Semuanya berawal pada sebuah pesan yang kuterima dari atasan tempatku bekerja. Isinya, "Besok kamu ke Bali ya, ikut acara maskapai XX. Saya sudah kasih kontak kamu, nanti orang sana yang akan hubungi."
Tidak lama, atasanku kembali mengirimi pesan. "Hanya sehari aja kok, ya, hitung-hitung kamu cuci mata di sana."
Tidak bisa menolak, aku pun mengiyakan. Ini menjadi dinas keluar kota pertamaku. Perwakilan dari maskapai XX kemudian menghubungiku. Namanya unik, Bali.
"Selamat siang mba, saya Bali dari maskapai XX. Besok mba yang akan ikut ke acara kita di Bali ya, menggantikan mas Arga..." kemudian pesannya berlanjut mengenai mekanisme kegiatan besok. Bali meminta foto kartu identitasku untuk membooking tiket pesawat yang rencananya akan menjadi penerbangan paling pagi, mengingat acara di Bali cukup padat.
Beberapa saat kemudian, ia pun mengirimi tiket keberangkatanku. Benar saja, penerbangan pukul 6.30 pagi. Jujur, aku yang sangat tidak bisa bangun pagi sedikit takut kesiangan. Apalagi jarak rumahku ke bandara cukup jauh. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak tidur sama sekali daripada nanti kesiangan. Yah, aku berpikir mungkin bisa tidur nanti di bus menuju bandara atau di pesawat.
Pukul 4 pagi, aku sudah berada di dalam bus menuju bandara. Langit masih gelap, tetapi aku tidak bisa tidur. Perasaan gugup hinggap meskipun jalanan tidak macet sama sekali dan aku tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul 5 pagi. Oh ya, perjalanan pertamaku naik pesawat.
Setelah bertanya ke beberapa orang, aku berhasil masuk ke dalam menunggu di pintu keberangkatan pesawat maskapai XX yang akan membawaku ke Bali. Masih ada waktu sekitar 1 jam lebih, handphoneku bergetar. Sebuah pesan dari Bali masuk.
"Mba sudah di bandara? Maaf ya saya gak bisa ikut bareng dari Jakarta karena harus urus persiapan di sini. Nanti saya jemput."
"Iya gak apa, mas."
"Maaf ya mba."
Aku memejamkan mata sejenak sampai handphoneku kembali bergetar. Kali ini dari ibuku, yang menanyakan apakah aku sudah sampai di bandara dan berada di dalam pesawat. Aku pun jawab ya dan tidak, kemudian memejamkan mata sekali lagi sambil menahan diri bahwa semua akan berjalan lancar.
Menunggu ternyata tidak memakan waktu lama ketika sedang gugup. Pukul 6, pengumuman berkumandang bahwa para penumpang yang menaiki pesawat yang akan kutumpangi sudah boleh masuk ke dalam pesawat. Aku duduk di salah satu baris kursi di sebelah kanan, persis di dekat jendela yang memperlihatkan sayap si burung udara.
Kukeluarkan handphone dan memotret pemandangan itu dan segera mengirimkannya ke ibuku yang juga belum pernah naik pesawat seumur hidupnya. "Sudah di pesawat," tulisku. Ia membalas, "Ya, hati-hati."
Kukirimi pesan serupa pada Bali yang dibalas dengan 'Siap' lengkap dengan emotikon jempol. Sesuai dengan waktu keberangkatan, 6.30 kemudian pesawat mengudara. Ketika sudah berada di atas, aku pun memutuskan untuk memejamkan mata karena sangat mengantuk.
Baru saja aku merasa hampir terlelap, seseorang membangunkanku. Pramugari dengan pakaian rapi dan rambut dicepol memberikanku makanan meskipun aku merasa tidak pernah memesannya. Ia lalu menjelaskan bahwa tiket yang kupunya sudah termasuk dengan makanan.
Ah, mungkin Bali yang memesankannya.
Aku pun menerima makanan itu yang terdiri dari nasi kuning, daging semur, capcai, puding buah, dan air mineral. Kulahap habis karena aku lumayan lapar dan memutuskan untuk tidur setelahnya.
Aku terbangun ketika pilot mengabarkan bahwa kami akan segera mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai lengkap dengan pemberitahuan bahwa Bali memiliki perbedaan waktu satu jam dengan Jakarta. Keluar dari pesawat aku segera mengeluarkan handphone dan memfoto banner bertuliskan 'Welcome to Bali' dan mengirimkannya pada ibuku, memberitahu bahwa aku sudah tiba.
Kubuka WhatsApp dan pesan Bali sudah bertengger di sana. "Mba, saya di pintu kedatangan ya. Saya pakai baju yang tulisannya maskapai XX."
"Oke, saya ke sana."
Aku berjalan mengikuti petunjuk yang tertera, yang menunjukkan arah keluar, ke pintu kedatangan. Di sana telah berdiri banyak orang yang menawarkan layanan antar ke tempat tujuan dengan kendaraan pribadi yang tarifnya setara taksi. Aku menengok ke sana ke mari hingga menemukan sosok yang mengenakan kaus berkerah dengan warna-warna maskapai XX yang dipadukan oleh celana pendek krem dan sneakers putih.
Sosok itu tinggi, mungkin lebih dari 180cm seperti pebasket dengan kulit sedikit kecoklatan. Rambutnya tertata rapi berwarna hitam gelap. Ia membawa tas ransel besar berwarna hitam sambil mengamati handphone yang dipegangnya. Kemudian ia mendekatkan handphone itu ke telinganya. Seketika, handphoneku bergetar.
"Halo?"
"Mba, di mana?"
"Saya di sini." Aku berjalan menghampirinya, dan Bali menoleh ke arahku. Senyum sumringah terpancar dari mukanya.
"Hai, mba. Salam kenal, saya Bali. Maaf ya saya gak bisa temani dari Jakarta," katanya sambil menjabat tanganku. Aku membalasnya.
"Ya, gak apa, mas."
"Oh ya mba, tunggu satu orang lagi ya."
Aku mengangguk, lalu Bali kembali mendekatkan handphone ke telinganya. Menghubungi si satu orang lagi. Tidak butuh waktu lama, satu orang ini muncul. Perempuan bergaya modis yang ternyata juga dari Jakarta dan ikut dalam penerbangan yang sama denganku.
Namanya Nila dan bekerja sebagai travel agent yang bekerja sama dengan maskapai XX. Bali kemudian menggiring kami menuju mobil jemputan untuk melaju ke lokasi acara, sebuah hotel di kawasan Sanur. Namun sebelum menuju tempat itu, Bali mengajak aku dan Nila untuk mengunjungi lokasi oleh-oleh terlebih dahulu.
"Takutnya nanti gak sempat kalau kita pulangnya beli oleh-oleh," katanya. Aku dan Nila mengiyakan saja.
Aku pilih beberapa gantungan bertuliskan Bali untuk diberikan pada rekan kerja dan atasan yang menyuruhku ke sini. Tidak lupa juga pie susu khas Bali yang wajib untuk dibeli oleh setiap wisatawan. Aku tidak belanja banyak mengingat tanggal gajian masih satu minggu lagi.
Usai belanja, perjalanan pun berlanjut ke venue acara, sebuah hotel mewah di Sanur yang letaknya persis di pinggir pantai. Kami tiba terlalu cepat berkat penerbangan pertama. Bali kemudian membawaku dan Nila ke bar di pinggir pantai yang dimiliki hotel itu sambil menunggu acara dimulai. Ia mengatakan aku dan Nila boleh pesan apa saja sementara ia pergi untuk mengurus tamu undangan lainnya.
Aku dan Nila bersantai di sana. Menikmati angin di tepi pantai meskipun matahari bersinar dengan teriknya. Kufoto pemandangan yang ada di hadapanku dan kukirim gambar tersebut ke ibuku. Ia merespon dengan perasaan iri karena aku bisa berada di Bali meskipun hanya satu hari dan gratis, sementara ia belum pernah naik pesawat ataupun ke Bali.
"Tapi gak jalan-jalan ini, bu. Kelar acara juga langsung pulang kayaknya," kataku.
Jam menunjukkan pukul 11 siang ketika lokasi acara yang letaknya tidak jauh dari bar tempatku dan Nila bersantai mulai ramai. Aku dan Nila beranjak dari kursi pinggir pantai dan bergegas menuju ke sana. Venue yang berada di sebuah taman itu sudah dipadati oleh orang yang kebanyakan berpakaian cukup rapi dan formal, meskipun ada beberapa juga yang berpakaian lebih santai seperti aku.
Sosok Bali yang tinggi terlihat di antara kerumunan. Ia menghampiriku dan Nila dan mengatakan bahwa acara akan dimulai pukul 1.30 dan sekarang saatnya makan siang. Aku dan Nila pun berduaan tak terpisahkan menuju buffet. Ketika tanpa disadari mungkin kami berdua saja yang usianya sepantaran, yaitu 20 tahunan dan datang dari Jakarta.
"Iya emang yang dari Jakarta kalian aja," ujar Bali mengonfirmasi hal tersebut. "Saya tinggal dulu ya." Ia kemudian pergi lagi, sementara aku dan Nila mengenyangkan perut kami.
Acara berlangsung tepat pukul 1.30 siang. Kata sambutan dari perwakilan dari Kementerian Perhubungan, Direktur Utama maskapai XX, Kepala Bidang Pelayanan maskapai XX, dan sejumlah tokoh penting lainnya. Pikiranku mulai sedikit tidak fokus karena kenyang dan mengantuk sehingga tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan selain garis besar acara hari ini.
Pukul 3 sore acara selesai. Aku belum menanyakan pada Bali bagaimana nasib kepulanganku dan Nila ke Jakarta. Kalau berdasarkan rencana kegiatan yang diberitahunya kemarin, seharusnya kami akan pulang dengan penerbangan pukul 5.30 ke bandara Soekarno Hatta.
Aku dan Nila memutuskan untuk duduk di sebuah sofa panjang yang berada di lobi hotel sambil menunggu Bali yang belum kelihatan batang hidungnya. Lengan kami penuh dengan goodiebag pemberian maskapai XX yang isinya miniatur pesawat, bantal leher, dan mug lengkap dengan logo dan warna khas maskapai XX. Handphone yang kupegang tiba-tiba saja bergetar, pesan dari Bali.
"Mba, di mana?"
"Saya dan Nila di lobi, mas."
"Sudah dapat goodiebag?"
"Sudah."
"Oke."
"Di mana mas Bali?" tanya Nila yang duduk dengan raut muka bosan.
"Gak tau, gak nanya juga sih. Tapi aku udah bilang kita di sini."
Nila mengacungkan jari jempol lalu mengarahkan pandangannya ke handphone. Aku menguap lebar, rasa kantukku semakin hebat. Ingin rasanya buru-buru tiba di Jakarta dan pulang ke rumah, kembali ke tempat tidurku yang empuk dan nyaman.
Sosok yang ditunggu kemudian datang, Bali dengan wajah sedikit kelelahan. "Maaf ya sedikit lama, soalnya ada hal yang harus diurusi dulu. Saya juga ikut ke Jakarta," katanya kemudian duduk di sebelahku yang kosong. "Gimana? Capek?"
Aku dan Nila hanya tertawa formalitas.
Bali mengeluarkan handphonenya. "Sebentar, saya cek jadwal penerbangan kita dulu ya."
"Belum booking pulangnya, mas?" tanyaku.
"Iya, soalnya takut misal gak keburu atau gimana," jawab Bali sambil matanya terus mengamati handphone yang dipegangnya. "Ada nih penerbangan jam 6. Kita naik itu aja ya?"
Aku dan Nila mengangguk setuju.
"Tapi kita gak bisa bareng, gak apa? Saya naik penerbangan jam 5.30 ke bandara Halim soalnya lebih dekat ke sana."
"Gak apa kok, mas," kata Nila.
"Saya jadi gak enak karena gak bisa temani pas berangkat dan pulangnya."
"Gak apa kok, mas. Benar deh," Nila kembali merespon.
"Oh ya, kalian tinggal di mana di Jakartanya?"
"Saya di Harmoni," jawab Nila.
"Kalau saya di Bekasi, mas," kataku.
Mata Bali berbinar. "Kalau gitu kamu bareng aja sama saya yang ke Halim, daripada Soetta kan kejauhan."
"Tapi..."
"Bali!" seseorang memanggil Bali dan tanpa mendengar penolakanku, Bali pergi ke arah seseorang yang memanggilnya. Nila menghela nafas di sampingku.
"Yah, padahal gue sedikit ngarep ada temen ngobrol di pesawat. Bakal tidur deh," ujarnya sedikit kecewa.
Tidak lama, Bali kembali muncul dengan membawa goodiebag di tangan. Ia kemudian mengajak aku dan Nila untuk segera bergegas ke bandara karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore.
"Mba, ini goodiebagnya," Bali menyodorkan goodiebag yang dipegangnya padaku di depan hotel sambil menunggu mobil yang akan mengantar kami.
"Saya udah ada kan, mas," aku memperlihatkan goodiebag yang kupegang di tangan. Bali mengambil goodiebagku dan menukarnya dengan goodiebag yang ada di tangannya.
"Ini aja," katanya dan aku mengiyakan saja. Mobil tiba dan melaju dengan kencang menuju bandara I Gusti Ngurah Rai mengantisipasi jalanan yang macet. Kami tiba hampir pukul 5 sore dan langsung berlari menuju pintu keberangkatan pesawat menuju Jakarta. Aku dan Nila berpisah karena pintu keberangkatan kami berbeda.
Beruntung, aku dan Bali tiba tepat waktu dan kami duduk bersebelahan. Ia berada di kursi tengah sementara aku memilih untuk duduk di kursi dekat jendela. Kursi di paling pinggir kosong hingga akhirnya pesawat berangkat menuju Jakarta.
Kantuk yang telah kutahan sepanjang hari tidak tertampung lagi dan akhirnya aku memejamkan mataku. Tidak ada interupsi seperti penerbangan tadi pagi, aku tertidur lelap hingga kemudian aku terbangun karena mendengar pengumuman.
Pengumuman yang mengatakan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Halim Perdanakusuma. Aku mengusap mataku perlahan dan merasakan bahwa badan dan kepalaku condong ke sebelah kanan. Kutengok ke sebelah kanan dan ternyata aku sadari kalau aku menyandarkan tubuhku ke badan Bali yang sedang terlelap. Badan Bali sendiri condong ke arahku.
Seketika aku langsung membenarkan posisi duduk dan membuat Bali terbangun. "Sudah mau sampai ya?" tanyanya.
Aku mengiyakan sambil perasaan sedikit dag dig dug. Pesawat tiba di Jakarta pukul 6 sore berkat perbedaan waktu antara Jakarta dan Bali. Kami pun berpisah di luar bandara. Kami mengucapkan selamat tinggal sambil berharap mungkin akan bertemu lagi di lain kesempatan.
Aku sampai di rumah hampir pukul 8 malam, berkat kemacetan yang luar biasa. Kukeluarkan isi goodiebag satu per satu dan menemukan ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam goodiebag yang kudapatkan. Sebuah pajangan berbentuk persegi panjang berlapis kaca yang di dalamnya terdapat miniatur pantai kecil lengkap dengan pasir, bintang laut, dan kerang beraneka bentuk. Di pojok kiri bawah miniatur itu ada sebuah kerang berukuran lebih besar berwarna gelap yang bertuliskan sebuah nama dengan tinta warna putih, Bali.
**
.
.
"tebak-tebakan yuk, siapa nama mbanya?"