“Agh...”
“Tolong...!!”
“Tidak...Tolong kami.”
Teriakan Keluar dari mulut-mulut setiap orang yang saat itu terisap kedalam sebuah lubang Sinkhole, mungkin inilah Sinkhole terbesar pertama di Bumi.
**
Memeriksa Kondisi tubuh.
“Agh Sial apa yang terjadi?” Alan Savory terbangun di tengah padang gurun batu dan penuh dengan tanah kering.
Alan Savory lalu memperhatikan seluruh tubuh. Melakukan pengecekan kepada tubuh yang dia miliki sebab beberapa menit lalu ribuan orang yang berada di Mercedes-Benz Stadium USA, terisap kedalam sebuah Sinkhole Raksasa.
Sementara itu ketika dia memperhatikan kondisi tubuh yang sedikit aneh, Alan Savory terkejut lagi melihat Ribuan orang juga berada di sekitarnya terluka parah. Sedangkan sebagian banyak orang lain telah meninggal dunia.
Hanya sedikit orang yang selamat dan tersadar dengan tidak berteriak-teriak minta tolong.
“Apa? dimana aku, mengapa kami berada di sebuah tempat seperti ini?” Padang Gurun penuh bebatuan dan pasir yang dia lihat di sekitar tempat ia berdiri membuat Alan Savory semakin bertanya-tanya.
Sambil berputar di tempatnya berdiri Alan melihat kesana kemari karena melihat bencana yang di luar pemikirannya.
Tempat itu layaknya sebuah gedung yang hancur akibat serangan bomb, puing-puing Mercedes Benz Stadium menghimpit banyak orang juga membunuh yang lainnya.
Ada tebing batu kapur sangat tinggi disana.
Beton-beton kuat yang sekarang menjadi puing dan debu-debunya beterbangan kemana saja. Menghimpit paha Daisy Carline temannya sejak berada di bangku SMA, hingga Universitas.
Beberapa teman modelnya dan juga kekasih Carline sedang mengerumuni model cantik berambut pirang bergelombang tersebut. Alan yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah Carline dan membantu dia.
“Hei John apa yang terjadi?” Alan yang baru tiba langsung menanyakan kejadian yang menimpa Daisy.
John Thomson adalah kekasih model cantik itu, “Kutu buku, bukan kah kamu juga bisa melihat? mengapa kamu bertanya, sebaiknya gunakan kepala pintar mu itu untuk mengeluarkan Daisy.”
“Alan, alan....” Carline yang sedang terhimpit di potongan beton memanggil Alan yang baru saja tiba disana.
Ia lalu terduduk dengan kedua lututnya di samping Carline. “Car tampaknya kali ini sungguh tidak ada yang bisa membantu kita.”
“Alan tolonglah, aku sudah tidak bisa merasakan kaki ku.” Carline terus mengeluarkan air mata, selain mengalami syok gadis tersebut mulai berpikir macam-macam karena merasa kedua kakinya telah menjadi kebas dan tak dapat di gerakkan.
John Thomson, Clara Keech, dan teman-teman Carline yang mendengar ucapan gadis dengan rambut bergelombang itu juga termasuk Alan mulai panik. Mereka bahkan tidak tahu sekarang sedang berada dimana. Sinyal Smartphone dan alat-alat elektronik lainnya yang mereka miliki sudah rusak, pecah dan tidak terpakai.
Hanya milik Alan saja yang masih hidup dan bisa di buka. Dengan cepat John mengambil Smartphone yang baru dikeluarkan Alan dari kantong celana jeans hitam miliknya.
“Hei John cepat kembalikan,” Alan menjadi kesal kepada pria tersebut.
Mereka berdua saling memperebutkan Smartphone tersebut, ketika baru beberapa detik saja bersentuhan jari juga tangan. Kilasan aneh masuk ke kepala Alan. “Hei kutu buku, cepat berikan hp mu aku harus menelepon 911 segera.”
Sambil terus menarik smartphone miliknya Alan melawan John yang bertubuh lebih kekar dan tinggi darinya. “Aku juga akan melakukannya tanpa kamu minta itulah mengapa aku mengeluarkan hp ku, lepaskan John.” Alan melawan.
Perebutan itu hanya terjadi dalam beberapa detik, sebab kepala Alan langsung tiba-tiba menjadi pusing dan seluruh Dunia terasa berputar.
“Ah, apa yang terjadi.” Ia melepaskan tangannya segera.
Beberapa Flashback tergambar di memori Alan Savory. Kehidupan penuh dari John Thompson sejak Pria berkulit putih dengan rambut cokelat itu tadi bersentuhan dengannya.
“Eh, apa ini? apa yang terjadi.” Alan terperangah dan tercengang sebab merasakan hal tersebut.
Saat kejadian semakin rumit, John yang telah berhasil merebut HP dari tangan Alan. Sekarang memaksa pria berbadan kurus itu untuk memberikan kode agar dia dapat membuka Smartphone berlambang buah termakan itu.
“Berikan kode untuk membuka hand phone mu...!”
Pemuda yang di lihat John sedang memegang kedua kepalanya sambil membungkuk itu, tiba-tiba berdiri dan mencengkeram kerah pakaian t-shirt milik John.
“Kamu.....” Mata Alan berapi-api menatap John.
“Lepaskan tanganmu jika kamu masih menginginkan tangan itu dapat di gunakan.” John meneriaki Alan yang terlihat seperti orang gila.
Melihat itu Clara melerai mereka berdua, “Alan lepaskan tanganmu, John hanya ingin bertindak cepat di sini.”
Clara Keech yang juga merupakan model sahabat Daisy melerai mereka berdua. Melihat kelakuan Clara, Alan segera menepis dan memegang tangan Clara, dia tiba-tiba mencekik leher Clara. “Kamu....Kalian, keparat terkutuk.”
Sambil melihat ke arah John kemudian melihat wajah Clara yang kesulitan bernafas, Alan membuat wajah yang membuat marah John.
Sekali lagi Flashback dan gambaran kenangan milik orang lain yang sekarang dia cekik masuk lagi ke kepalanya, seolah itu juga adalah memori miliknya sendiri.
“Bodoh...!!”
John melepaskan pukulannya tepat menuju rahang Alan Savory, pukulan itu membuat Alan terjatuh menimpa tubuh
Carline yang sedang menahan sakit.
**
Alan Savory adalah seorang pria biasa dari keluarga miskin, ibunya telah meninggal sementara ayahnya yang menikah lagi mengikuti istrinya yang sekarang adalah Ibu tiri Alan.
Wanita itu memiliki seorang anak perempuan yang dia miliki dari pernikahan pertamanya, Clara Keech sendiri adalah anak dari Ibu tiri Alan. Dia sebenarnya tidak terlalu memikirkan hubungan keluarga yang ada.
Dari sejak Junior High, Alan Savory telah bisa hidup mandiri. Ia bersekolah dengan beasiswa bagi pelajar berprestasi. Untuk kehidupan keperluan sehari-harinya Alan bekerja sambilan di sebuah rumah makan sebagai pengantar makanan dan Cleaning Service.
Ia juga memberikan Les Matematika dan beberapa pelajaran bahasa kepada beberapa anak orang kaya.
Keperluan Pendidikan untuk Clara Keech membuat ayah Alan tidak bisa membagi keuangannya yang telah lama tidak stabil. Untuk alasan itulah Alan Savory pergi dari rumah dan tinggal di asrama sekolah.
Tinggal sendiri tanpa modal tidak membuat Alan menjadi patah semangat untuk menyelesaikan pendidikan yang merupakan satu-satunya bakat alami miliknya.
Hingga di bangku kuliah di MIT, USA. Alan terus mendapat banyak penghargaan dimana dia yang mengambil jurusan Teknik Mesin ini berhasil membuat beberapa terobosan dalam pengefesiensian kinerja berbagai mesin, juga membuat proyek baru dalam membuat mesin-mesin dan robot.
Hari itu sebenarnya Alan tidak ingin untuk menonton pertandingan sepak bola yang mereka saksikan di Stadion Mercedes Bens di kota Atlanta sebab mereka harus menempuh ratusan kilometer dari Kota Cambridge dimana mereka tinggal.
Belum lagi musim sekarang kasus Covid-19 masih banyak bertambah di USA. Setelah melakukan prosedur New Normal stadion-stadion kembali di buka di USA pada tahun 2023. Tetapi Stadion yang dulu dapat dipenuhi puluhan ribu orang hanya di isi seribu orang lebih saja dihari kecelakaan itu menimpa mereka.
**
Sinkhole berdiameter raksasa yang memakan seluruh bangunan dari Stadion Mercedes Bens bukanlah kasus biasa. Ketika bencana itu terjadi Alan dan orang-orang disana seperti dibawa ke lubang dalam tanpa batas. Melayang-layang beberapa saat di ruang hampa gelap.
Hanya cahaya-cahaya dari lampu di Stadion yang hancur yang memberi penerangan di ruang hampa itu. Lampu-lampu stadion itu memiliki beberapa baterai di dalamnya, sehingga jika saja ada terjadi pemadaman maka neon-neon putih itu otomatis hidup sendiri jika terlepas dari grid yang memberinya energi.
**
“Alan, Alan.... Alan Savory bangun.”
Suara Carline yang terbaring di sampingnya memanggil Alan, tangan lembut gadis itu memegang wajah Alan dengan lembut, saat ia terbangun dia dapat melihat tidak ada lagi orang-orang disana.
Hujan rintik juga telah membasahi mereka berdua. “Daisy, dimana mereka?” Alan terkejut melihat sekeliling situ sudah tidak ada lagi orang-orang banyak.
“Alan, mereka meninggalkan kita, lokasi kita sekarang sedang tidak stabil, kemungkinan hujan ini dapat membuat longsor.”
“Sebaiknya kamu juga pergi dari sini, tinggalkan aku sendirian.” Daisy menatap Alan dengan penuh kesedihan.
“Apa yang kamu katakan Carl, kita harus cepat mengeluarkan mu dari sini.” Alan yang telah menjawab perkataan Carline lalu duduk.
Karena Carline telah menyentuhnya tadi, kejadian flashback tentang kehidupan Carline juga terjadi kepada Alan, sebab itu lah dia agak terlambat untuk bangkit dari posisi tidurnya.
Smartphone berkamera tiga yang tidak bisa di buka oleh John didapati Alan terjatuh dari dadanya ketika ia duduk.
Dia lalu melihat sekitar mencari beberapa potongan besi agar bisa digunakan untuk menuas kepingan besar tembok yang menahan kaki Daisy.
“Sial, ini terlalu berat.” Alan yang mencoba menuas tembok tersebut terlihat kesulitan. Sedangkan Hujan sudah semakin kuat turun membasahi tebing batu dan tanah kering di sekitar mereka.
“Alan pergilah tempat ini memang tidak stabil, karena di hantam oleh puing-puing membuat tanah dan bukit-bukti di sini menjadi retak, retakan itu tidak stabil.”
“Sebaiknya kamu tinggalkan aku” Carline berbicara dengan naga nyaring, seakan benar-benar ingin mengusir Alan.
“Hey Carl apa maksudmu? jika aku pergi seperti orang-orang itu, seumur hidupku hanya akan menyesali perbuatanku nanti, berhentilah mencoba kuat dan hendak menanggungnya sendiri.” Sambil terus menggali tanah keras di sekitar bagian kaki Carline, Alan berbicara tanpa memandang Carline sedikitpun.
Hujan semakin lebat, bukit batu kokoh yang retak akibat hantaman puing-puing beton bangunan yang terbawa bersama lubang hitam pengisap menjadi tidak stabil.
Maka Longsor-longsor kecil mulai terjadi di sekitar mereka.
Air yang berasal dari gundukan tanah yang lebih tinggi pun telah turun kebagian bawah lembah, dan mulai menggenang mereka berdua. Tubuh Daisy Carline mulai terendam.
“Alan, pergilah berhenti menggali,” Carline mulai panik dan terus meneriaki temannya itu.
“Sedikit lagi....” Setelah berkata seperti itu dia memindahkan 2 pecahan beton untuk menyangga tempat dimana kaki Carline terhimpit.
Sebuah Jaket dia ikatkan pada besi di bagian atas beton, lalu mulai menyuruh gadis itu untuk mencengkeram nya. “Carl, ambil posisi duduk dan pegang jaket ini untuk menopang tubuh mu.”
Krakk...! Beberapa tebing bukit di sekitar mereka mulai runtuh.
“Alan jangan bodoh, tinggalkan aku,” gadis itu terus menolak.
“Lakukan saja atau kita berdua akan mati di sini.” Alan mendesak gadis itu sambil mulai membantu mendudukkan Daisy.
Dengan bantuan Alan, sekarang Daisy sudah dalam posisi duduk, kemudian dengan bar besi berbentuk tongkat di tangannya Alan menggali tempat Daisy tadi berbaring, membentuk cekungan di tengah air yang terus membanjiri mereka.
Karena Air yang membanjir tempat itu mulai lebih mudah bagi Alan untuk mengeruk tanah, di bagian bawah tubuh Daisy sehingga membuatnya bisa menarik gadis cantik itu dengan mudah.
“Cepat pegangan, air mulai meninggi.” Daisy yang tadi tidak memiliki harapan mulai memeluk tubuh Alan yang kurus dari belakang. Lalu dengan sedikit susah payah Alan membawa Daisy menuju tempat yang lebih tinggi.
“Alan, kamu hanya akan kesusahan membawa orang lumpuh seperti ku, cepat pergi saja.” Daisy terus mendesak Pria itu.
“Aku tidak akan meninggalkan calon istri masa depan ku, walaupun mengalami kesusahan seperti ini.”
Ucapan Alan itu tampaknya menjadi penutup mulut yang mujarab, selama mencari tempat berteduh dia sama sekali tidak pernah sekalipun mendapat keluhan lagi dari Daisy Carline, gadis yang telah dia cintai dari sejak masa Sekolah Menengah Atas hingga gadis itu menjadi seorang model dan mulai jarang bergaul lagi bersama Alan.
“Tampaknya kita harus tidur bersama malam ini, Goa ini sangat kecil jadi tidak mungkin bisa menampung orang jika posisi mereka berjauhan.” ucapan Alan mendapat reaksi keras dari Daisy, gadis itu memukul pipinya dengan tapakan dari kedua arah kiri dan kanan.
“Aw...Carlie...”
“Aw..it hurt..”
***
TAMAT
Thanks XL