Original story by Foxy R.
Theme by : Park Jun Seok
Chapter #1
Malam hari yang tenang, hanya terdengar suara hiruk pikuk kota yang tidak pernah tidur. Ashley berjalan menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka sebelum tidur. Sambil menggosok giginya, Ashley menatap dirinya di cermin.
Setelah selesai, ia keluar dan berjalan menuju ke dapur. Ashley mengambil gelas dari rak, kemudian menuangkan air putih sampai hampir penuh. Dapur tempat Ashley tinggal tidaklah terlalu luas atau mewah, wajar saja karena ia hanya tinggal di apartemen standar dengan harga yang bersahabat. Diluar jendela apartemen tampak jajaran gedung pencakar langit yang berdiri dengan megahnya. Kelap-kelip lampu malam yang menghiasi membuat sisi luar gedung itu tampak sangat indah.
"Hufftt," Ashley menghela napas pelan. Ia mematikan lampu dapur dan kembali ke kamarnya.
Ashley membaringkan tubuhnya di kasur, melepas semua penat yang ia rasakan setelah seharian beraktivitas. Matanya menatap lurus kearah langit-langit. Perlahan Ashley memejamkan mata, berusaha untuk membuat tubuhnya rileks. Namun belum lama ia memejamkan mata, sebuah suara gemuruh tiba-tiba terdengar.
Gemuruh itu sangat hebat. Seisi ruangan bergetar, bahkan beberapa sampai terjatuh. Suara benda pecah dan jerit orang-orang yang panik dengan jelas terdengar. Sepertinya dari penghuni lain apartemen.
Ashley berusaha agar tidak panik, ia meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah gempa kecil. Dengan sigap ia segera masuk ke kolong tempat tidur untuk berlindung.
Setelah sekitar 20 menit, gemuruh itu akhirnya berhenti. Ashley keluar dari kolong tempat tidur, berganti baju dengan cepat, kemudian segera keluar dari apartemen. Suasana di luar apartemen sangat ramai, semuanya berada di titik kumpul apartemen. Wajah semua orang terlihat sangat panik, tapi Ashley tidak terkejut dengan itu.
Yang membuat Ashley terkejut saat sampai diluar apartemen adalah dikelilinginya apartemen oleh tembok batu raksasa. Tak tanggung-tanggung, ukuran tembok itu hampir sama tingginya dengan apartemen Ashley yang setinggi ±50 meter.
"Ashley!!" panggil seseorang. Ashley sontak menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata yang memanggil adalah Yara, orang yang tinggal disebelah apartemen Ashley.
"Eh kak Yara," sapa Ashley.
"Kamu darimana aja? Kok baru keluar?" tanya Yara dengan nada khawatir.
"Ya gitu deh. Eh kak, ini ada apa?" Ashley melihat ke sekeliling.
"Entah, aku juga ngga tau, tembok batu ini tiba-tiba muncul," jawab Yara.
Tiba-tiba muncul? Ini aneh. Fenomena ini sungguh tidak biasa. Ashley sekali lagi melihat sekelilingnya.
Darimana tembok-tembok batu ini datang? Dalam tanah? Kenapa tiba-tiba ada? Pertanda apa ini? Ribuan pertanyaan tentang tembok batu misterius terus berputar dikepala Ashley tanpa ada jawaban.
"Sebenarnya ini tembok apa sih kak?"
"Ya mana kutahu," sahut Yara.
Sebuah ide tercetus saat ia mengedarkan pandangan lagi, yaitu naik ke rooftop. Tinggi tembok ini tidak melebihi tinggi apartemen kan? Lalu kenapa tidak naik saja ke rooftop agar bisa melihat semuanya?
"Aku mau ke rooftop biar bisa lihat semua, kak Yara mau ikut?" tawar Ashley.
"Mau." Mereka berdua kemudian masuk lagi kedalam dan berlari menaiki tangga untuk sampai ke rooftop. Beberapa orang yang penasaran juga ikut naik dengan mereka.
Sesampainya di atap, barulah mereka bisa melihat semua dengan jelas. Tembok raksasa ini tidak hanya mengelilingi apartemen, namun juga seluruh kota. Tak hanya itu, tembok ini juga membentuk sebuah labirin yang sangat besar. Semuanya, termasuk Ashley dan Yara, terkejut melihat apa yang ada didepan mata mereka.
"Ya Tuhan, apa ini?" ucap seseorang yang tadi ikut naik.
"Ini... labirin... raksasa??" kata Yara tidak percaya.
Labirin ini bukan labirin biasa. Pasalnya, jika labirin pada umumnya memiliki jalan yang dibuat khusus untuk membingungkan pemain, maka yang satu ini tidak. Tembok labirin ini benar-benar rapat, menempel satu sama lain, mengelilingi semua gedung-gedung tanpa merusaknya. Lebih mirip kurungan daripada labirin sebenernya.
Puas melihat labirin yang tidak terlihat ujungnya itu, semua yang ada di atap kemudian kembali ke bawah. Mereka berniat memberitahukan ini kepada penghuni apartemen lain.
"Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?" pertanyaan dari seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Ashley dan yang lainnya.
"Ashley, apa yang terjadi? Tolong jelaskan," ucap perempuan itu lagi.
Ashley bingung bagaimana harus menjelaskan kepada wanita itu. Ini juga kali pertama baginya, jadi ia juga syok dan bingung.
"Kita dikelilingi oleh tembok batu raksasa, tidak hanya kita, namun seluruh kota," Ashley menarik napas sejenak, "dan aku tidak tahu bagaimana cara terbebas dari ini."
Wanita tadi tampak bingung, tak paham dengan apa yang Ashley katakan. Ia lalu mencoba meminta penjelasan.
"Apa maksudmu? Aku tidak paham, tolong jelaskan." Semuanya diam, tak tahu harus bilang apa. Ditengah-tengah kepanikan dan kebingungan, tembok-tembok itu bergetar. Suara gemuruh terdengar lagi, namun tidak sekeras tadi.
Salah satu sisi batu itu terbuka perlahan, seperti lcd besar yang biasa ada di konser indoor. Dari balik batu itu muncul seorang lelaki dengan pakaian kuno. Ia tidak sendiri, ada beberapa orang yang mengikuti sambil membawa tombak dan perisai.
"Salam, semuanya! Selamat datang di Labirin Mata Dewa. Aku adalah Torkuis, penjaga dari labirin ini," ujar pria yang bernama Torkuis.
Semua orang menjadi tambah bingung dengan kedatangan Torkuis dengan baju kunonya. Sementara yang lain kebingungan, Ashley maju menghampiri Torkuis untuk mengajukan pertanyaan.
"Labirin Mata Dewa? Apa itu?"
"Labirin Mata Dewa adalah sebuah permainan yang diciptakan oleh dewa logika, Dewa Guji, untuk mengukur tingkat kecerdasan manusia. Disini tugas kalian adalah mencari jalan keluar dari labirin ini dengan menjawab teka-teki yang dibuat oleh Dewa Guji sendiri. Tidak ada peraturan khusus untuk permainan ini, tapi kalian harus ingat satu hal.
"Kalian hanya boleh keluar dari sini dengan mencari jalan keluar melalui teka-teki atau menyusuri setiap jalan di labirin ini, jangan sekali-kali mencoba untuk keluar dari sini lewat atas, karena itu melanggar peraturan. Waktu kalian adalah 15 hari untuk keluar dari sini. Selamat berjuang!" Torkuis menjelaskan semuanya tanpa basa-basi. Setelah selesai, ia langsung berbalik dan masuk kedalam labirin lagi dan tembok batu yang terbuka kembali tertutup.
"Labirin Mata Dewa? Dewa Guji? Orang aneh darimana dia?" tanya Ashley pada dirinya sendiri.
"Anak muda, dia bukan orang aneh," sahut seseorang. Ashley langsung berbalik badan untuk melihat siapa yang berbicara. Ternyata seorang kakek tua yang sudah bungkuk.
"Dia bukan orang aneh, dia adalah orang pilihan," kakek tua tertatih-tatih berjalan menghampiri Ashley.
"Apa maksudmu, kek?"
"Dalam sejarah Yunani kuno, Torkuis adalah panglima besar kepercayaan Dewa Guji. Sedangkan Labirin Mata Dewa adalah permainan favoritnya. Dalam sejarah, baru dia yang bisa keluar dari labirin dengan selamat," ujar.
Ashley sangat terkejut mendengar pernyataan si kakek. Jika dalam sejarah hanya Torkuis yang bisa menyelesaikan labirin, lalu apakah manusia biasa seperti kita bisa melakukannya? Pikir Ashley.
"Kek, bisa jelaskan lebih detil tentang labirin ini?" Yara tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada kakek.
"Yah, aku tidak tahu banyak tentang ini, namun yang aku tahu bahwa labirin ini hanya muncul setiap 110 tahun sekali. Tempat munculnya pun tidak sembarangan. Ini hanya akan muncul dimana ada seseorang yang akan mampu menyelesaikan permainan."
"Seseorang yang mampu? Kalau begitu, seharusnya ada orang lain yang sudah menyelesaikan labirin ini 'kan?" terka Ashley.
"Harusnya begitu, namun mereka semua terjerumus oleh teka-teki yang diberikan. Mereka mengambil jalan yang salah dan akhirnya selamanya terjebak di dalam labirin," jelasnya.
Semua orang terdiam mendengar hal itu. Mereka sekarang takut, takut tak bisa keluar dan akan berakhir disini selamanya.
"Itu artinya satu diantara kita adalah 'kunci' dari permainan ini?" tanya Yara. Sang kakek hanya mengangguk.
"Sekarang semuanya tergantung kepada 'si kunci', bagaimana kalian akan keluar, itu tergantung padanya," itu adalah ucapan terakhir sang kakek sebelum sebuah tombak menghujam dadanya.
"Kalau begitu, ini tergantung kita," ucap Ashley dengan penuh tekad.
Malam ini adalah awal dan akhir. Kehidupan mereka tergantung kepada diri masing-masing. Selamat atau mati, menang atau kalah, menghabisi atau dihabisi, semuanya dimulai malam ini.