💓
Judul dari : Norma Indah Susanti
—•—•—•—
Miku ingin menuliskan sebuah cerita menyayat hati dengan bumbu-bumbu komedi-romantis dan dibalut sentuhan horror. Semoga kalian suka!!
“Mungkin sekarang aku bukan manusia lagi. Namun, aku juga ingin merasakan kebahagiaan sepertimu." ~Sastro.
♥¡♥¡♥¡♥
Aku adalah Indah Putrianasari, seorang gadis sederhana yang kini duduk di bangku SMA. Aku tinggal bersama ayahku. Ibuku telah meninggal dunia karena mengalami kecelakaan. Oh iya, aku juga memiliki hewan peliharaan. Dia adalah Deo, burung yang bisa bicara, meski hanya beberapa kata. Aku sangat menyayanginya.
🌸🌸🌸
Mentari telah memancarkan sinarnya. Ayam berkokok bersaut-sautan, menandakan bahwa pagi telah tiba. Seperti biasanya, aku sedang memberi makan dan memandikan Deo.
“Indah... To... To... To...." Deo menyebutkan kata itu untuk yang kesekian kalinya.
“Iya, aku disini kok. Tapi, kenapa kamu selalu menyebut kata To... To... To... Terus. Apa maksudnya?" tanyaku kepada Deo.
“Indah... To... To... To...." Bukannya menjawab pertanyaanku, burung ini malah mengulangi kata-kata andalannya.
”Haisshh... Kau ini. Bisa-bisa aku mati penasaran gara-gara kamu tau, huhhh...." Aku kesal sekaligus penasaran, kenapa Deo selalu memanggil 'To'. Sebenarnya apa itu 'To'? Aku benar-benar ingin tahu arti dari ucapannya ini. Aku melamun untuk berpikir.
“Hei, Indah!" tegur seorang pria paruh baya yang berhasil membuyarkan lamunanku. Dia adalah Bejo, ayahku.
Ayahku berjalan sambil membawa secangkir kopi yang masih beruap. Kemudian, ayah duduk di kursi dan menyeruput kopinya.
Aku pun berjalan menghampiri ayah untuk menanyakan hal yang selalu mengangguku ini. Aku duduk di kursi yang ada di sebelah ayahku.
“Pak, Indah boleh tanya gak?"
“Boleh... Slurpp... Ah... Mau tanya apa, Nduk?" tanya ayahku yang masih menikmati kopi hangatnya.
“Itu... Bapak tau nggak—alasan kenapa Deo selalu bilang 'To... To... To...' terus?" Aku menanyakan hal yang selalu membuatku susah tidur karena memikirkan alasannya ini.
“Hmm... Bapak juga nggak tau. Mungkin itu nama pemiliknya dulu. Bapak beli Deo dari orang misterius, jadi Bapak nggak begitu tau tentang asal-usulnya. Pokoknya burung yang bisa bicara, bapak beli buat kamu," ujar ayahku.
“Oh gitu ya, Pak. Ya udah kalau gitu, aku mau bawa Deo ke halaman belakang dulu," kataku yang sebenarnya agak kecewa.
Tapi mau bagaimana lagi. Tampaknya, aku harus melupakan hal ini. Aku membawa sangkar burung tempat Deo bertengger ke halaman belakang. Aku bermain bersama dengan Deo seharian. Namun, seorang laki-laki mengenakan baju adat jawa lengkap dengan blangkonnya, sedang mengintipku sambil tersenyum miring.
Singkat cerita hari mulai petang, aku pun segera masuk ke dalam rumah.
“Haah... Kenapa hari ini terasa sangat cepat, ya?!" Aku berjalan menuju kamar mandi untuk sikat gigi.
Saat telah sampai di kamar mandi, aku mulai menyikat gigiku. Aku kemudian menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tidak ada siapapun. Aku melakukan itu karena aku ingin melakukan kebiasaan memalukan dan kekanak-kanakkan, namun membuatku bahagia.
“Nggak ada orang, nih. Kalau gitu, ini adalah saatnya... Sasageyo sasageyoo!!" Aku bernyanyi lagu dari anime kesukaanku sambil melompat-lompat layaknya penyanyi rock.
Setelah cukup lama melakukan kegiatan tidak berfaedah tapi menyenangkan itu, aku pun bergegas mengambil segelas air dan kumur-kumur untuk membersihkan mulut.
“Yaakk... Wajah cantik menawan dan gigi putih berseri. Haah... Aku benar-benar bangga dengan diriku." Aku menatap cermin sambil memuji diriku sendiri.
Tiba-tiba, aku melihat seorang laki-laki berbaju adat jawa lengkap dengan blangkonnya. Aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang dan melihat laki-laki itu. Namun anehnya, aku tidak melihat ada siapapun di sana.
'Bukankah tadi ada laki-laki disini?' batinku keheranan.
Pyaarrr!!
Peralatan mandi yang tadi masih menggantung, menempel di tembok, tiba-tiba saja jatuh. Alhasil, sabun, sampo, dan sikat gigi pun jatuh berserakan. Mataku membola, menatap peralatan mandi yang sudah jatuh berserakan ini.
Aku bergegas berlari keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamar. Kemudian, aku membalut diriku dengan selimut. Oh Tuhan... Tolong jauhkan hantu itu dariku! Aku mencengkram erat selimutku. Kini, rasa panik dan takut benar-benar menguasai diriku.
“Hei!" Seseorang memegang bahuku.
“Kyaa!! Pergi kau, dasar hantu jelek!" Aku membuka selimut dan melemparkan bantal ke arah wajahnya. Berhasil... Aku berhasil melempar bantal ke wajahnya. Eh tapi, kok kakinya berbulu.
Aku mendekati pria itu dan menyingkirkan bantal tadi daru wajahnya.
“Ha?! Bapak?!" Aku terkejut saat mengetahui bahwa orang yang aku lempari bantal tadi bukanlah hantu, melainkan ayahku sendiri.
“Eh, Pak. Indah minta maaf, Indah nggak sengaja."
“Aduhh... Pusing...." Ayah memegangi kepalanya sambil mengeluh bahwa kepalanya pusing.
“Intan benar-benar minta maaf, Pak." Aku meminta maaf sekali lagi.
“Kamu kenapa, Nduk? Kok kelihatannya ketakutan gitu?!" tanya ayahku khawatir.
“A-anu, Pak. Ada hantu di kamar mandi!" ujarku yang tiba-tiba kembali gemetar ketakutan saat mengingat kejadian aneh tadi.
“Ha-hantu?!"
Aku menganggukkan kepala.
“Haahh... Kamu cuma salah lihat kali. Udah nggak usah takut lagi, bapak akan jagain kamu," ucap ayah berusaha untuk menenangkanku.
'Hah... Mungkin aku memang salah lihat,' gumamku.
🌸🌸🌸
5 tahun telah berlalu. Kini, aku telah menjadi seorang penulis novel yang terkenal. Karena ini hari libur, aku memutuskan untuk pulang kampung untuk menengok ayah dan Deo.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya aku telah sampai. Aku bisa menghirup udara segar khas pedesaan.
“Bapaakkk!!!" Aku berlari menghampiri ayahku yang tengah memberi makan Deo.
“Wahh Indah. Kamu pulang kok gak bilang-bilang."
“Sengaja, Pak. Indah mau ngasih surpres gitu," ucapku dengan nada bercanda.
“Hee... Ya udah. Istirahatlah dulu, kamu pasti capek!" perintah ayahku.
“Iya iya...." Aku menuruti permintaan ayah dan masuk ke dalam kamar untuk beristrirahat.
Saat hendak mengambil baju, aku dikejutkan dengan secarik kertas yang ditempel di dindimg lemari.
'Temui aku jam 8 malam ini di halaman rumah depan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!' bunyi surat tersebut.
Aku mencabut kertas itu dan membacanya berulang kali. Itu bukan tulisan ayahku. Lalu, surat ini ditulis oleh siapa?
Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk memenuhi undangan misterius tersebut. Malam telah tiba, jam dinding telah menunjukkan angka 8. Langkah demi langkah, aku berjalan menuju halaman depan. Entah kenapa tiba-tiba aku merinding.
Saat sudah sampai di halaman depan, aku melihat seorang laki-laki berbaju adat Jawa lengkap dengan blangkon. Bukankah itu, dia?! Aku berbalik dan hendak berlari, akan tetapi aku mendengar seseorang memanggil namaku.
“Indah!" seru laki-laki itu, memanggil namaku.
Aku menghentikan langkahku dan merubah posisiku menjadi berbalik dan menatap laki-laki itu.
“Jangan takut, aku nggak akan melukaimu." Pria itu berbalik dan menatapku. Mataku membola saat melihatnya.
“Maaf aku menganggu malammu yang harusnya kau gunakan untuk beristirahat. Aku hanya ingin mengobrol dengan seseorang. Karena semasa hidupku, aku hanya terbaring di ranjang rumah sakit setiap harinya. Aku hanya bisa mengobrol dengan dokter, suster, kedua orang tuaku, dan Deo" sambungnya.
Setelah mendengar sepenggal kisah hidupnya itu, mendadak aku menjadi iba. Aku berjalan menghampiri laki-laki itu. Saat mendekat, aku melihat bulir-bulir air mata mengalir dari sudut matanya.
“Aku... Hanya ingin mempunyai teman. Aku tau kalau aku bukanlah manusia lagi. Tapi... Aku juga ingin merasakan kebahagiaan sepertimu. Namun... Tampaknya semua itu sia-sia."
Mataku ikut berkaca-kaca saat melihatnya. Kemudian, aku merangkul dan menempatkannya dalam pelukanku.
“Tenanglah... Mulai hari ini, aku akan menjadi sahabatmu. Jadi, jangan bersedih lagi ya," ucapku menenangkannya.
“Terima kasih banyak, Indah. Aku benar-benar berterima kasih," ucapnya lirih.
“Iya. Baiklah, hari ini kita akan menjadi teman, ya. Oh ya, kita belum kenalan. Aku Indah, kamu?" tanyaku sembari mengulurkan tangannya untuk mengajak kenalan.
“Aku Sastro," jelasnya seraya menjabat tanganku.
“Ok. Semoga kita bisa menjadi sahabat yang baik, ya," kataku sambil tersenyum.
Sastro menganggukkan kepalanya sambil tersenyum juga. Saat sedang saling melontarkan senyum, tiba-tiba aku mendengar seorang pria sedang menegurku dengan suara lantang.
“Hei, nduk. Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya ayahku dengan memakai sarung bermotif batik khas para bapak-bapak.
“Eee... Aku...
“Psst... Ayahmu tidak bisa melihatku. Orang yang bisa melihatku hanya kamu," jelas Sastro memotong pembicaraanku.
“Ooo... Oh iya, Pak. Indah cuma mau nyari udara segar aja, kok. Hehe..."
“Haishh... Ya udah, jangan malam-malam. Kamu harus istirahat!" suruh ayahku sambil menaikkan sarungnya yang hampir merosot.
“Iya, Pak," ucapku.
Sesaat setelah ayah pergi, aku kembali menatap Sastro.
“Ya udah, aku tidut dulu, ya. Ingat... Mulai sekarang, kita akan menjadi sahabat sejati, ok?" Aku berjalan menuju kamar.
“Dadah." Sastro melambaikan tangannya. Senyuman kebahagiaan terukir di wajahnya. Sungguh, pemandangan yang indah.
—Tamat—
Maaf kalau jelek, ya ^^
From : Miku Nakano
💓