Ini judul tantangan yang aku dapat dari Levyatha Nosverash.
Semoga ceritanya bisa memuaskan pembaca dan pemberi tantangan🙏👍
Ready...go!
###
Aku menghela nafas saat kakiku menginjak lantai halte bus jemputan. Rasanya kakiku cukup berat karna berlari dari sekolah ke halte bus yang jaraknya lumayan jauh. Sekali ku lirik jam tangan waterproof di tangan kananku. Terlihat angka 18.17 di sana, itu artinya aku bakal terlambat pulang lagi dan bakal diceramahi sama mommy boss lagi.
"Hahhh...." ku hela nafasku sekali.
Satu menit kemudian, bus jemputan akhirnya sampai. Angka jam tepat pada angka 18.18. Segera ku langkahkan kaki ke dalam bus itu saat pintu bus terbuka. Sedikit rasa heran timbul di benakku saat melihat isi bus kosong dan hanya ada dua orang penumpang. Satu orang di kursi tengah dan seorang lagi di kursi paling belakang.
Aku menepis pikiran aneh di kepalaku dan langsung duduk di kursi tengah bagian kanan bus dekat jendela. Ku letakkan tas ranselku di kursi kosong sebelahku. Baiklah, aku akan beristirahat sebentar karna sekitar lima belas menit baru akan sampai ke rumah.
Mataku terbelalak dan hampir loncat keluar saat kepalaku menggedor kaca jendela bus yang ku naiki. Segera ku usap liur di daguku dan melihat ke sekeling berharap tidak ada yang melihatnya, itu sangat memalukan.
Ku lihat keluar jendela langit sudah sangat gelap, tapi sepertinya halte bus belum kelihatan. Ku angkat tubuhku sedikit dari kursi untuk memastikan bahwa apa masih ada orang di bus atau tidak.
DEG!
Tubuhku membeku, nafasku terhenti saat melihat seorang wanita dewasa yang duduk di kursi tengah sebelah kiri di cekik oleh sosok makhluk besar hitam dengan kuku panjang dan runcing. wanita itu berusaha melepaskan cekikan itu dari lehernya. Namun, tiba-tiba darah keluar dari mata dan hidung wanita itu. Aku semakin membeku, bahkan aku tak bisa memalingkan mataku darinya.
DEG!!
Wanita itu melihat kearahku! mata berdarahnya melihat ku seakan tengah menjerit minta tolong. Peluh dinginku keluar bercucuran. Wanita itu mencoba mengangkat tangannya padaku, tapi sia-sia makhluk itu sudah mematahkan lehernya.
Aku masih tidak bisa menggerakkan tubuhku. Apa yang harus ku lakukan? aku tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Perlahan ku gerakkan bola mataku mencoba untuk melihat kearah penumpang yang duduk di kursi paling belakang. Dia seorang laki-laki muda mungkin sebaya denganku. Dia memakai jaket hitam dan jeans hitam.
Aku tersentak saat dia memandangku dengan tatapan dingin. Dia terlihat begitu tenang, bahkan sedetik pun tidak terlihat raut takut di wajahnya.
Tiba-tiba dia mengisyaratkan sebuah kata dari mulutnya.
"Duduk, diam, dan tenang." itu kata yang ku tangkap dari isyaratnya pada ku.
Dengan susah payah, ku balikkan tubuhku dan kembali duduk di kursi dengan tenang tanpa suara. Seluruh tubuhku gemetar, bahkan mataku mulai perih tergenang air mata.
Ku ketup mulutku dengan kedua tangan. Aku benar-benar sangat ketakutan. Selain itu, entah ke mana bus ini telah membawaku.
Bau busuk mulai merayapi hidungku. Dia memdekat! Dia mendekatiku! Sosok itu mendekatiku. Hawa disekitar ku mulai terasa panas. Kuku panjang dan runcing mulai merayapi punggungku yang basah dengan keringat dingin.
"Tolong... siapa pun... tolong aku!" sekeras apapun aku menjerit tidak akan ada yang bisa mendengar teriakan bisu ku itu.
BRAKK!!!
Terdengar seperti suara barang yang jatuh ke lantai bus. Suara itu menarik perhatian dari sosok hitam menyeramkan itu dan menjauh dariku. Aku yang masih membeku dan menahan nafas tersentak saat pundak kiriku di cubit dari belakang. Spontan aku melihat ke belakang. Aku makin terkejut dan syok saat menemukan sebuah wajah berjarak satu jengkal dengan wajahku menatap dengan tatapan dingin.
Dia tiba-tiba mengangkat layar Androidnya menghadap ke arahku. Tertulis...
"Diam, jangan berisik! Apapun yang terjadi kau harus tetap diam dan tenang! Jangan buat suara apapun! Sedikit kau bersuara, nyawamu yang jadi taruhan! kau mengerti!?"
Bagai tersihir dengan kata-katanya, aku langsung mengangguki perintah darinya. Ku keluarkan juga Android ku dari dalam tas dan langsung mengetik di sana. Ku hadapkan layar Android ku ke belakang. Di sana ku tulis...
"Bagaimana cara kita keluar dari sini? Aku sangat takut sekali!"
Dia mengetik sesuatu di Android ku. Aku melihat sekumpulan angka yang mungkin ini adalah normornya. Segera ku simpan dan langsung ku kirimkan sebuah chat untuknya.
'Aku takut sekali! tak bisakah kita keluar dari sini?'
Balasnya;
'Tidak ada jalan keluar. Jika kita bergerak sembarangan maka kita akan kita akan mati.'
Aku kembali meringis ketakutan saat membaca balasan darinya.
'Ku mohon... carilah cara agar kita bisa selamat!'
'Kenapa kau memerintahku!'
Aku seperti mendengar nada kesal dari kata-katanya itu.
'Tidak! aku tidak bermaksud memerintah mu. Kau terlihat begitu tenang, kau pasti punya solusi agar kita bisa terlepas dari mahkluk itu!'
Tiga menit berselang dia baru membalasnya.
'Aku punya satu cara. Tapi ini akan sangat beresiko jika kita salah langkah.'
Tubuhku sedikit meringan saat membaca balasannya.
'Apa?! Apa caranya! Katakan padaku!'
'Jarakmu dengan pintu bus sekitar satu setengah meter. Setelah ku kasih aba-aba, kau harus segera berguling ke arah pintu bus,'
'Berguling?!! yang benar saja!'
'Kau mau mati atau tidak?!'
Sekali lagi aku mendengar bentakan kesal dari kata-katanya itu.
'Tentu saja tidak! Tapi bukannya pintu bus tidak akan terbuka sebelum busnya berhenti? Walau aku melakukannya, akan sia-sia jika pintunya tidak terbuka.'
'Apa kau buta! Ada tombol darurat buat buka pintu di situ! Pakai otakmu sedikit!'
Kali ini nada marah yang ku dengar.
'Ok kalo gitu! gak perlu marah-marah juga kali.'
'Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi sekarang. Rencananya akan dimulai saat ku kirim kata 'go' padamu, kau mengerti?!'
'Iya! Aku mengerti!'
'Sekarang, atur gaya mu untuk berguling!'
'Roger!' diikuti anggukan dariku.
Jantungku seakan dipompa sangat kencang. Ku telan ludahku sekali. Ini adalah porcobaan antara hidup dan mati. Ku selipkan doa di hatiku kepada Yang Maha Esa. Akankah aku bisa kembali berkumpul dengan keluargaku atau tidak.
'GO!'
Ku gulingkan tubuhku ke arah pintu bus. Sontak membuat makhluk hitam menyeramkan itu melihat kearah ku. Namun, sebuah bunyi musik rock yang cukup keras membuatnya teralih. Tak ku biarkan kesempatan ini terlepas. Segera ku raih tombol pintu darurat yang terletak di sebelah kanan pintu.
Tapi...
Sebuah suara menghentikan gerakanku.
"Ahkphakh...yahngkkhauh...lhahkkhukhan..." disertai suara Geraman mengerikan di telingaku.
Sekujur tubuhku membeku, aku tercekat dengan nafas yang tertahan. Otakku dipenuhi dengan suara debaran jantung yang seakan-akan mau meledak.
KRATAK... KRATAK!
Seperti suara tulang yang patah. Tubuhku tak bisa bergerak. Otakku kosong, tak ada yang bisa ku pikirkan.
Aku akan mati! Aku akan mati! Aku akan...
"TEKAN TOMBOLNYA! MEI...!!!" Teriak lelaki itu memanggil namaku.
~~~
Ku tatap kosong punggung kursi bus di depanku sejenak.
"Mimpi... yang menyeramkan." ku ambil tas dan segera turun dari bus.
"Lapar... pengen nasi goreng."
SELESAI~
😎😁👏