Tomboy tapi manja itulah ciri khasnya, berusia 10 tahun lebih, merupakan anak yang serba tercukupi dalam hidupnya, karena ayahnya seorang pedagang, pandai besi sekaligus bos karet dan sawit sedangkan bundanya seorang pedagang makanan ringan. Terlahir dari seorang Ayah yang bernama Rusdi dan seorang Bunda yang bernama Emi Hartati. Ia bersekolah di SD Negeri 82 seluma tepat di Desa Serambi Gunung, Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan. Dia anak ke-2 dari 3 bersaudara, dia mempunyai Kakak dan Adik. Nama Kakaknya Rahma dan nama Adiknya Dahlia. Kakaknya bersekolah di Pondok Presantern Gontor, Ngawi, Jawa Timur. Sedangkan Adiknya masih berusia 4 tahun dan bersekolah PAUD di sekolah Rahmi.
Ayah dan bunda Rahmi berasal dari Sumatera Selatan, setelah mereka menikah, mereka merantau ke Bengkulu bagian selatan. Di sana Ayah dan Bundanya Rahmi mempunyai banyak saudara angkat. Yang paling dekat dengannya Mak wo itulah yang sering membantu mereka dalam kesulitan, sudah di anggap seperti saudara sendiri.
Pada waktu itu Bunda Rahmi sedang sakit entah sakit apa, Bundanya sering muntah-muntah. Pagi itu, tepatnya pagi kamis ia pergi ke sekolah dengan adiknya. Waktu itu Bunda Rahmi di bawa ke puskes untuk meriksa penyakitnya. Ayah Rahmi yang membawa motor dan yang menahan bunda Rahmi yaitu Mak wonya. Setelah sampai di puskes dan di periksa ternyata Bunda Rahmi mengidap penyakit hipotensis, dan diabetes. Penyakit yang di idap Bunda Rahmi sudah parah, ini yang menyebabkan Bundanya harus dibawa ke rumah sakit.
Sekitaran pukul 10.00 WIB Rahmi pulang sekolah.
“Assalammu’alaikum” ujur Rahmi, sambil mengetuk pintu rumah.
“Wa’alaikumussalam” jawab Ayahnya, sambil membuka pintu.
Rahmi pun masuk ke rumah dan segera mengganti baju, di rumahnya banyak tetangga yang datang menjenguk bundanya. Tak sengaja terdengar oleh Rahmi.
“Katanya ibu Emi mau di bawa ke rumah sakit.” ujur tetangga itu.
“Iya. emangnya dia sakit apa?” Tanya tetangga lainnya.
“Entah aku tidak tahu.” jawab tetangga itu.
“Ya, sudah jangan gosipin orang yang lagi sakit” ujur, tetangga itu.
Hari sudah malam, Rahmi harus menanyakan apa yang di bicarakan oleh tetangga tadi, kepada Ayahnya.
“Ayah, boleh aku bertanya gak.” ucap Rahmi.
“Boleh emang mau Tanya apa?” jawab Ayahnya.
“Tadi, tidak sengaja aku mendengar tetangga ngobrol.(menarik napas sejenak) katanya Bunda mau di bawa ke rumah sakit.” ucapnya.
“Iya, itu benar Ayah lupa ngasih tahu kamu. maafkan ayah ya.” jawab Ayahnya.
“Emang Bunda sakit apa.” tanya Rahmi
“(Ayahnya terdiam beberapa detik), Bunda sakit…..”, tiba-tiba Bundanya Rahmi memanggil Ayahnya.”Ayah ke bunda dulu ya nak” kata Ayah Rahmi.
“Iya, yah”. ucapnya.
Ayah Rahmi berjalan ke kamar,( sambil membuka pintu kamar ),
“Ada apa bun” kata Ayah Rahmi.
“Bunda mohon kepada Ayah jangan bilang kepada anak-anak tentang penyakit Bunda.” ucap Bunda Rahmi.
“Emang ada apa?”Tanya Ayah Rahmi.
“Aku gak mau melihat anak-anak sedih.” jawabnya.
“Iya, kalau itu mau mu.” kawab Ayah Rahmi.
Keesokan harinya tepatnya hari jum’at Bunda Rahmi dibawa ke rumah sakit umum di Bengkulu kota. Kebetulan milik rumah sakit itu masih keluarga Bundanya, jadi Bunda Rahmi mendapat perawatan yang baik, dari Rumah sakit itu. Kakek dan Nenek Rahmi tidak bisa datang karena jarak yang jauh dan sudah tua. Bunda Rahmi di rawat diruangan Teratai. Lima hari lamanya Bunda Rahmi dirawat di rumah sakit. Waktu Bundanya dirawat di rumah sakit Rahmi tidak bisa datang karena ia sekolah.
Hari-hari telah dilewati, minggu pun berganti dengan bulan. Saatnya memasuki tahun baru. Pada tanggal, 3 maret 2013, penyakit yang di idap Bunda Rahmi kembali lagin ke menghantarkan Bunda Rahmi, kembali kerumah sakit.
Waktu ia mau sholat magrib Bundanya kesakitan, sesak napas, dan mutah-muntah, lalu ia teriak memanggil ayahnya “Ayah, ayah, ayah, ayah….”katanya. Ayahnya yang sedang memasak mie untuk Adiknya langsung masuk kamar saat mendengar teriakan Rahmi. Ketika sang Ayah masuk kamar, Rahmi keluar dan memberi tahu kepada bibinya. Banyak orang yang datang kerumahnya.
“Ayo pak, kita bawa ke puskesmas.” kata salah satu bidan.
“Ya, ayo.” ayahnya menjawab. sambil menyuruh orang memcari mobil untuk ke puskes.
Segera bergegas menuju puskesmas, Rahmi pun ikut ke puskes tersebut. Setelah beberapa menit, mereka sampailah ke puskes. Di puskes tersebut banyak saudara angkat Ayah dan Bunda Rahmi yang bekerja di sana.
“Istri Bapak harus di bawa ke rumah sakit, karena kami tidak sanggup menaganinya dan alat-alat di sini masih kurang baik.”kata Dokter di puskes itu.
“Iya.” jawab ayah Rahmi singkat
“Bapak, harus mengurusnya surat-surat terlebih dahulu.” kata Dokter.
“Baik dok.” Langsung bergegas ke depan untuk mengurus surat-surat.
Malam itulah sekitaran pukul 22.00 WIB bunda Rahmi langsung di bawa ke rumah sakit dengan ambulan, Rahmi ,Ayahnya, dan Adiknya pakai motor mengiringi dari belakang mobil ambulan tersebut. Mobil ambulan itu cepat sekali sampai mereka ke tinggalan mobil itu. Yang ada di dalam mobil ambulan tersebut seorang bidang, Mak wonya Rahmi, Bungsunya Rahmi, dan Gurunya Rahmi.
Disekolah Rahmi anak yang cukup pintar dia masuk ke 10 besar. waktu Bundanya dirawat di rumah sakit, Rahmi dan Adiknya harus mengambil libur selama 2 minggu lamanya.
Setelah sampai di rumah sakit, Bundanya dirawat di ruangan Teratai. Masih mendapat perlakuan seperti pertama masuk rumah perawat, di dokter yang menagani Bundanya perawat dan dokter terbaik. Saat Bunda masuk rumah sakit yang ke-2 kalinya banyak sanak keluarga baik dari Ayah maupun dari Bundanya Rahmi yang datang menjuguk Bundanya serta tetangga. Di lingkungan masyarakat Ayah dan Bunda Rahmi suka bergaul dan semua orang di anggap seperti keluarga sendiri.
Keesokan paginya Kakek dan Nenek dari bundanya Rahmi datang, ke rumah sakit tersebut.
“Assalammu’alaimkum.”ucap Kakek dan Nenek Rahmi (sambil mengentuk pintu)
“Wa’alaikumussalam. eh Kakek, Nenek udah datang.”jawab Rahmi
Neneknya langsung melihat Bundanya. Bunda Rahmi terlihat pucat dan lemah. Sanak keluarga yang datang ke rumah sakit banyak sekali sampai-sampai pihak rumah sakit marah-marah. Kepada mereka, karena mereka ngobrol. Pak tuo adalah pertama Bundanya Rahmi atau Kak Alpion panggilan namanya, Ema dan Eni Adik perempuan Bunda Rahmi,Buyung dan Gunawan adik laki-laki Bunda Rahmi. Itulah yang datang saat Bundanya di rawat di rumah sakit. Kakak Rahmi yamg bersekolah di Jawa Timur pun pulang ke Bengkulu, waktu Bundanya masuk rumah sakit yang pertama Kakaknya tak bisa datang ada ujian, emang sekolah di situ beda dengan sekolah lainnya. Kakak Rahmi, hanya 3 hari di rumah sakit karena dia ada ujian.
Setelah, dua minggu Bunda Rahmi di rumah sakit, tidak ada perubahan yang terjadi. Bunda Rahmi semakin kurus wajahnya pucat, seakan-akan seperti mayat hidup. Bunda Rahmi meminta kepada sang suami untuk pulang kerumah.
“Ayah sebaiknya aku dirawat di rumah saja.” ujur Bunda Rahmi.
“Emang kenapa?” tanyanya.
“Aku di sini tidak ada perubahan, sebaiknya aku di rumah saja.”ujur Bunda Rahmi.
Lalu ayah Rahmi pun berbincang tentang apa yang di inginkan oleh Bunda Rahmi kepada Ayah, Ibu, Saudara dari Bunda bahkan tetangga. Emang dokter pun sudah menyarah dengan penyakit yang semakin hari, semakin parah, bukannya membaik malah sebaliknya. Bahkan penyakit yang diderita oleh Bundanya bertambah, bukan hanya hipotensi dan diabetes, sekarang bertambah dua penyakit, jantung dan paru-paru.
“Ayah, Ibu, Kakak, Adik-adik, Bagaimana, aku tak bisa berpikirlagi. Emi mau pulang ke rumah.”ucap Ayah Rahmi kepada keluarganya.
“Menurut Ayah sebaiknya kita turuti saja yang Emi inginkan”ucap Ayah Emi.
“Dokter juga tidak sanggup lagi.”jawab Ayah Rahmi.
Rahmi tidak sengaja mendengar perbincangan itu, Rahmi menangis karena, Dokter tidak sanggup lagi dengan penyakit yang dimiliki oleh sang Bunda, Rahmi takut akan ke hilangan sang Bunda yang sangat di sayanginya.
Setelah berbincang Ayah Rahmi memutuskan untuk membawa pulang sang isteri pulang ke rumah, tepatnya minggu ke-2 Bunda rahmi dirawat. Bunda Rahmi pun pulang ke rumah dengan mobil ambulan, hanya Kakek dan Nenek yang ikut ke Rumah Rahmi.
Seminggu Bunda Rahmi berada dirumah, tepatnya Kamis, 28 Maret 2013. Subuh itu Ayah Rahmi pergi ke Bengkulu kota untuk membeli obat sariawan sekaligus menjemput adik Bunda Rahmi di bendara, yang membawa obat untuk Bunda Rahmi. Pagi-pagi Rahmi dan Adiknya pergi ke sekolah.
Saat itu, pelajaran pertama di kelas Rahmi yaitu adalah olahraga, dia sedang main bola voli, tiba-tiba ia di panggil oleh Guru piket.
“Rahmi ke sini dulu.”kata Guru piket tersebut.
Rahmi pun pergi kesana.
“ ada apa ibu.” Tanya Rahmi.
“Sekarang kamu pulang ya.” jawab sang Guru tersebut.
Tanpa berkata apa-apa Rahmi pun langsung ke kelas dan mengambil tas sambil menangis, entah apa yang di pikirkannya. Waktu di gerban sekolah ada seorang tetangga Rahmi disana dan Adiknya nampak mereka menunggu Rahmi, Rahmi bergegas untuk segera sampai di gerban.Telah sampai di dekat Adiknya, Rahmi tidak berkata apa-apa dia hanya melihat Adiknya yang sedang meneteskan air mata. Mereka pun langsung bergegas ke rumah Rahmi.
Setelah beberapa menit kemudian, Mereka datang dan sudah banyak orang di rumah itu, air mata Rahmi dan adiknya semakin deras setelah melihat seorang yang sedang tidur untuk selama-lamanya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh dua anak kecil itu, mereka hanya bisa menagis.
Setelah beberapa lama kemudian, Rahmi pun telah tenang. Ia langsung nelpon Ayahnya, tapi sudah beberapa kali ia menelpon Ayahnya tidak juga di angkat oleh Ayahnya.
Terdengar suara motor, seperti suara motor Ayahnya Rahmi. Rahmi pun langsung keluar, sebenarnya Ayahnya tahu kalau tadi banyak yang menelpon tapi di hiraukannya karena ia takut nanti ia mendengar kabar buruk dan bisa menganggu konsentrasinya.
Rahmi langsung memeluk sang Ayah dan menagis. lalu ia berkata.
“Ayah, Bunda (sambil menagis) bunda udah pergi.” ucap Rahmi.
“Iya, Ayah tahu,(tidak tahan menahan air mata, lalu dia menagis juga)” jawab Ayahnya.
Setelah sanak keluarga sudah banyak yang telah datang Bunda Rahmi pun di mandi, di kafan, di sholati,dan di kuburi. Cuman Pak Tuo Rahmi yang belum sampai ia meminta tunggu sampai ia datang baru di kubur, tapi kata Kakeknya Rahmi, Bunda harus setelah di kubur.
Rahmi pun ikut menghantarkan sang Bunda di tempat peristirahatan terakhir Bundanya. Berat rasanya harus hidup tanpa kasih sayang sang Bunda bagi mereka. setelah selesai mengkuburi, mereka pun pulang ke rumah.
Malam takziah pertama, kedua, ketiga bahkan ketujuh di lakukan di rumah rahmi.
Detik berganti dengan menit, menit pun bergantsi dengan jam, jam pun berganti dengan hari, hari pun berganti dengan minggu, minggu pun berganti dengan bulan, bulan pun berganti dengan tahun. Itulah kehidupan mereka setelah bundanya meninggal. Tak ada lagi cahaya di rumah itu, sekarang Rahmi, Ayahnya, dan Adiknya sedih sekali. Dulu mereka hidup serba bercukupan tapi telah Bundanya meninggal, hidup mereka malah sebaliknya. Mungkin dulu Ayahnya Rahmi bersemangat untuk bekerja waktu Bunda Rahmi masih ada. Harta kekayaan yang di miliki dulunya habis karena harus membayar rumah sakit Bundanya Rahmi.