Siang itu, cuaca sangat cerah,
ketika tiba tiba ada suara petir menggelegar, di sertai kilat.
duar!!! brak!!
Seketika warga yang berada di tempat itu, menghentikan aktifitasnya dan berlari menuju arah suara dentuman tadi.
Warga tampak terkejut melihat sebatang pohon besar tumbang akibat tersambar petir, dan menghantam seorang pemuda,
warga yang melihat kejadian itu, berusaha menolong pemuda tersebut, tapi tangan mereka terasa kesetrum.
Hujan turun dengan deras,
Beberapa warga masih berusaha menyingkirkan batang pohon dan menolong pemuda yang berada di bawahnya,
Setelah hampir satu jam, Akhirnya merekapun berhasil menyingkirkan pohon itu dan mengangkat pemuda tersebut ke salah satu rumah warga,
Pemuda itu masih hidup,
namun kondisinya sudah sangat parah, nafasnya sudah tersengal sengal,
"Sepertinya anak ini sedang mengalami sakaratul mau"
kata salah satu warga,
"Cepat panggil pak ustadz"
salah satu warga pun, bergegas memanggil pak ustadz, tidak lama kemudian pak ustad datang,
lalu mencoba membimbing pemuda yang sekarat tadi,
"ikuti saya ya, pak ustadz mengucapkan dua kalimat syahadat...
"namun pemuda tersebut merasa sangat kesulitan dan sangat sangat kesakitan sekali.
Melihat hal itu, salah satu warga yang bernama Supri, berinisiatif, mencari identitas pemuda tersebut,
di kantong baju dan celananya,
warga pun menemukan KTP atas nama Ahmad.
usia 19 tahun
warga gunung Sugih,
Supri, mencoba untuk mencari alamat yang tertera di Kartu identitas tersebut,
karna memang Alamat yang di maksud itu tidak jauh dari perkampungan dukuh,
hanya perlu waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di kampung tersebut,
Supri pun bergegas menghidupkan mesin mobil, dan melajukan mobilnya ke alamat tersebut, Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, Akhirnya Supri, sampai di alamat yang dituju
"Assalamualaikum!!!...
Waalaikumsalam!!
sahut seseorang dari dalam rumah sederhana itu.
seorang nenek, berusia 70 tahun, keluar dari dalam rumah,
Supri menyalami nenek itu, sebut saja namanya Gersia.
"Ada keperluan apa nak datang ke mari?
dari mana ini?
tanya nenek Gersia dengan senyuman yang tulus.
Saya Supri nek, dari kampung sebelah, kampung Dukuh,
kedatangan saya kemari, ingin bertanya soal anak ini nek, apa nenek kenal.
"Anton memberikan KTP Ahmad.
Raut wajah nenek Gersia langsung berubah, setelah melihat Foto yang ada di KTP itu.
wajahnya yang tadinya tersenyum, kini terlihat marah.
Di mana Nak itu sekarang?
Apa dia masih hidup?
Ataw sudah mati!? "Tanya nenek Gersia dengan gemetar menahan Marah.
Dia itu cucu saya.
Tapi dia sangat kurang ajar pada ibunya,
setiap hari dia menyiksa ibunya dengan ulahnya itu!
dia juga menyiksa saya, neneknya, menyiksa kakeknya dan menyiksa semua orang yang ada di rumah ini.
jelas Nenek Gersia sambil menangis.
Entah mau jadi apa anak itu,
setelah Ayahnya meninggal dunia, dia menjadi anak yang sulit di atur!!
tidak mau sekolah dan kerjaan nya hanya keluyuran, nongkrong bareng teman temanya
nanti pulang pulang minta duit,.
kalau gak di kasih, dia ngamuk!!
merusak semua barang yang ada di rumah ini.
cerita Mbah Gersiah, masih dalam tangisnya.
Supri tertegun,
mendengarkan cerita dari nenek yang sudah renta itu,
" ia merasa sangat iba, seharusnya nenek Gersia menikmati usia tua dengan tenang dan damai, bukan malah sebaliknya",
ketika nenek Gersia ingin melanjutkan ceritanya, tiba tiba seorang kakek yang usianya tidak jauh dari nenek Gersia, keluar dari dalam rumah,
dan ikut duduk di teras depan rumahnya.
"cucu saya itu memang sudah kelewatan mas"
kata kakek Hasan, suami nenek Gersia.
"saya udah tobat nasehatin dia,
"Dia pernah mau bunuh saya mas, gara gara minta uang 1 juta, gak di kasih,
"sebenernya bukan gak mau ngasih mas, sekarang saya punya duit sebanyak itu dari mana,
orang saya kerjanya cuma jualan pisang,
Supri semakin merasa iba dengan cerita kedua orang tua renta itu,
Ini kaca meja pecah, kaca jendela pecah, itu ulah dia mas, ulahnya si Ahmad, cucu saya, ya begitu, asal minta duit gak di kasih, dia ngamuk!!
Semua keluarga sudah berusaha menasehati dia mas, tapi gak mempan, anaknya gak takut sama siapapun, makanya keluarga sudah males, ngurusin dia!!
kata kakek Hasan dengan wajah pilu.
sudah 3 hari ini ,dia gak pulang ke rumah, itu kemarin di usir sama ibunya mas,
setiap hari dia mintain uang sama ibunya,
"Ibunya Ahmad bekerja sebagai asisten rumah tangga,
gajinya tiap bulan, dari hasil jerih payahnya, harus dia relakan di potong untuk membayar hutang Ahmad pada majikan nya.
waktu itu, Ahmad meminta ibunya untuk membelikan nya Handphone,
karna ibunya tidak punya uang, Ahmad pun membeli handphone baru dengan cara kredit.
"Ahmad juga membeli sepeda motornya, dengan cara kredit.
dan semua itu, ibunya yang membayar cicilan
sedangkan Ahmad hanya makan, tidur, dan keluyuran gak jelas.
siang itu Ahmad pulang ke rumah, setelah semalaman menginap di rumah teman nya, dia meminta uang 5rarus ribu kepada ibunya, karna belum gajian, ibunya pun tidak mempunyai uang.
Ahmad marah marah, menendang rak. piring hingga pecah, .dan mendorong ibunya, sampai tersungkur di lantai,
Ibunya mencoba memberi pengertian kepada Ahmad, tapi tidak di hiraukan,
Ahmat malah semakin marah, dan menendang perut ibunya,
Akibatnya ibunya pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit.
meihat kejadian itu,
pakdenya Ahmad murka,
dia mengusir Ahmad dari rumahnya,.
pergi kamu dari sini!!
jangan pulang lagi ke rumah ini!!
bentak Pakdenya.
Iya, gua pergi,
gak Susi gua pulang ke rumah reyot kayak gini
daripada gua pulang luar muka kalian lebih baik gua kesamber petir!!!
kata Ahmad, sambil melajukan motornya.
,Kakek dan neneknya yang mendengar Ahmad berkata seperti itu, menyahuti.
Semoga Allah mengabulkan doamu mad.
Begitulah ceritanya nak Supri.
"Setelah itu, Ahmad tidak pulang lagi ke rumah ini,
"sudah 3 hari, dia gak pulang"
kata nenek Gersiah.
Supri pun menceritakan keadaan Ahmad sekarang,
mendengar itu, kakek dan nenek Gersia tidak percaya, mereka masih enggan bertemu dengan Ahmad, mereka belum bisa melupakan dan memaafkan sikap buruk Ahmad.
Baiklah kek..nek, kalau memang, kakek dan nenek belum mau ikut saya, biar nanti saya bicarakan dengan pak Ustad, apakah si Ahmad ini mau di bakar hidup hidup untuk meringankan sakaratul mautnya, ataw gimana. itu terserah pak ustadz .
"Mendengar itu, akhirnya kakek nenek dan ibunya Ahmad yang kebetulan sudah pulang dari kerjanya,
mau ikut dengan Supri, untuk menjemput Ahmad pulang dan memaafkan nya,
Sementara di Desa Dukuh,
Ahmad masih meregang nyawa, dengan mulutnya yang masih ternganga, matanya melotot merasakan sakit yang luar biasa,
sungguh pemandangan yang sangat miris.
Mereka pun sampai di tempat,
Ibu Ahmad segera menghampiri putranya itu,
ia menangis pilu .
namun apa daya.. selain harus ikhlas menerima kenyataan
Ibunya berbisik lembut di telinga Ahmad"Nak, Ibu sudah memaafkanmu,
kalau kamu mau pergi,
pergilah nak, ibu ikhlas,
" kakek, nenek dan Pakdenya pun melakukan hal yang sama.
mereka semua sudah memaafkan Ahmad,
sesaat kemudian, terdengar tarikan nafas berat dari mulut Ahmad.
dan Inna Lillahi wa Inna illahi Rojiun.
Ahmad meninggal dunia.
TAMAT
Hallo semuanya....🤗🤗🤗
terima kasih sudah mau membaca ceritaku.
kalau kalian suka dengan kisahnya
jangan lupa di like
di comen
dan kasih bintang ya😊🙏
Thank you