Diriku berjalah dihampiran pasir pantai yang lembut menghisap kakiku, suara angin yang bergemutu, dan pancaran senja yang mulai tenggelam di laut luas. Berkali-kali air datang mengenai kakiku, lalu kembali lagi.
Pantai ini mengingatkanku dengan masa-masa terindah itu. Tempat inilah yang menjadi saksi bisu antar kisah asmaraku bersama dirinya. Ya, diriku merindukannya, merindukan setiap momen bersamanya, yang selalu terekam kembali diingatanku.
~~~
"Neal! lihat apa yang Lika temukan" Ucapku sebaring mendekati Neal yang tak jauh dariku
"Apa itu?" Tanyanya dengan mata penduh selidik melihat yang aku pengang
"cumi" raut wajahnya langsung berubah
Ya, Neal takut dengan cumi. Dia alergi dan jijik dengan bentuk cumi yang bertentakel tersebut. Karena diriku memiliki sikap yang usil, aku sering mengejarnya dengan membawa cumi. Neal berlarian-menghindar dengan gesitnya. Tentu saja, dia kan seorang pelari. Aku terus berlari mengejarnya dengan asiknya, sedangkan dia lari ketakutan.
Aku lelah trus-trusan mengejarnya dan aku tak pernah dapat mengenainya sedikitpun, dan juga capek lari sambil ketawa.
"Udah-udah, lika lelah" aku menyerah, aku membuang cumi yang kupegang.
Neal berjalan mendekatiku. Dia juga terlihat lelah.
"Ayo" ajaknya, mengulurkan tangannya membantuku berdiri.
kami duduk di sebuah kursi pantai yang sedari tadi telah kita pesan bersama es teh dan roti bakar. Aku meminum es tehku begitu juga dengan dia.
"uuh.... dasar usil" katanya dengan memegang kepalaku
"biarin, lucu tau lihat kamu ketakutan" Aku menambahkan sedikit tawa
Tiba-tiba dia memelukku dan mencium keningku. Kasih sayangnya membuatku merasakan nyaman dan senang.
"kalok pakek jilbab itu yang bener! itu kelihatan rambutnya" ucapnya samhil memasukkan rambutku yang terlihat.
"Iyaa" jawabku
Menghabiskan waktu dengan berbincang-berbincang dan sering bercanda terasa dunia hanya milik berdua. Aku memotong roti bakar yang kita pesan dan aku mensuapinnya.
"Gak terasa ya. Kita sekarang dah sedeket ini. Neal seneng banget bisa habisin waktu sama Lika." Neal terseyum
"iya" aku membalas senyumnya
"Neal ingin bersama Lika selamanya. Lika mau kan?" tanyanya
"iya, Lika juga senang bisa bersama Neal." aku menjawab dengan penuh senyum
"Jadi, Lika maukan nunggu Neal? Neal akan berusaha agar bisa samaan trus sama Lika" katanya dengan amat menyakinkan
"hem"
"Lika harus jadi anak yang baik ya, gak boleh males-males, dengerin apa yang orang tua katakan. Neal berterimah kasih banget ke Lika yang selalu menyemangati Neal. Neal akan berusaha agar segera sembuh. Neal usahain." katanya menyakinkan diriku
"iya. Lika akan selalu menunggu Neal. Lika sayang banget ke Neal" ucapku dengan memeluk tubuh Neal dengan erat
"Neal juga sayang banget ke Lika" Neal membalas pelukanku.
Bruuk
Aku terjatuh. Aku tidak sengaja menabrak orang didepanku.
"Apa kamu gak apa-apa?" tanyanya dan memberi uluran tangan
Suara itu amat familiar ditelingaku. Aku mengangkat kepalaku dan menangkap sosok didepanku. Aku menangis, menangis dengan apa yang aku lihat. Cowok tinggi dengan postur tubuh bagus dan wajah yang amat aku kenal.
"eh, nona kenapa kamu menangis? apa aku menyakitimu?" Cowok itu kebingungan menatapku yang tiba-tiba menangis.
"Neal?" kata yang begitu saja keluar dari mulutku.
"ya?" Dia terlihat bingung. Tentu saja, bagaimana orang asing yang baru ia temui tau namanya? apa lagi dia belum memperkenalkan diri? bagaimana dia bisa tau?
"kamu beneran Neal?" hisak tangisku semakin kencang, air mataku jatuh semakin deras.
"Dari mana kamu tau namaku?" tanyanya
"kau tidak mengenaliku Neal? Aku Elika." kataku ditengah hisak tangis yang tak kunjung berhenti
Dia terdiam sejenak dan perlahan matanya mengeluarkan air mata. Ia langsung memelukku, tanpa aba-aba. Begitu erat.
"maafkan Neal, yang menghilang tiba-tiba, tanpa ada kabar, maafkan Neal, Lika. Neal menjalani pengobatan diluar negeri dan Neal sengaja gak kasih tau Lika karena Neal gak mau Lika khawatir trus. Kini Neal telah kembali untuk memenuhi semua janji Neal ke Lika." ucapnya tanpa melepaskan pelukannya, sedangkan diriku masih trus menangis, tak percaya dengan apa yang terjadi.
Senja telah sempurna tenggelam di lautan lepas, menyisahkan warna oren diujung-unjung langit. memanggil bintang-geminang yang siap menyambut malam dan rembulan yang muncul menggantikan sang mentari. Diwaktu itu, didetik itu, dimana terlukis indah nestapa menumpahkan sejuta rindunya.
Hati yang terpisah akan kembali menjadi satu
Karena aku tau, aku selalu mencintaimu
Dann Tuhan pun mendengar doaku untukmu
~Tamat~