1 November 2024
“Haduh! Ini kenapa semua soalnya menolak untuk dikerjakan, sih?!”
Seorang siswa yang duduk di salah satu bangku dalam perpustakaan mengeluh pelan. Bibirnya terus berkomat-kamit tidak jelas sembari memandang frustasi soal dihadapannya. Entah itu soal Kimia, Matematika, atau Biologi, Kana tidak tahu. Wanita berumur dua puluh satu itu hanya tersenyum mendapati siswa yang mengeluh tadi.
Pikirannya melayang ketika ia berada di masa-masa yang sama dengan siswa itu. Masa dimana semua kenangan masa remaja yang manis terbentuk untuk gadis seusia siswa tak dikenal di hadapannya. Akan tetapi hampir semuanya di masa tersebut tidaklah manis bagi Kana. Si pendiam adalah julukan yang tepat untuk wanita itu kala ia duduk di bangku SMA.
Ia sangat berterima kasih pada sahabatnya Gavin yang dapat membuat masa SMA nya sedikit berwarna, serta laki-laki itu.
Mahesa Krisna Lesmana.
Kris. Laki-laki yang membuat Kana memiliki satu momen di masa remaja serta pelajaran hidup yang tak bisa ia lupakan sampai saat ini. Laki-laki yang juga membuat Kana tidak bisa lepas dari perpustakaan SMA-nya sampai saat ini. Entah sekarang apa kabar dengan Kris. Ia benar-benar menghilang seperti ditelan bumi setelah hari itu. Di tanggal yang sama dengan hari ini.
***
1 November 2020
“Kana? Halo? Kamu perhatikan saya tidak?” Kedua tangan Bu Eren mengibas tepat di depan wajah gadis yang tengah berani melamun di waktu jam pelajaran itu. Manik gadis itu mengerjap sesaat, lalu memfokuskan pengelihatannya pada wajah garang Bu Eren. Satu lengkungan canggung terbentuk di bibir mungil gadis itu.
Gavin yang notabennya sahabat ‘menyebalkan’ Kana malah mengejeknya habis-habisan dengan mimik wajahnya yang aneh ketika gadis itu memohon bantuan melalui kontak mata. Memang seharusnya Kana tahu tidak ada gunanya juga melirik padanya. “Keluar! Kerjakan soal yang ada di atas meja kerja saya di ruang guru. Kamu baru boleh masuk ke kelas setelah mengumpulkan hasilnya pada saya,”
Habis sudah Kanaya Larasati terbakar amarah Ibu Eren. Soal-soal itu bukanlah soal yang biasa! Soal ini hanya dikhususkan untuk siswa yang pikirannya berpetualang ke dunia lain ketika pelajaran Matematika di mulai. Yap, soal olimpiade. Otak tak terlatih Kana juga tidak bisa diandalkan.
“Ta-tapi, bu. Untuk pelajaran berikutnya bagaimana?”
“Ya, tinggal tidak ikut saja. Nanti saya juga akan bilang ke guru lain kalau kamu, Kanaya Larasati sedang menjalankan hukuman dari saya. Mudah kan?”
“Bu, tapi kan –“
“Berani bicara satu kata lagi, saya bakal tambahin soalnya,”
Bibir Kana langsung saja mengatup rapat. Ia segera saja mengangguk lalu membungkuk sebentar sebelum akhirnya keluar dari ruang kelas itu. Hari yang sangat sial.
***
“Aduuuh ini soal apaan, sih?!”
Entah sudah keberapa kali ia mengeluh dan mengomel sendirian di perpustakaan. Untung saja penjaga perpustakaan sedang keluar sebentar dan menitipkan perpustakaan pada Kana yang datang dengan seluruh aura mencekam disekitarnya. Omong-omong sudah dua jam ia disini tanpa menyelesaikan satu soal pun.
Sering kali ia juga memainkan kursi empuk penjaga perpustakaan dengan menggesernya kesana-kemari, dan kalau sudah bosan bakal memutarnya hingga gadis itu pusing sendiri.
"Hhhh...apa yang harus kulakukan kakek?”
Pikiran gadis itu melayang ke kejadian beberapa bulan lalu ketika gadis itu rela melepas cita-cita hanya karena orangtuanya merasa cita-citanya adalah hal yang buruk. Kemana juga ia harus mengadu semua masalah yang menjadi beban pikirannya? Orang terkasih yang sering menjadi pusat penampungan segala keluh kesahnya sudah berpulang untuk selamanya.
Seseorang yang berhasil membuatnya kuat menghadapi pahitnya hidup untuk pertama kalinya di umur tiga belas tahun. Pelajaran hidup dari kakeknya lah dan memori bahagia yang pernah mereka bentuk yang dapat membuat gadis itu masih dapat berdiri tegap sekarang.
Orangtuanya?
Entahlah, mereka sibuk membandingkan gadis itu dengan kakaknya yang serba bisa dan berotak cerdas. Orangtua gadis itu tak pernah sekalipun mendengarkan apa yang ingin dilakukannya di masa depan. Alhasil sekarang gadis itu sudah tak peduli lagi dengan masa depan, ia membiarkan orangtuanya mengontrol dirinya ke arah yang mereka inginkan. Kana lelah.
“Memangnya kakekmu ada disini? Kenapa kau bicara sendirian?”
“Tidak, beliau sudah meninggal satu tahun yang lalu,”
Kana menghela napasnya, lalu sadar kalau sedari tadi memang dia sendirian. Langsung saja gadis itu menoleh ke sumber suara dengan jantung yang berdebar kencang karena kaget. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah seorang siswa laki-laki yang sedang menopang kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya seakan penasaran dengan apa yang dibicarakan Kana tadi.
“Kenapa malah kaget? Aku tanya kenapa kau bicara sendirian? Apa kau bisa berkomunikasi dengan hantu?”
“T-tidak bisa! Kenapa kau berpikiran seperti itu?” Jawab Kana gugup. Pasalnya gadis itu baru menyadari sesuatu yang lain. Ia sedang berbicara dengan si ranking satu di sekolah ini. Krisna. “Yah, tidak bisa, ya. Kupikir kau bisa melakukannya, kan aku bisa tidak kesepian saat mungkin saja setelah ini menjadi hantu gentayangan,”
Laki-laki ini aneh, kenapa juga baru pertama kali bertemu membahas tentang dirinya yang akan menjadi hantu. Apa hubungannya coba?
“Ah, kau pasti penasaran kenapa aku membahas ini tiba-tiba,” ujar Kris dengan wajah berbinar dan siap bercerita. ‘Sebenarnya nggak, sih’ ujar benak Kana yang lebih jujur daripada bibirnya. “Hari ini aku akan menjalani operasi yang sangat besar. Kata dokter Silvia aku mungkin bisa saja pergi hari ini,” cerita Kris dengan semangat.
‘Kenapa ia menceritakan hal yang menyedihkan seperti ini dengan semangat. Tapi, tunggu, apa Kris selama ini punya penyakit?’ gumam Kana lagi dalam hati. “Apa selama ini kau punya penyakit kronis?”
“Yap, seperti itulah,” ujarnya tenang, lalu fokus pada selembar kertas yang terlihat tidak asing di mata Kana. Lembar kertas yang sedari tadi hanya dipandang Kana dengan frustasi. “Hukuman dari Bu Eren?” Kris mengangguk memberikan jawaban ‘ya’. “Kenapa anak ranking satu sepertimu bisa dapat hukuman? Apa kau ingin merasakan hukuman seperti ini sekali sebelum mungkin nanti kau akan pergi?” Tanya Kana penasaran sekaligus kaget saat ia berani menanyakan pertanyaan yang mungkin bisa menimbulkan salah paham. Ia hanya penasaran apakah benar semua orang yang akan meninggal di usia muda memiliki keinginan yang sama seperti melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya meskipun itu aneh. Rasa penasaran gadis itu muncul setelah membaca beberapa novel dan melihat film yang alur ceritanya hampir sama seperti itu. Ya, Kana terlalu terbawa suasana dalam film maupun novel itu.
“Apa? Nggak, memangnya siapa yang mau mati? Ini memang karena aku melamun di kelas,”
“Tapi, bukannya kamu sudah berandai-andai jadi hantu tadi?”
“Memangnya kalau aku sudah berandai-andai jadi hantu gitu, apa artinya aku menyerah untuk hidup? Nggak. Aku nggak nyerah sama sekali,”
Kana terdiam lama mendengar hal itu, ada yang mengganjal rasanya di benak gadis itu. “Mungkin memang presentase ku untuk hidup lebih sedikit dibandingkan dengan presentaseku untuk mati. Tapi aku percaya satu hal, di dunia ini pasti terisi dengan banyak hal yang mungkin termasuk aku bisa hidup lebih lama lagi. Aku hanya harus terus memohon pada Tuhan dan berusaha untuk sembuh semaksimal mungkin, hasil dari usaha dan do’a akan ku serahkan pada Tuhan,”
Sekali lagi Kana merasakan sesuatu yang mengganjal, dadanya sesak. Ia mendengar kalimat yang sudah tidak ia percayai lagi setelah kakeknya meninggal. ‘Tidak ada yang tidak mungkin’ adalah kalimat yang omong kosong baginya sekarang.
“Ha..kau orang yang sangat positif, ya?” Hanya itu akhirnya kalimat yang dikeluarkan Kana, ia mengurungkan niatnya untuk membantah pernyataan Kris.
“Nggak juga. Awalnya aku adalah orang yang pesimis dan aku juga pernah tidak mau meminum rutin obatku karena kalau sebentar lagi adalah waktuku yasudah, toh presentase yang ada sudah membuktikan. Aku tetap pada prinsip seperti itu, sampai suatu hari aku melihat seorang anak kuliahan, orang kantoran, dua orang yang menikah, satu keluarga yang liburan, dan dua orang yang menua bersama dengan cinta yang tak pernah menua. Aku penasaran bagaimana rasanya menjalani semua hal itu, dan aku ingin menjadi seperti itu,” Kris tersenyum seakan membayangkan masa depannya yang pasti akan ada. Tangannya tak pernah berhenti menulis rumus-rumus yang mungkin sudah ia hafal di luar kepala.
“Apakah diagnosa dan hasil presentasimu tidak membuatmu takut jika kemungkinan hal itu tak akan pernah terjadi?”
“Apa kau tahu? Menjadikan diri kita seseorang seperti yang kita inginkan adalah kebahagiaan. Kau hanya harus fokus untuk menjadikan dirimu seperti apa yang kau inginkan, tidak perlu melihat hal lain yang akhirnya membuat dirimu menjadi orang lain. Orang yang kau benci. Aku yakin dengan hidup seperti itu aku tak akan menyesal.” Ujar Kris sembari menatap manik hazel Kana yang sedaritadi menatapnya tanpa berkedip. Kris bangkit dan meraih ponsel Kana, lalu menekan fitur kamera.
Kana membiarkan Kris berlaku seenaknya, ia tenggelam dalam pikirannya sekarang. Rasanya ia seperti tertampar sesuatu barusan. Ia sudah mengubur cita-citanya begitu dalam untuk memenuhi ambisi orangtuanya. Untuk mendapat pujian setidaknya seumur hidup sekali dari orangtuanya. Tapi, ia melupakan kebahagiaannya.
Apakah ia akan bahagia jika ia tidak berusaha meraih apa yang ia inginkan?
Apakah ia bahagia jika tidak berhasil membuktikan bahwa kakak perempuannya dan dirinya jelaslah dua orang yang tak bisa disamakan?
Tidak. Pastinya tidak akan pernah.
“Sudah dulu, ya. Aku mau mengumpulkan ini, dan karena aku baik aku memberimu contekan,” Kris menyodorkan ponsel Kana yang ia pakai tadi untuk memotret jawabannya. Kana melirik jam pada ponselnya, ternyata sudah tiga puluh menit berlalu. Kris benar-benar hebat bisa menyelesaikan nya secepat ini.
“Ah, ya. Apabila aku nantinya ditakdirkan untuk mati, aku juga akan menerimanya dengan senang karena aku sudah berusaha setidaknya. Karena kematian mengerikan sesungguhnya yang pernah kurasakan adalah saat aku menyerah.” Kata Kris tanpa melunturkan senyumannya sedikitpun.
Kana terdiam sedikit lama. Ia sudah menemukan jawabannya sekarang. Jawaban yang tak pernah sekuat ini, lebih tepatnya jawaban yang tak pernah mengandung opini sekuat ini.
“Krisna, apabila kau ditakdirkan untuk hidup, bisakah kita bertemu lagi suatu hari? Di tempat ini, di bulan ini, dan pada tanggal ini juga? Aku mau menyampaikan alasan kenapa aku harus berterima kasih padamu untuk tiga puluh menit terakhir. Mau kah kau menambahkan hal ini dalam daftar keinginanmu jika kau di takdirkan hidup?”
Kris tersenyum lembut, “Asalkan contekan itu bukanlah alasannya. Aku pamit, do’akan aku dan jangan berharap kalau kau melihat sosok ini untuk terakhir kalinya,”
Kenapa rasanya Kana yang ingin menangis, padahal yang harusnya mengalami kegugupan Kris, yang harus bertahan untuk hidup dia nantinya. Setelah itu Kris benar-benar pergi meninggalkan perpustakaan.
Kana tidak tahu saat itu adalah saat terakhir kalinya ia melihat Kris. Ia tak pernah muncul saat kelulusan. Tak ada kabar darinya. Seperti hilang di telan bumi.
***
1 November 2024
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya Kana beres-beres dan merapikan beberapa perbuatan siswa nakal yang tak mengembalikan buku pada tempat semula. Maniknya melirik ke arah meja besar yang biasanya digunakan untuk diskusi kelompok.
Banyak sekali buku berserakan disana. Wanita berumur dua puluh satu itu menghela napas panjang sebelum akhirnya membereskan semua bukunya dan mengembalikan buku-buku itu di rak semula.
“Hari ini tanggal 1 bulan November. Aku masih disini Kris, sudah empat tahun lamanya kau tidak muncul lagi. Apa artinya kau memang benar sudah menjadi hantu? Andai aku bisa berkomunikasi dengan hantu, sudah kupastikan aku akan mengatakan alasan itu. Aku yakin hantumu ada disekitarku karena penasaran tentang apa yang akan aku katakan,” Kana terkekeh pelan. Perlahan pengelihatannya memburam karena air mata yang sudah terkumpul.
“Wah, keterlaluan, ya. Bahkan belum ada pemberitahuan aku mati kau sudah menangis?”
Kana dengan cepat membalik badannya, ia mendapati seorang pria dengan setelan jas sedang menopang wajah dengan kedua tangannya diatas meja kerja wanita itu. Lolos sudah air mata Kana, sudah berapa waktu yang ia habiskan hanya untuk menunggu seorang Krisna?
Mereka mungkin hanya bertemu tiga puluh menit pada hari itu, tapi hal itu sangatlah berharga bagi keduanya. Sejujurnya empat tahun yang lalu, Kris hanya berniat untuk berkenalan sekaligus mengucapkan selamat tinggal pada gadis kikuk yang ia sukai dalam diam karena suatu hal. Sedangkan Kana? Berkat Kris ia menemukan jalan keluar dari masalahnya meskipun ada sedikit pertentangan.
“Ayo, sekarang aku akan mendengarkan alasanmu,”
***