Aku diam mematung. Tidak ada sepatah kata pun terucap. Mulutku terbungkam rapat. Kertas segi empat merah hati di tangannya sebagai saksi bisu. Rasa yang hendak aku balas memilih untuk lebih dulu kandas. Melepas rasa yang terkungkung sangkar ketidakpastian. Hingga memutuskan mengepakkan sayap terbang mencari peraduan lain.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk tidak datang. Jadi, wajid fardu ain penuhi undanganku." Ia berbalik setelah menyodorkan sepucuk undangan padaku.
Dari balik punggungnya aku melihat juga mengingat masa lalu dimana ia pernah berkata tentang rasa padaku. Sedangkan, saat itu hatiku yang patah tidak berani memberi kepastian apa pun. Tidak kepikiran untuk mencintainya malah. Ingatanku masih berlanjut mengiringi langkahnya kian samar tak terlihat.
Tiga bulan yang lalu, di tempat yang sama, ia menjanjikan sebuah pertemuan. Di bawah pijar senja yang hampir meredup ia berkata,
"Jika kau bersedia, izinkan aku menjadi penawarmu."
Hingga hari berlalu menjadi minggu, sampai minggu menjelma bulan, aku membiarkan kata itu tergilas waktu. Mustahil membuka hati pada sahabat sendiri. Seseorang yang tidak mungkin bisa aku beri rasa lebih dari seorang teman. Hingga pada suatu hari kepergiannya menyadarkanku. Aku merasa lebih berarti jika ia berada di sisiku.
Rasa keberartian itu telah berubah fana. Nyatanya, undangan itu telah berada di tanganku. Bukan namaku, tapi nama perempuan lain yang tertuliskan di sana. Aku memiliki kepercayaan bahwa yang benar-benar cinta akan senantiasa memperjuangkan tanpa batas. Kepercayaan yang telah mendarah daging sejak aku mengenal makna cinta.
Kuhitung langkahnya setelah ia menjauh dariku. Apakah dia akan berbalik menyaksikan ketidakberdayaanku? Menyapa kembali sebelum aku benar-benar sirna sebagai orang yang hampir-hampir saja menjadi masa depannya.
"Mahda?"
Aku terpaksa sigap berhenti. Padahal, aku sudah berputus asa ia tak akan mau melihatku lagi. Hatiku berdebar. Secuil harapan kembali menguncup. Dasar wanita lemah! Aku mencerca diri sendiri.
"Apa? Iya iya aku akan usahakan datang." kataku meninggi. Walaupun, sebetulnya aku terkulai lemah. Biarkan saja ia tahu semua ekspresiku. Ia sudah mengenalku sejak dulu. Sosok perempuan tipe ekspresif. Bahkan, pendalaman soal urusan cinta. Mencintai dalam diam bukan kepribadianku.
"Aku minta maaf, Mahda. Abang tahu kau mencintaiku, kan?" Meskipun sahabat, kadangkala dia memperlakukanku seperti gadis kecilnya. Dulu, dia pernah bercerita sangat mengidam-idamkan adik perempuan. Sayang sekali, sang ibunda lebih dulu divonis penyakit dalam hingga tak mungkin lagi berputra. Jadilah ia, Bang Yusuf, satu-satunya anak ayah bundanya.
"Lalu, kenapa kau menikah dengan gadis lain, Bang? Kaudiam-diam begitu. Melukaiku. Kau tidak pernah cerita apa-apa padaku." Aku terus mencomel. Bersungut-sungut. Tak peduli suasana sekitarku.
"Jangan salah paham dengan kata-kata Abang waktu itu. Tapi, Abang menyayangimu."
"Andai saja dulu aku tak mengubah perasaanku. Keraguanmu waktu itu terbukti sudah, kan, Mahda. Kenapa kau segoblok itu? Coba saja orang di depanmu sekarang tetap kaupandang sebagai sahabatmu," kataku membatin.
Suara motor meraung-raung. Bengkel di pojokan pertigaan itu melengkingkan kebisingan ke seluruh sudut jalan. Aku dan Bang Yusuf mematung dan saling menatap di depan halaman indomaret. Tadinya aku ingin segera pulang memberikan terang bulan pesanan bapak. Mumpung masih anget, cokelatnya masih lumer.
"Bang, semua perkataanmu itu tambah menyakitkan hatiku, Bang. Kok bisa kaubilang menyayangi aku saat kamu sudah akan menikah. Heran aku." Aku mendesis. Kumasukkan undangannya di kresek. Kuhampiri motorku. Kontak yang menggantung di telunjuk kupasang segera di sana. Kantung kresek putih kucantolkan di bawah dasbor.
"Entah bagaimanapun perasaan kamu, Da, Abang minta kamu tetap ikhlas datang. Oke?"
"Oka oke." Nadaku menyentak sembari menekan starter.
Aku tidak peduli. Terserah dia justru ikut marah atau menambah rasa ibanya. Tetap saja itu tidak akan mengubah keadaan.
"Aku jadi penasaran kaya apa perempuan pilihan hatinya. Apa lebih berprestasi dari aku? Lebih cantikkah? Lebih putih? Lebih apa lagi, ya? Alah emboh," kataku membatin. Sembari terus menerus menarik gas dengan kecepatan maksimal. Lantas berhenti mendadak di perempatan jalan. Kecepatan maksimalku tidak cukup menjangkau sisa waktu lampu hijau.
Kutengok arah samping. Sepasang muda mudi yang berpelukan. Si perempuan mengerat lingkar pinggang tubuh yang berselimut jaket tebal itu. Tidak peduli kalau ada perempuan di sampingnya sedang berusaha menyatukan hatinya yang sedang patah.
"Ih." Aku bergidik sebal melihat pemandangan lebay itu.
Di rumah.
Kutaruh begitu saja di meja. Sekotak terang bukan itu langsung disergap bocil-bocilku yang dilanda kelaparan. Padahal, harusnya bapak yang pertama menyantap.
"Hoe!" seruku.
Tangan yang akan berusaha mengambil lagi terang bulan itu mendelik dibalik tubuh gendutnya.
"Bapak? Pak? Terang bulan dimakan Gendut, Pak. Aku nggak mau belikan lagi kalau sampai habis dimakan mereka berdua."
Dengan menatap kenakalan bocil-bocil itu serasa membumbui kekesalanku. Aku berdecak. Kuambil terang bulan itu dari hadapan mereka. Ya akhirnya mereka berdua menangis gulung-gulung.
" Aduh, Farhan. Le, kamu itu sudah segendut itu. Ini punyanya Bapak lo. Nggak boleh makan sembarangan. Sudah. Mbak Da ambil. Sudah dapat satu-satu, kan?"
Bukan apa-apa. Dibilang pelit ya kubiarkan saja. Aku tidak ingin adik-adikku terlalu berlebihan berat badan ketika usianya masih dini. Farhan yang masih sekolah dasar kelas lima sudah memiliki berat badan empat puluh. Aku tidak mau dia minder bersosialisasi. Sama seperti aku dulu. Takut ditolak laki-laki karena faktor berat badan yang tidak seimbang dengan tinggi badan. Sejak ingin mengenal Bang Yusuf lebih dalam, aku diet dengan kesungguhan hati. Niat ingin menjadi perempuan yang kelihatan sempurna di matanya, sejak dulu. Sudah lama.
Sayangnya, usaha-usahaku ini tak mampu menyentil perasaan Bang Yusuf. Dia kukuh terhadap prinsip bahwa adik perempuan akan selamanya tetap menjadi adik perempuan. Sedangkan, lembut peringai dan perilakunya menggiring hatiku untuk lebih dan memberikan lebih lagi. Berkembang seiring waktu. Goblok! Sudah ke berapa kalinya aku mengumpat diri sendiri. Memaki kelemahan hatiku. Aku malu. Aku terlalu mengagungkan perasaan. Tapi, dia juga salah. Buat apa dia terlalu berlebihan mengatakan ingin menjadi penawar. Memang benar. Kala itu aku tengah dirundung pilu. Harus menerima kenyataan takdir yang pahit. Ibu dan ayah orang yang kucintai tidak ingin bermenantu perempuan biasa dan miskin seperti aku. Lantas, aku mengharu biru mendengar kejujuran hatinya. Dia menerbangkanku ke awan. Dia memaksaku terbang lagi.
"Bang Yusuuuuuuf?" Aku mengentak-entak kaki. Memonyongkan bibir. Serasa ingin menyobek-nyobek kertas di tanganku.
"Hanna Sowfatun Nujum. Ha... na. Nu... jum. Cantik banget namanya. A... a... ahh." Aku membentang diri di kasur empuk. Kemarin baru aku jemur.
Lebih dari dua puluh piala yang kugondol di setiap medan pertempuran. Aku dikenal sebagai perempuan yang tidak mau kalah dengan lawan. Puisi, novel, cerpen, desain, menyanyi, dan apa pun aku sangat menyukai kompetisi. Semua aku ikuti. Banyak yang memuji karena aku selalu bersemangat menghadapi apa saja. Klaim itu juga pernah dikatakan Bang Yusuf. Kukira Bang Yusuf sangat menyukaiku karena aku demikian. Dia pun sering mencarikanku peluang-peluang untuk terus mengembangkan bakat. Tapi, aku keliru menilai semua itu.
Mengulang satu bulan lalu, waktu yang aku jalani demi bisa meraih hati Bang Yusuf kembali. Meski diet yang aku lakukan berhasil mencapai ideal, tetapi tidak dengan hatinya. Ia sudah berubah jauh. Hatinya bukan lagi untukku. Benar, hampir-hampir aku bisa menang dalam kompetisi keahlianku, tapi tidak untuk memenangkan hatinya kini. Andai dulu aku menerima dia; andai dulu aku tidak pernah jatuh hati pada pria lain; andai dulu aku benar-benar hanya menatap Bang Yusuf sebagai masa depanku; andai dan pengandaian yang lainnya meracau selalu.
"Duh Gusti, apa aku kuat? Apa aku sanggup melihatnya tersenyum bukan karena aku?"
Dulu senyuman itu hanya untuk Mahda seorang. Tidak untuk yang lain. Dia tipe laki-laki hanya benar-benar memperlihatkan kepedulian pada orang yang disayanginya. Hanya pada Mahda saja ia mau berbagi cerita dan memberi perhatian lebih. Telah bersekutu hati dengan pikiranku. Yang kumau hanya Bang Yusuf. Dia diciptakan bukan untuk dibagi pada dua perempuan.
Malam ini, kasur tempat tidurku terlalu nyaman. Aku berupaya terlelap. Ritual sejenak melupa kepahitan pil yang belum benar-benar aku telan. Pukul dua belas aku terbangun. Kisah yang memprihatinkan itu juga berlangsung di mimpi. Ia bermain-main seakan aku tidak boleh lari darinya. Lantas aku terbangun saat hatiku kian memanas melihatnya bermesraan dengan perempuan lain. Mataku basah. Kuseka pelan. Aku sungguh telah menangis hanya karena mimpi. Ah, Mahda... Mahda.
Di dalam kamar, ditemani suara jangkrik dari luar yang kian nyaring. Aku menatap nanar undangan itu di atas meja. Aku dekati kertas berwarna merah hati itu. Yusuf Ubaidillah Al-Mujib dan Mahda Syariah ‘Ulya. Aku tersenyum getir. Memang begitu seharusnya bukan? Tetapi, yang namanya angan akan tetap terhapus oleh kenyataan. Nama gadis di undangan itu tidak akan berubah menjadi namaku. Hanna Sofwatun Nujum, ya tetap dia yang ada di sana. Jujur saja, ingin sekali rasanya aku mendatangi tukang undangan yang mencetak nama itu dan meminta mengubah sederet nama itu menjadi namaku.
Menghitung hari. Setiap pagi setelah bangun, aku selalu menghampiri kalender. Menyilang tanggal hingga mendekati angka di dalam lingkaran spidol hitam besar. Niat melupa nyatanya semakin semangat mencatat hari bersejarah patah hatiku untuk yang kedua kalinya.
Nasib undangan itu berakhir di tempat sampah. Bukan aku terlalu benci, hanya aku tidak mau lagi membaca berulang-ulang nama yang sama, yang menimbulkan rasa iri.
***
Aku harus mendatangi pernikahannya seorang diri. Harus berani. Jangan sampai tumbang di hadapan siapa pun. Jika akhirnya nanti aku harus melepaskan tangis, semoga saja bukan di depannya. Lebih baik di depan Tuhan. Aku akan meraung sekeras-kerasnya dan meminta ganti lelaki yang lebih baik darinya.
Kulihat janur melengkung di gang masuk rumahnya. Suara gemuruh hebat di dadaku mengiringi derap langkah yang tidak dapat aku percepat. Bedak natural di wajahku hampir basah terkena keringat yang dengan sendirinya merembes. Harusnya, seorang Mahda akan langsung berteriak saat melihat sesuatu yang tidak disukainya. Minimal mencomel sembari bersungut-sungut. Justru aku bergeming.
"Mbak, mana pengantin perempuannya?" Aku tidak tahu siapa yang kutanya. Mungkin tetangga dekatnya.
"Itu, Mbak!"
Jerit batinku meledak. Bibirku bergetar. Air mataku bergelantungan di bulu mata. Kubendung. Aku sedikit berpaling. Baru saja aku meneguhkan diri supaya tidak tumbang. Wanita itu mengamati gelagatku yang berubah. Lebit tepatnya kaget.
"Silakan masuk, Mbak! Akad nikah akan segera dimulai. Pak Naib sudah datang kok."
Kuisap isak lirih sekali. Kutatap dia. "Oh, iya. Iya, Mbak."
"Bang, kenapa kau menikah dengan perempuan seperti dia? Apa yang membuatmu luluh?" batinku sembari mengambil posisi duduk. Berjarak tiga meteran dari tempat perempuan itu.
Aku terus berpusara, memastikan ada kelebihan di wajah perempuan itu. Membanding-bandingkan diri.
"Mahda?" Bang Yusuf berceletuk lumayan keras. Tapi, tidak sampai membuat para undangan menoleh.
"Kau tampan sekali, Bang," batinku.
Dia bersila di hadapanku. Sedangkan, calon istrinya melirik sinis.
"Abang tampan, kan?" Dia mengurai tawa. Entah bermakna apa itu. Yang kulihat sinar matanya redup. Lingkar matanya menghitam.
"Kaunangis, ya, Bang?"
"Dasar pembuli kau." Dia menjitak kepalaku. Habis itu dia melepaskan tawa. Kali ini aku tidak merajuk seperti biasanya.
Menurutnya itu lucu. Padahal, menurutku garing. Tawa yang memilukan.
"Kaunangis?" Aku mengintrogasi.
"Sejak kapan kau berias seperti ini, Nduk?"
"Kok Nduk, sih?" Aku mengerenyotkan bibir. Aku sudah seringkali memperingatkan ketidaksukaanku dengan panggilan itu.
"Kaunangis apa kenapa ini, Baang?"
Kuambilkan tisu dari tas. "Nih!"
Dia malah menjitakku lebih keras.
"Gaje banget, sih, Bang. Kauingin aku mengamuk di sini?"
"Silakan saja kalau kautega pada Abangmu yang tampan ini." Dia terkikik dengan gaya yang maskulin.
"Bagaimana kalau nanti Abang keliru menyebut namamu, Da?"
Kadang Bang Yusuf itu setengah brengsek. Bisa-bisanya dia menggoda gadis yang jelas-jelas menaruh hati padanya. "Minta ditendang ini orang." Aku memukul keras lengannya.
Keanehannya hari ini urung membuatku merasa lega. Sebelum dia menjawab, sayangnya bapaknya memanggil dia mendekat ke meja akad.
"Istrinya itu cacat sejak kecil. Kasihan banget."
Aku mendengar samar-samar bisik-bisik orang di belakangku.
"Eeeeh... Bukan cacat, loh, Yu. Punya penyakit bawaan lahir. Dengar desas-desus, sih, katanya ndak ada laki-laki yang berani dekati dia. Penyakitnya bahaya.”
"Oh, masa? Kasihan juga, ya. Pantas saja Sofwa dari kecil kurus kering. Tapi, kenapa Yusuf mau? Apa karena cantiknya? Memang, sih, ndak kalah sama bintang sinetron. Tapi, kalau pesakitan? Atau, mungkin karena bapaknya wong sukses, ya, Yu?"
"Bisa jadi. Bapaknya Yusuf, kan, dari dulu dekat sekali dengan Juragan Husen. Bisa dimanfaatkan itu."
Kupingku memanas mendengar ocehan emak-emak dari belakang. Apalagi, itu tentang Bang Yusuf. Dasar! Di acara sakral seperti ini masih saja meluangkan waktu mencari-cari cela orang lain. Rasanya jiwa mengamukku ingin mencuat saat ini juga. Menghabisi lambe turah mereka.
"Huuuuh... Sabar, Da... Sabar..." Tanganku mengelus dada menenangkan. "Kalau kamu ngamuk, kasihan Bang Yusuf, " batinku atinku menginterupsi.
Baru hendak menggeser posisi, gerakanku terhenti tatkala suara dari belakang menengahi pembicaraan tadi.
"Ora ngono. Katanya, sih, sebelumnya Pak Husen nangis-nangis curhat putrinya ndak ada yang mau menikahi. Nah, di posisi itu bapak e Yusuf menawarkan bagaimana kalau Sofwa dinikahkan saja sama Yusuf. Keluarga Pak Husen itu dari dulu, kan, baik sama keluarga mereka. Apa-apa diberi. Kalau kesulitan, selalu dibantu. Jadi, semacam punya hutang budilah. Menurutnya, hanya itu balasan setimpal yang bisa mereka berikan."
"Lha kok Yusuf langsung mau?"
"Ndak mau gimana, to, Yu? Yusuf, kan, anak penurut. Apa-apa yang dikatakan Pakne Bune ya tetap budal walau aslinya ndak bersedia. Bocah patuhe ora umum kok."
"Walah, aku jadi bingung sekarang harus kasihan sama siapa?"
"Kasihan saja sama Mahda, Buk, " batinku turut menjawab.
Setelah pihak penengah berbicara, kebisingan lambe turah itu perlahan mulai tidak terdengar lagi. Menyusul suara batinku yang meracau. Perasaanku teraduk-aduk. Entah harus bahagia ataukah bersedih. Aku yakin Bang Yusuf masih utuh mencintaiku. Hanya saja ia tidak sanggup menolak permohonan keluarga.
Seperti roller coaster. Perumpamaan perasaanku kini. Melesat tinggi karena mengetahui Bang Yusuf masih tetap mencintaiku. Tetapi, secepat pula terjun saat menyadari raganya tak bisa aku miliki.
"Apa itu disebut kemenangan jika menyanding saja aku tidak bisa?"
"Saya terima nikah dan kawinnya Hanna Sofwatun Nujum..."
Kepalaku menunduk dalam. Sekuat hati aku menahan debaran yang kian menderu keras. Aku butakan pandanganku dan aku tulikan pendengaranku. Tetap saja tidak bisa. Suara Bang Yusuf terdengar lantang dari pengeras suara. Sedangkan, bayangan tangannya menjabat sang naib terus berputaran di kepala.
"Sah?"
"Sah! Sah! Sah!"
Suara gaduh pertanda ijab kabul baru saja disahkan.
Aku memberanikan mendongakkan kepala. Di sana, Bang Yusuf menatapku sambil tersenyum sendu. Seakan turut berbagi kesedihan dalam batin. Kami meloloskan air mata hampir bersamaan. Mengusap pun demikian. Aku tersenyum membalas, berusaha menyalurkan kekuatan dari tatapan ibaku. Rasa simpati yang terlalu jujur aku ungkapkan.
Di satu sisi, ada yang tak berhenti berbisik. Kenapa aku harus memikirkan hatinya? Memangnya itu bisa mengubah keadaan?
"Kau jangan bodoh, Mahda." Suara itu melenguh lantang di telingaku.
Aku berperang melawan diriku sendiri. Lebih hebat dari pertempuran mana pun. Bertengkar di tengah kegaduhan suara srakalan. Aku tidak sanggup berdiri. Tatapanku mengosong. Aku terus mencari celah agar tidak membencinya dan tidak boleh mengasihi dia. Yang telah menikah pasti bahagia. Aku harus kembali mempercayai itu.
Aku membatin, "Mahda, kau harus melupakan soal dia mencintaimu atau tidak. Barangkali jika dia memang bukan jodohmu, ada lelaki lain yang masih berjuang dari jauh. Mendoakanmu dalam diam. Kasihan jodohmu yang sebenarnya."
Tapi, yang namanya move on itu tak akan pernah bisa terjadi secepat kilat.
Acara usai beberapa menit kemudian. Aku tidak seperti mereka yang langsung menghampiri meja prasmanan. Kucari tempat menyandarkan bahu agar ia dapat merasakan kenyamanan. Tak kusadari Bang Yusuf sudah ada di dekatku. Memberikan selembar sapu tangan dari saku jas abu-abunya.
Dengan polosnya dia bertanya, "Kaubenci dengan Abang, ya?"
Dia semakin kurang ajar rupanya. Dari kemarin dia selalu menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.
Aku bergeming. Kuambil sapu tangan itu. Hanya kugenggam. Air mataku sudah terhapus semilir angin.
"Abang minta maaf, ya, Nduk. Jangan benci karena keputusan Abang tidak seperti yang kauharapkan. Abang tidak rela kau menangis cengeng. Lebih baik kaumarah. Abang lebih suka sikapmu yang begitu."
"Nggak usah merayu begitulah, Bang." Aku enggan menatapnya. Wajahnya terlalu dekat untuk kupandangi. Aku takut dia akan menyihirku dengan tatapannya. Menyuruhku menjadi sangat iba.
"Selamat. Aku pulang, ya, Bang. Cintai istrimu sebaik mungkin. Itu wajibmu." Aku bangkit.
"Mahda?" Bang Yusuf menarik rokku.
"Hmm."
"Abang ada kenalan kalau kaumau. Dia lebih alim dan mapan dari Abang."
Tidak perlu lama untuk menjawab itu. "Makasih, Bang."
Aku pergi. Tak menoleh lagi.