-
Ara mengulurkan tangannya seraya tersenyum senang melihat langit berwarna abu, gelap.
Ia bersiap untuk pulang, ekspresi yang awalnya kesal gara-gara teman sekelasnya berubah menjadi senang ketika melihat langit mendung.
Ara kemudian berjalan, meninggalkan lingkungan sekolah tempatnya menimba ilmu.
Jarak rumahnya dengan sekolah terbilang dekat, membuat Ara tidak mau diantar jemput ataupun membawa kendaraan sendiri. Ia memilih berjalan kaki, apalagi daerah di tempat yang Ara lewati selalu ramai. Membuat Ara berani pulang dan pergi ke sekolah sendirian.
Ara mempercepat lari nya kala ia mendengar suara gemuruh petir kecil. Senyuman merekah terukir di bibir Ara sepanjang perjalanannya pulang.
"Aaaaaaaa!" Ara memekik seraya menutup mata, menghindari rasa sakit yang bersiap datang ketika ia bersentuhan dengan aspal jalan.
Ya, Ara tersandung kakinya sendiri.
"Eh?" Ucap Ara heran ketika dirinya tak kunjung menyentuh aspal jalanan yang berdebu. Ia membuka matanya lalu menoleh ke belakang punggungnya, tersadar jika tasnya di tarik seseorang. Seperti menahan dirinya agar tidak jatuh tersungkur.
Ara mengusap dada nya dengan rasa syukur sebab ia tidak jadi terjatuh, "Leo!" Pekik Ara ketika melihat lelaki jangkung yang sedang memegangi tasnya dengan sebelah tangan.
Leo menarik tas Ara sedikit kasar, membuat Ara kembali berdiri dengan baik.
"Ih sakit!" Ara mencebikkan bibirnya kesal, dengan tangan memegangi pundaknya yang terasa sakit.
"Kurcaci ceroboh!" Leo menyentil dahi Ara membuat sang empu memekik kesal, sakit.
"Leo nyebelin! Aku bilangin Bunda nanti, liat aja!" Pekik Ara kesal.
"Sono, bilangin, bilanginn... Nanti juga gue yang dibela sama Bunda," Ucap Leo
"Ihhh ngeselinnn!" Kesal Ara seraya menghenntakkan kakinya.
Leo mengedikkan bahunya acuh, "Bye, kurcaci." Leo berjalan mendahului Ara, dengan tangan kiri di masukkan ke saku celana dan tangan kanan memegang tali tas di depan dadanya.
"Ihhh, Leo!" Ara kembali menghentakkan kaki kesal dengan tangan yang mengepal.
Rintik hujan mulai turun, seketika membuat Ara sadar akan niat awal yang akan ia lakukan. Ara menggerutu menyalahkan Leo yang tiba-tiba datang, lalu Ara kembali meneruskan larinya yang sempat tertunda. Melupakan niat memukul Leo yang ada di depannya.
Ara berlari mendahului dan mengabaikan Leo, pikirannya terus tertuju pada niat awal yang Ara buat. Tiba-tiba sebersit rasa gelisah menghampiri hatinya, tapi buru-buru ia menepis semuanya.
Ara mendesah kecewa ketika ia sampai di depan gerbang rumahnya. Ia menghela nafas di bawah rintikan hujan yang Ara perkirakan akan menjadi deras.
Ara berjalan menuju kotak surat yang terdapat di sebelah kiri depan gerbang rumahnya. Lalu mencabut selembar sticky notes berwarna biru yang tertempel di kotak surat tersebut.
"Persis seperti hujan, anugerah yang di turunkan Tuhan untuk Bumi. Sedangkan kamu, anugerah yang Tuhan perlihatkan untuk diriku. Aku suka hujan, juga membencinya di waktu bersamaan sebab hujan turun tanpa mengucapkan salam. Tetapi kamu yang seperti hujan, aku menyukaimu tanpa ada kata 'Benci'. Sebaliknya, aku bersyukur karena kamu telah datang. Meski tanpa salam sekalipun, setitik cahaya yang kamu bawa telah berhasil menumbuhkan harapan ku."
Tertanda,
Ael.
Ara tersenyum haru, kata-kata yang ada dalam sticky notes itu memang selalu membuat dirinya tidak bisa berkata-kata. Makna yang tertulis sungguh sangat dalam. Dan ia bersyukur bisa menjadi matahari di kehidupan seseorang. Itu artinya hidupnya berguna, benar kan?
Ara berjalan memasuki rumahnya, ia menghela nafas kecewa sebab niat awalnya yang ingin memergoki penulis sticky notes gagal untuk kesekian kalinya.
"Aku harap, aku bisa tahu siapa kamu suatu hari nanti." Bisik Ara dalam hati.
Itulah alasan Ara senang setiap kali hujan turun, si penulis sticky notes. Ara penasaran siapa orang yang selalu mengirimi Ara catatan kecil di kertas berwarna biru setiap kali hujan datang.
Dan Semuanya terjadi ketika ia pindah ke rumah baru di daerah ini beberapa bulan lalu. Benar, Ara merupakan penghuni baru disana. Tidak bisa dikatakan baru juga, sebetulnya Ara dan keluarganya memang tinggal di sana dari Ara kecil. Hanya saja, karena Ayahnya dipindah tugaskan ke China, maka Ara yang waktu itu berumur 9 tahunan pun mau tak mau harus ikut pindah bersama Ayah dan Bundanya. Dan kini, setelah 8 tahun berada di China, Ara sekeluarga kembali pulang ke rumahnya dahulu.
***
Sebulan berlalu, Ara menjalani hari-harinya seperti biasa. Dengan sesekali menanyai sang Bunda jika lagi-lagi ada sticky notes yang menempel di kotak surat depan rumahnya.
Nihil. Sang Bunda tidak tahu apapun.
Ara tidak menyerah. Seraya menjalani kesehariannya yang tidak lepas dari sekolah, ia juga seringkali mencari tahu pengirim sticky notes itu. Tapi kerja keras Ara, semuanya tidak pernah membuahkan hasil.
"Ah, capeknya!" Pekik Ara seraya merebahkan dirinya di sofa ruang tamu rumahnya.
"Kenapa, sayang?" Tanya sang Bunda.
"Bunda beneran gak tau siapa yang nempelin sticky notes?" Tanya Ara.
"Astaga! Kamu masih mikirin itu?" Tanya Bundanya.
"Iyalah, Bunda! Ara penasaran banget." Balas Ara.
"Bunda punya usul, gimana kalau kita pasang cctv kecil di kotak suratnya?" Tanya sang Bunda.
"Wah, Bunda! Ide bagus! Ayo kita beli cctv nya sekarang dan pasang!" Pekik Ara senang.
Sang Bunda tersenyum, lalu mengambil ponselnya di atas lemari dan mengotak atiknya untuk memesan cctv dan sekalian memasangnya.
"Sip! Udah selesai, nanti sore tukangnya dateng." Ucap sang Bunda seraya menunjukkan layar ponselnya pada Ara.
"Yeay! Makasih, Bunda."
***
2 hari berlalu, cctv sudah berhasil terpasang di tempat yang aman dan tersembunyi.
Tapi Ara kesal, hujan tidak kunjung turun. Membuat pemasangan cctv ini menjadi sia-sia.
"Bunda, ah ngeselin gak hujan-hujan dari kemaren.." Rengek Ara.
"Sabar sayang, nanti juga pasti berhasil kok. Percaya sama Bunda." Bujuk sang Bunda.
"Yaudah kalogit---EH BUNDA HUJAN!" Teriak Ara dengan nada senang. "Aku ambil dulu sticky notesnya, Bunda coba liat rekaman cctv nya ya!" Pekik Ara lalu berlari keluar rumah seraya membawa payung di tangannya.
Ara berjalan pelan sesuai intruksi sang Bunda. Pandangannya menunduk memperhatikan langkah dan pijakan agar tidak terpeleset ataupun tersandung.
Setelah sampai gerbang, ia lalu membukanya dan menghentikan langkahnya, ketika tahu ada orang yang berdiri di depannya dengan payung bening.
"Siapa?" Tanya Ara sebab orang ini berdiri membelakanginya.
Orang itupun kemudian berbalik ketika mendengar Ara bertanya.
"Leo? Ngapain?" Tanya Ara penasaran.
"Mau ngasih ini." Ucap Leo seraya menyodorkan selembar kertas kecil dengan tulisan di atasnya.
Ara menatap terkejut kertas tersebut, lalu pandangannya beralih pada Leo. "Jadi, kamu?!" Pekik Ara tak percaya.
"Hm, gue gak mau sembunyi-sembunyi lagi. Lagian kita juga udah kenal dari kecil. Jadi..." Ucapan Leo menggantung.
"Jadi?" Tanya Ara yang masih dalam rasa ketidak percayaannya.
"Ara, gue suka lo." Ucap Leo seraya tersenyum.
-