Lampu-lampu di Kota Langit mulai menyala, berpendar seperti ribuan kunang-kunang emas yang terjebak di dalam botol kaca raksasa.
Dari bawah sini, di distrik kumuh yang hanya berisi debu dan karat, Elara selalu menyisihkan sepuluh menit setiap malam untuk menengadah.
Bau logam berkarat yang biasanya menyengat hidung seakan menguap setiap kali matanya menangkap kemilau dari atas sana.
"Bagus, ya?" gumam Elara. Matanya mencerminkan cahaya dari atas sana, meski wajahnya kusam oleh lelah.
Kael yang sedang memperbaiki kaki kursi kayu di sudut ruangan berhenti sejenak. Dia memandang punggung istrinya yang tampak semakin ringkih di bawah pendar lampu minyak yang sekarat.
"Kamu ingin ke sana, El?" tanya Kael pelan.
Suara gesekan amplasnya terhenti total. Elara menoleh, lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang dipaksakan untuk menyembunyikan retakan di hatinya.
"Semua orang ingin ke sana, Kael. Tapi tidak apa-apa. Di sini pun sudah cukup. Mungkin suatu hari nanti, saat kita punya lebih banyak koin."
Kael tidak menyahut. Dia meremas amplas di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Dia tahu 'suatu hari nanti' adalah kebohongan yang mereka pelihara agar tetap bisa tidur nyenyak. Biaya transportasi menggunakan balon uap ke Kota Langit saja setara dengan upah Kael selama tiga tahun. Belum lagi biaya hidup di sana.
"Kenapa diam saja?" Elara berjalan mendekat, lalu mengusap bahu suaminya. "Aku hanya bicara, Kael. Jangan dimasukkan ke hati."
Kael menunduk, menatap jemarinya yang kasar dan penuh luka kecil. "Aku hanya merasa ... aku gagal memberimu dunia yang lebih baik."
"Duniaku ada di sini, bersamamu," potong Elara cepat. Dia berlutut di depan Kael, menatap mata lelaki itu dengan sungguh-sungguh. "Kota Langit itu hanya lampu. Kamu adalah napas. Jangan bandingkan keduanya."
Kael mengangguk, tapi pikirannya sudah terbang jauh melampaui atap seng rumah mereka yang bocor. Dia teringat sebuah toko kecil di ujung jalan yang tidak pernah punya plang nama, kecuali sebuah botol kaca biru yang digantung di depan pintu.
Toko Penukar Kenangan.
Keesokan harinya, Kael berdiri di depan pintu kayu yang rapuh itu. Bau debu dan aroma manis yang aneh menyeruak saat dia melangkah masuk.
Di balik meja kayu tinggi, seorang pria tua dengan kacamata satu lensa sedang menata botol-botol kecil berisi asap warna-warni.
"Ingatan adalah mata uang paling murni, Anak Muda," ujar pria tua itu parau, seperti gesekan kertas perkamen. "Apa yang ingin kamu tukar?"
Kael menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Dua tiket emas ke Kota Langit. Sekali jalan."
Si Tua itu terkekeh pelan. "Tiket emas, ya? Itu mahal. Sangat mahal. Aku butuh Kenangan Kelas Tinggi. Kenangan yang punya rasa manis luar biasa, atau cinta yang sangat pekat. Tanpa itu, asapnya tidak akan cukup untuk menggerakkan mesin tiket."
Kael terdiam. Dia memikirkan kenangan-kenangannya. "Aku punya kenangan saat kami pertama kali bertemu di bawah hujan deras."
Pria tua itu menggeleng. "Terlalu umum. Banyak orang punya kenangan hujan."
"Kenangan saat kami menikah? Saat itu bunga-bunga liar bermekaran di pinggir jalan," tawar Kael lagi dengan suara bergetar.
"Hm, lumayan. Tapi masih kurang untuk dua tiket emas," ucap si pria tua mengetuk-ngetuk meja. "Aku butuh sesuatu yang menjadi fondasi hidupmu. Sesuatu yang jika hilang, akan meninggalkan lubang di jiwamu."
Kael memejamkan mata. Bayangan wajah Elara yang tertawa saat mereka membagi sepotong roti kering muncul di benaknya. Itu adalah momen paling bahagia dalam hidupnya. Momen saat dia merasa paling dicintai.
"Aku punya satu," bisik Kael. "Kenangan tentang alasan mengapa aku jatuh cinta padanya. Semua perasaan yang mendasarinya. Detail tentang bagaimana jantungku berdebar setiap kali melihatnya."
Pria tua itu berhenti bergerak. Matanya yang kuning menatap Kael dengan minat. "Jika kamu menjual itu, kamu masih akan mengenalnya sebagai istrimu. Kamu tahu dia Elara. Tapi, kamu tidak akan mengerti kenapa kamu mencintainya. Perasaan itu akan menjadi abu."
Kael meremas ujung bajunya. "Asal dia bisa melihat lampu-lampu itu dari dekat, aku tidak keberatan menjadi sedikit hampa."
Kael keluar dari toko dengan kepala terasa ringan. Nama Elara masih ada, tapi tanpa debar. Ada sesuatu yang hilang dan dia tidak tahu apa.
Malam itu, Elara menjerit kegirangan saat Kael menunjukkan dua tiket emas di atas meja makan.
"Kael! Bagaimana bisa? Kamu mencuri?" Elara menutup mulutnya, antara takut dan takjub.
Kael menggeleng pelan. "Aku mendapat bonus besar dari gudang. Pemiliknya sedang baik hati."
"Kita benar-benar akan ke sana?" Elara memeluk Kael dengan erat.
Biasanya, pelukan Elara akan membuat jantung Kael berpacu kencang. Dia akan menghirup aroma sabun murah di rambut Elara dan merasa seolah dia adalah raja di dunia ini.
Namun malam itu, Kael hanya merasakan tangan seseorang yang melingkar di tubuhnya. Hangat, tapi tidak bermakna. Seperti memeluk orang asing yang ramah.
"Iya, kita ke sana," sahut Kael datar.
Dia mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku.
Kota Langit lebih indah dari yang dibayangkan. Jalannya terbuat dari pualam putih, dan udaranya beraroma lavender. Elara berlari ke tepian pagar kristal, menatap awan yang berada di bawah kaki mereka.
"Lihat, Kael! Kita lebih tinggi dari burung-burung!" seru Elara tertawa, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Kael, lihat aku!"
Kael berdiri dua langkah di belakangnya. Dia melihat Elara. Dia tahu perempuan itu cantik. Dia tahu perempuan itu adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya, secara logika.
Namun, hatinya tetap diam. Tidak ada debaran. Tidak ada rasa haru yang meluap.
"Iya, El. Bagus," jawab Kael pendek.
Elara berhenti tertawa. Dia menoleh, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
"Kamu baik-baik saja? Kamu tampak ... jauh."
"Hanya sedikit pusing karena ketinggian," jawab Kael berbohong. Dia berjalan mendekat dan mencoba menggenggam tangan Elara.
Elara merasakan tangan itu dingin. Tidak ada remasan lembut yang biasanya Kael berikan untuk menenangkannya. Dia menatap mata Kael dan tidak menemukan binar yang biasanya ada di sana. Mata itu kosong. Seperti rumah yang penghuninya sudah pindah.
"Kael, katakan padaku," ucap Elara dengan lirih, bergetar karena ketakutan. "Apa yang kamu berikan pada si penukar kenangan?"
Kael tertegun. "Bagaimana kamu tahu?"
"Karena aku mengenalmu lebih dari aku mengenal diriku sendiri!" Tangis Elara pecah di tengah kemewahan Kota Langit. "Kamu tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dariku. Kamu menjualnya, kan? Kamu menjual kita untuk tempat ini?"
"Aku hanya menjual sedikit memori, El. Agar kamu bahagia," bela Kael, meski suaranya terdengar hambar bahkan bagi dirinya sendiri.
"Kebahagiaan apa yang ada di sini jika aku sendirian?" Elara memukul dada Kael pelan. "Kamu ada di sini, tapi kamu tidak bersamaku! Kamu tidak menatapku seperti dulu!"
Kael terdiam. Dia ingin merasa sedih melihat Elara menangis, tapi dia hanya merasa bingung. Dia tahu harus menghibur perempuan ini, tapi tidak ingat rasanya peduli sampai ke tulang-tulang.
Elara tidak membuang waktu. Dia menarik tangan Kael, menyeretnya kembali ke stasiun balon uap, turun kembali ke distrik debu yang kotor. Mereka berlari menuju toko tanpa plang nama itu.
"Ambil kembali!" teriak Elara saat mereka masuk ke dalam toko.
Pria tua itu mendongak, tersenyum mengejek. "Kenangan yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan, Nyonya. Kecuali ... kamu punya barter yang sebanding."
"Ambil kenanganku tentang Kota Langit!" Elara melemparkan tiket emas yang tersisa ke meja. "Ambil semua impianku untuk hidup mewah! Ambil semua keinginan terbaikku! Tapi kembalikan perasaan suamiku!"
Si pria tua mengambil tiket itu, menimbangnya sebentar. "Impian seorang pemimpi ... itu juga mata uang yang mahal. Tapi masih kurang sedikit lagi."
Elara terdiam sejenak. Dia menatap Kael yang berdiri mematung di sampingnya. Lalu, berbisik, "ambil juga ingatanku tentang pengorbanannya hari ini. Aku tidak ingin ingat bahwa dia pernah melupakanku. Biarkan aku hanya ingat bahwa dia mencintaiku."
Pria tua itu mengangguk setuju. Dia mengambil sebuah botol kaca biru yang berisi asap berwarna merah jambu pekat, milik Kael, membuka tutupnya, dan membiarkan asap itu terbang mengelilingi kepala Kael.
Dalam sekejap, warna kembali ke mata Kael. Jantungnya tiba-tiba berdenyut kencang, menghantam dadanya dengan rasa bersalah yang luar biasa. Dia melihat Elara, melihat air matanya, dan merasakan nyeri yang amat sangat di dalam hatinya.
"Elara ...," panggil Kael.
Dia langsung merengkuh istrinya ke dalam pelukan yang sesungguhnya. Kali ini, dia bisa merasakan setiap inci keberadaan Elara.
Elara menangis di bahu Kael. "Jangan pernah lakukan itu lagi, Kael. Jangan pernah."
"Maafkan aku," bisik Kael, mencium rambut istrinya. "Aku bodoh. Aku pikir lampu-lampu itu lebih penting."
"Lampu itu tidak ada artinya jika aku harus melihatnya sendirian," sahut Elara.
Mereka keluar dari toko itu tanpa sisa uang, tanpa tiket, dan tanpa ingatan tentang kemewahan Kota Langit.
Bagi Elara, mereka hanya baru saja melewati hari biasa di distrik debu. Bagi Kael, dia merasa seperti baru saja mendapatkan kembali nyawanya.
Di atas sana, Kota Langit masih bersinar. Namun, bagi Kael, cahaya paling terang malam itu ada di sampingnya, berjalan bergandengan tangan menuju rumah mereka yang bocor, tapi penuh dengan perasaan yang utuh.
»»————> GC Rumah Menulis <————««
Fantasy Romance—Tema 1