"Cepat periksa istriku, jangan biarkan bocah nakal itu menyakitinya!" perintah mas Yudha dingin, nada bicaranya seolah tidak mau dibantah.
"Bocah nakal? bocah nakal apa sih mas? dari tadi kau mengatakan kalimat yang aneh!" tanyaku kesal, sang dokter hanya memperhatikan kami sebelum menatap bingung kepadaku.
Mas Yudha hanya menghiraukan pertanyaanku, sang dokter kemudian membaringkan diriku diatas tempat tidur pasien yang ada diruangan itu. Aku hanya memperhatikan semua yang dia lakukan.
Hingga, muncul sebuah gambar dilayar monitor, gambar sebuah titik yang mirip seperti jagung, aku tidak tahu apa itu. Dokter yang menanganiku sontak tersenyum menatapku dan menatap mas Yudha yang sudah berbinar.
"Selamat dokter, nyonya. Kalian sebentar lagi akan menjadi orangtua!" ucap dokter wanita bername tag Aprilya tersebut.
Mulutnya terbuka mendengarnya, kemudian mataku menatap mas Yudha yang masih berbinar melihat monitor, itu anakku! aku akan menjadi seorang ibu!! yatuhan, terimakasih, terimakasih sudah memberikan hadiah seistimewa ini!
"Terimakasih Dea, terimakasih sayang!" ucap mas Yudha tidak hentinya menciummi dahiku, tidak apa, aku membiarkannya melakukan apapun, ini adalah hari paling istimewa didalam hidupku!
🌼🌼🌼
Kami pulang dengan perasaan bahagia, mas Yudha masih terus menciummi wajahku dan jujur aku sedikit risih dengan tingkahnya. Aku tahu dia sedang bahagia, tapi ini cukup berlebihan.
Setibanya dirumah aku merasa aneh, kenapa rumah terasa sangat sepi dan sunyi? dimana semua lampu padam. Mas Yudha menggandeng tanganku, pria ini benar-benar menempal seperti lem kepadaku.
Pak sopir bahkan menggeleng melihat kelakuan tuannya selama perjalanan pergi dan pulang, jujur aku sedikit malu dengan pak supir, walaupun dia supir pribadi kami. Tetap saja aku malu.
"DOR!"
Jantungku seakan mau copot mendengar suara petasan bersamaan dengan semua lampu ruangan yang kembali dihidupkan. Aku melihat Reihan, Alvina kekasih mas Yudha, keluarga mas Yudha, dan keluarga ku yang menunggu kami.
"Happy birthday Andrea!" seru semua dengan senyum terbaik, bahkan Alvina tampak tersenyum tulus kepadaku.
Aku mendadak loading, hari ini hari ulang tahunku? kenapa aku bisa melupakan hari pentingku? apa karna terlalu bahagia? atau karna aku memang melupakannya?
"Aku, ulang-tahun?" tanyaku sedikit terbata, mereka seketika menatap aneh diriku.
"Kau benar-benar bodoh kakak ipar!" seru Alvina membuatku terkejut? kakak ipar? apa-apaan itu, panggilan yang menggelikan.
"Dea," panggil mas Yudha.
Aku menoleh kepadanya, seketika pria dingin yang menjadi suamiku ini berlutut dikakiku! senyuman tulus terukir indah diwajahnya. Senyuman yang menambah pesona seorang Yudha yang gagah.
"Maaf sayang, aku memanfaatkan papamu untuk menikahkan kita berdua. Apakah kau melupakan siapa aku? aku adalah Yuyu-mu, kekasih masa kecilmu. Maaf, aku dan Vina sudah menipumu dalam sandiwara kami, sebenarnya Vina adalah adik sepupuku, maaf Dea. Aku terlalu bodoh hingga terus menyakitimu. Percayalah, aku sangat mencintaimu, tapi aku terlalu malu untuk mengakui perasaanku padamu, aku terlalu pengecut untuk itu. Papa sebenarnya tidak sakit De, ini semua hanya sandiwara kami. Mereka membantuku untuk menikah denganmu. Maaf De, aku tahu kesalahan yang kubuat cukup fatal, tapi cintaku tidak pernah main-main. Maaf, dan terimakasih, terimakasih karna kau sudah mau menikah denganku, dan terimakasih karna kau sudi mengandung anakku!"
---------------------------
HAI SEMUAAA, TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA KASIH LOVE KALIAN DAN BERI MASUKAN ATAU KRITIKAN TENTANG CERPEN TERBARU AUTHOR INI!
JANGAN LUPA MAMPIR YUK DIPROFIL AUTHOR.
BACA KARYA-KARYA AUTHOR LAINNYA. CERPEN "MEREBUT HATI SUAMI" JUGA ADA DALAM BENTUK NOVEL TAPI ALUR DAN CERITA AKAN BEBREDA DENGAN CERPEN.
NOVEL-NOVEL AUTHOR :
1. Selalu Mencintaimu
2. Penyihir Cantik Gabriella ( On Going )
3. Merebut Hati Suami