JISOO hanya bisa memandang Genta dari kejauhan. Sesuatu terasa lepas dari jiwanya. Semacam perasaan kosong yang tidak nyaman.
*Ketika itu, entah apa yang membuat ibunya dan orang tua SEOKJIN melontarkan kesepakatan untuk menjodohkannya dengan Seokjin. Konyol sekali! Tidak masuk akal! Ia masih kelas 3 SMA, tetapi sudah disuruh menjalin hubungan serius dengan seseorang yang tidak pernah menghadirkan debaran asing di dadanya.
Jisoo belum mau terikat. Lagi pula, apa yang menarik dari Seokjin selain tampang dan kecerdasannya? Ia cenderung tertutup dan pendiam. Ia lebih banyak mengisi waktunya dengan membaca dan belajar. Wajar bila ia mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu tiga tahun😁😊
Untuknya, itu bukan sesuatu yang istimewa. Alangkah membosankannya bila harus melewatkan waktu dengan sosok seperti itu. Tidak punya pendirian dan selalu manut pada orang tua. Mau saja dijodohkan😕☹!
"Aku tahu, ini tidak mudah buatmu,” ujar Seokjin lirih. Matanya menatap Jisoo😊🙄lembut. Menyiratkan perasaan kasih yang teduh.
Jisoo cuma bisa membisu🤐🤐. Menghindari tatapan Seokjin dengan perasaan benci yang tiba-tiba menyerbunya.
"Kamu yakin mencintaiku?” tanya Jisoo tanpa menatap wajah😒😒 Seokjin.
"Bukan cuma perasaan sayang karena sejak kecil kita biasa melewatkan waktu bersama😊🙂?” lanjutnya.
Seokjin menggeleng, tersenyum tipis😌.
"Awalnya memang perasaan sayang seorang kakak pada adiknya. Entah kapan, aku merasakan perasaan lain tumbuh di hatiku🖤.”
"Karena itu kamu tidak menolak perjodohan ini😕? Jangan … bukan kamu yang mengusulkan perjodohan ini, ‘kan?” tuding Jisoo gusar.
"Apa ada seseorang yang kamu sukai😯?” tanyanya lirih.
"Aku belum memikirkannya. Aku hanya merasa belum siap menjalin hubungan serius dengan siapa pun😐🙂.”
"Aku tidak memintamu cepat menikah.”
“Aku masih ingin bebas😏."
"Aku tidak akan mengekangmu.”
“Karena kita belum menjalaninya,” tukas Jisoo, menekan emosinya😬😡.
Seokjin menatapnya murung☹😕.
Sesaat, Jisoo merasa tidak enak hati melihatnya😔, tetapi ia tidak boleh goyah.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa,” ujarnya kemudian.
Aku belum mau terikat. Aku tidak mau melihatmu cemburu bila aku jalan dengan cowok lain. Aku juga tidak mau sibuk mencari alasan setiap kali ingin jalan dengan teman-temanku. Aku merasa tidak akan sanggup menjalani semua itu😦😔.”
Seokjin tercenung😕. Cukup lama, hanya keheningan yang memenuhi udara.
“Baiklah, aku mengerti,” ujar Seokjin mengoyak hening. Ada luka yang terlukis samar di matanya.
Entah karena mengerti atau merasa masih punya harapan, Seokjin tidak berubah.
Tidak berusaha menjauh atau menghindarinya, walau sikap Jisoo tidak seperti dulu.
Seokjin memang baik😊, membuat Jisoo merasa bersalah dan tidak jarang menjadi serbasalah menghadapinya. Tidak baik memberi harapan kosong.
Jisoo berencana mendekatkannya dengan Jennie, sahabatnya. Sejak pertama kali bertemu dan berkenalan, Jennie sudah tertarik pada Seokjin. Entah apa yang membuat Jennie tertarik, bahkan tergila-gila pada cowok kutu buku dan kaku itu😅.
"Kamu bercanda?” Bola mata👀👀Jennie melebar.Jisoo memang konyol dan keterlaluan!
“Tidak semudah itu memindahkan hati💞💕seseorang.”
Karena itu kamu harus mendekatinya dari sekarang.”
“Aku ragu. Seokjin cuma perhatian dan sayang padamu😔😖.”
Seokjin menggeleng cepat.
"Aku hanya bisa menganggapnya sebagai kakak. Tidak lebih,😐” tegasnya.
“Selama ini kamu sangat bergantung padanya.”
“Aku tidak pernah meminta semua itu.”
Kamu akan menyesal saat semua perhatian dan keberadaaanya bukan lagi untukmu😞.”
Jisoo😂🤣😂 tertawa.
"Hal itu tak akan terjadi.”
“Karena kamu belum menjalaninya,” protes Jennie. Jennie menyeringai, menatap Jisoo penuh selidik🤓🤔.
“Siapa dia, orang yang membuatmu menolak cowok sebaik Seokjin?”
Jisoi membuang napas😥, kesal😑.
“Harus berapa kali kukatakan kalau aku belum mau terikat.”
Seseorang menyentuh lengannya. Membawanya kembali ke alam nyata.
"Yakin, kamu tidak mau ikut?” Jennie mengulang pertanyaannya, melihat Jisoo masih terdiam🤐😕.
Jisoo mengerjap.
“Aku merasa tidak enak badan,🤒😷” jawabnya, lesu.
Baiklah, kalau begitu kamu langsung pulang, ya? 😊☺Jangan lupa istirahat.”
Jisoo memandang punggung Jennie yang menjauh sampai Seokjin membawanya pergi, meninggalkan perasaan getir di hatinya💘
****
Suara ketukan pintu membuat Jisoo memutar tubuhnya.
“Boleh Tante masuk?”
Jisoo mengangguk dan menggeser duduknya ke sudut tempat tidur. Membiarkan Tante MINYONG duduk di sampingnya.
“Kata Seokjin kamu sakit🤒. Sudah minum obat?” tanya tante Minyong dengan nada cemas.
“Jisio cuma enggak enak badan, tapi sekarang sudah baikan kok😊.”
“Syukurlah, Tante takut tejadi apa-apa denganmu.”
Jisoo cuma mampu tersenyum kecil🙂. Entah mengapa, rasanya sulit sekali menahan perasaan sedihnya.
Selama ini ia telah salah menilai orang tua Seokjin . Mereka orang yang baik dan penuh kasih. Meski ia menolak perjodohan itu, mereka tidak membencinya, bahkan memintanya tinggal di rumah mereka begitu tahu ia tinggal sendiri karena ibunya memutuskan tinggal di Amerika menyusul kerabat yang lain.
Tante Minyong meraih tangan Jisoo dan mengelusnya penuh kasih😊😄.
“Kalau ada apa-apa, cerita sama Tante. Jangan diam dan menyimpannya sendiri. Apalagi kalau nanti Seokjin sudah pergi, Tante pasti sedih dan kesepian😔😢.”
“Kapan Seokjin berangkat ke Amerika-nya, Tante?” tanya Jisoo,😟
“Minggu depan.”
Jisoo tercenung😨.
"Seokjin kok belum bilang apa-apa?” Jisoo tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya😦😢.
“Mungkin Genta takut kamu sedih.”
“Jennie sudah tahu?”
“Tante rasa sudah. Soalnya ia sudah sibuk mencatat dan mempersiapkan barang-barang yang akan Seokjin bawa.”
Jisoo mendesah😦. Sejak Seokjin dan Jennie semakin dekat, perasaan tersingkir itu kerap merasuki pikirannya. Ia sekarang tahu, apa arti kehilangan. Celakanya, ia tidak punya seseorang untuk berbagi resah. Ia menelan kecewanya dengan dada sesak😟😖.
***
Semburat merah berbaur jingga membuat langit senja bagai gadis remaja berhias diri. Semilir angin yang berembus bebas di balkon sesekali membuat rambut Jisoo tersibak. Ia menatap kejauhan dengan mata murung😩. Anyaman resah dan sedih di hatinya terurai begitu saja😭. Ia menghela napas panjang😧, lalu membuangnya perlahan😥. Tetap tidak mampu mengurangi resah di hatinya. Sosok yang selalu memberikan perhatian dan kehangatan lekat di pelupuk matanya. Dadanya kembali berdesir, seiring hati yang terasa getir😢. Begitu menyakitkan ketika akhirnya tahu apa yang ada di hatinya. Saat bayangan Seokjin melintas di pelupuk mata, gelisahnya semakin menumpuk.
“JISOO ….”
Tanpa menoleh pun Jisoo tahu siapa yang datang🚶♂️. Ia mencoba meredam gemuruh halus di dadanya, sebelum memutar tubuhnya. Sekilas matanya menatap Seokjin muram, tetapi setelah itu datar tanpa ekspresi😑. Anehnya, ada sebersit penyesalan yang tiba-tiba hadir di hatinya. Andai ia mau mengalah. Andai ia bicara baik-baik, andai ia mengungkapkan semua isi hatinya …. Ya, begitu banyak pengandaian yang selalu saja berakhir tak sesuai dengan harapannya😢😖
"Aku sengaja tidak memberi tahumu dulu. Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu.”
Jisoo mengerjap, masih sibuk menata debar di dada😑.
“Aku mengerti,” ujar Jisoo.
“Syukurlah, aku lega mendengarnya😥.”
Aku hanya terkejut😲. Aku juga ikut senang😊. Menyenangkan melihatmu kelak kembali dengan meraih gelar MBA-mu,” Jisoo tersenyum😄, patah.
“Kesempatan tidak datang dua kali, ‘kan?”
Ya, kesempatan belum tentu datang lagi. Seharusnya ia juga punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya❤ saat ini. Saat Seokjin ada di hadapannya.
Namun, ia tidak bisa melakukannya. Ia yang mendorongnya pergi untuk menemui hati lain. Menyadari itu, uap panas seketika menyerbu matanya😢😟.
“Sebelum memutuskan, aku telah membicarakannya dengan Jennie.”
Akhirnya, selalu tentang Jennie. Tersingkir dari hati orang yang ternyata berarti, membuat perasaannya terluka😭.
Benar-benar terluka.
“Jaga dirimu baik-baik. Makanlah dengan teratur dan jangan tidur terlalu malam.”
Jisoo kelu. Dadanya terasa menyempit tiba-tiba. Baru sekarang ia menyadari, betapa selama ini seokjin amat baik dan berarti buatnya😣.
Jennie benar, ia merasakan kehilangan itu sejak perhatian dan waktu Seokjin bukan lagi untuknya. Ia hanya bisa menangis😭😭menyadari keputusannya mengabaikan dan menolak Seokjin.
"Aku titip Amah. Kalau ada apa-apa jangan kamu pendam sendiri. Ada Amah dan Jennie untuk teman berbagi☺”
Jisoo tidak sanggup lagi menahan uap panas di matanya. Butiran kaca bening itu pun meluncur di pipinya dan pecah membentuk parit kecil😢😭😭😭😭
Seokjin terkesima melihatnya😊.
"Jangan menangis☺,” Seokjin menyentuh pipi Jisoo, menghapus air matanya dengan hati-hati.
“Aku akan sering berbagi kabar. Lagi pula, ada Jennie.
Ia akan selalu ada untukmu. Kamu bisa menceritakan apa pun padanya,” Seokjin merengkuh pundak Jisoo dan memeluknya erat🤗🤗.
Seharusnya tidak ada air mata. Selama ini ia sendiri yang yang membuat keputusan menganggap Seokjin sebagai kakak. Mengapa ia harus menyimpan perasaan sedih dan kehilangan ini begitu dalam😣?
Jisoo menatap Seokjin murung🙁🙁. Ia tidak rela kehilangan Seokjin, meski hanya untuk sementara.
Andai ia punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, mungkin ia masih bisa memiliki Seokjin. Jisoo yakin masih melihat pijar kasih itu di matanya😢👀.
Terima kasih karena selama ini telah menjadi kakak dan teman yang baik,” ujar Jisoo.
Ia menatap Seokjin lekat-lekat🙄🙄. Ia merasa melihat sebuah jendela yang terbuka lebar sehingga ia bisa mengetahui perasaannya sendiri. Ia masih selalu ingin menjadi orang yang istimewa buat Seokjin. Walau persaudaraan yang ia tawarkan.
Meski ia tahu semua itu akan selalu melukai perasasaannya.
“Seperti harapanmu, kamu akan selalu menjadi adikku,” Seokjin mengusap puncak kepala Jisoo😊.
Jisoo ingin berteriak dan mengatakan kalau ia tidak mau menjadi adik Seokjin, tetapi ia tidak mampu mengucapkannya.
Semua kalimat yang sudah tersimpan di otaknya seakan tersekat di tenggorokan.
“Selama ini kamu telah menjadi bagian penting dari hidupku.
Terima kasih karena telah mengenalkan dan memercayakan Jennie menjadi belahan jiwaku😊. Aku akan selalu menjaga dan mencintainya,” suara Seokjin dalam, penuh tekanan😖.
"Aku meyesalinya. Maaf … seharusnya aku tidak menolak dan mendorongmu pergi.
Aku benar-benar bodoh telah melakukan semua itu. Aku terlambat menyadari perasaanku sendiri.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jisoo.
Entah apa yang mendorongnya membuat kekacauan.
Seokjin terkesima😶. Cuma sesaat, kemudian berubah datar😑, tanpa ekspresi. Lelaki itu mencoba menyembunyikan kecewanya meski dadanya terasa sesak.
Jennie … dia telah melakukan banyak hal untuk hubungan kami,” ujarnya, patah.
“Aku mulai mencintai dan tergantung padanya.” kata seokjin*
“Aku tidak memintamu untuk meninggalkannya. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk mengganggu hubungan kalian,” Jisoo membuang tatapnya ketika 😞mata Seokjin menyergapnya, tajam.
Aku tidak bermaksud membuatmu bimbang😣.
Aku yakin kamu mencintainya. Melihat betapa mudahnya Jennie masuk menjadi bagian dari keluargamu.”
Seokjin tergugu😣😟
Perih yang ia rasakan saat ini melebihi perih yang ia rasakan saat Jisoo menolaknya dulu.
Ia mendesah, menatap kejauhan dengan gamang.
Langit senja mulai berubah warna. Tak lagi cantik layaknya gadis remaja berhias diri. Gelap perlahan-lahan mengusirnya pergi. Seperti perasaannya saat ini.
Sesuatu terasa lepas dari jiwanya.
Maafkan aku, tanpa sengaja telah membuatmu terluka😔,” ujarnya getir, sebelum meninggalkan Jisoo termangu sendiri.
Sesuai perkiraannya, tidak akan mengubah apa pun. Namun, ini lebih baik.
Ia telah mengungkapkan apa yang selama ini meyesakkan dadanya.
Sekarang ia tahu, sekalipun menyakitkan cinta tetap memesona manusia sebagai anugerah terindah😊
Mungkin, sudah saatnya ia merelakan dan melepas Seokjin pergi dari hatinya❤
Walau sulit, ia harus mengikhlaskan apa yang bukan takdirnya.***
"TAMAT"
terimakasih buat yang membacanya
semoga kalian tidak terharu membacanya
karya dariku 😊