Judul dari : Miku Nakano
🎻🎻🎻
'Aku merindukan lantunan melodi indah. Sebuah nada yang bisa memberikan ketenangan dan juga keindahan. Menurutku kamulah yang cocok untuk memainkannya. Aku sudah mendengar banyak rumor akan kehebatanmu. Datanglah ke rumah yang berada di ujung jalan Emily Street. Saat sudah di sana, pohon sycamore yang rindang pasti akan menyambutmu.'
Aku menghela nafas panjang, setelah membaca surat misterius untuk yang puluhan kalinya. Sepertinya pengirim surat tersebut adalah seorang penggemar rahasia. Kali ini aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya lagi.
Kemeja, piama, kaos kaki, serta barang-barang penting lainnya sudah tersusun rapi di dalam koper. Oh tidak lupa, biola kesayangan yang sudah menjadi sumber pendapatanku selama beberapa tahun belakangan.
Orang-orang tampak berdesakan untuk segera memasuki kereta. Sedangkan aku yang sudah duduk di dalam kereta, hanya bisa tersenyum tipis tatkala melihat riuhnya suasana di stasiun. Musik Danse Macabre karya Camille Saint kembali menyala dalam pikiranku. Entah kenapa, akhir-akhir ini musik itu selalu terngiang di telinga.
🎻🎻🎻
Setelah waktu berlalu setengah jam, barulah kereta berhenti di tempat tujuan. Aku segera melangkahkan kaki menuju Emily Street.
Sesampainya di sana, kepalaku menilik seluruh rumah yang ada. Meskipun alamat yang tertera di dalam surat tidak begitu jelas, tetapi semua ciri rumahnya benar-benar disebutkan dengan detail. Membuatku berjalan dengan percaya diri untuk mencari rumah yang paling ujung.
Aku berjalan lebih cepat ketika melihat pohon sycamore dari kejauhan. Sekarang senyuman bermakna lega terukir di wajahku. Tanpa pikir panjang tangan ini langsung menekan bel rumah mewah tersebut.
Ceklek!
Pintu perlahan terbuka, tampak seorang wanita tua dengan ekspresi datarnya.
"Halo? apa surat ini kiriman darimu?" tanyaku sembari menyodorkan salah satu surat yang sudah puluhan kali sampai ke tanganku.
Wanita itu terlihat terkejut, dia langsung menyuruh masuk tanpa memeriksa surat yang kuberikan padanya.
Aku dan wanita itu sekarang duduk saling berhadapan di ruang tamu. "Kenalkan aku Tessa Charolite, aku adalah penjaga rumah ini, dan kau-anak muda..." ujar wanita tua itu sembari menatap tajam padaku.
"Aku Edgar Maxime, seorang vionis... tunggu, jadi kau-bukan pemilik rumah ini? lalu siapa yang..."
"Tenanglah Edgar, pasti akan kujelaskan semuanya. Sebelum kau memainkan biola-mu,"
"Maksudmu?" dahiku mengernyit.
Tessa tersenyum dan berkata, "Surat itu memang aku yang menulis dan mengirimnya padamu. Tapi sebelum itu bolehkah aku menanyakan kesediaanmu untuk bermain musik di rumah ini?"
"Tentu! ... aku akan memainkannya untukmu kan?" tebakku.
Tessa menggeleng, "Ikut aku!" suruhnya sembari berdiri dari sofa. Tessa membawaku ke sebuah ruangan yang begitu luas, bahkan aku pun langsung terperangah saat melihatnya. Rumah ini memang begitu mewah. Tessa bilang aku akan tampil di ruangan tersebut.
"Kau-bisa langsung bermain nanti malam, para penghuni rumah ini sekarang sedang dalam perjalanan ke sini," ujar Tessa sambil berbalik menatap ke arahku.
"Oh jadi penghuni rumah sedang tidak ada?"
"Iya! ... bersiaplah jam 11 malam nanti!" jawab Tessa santai, lalu segera menunjukkan kamarku.
🎻🎻🎻
"Fiuh..." aku mendengus kencang, karena perasaan gugup memang selalu menyelimuti ketika akan tampil di hadapan banyak orang. Sebenarnya aku sempat berpikir ada yang aneh dengan Tessa, tapi sudahlah yang paling penting sekarang adalah aku bisa tampil dengan baik malam ini.
"Ayo! semuanya sudah siap!" kedatangan Tessa dari balik pintu membuatku terperanjat. Kami pun segera melangkahkan kaki ke ruangan yang di sebut Tessa dengan ruang pesta.
Trak!
Tessa mendorong pintunya, namun dahiku langsung mengerut tatkala tidak melihat seorang pun dalam ruangan itu. Ruangan itu hanya di terangi dengan lilin-lilin berwarna merah yang tersusun rapi.
Tak! Tak! Tak!
Tessa melangkahkan kakinya masuk ke ruang pesta, kemudian dia mempersilahkanku untuk segera memainkan musik. Sekarang aku mulai merasa ada yang aneh dengan wanita tua itu. Apa dia gila?
Saat aku hendak mencoba menggesek bilah biolaku, Tessa tiba-tiba mencegah dengan berkata, "Edgar, mereka ingin kau-memainkan lagu Danse Macabre, kamu tahu melodinya kan?"
"Te-tentu..." sahutku dengan sedikit tergagap.
"Oh iya jangan berhenti bermain saat lagumu belum selesai!" titah Tessa, yang kuanggap hanya hal biasa.
[Disarankan mendengarkan musik Danse Macabre]
Tanpa pikir panjang aku langsung memainkan musik sesuai permintaan Tessa. Diri ini mulai memejamkan mata, terbawa arus suasana yang dibawa oleh melodi musik yang kumainkan. Hanya terdengar suara biolaku kala itu.
Hingga samar-samar suara dua orang yang sedang berbincang terdengar di telinga. Karena penasaran, aku pun membuka mata. Dan langsung di buat kaget dengan pemandangan sepasang kekasih tengah berdansa di hadapanku.
Di tengah ruangan yang hanya bersinarkan cahaya lilin, dua sejoli itu tampak begitu menikmati alunan musik.
Awalnya semuanya terlihat biasa saja, tetapi rasa takut mulai datang tatkala aku melihat dua sejoli itu berhenti menari, karena kedatangan segerombolan perampok.
Aku pun segera menghentikan permainan biolaku, namun semua orang langsung melotot. Jantung ini mulai berdegub kencang, apalagi ketika salah satu perampok itu berjalan menghampiriku.
"Cepat mainkan lagi! kalau tidak, aku akan membunuhmu!" bentak lelaki dengan kumis tebal itu. Hal itu sontak membuatku kembali memainkan musik. Tentu saja dengan tubuh yang gemetaran. Ditambah melodi menakutkan Danse Macabre membuat ketakutanku semakin bertambah.
"Aaarrkhh!!!" wanita yang tadinya berdansa dengan ekspresi semringah, sekarang berteriak histeris saat melihat perampok itu memenggal kepala sang kekasih.
Teriakan wanita itu semakin menjadi-jadi ketika para perompok itu saling bergantian untuk merenggut harga dirinya.
Musik semakin intens, kala para perampok itu menusuk sang wanita berkali-kali dengan pisau. Keringat berhasil membanjiri tubuhku.
Saking takutnya, aku menekan terlalu kuat bilah biola hingga membuatnya patah menjadi dua. Para perampok itu tiba-tiba berjalan ke arahku. Mereka semakin mendekat, dan membuat penglihatanku menggelap seketika.
🎻🎻🎻
"Edgar? Edgar bangun?" suara Tessa membuatku perlahan membuka mata. Aku langsung beringsut mundur dan gelagapan. Seakan ketakutan masih menghantui.
"Tenang Edgar! kau-sudah kembali!" ujar Tessa yang mencoba menenangkan.
Setelah beberapa lama, aku pun mulai tenang dengan memegangi segelas teh hangat buatan Tessa.
"Apa kau-melihat dimana perampok itu menyembunyikan mayat tuan dan nyonya Wilden?" tanya Tessa, yang langsung ku-respon dengan gelengan kepala dan kernyitan dahi.
Wanita tua itu tampak menghela nafas panjang dan berkata, "Tidak berhasil lagi..."
~TAMAT~