Summary:
Handi butuh jaket dan lollipop rasa vanilla agar Kaila tidak mendiamkannya lagi.
**
Seminggu penuh Handi didiamkan Kaila. Gadis itu cemburu karena adegan ciuman yang si pria lakukan dalam sebuah pagelaran drama di kampus.
Semua usaha sudah dikerahkan demi membuat Kaila tidak lagi diam. Handi telah menjelaskan kalau adegan itu ia lakukan karena tuntutan naskah, bukan keinginan sendiri. Sepuluh batang cokelat sudah pria itu berikan, tapi Kaila masih tidak mau memperdengarkan suara.
Gadis itu bilang tidak marah. Handi minta maaf, Kaila bilang sudah dimaafkan. Tapi, kenapa masih diam? Telepon tidak dijawab. Pesan dibaca, namun tidak dibalas. Kalau bertemu, Handi ibarat orang gila yang bicara dengan tembok. Merana.
Frustasi berhari-hari, akhirnya titik terang muncul. Hari ini akan Handi jalankan rencana itu. Dari pukul dua sampai tujuh, ia akan bermain futsal bersama teman-temannya. Setelah itu, dia akan menyusul Kaila yang diduga menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di taman. Tidak lupa ia beli dua lollipop sebelum mengunjungi Kaila.
Dengan kaos dan rambut yang masih basah karena keringat, Handi segera memacu mobil menuju taman. Di pertengahan jalan, ia pakai jaket hitam yang memang sengaja dibawa.
Dugaan Handi benar. Kaila memang di taman. Gadis itu duduk sendirian di sebuah bangku kayu. Tidak mau membuang waktu, langsung ia hampiri.
“Kaila, kau tidak takut malam-malam sendirian?” Mengabaikan tatapan tajam si gadis, Handi duduk di bangku itu.
Kaila menoleh lagi setelah sempat membuang wajah. Ia sedikit bingung dengan rambut Handi yang terlihat basah. “Kau dari mana?” tanyanya.
Bukannya menjawab, Handi langsung memeluk Kaila. Akhirnya dia mendengar suara gadis itu. Seolah tidak jadi dilempar ke neraka sensasinya.
“Jangan marah lagi. Jangan diamkan aku lagi,” ucap Handi sembari mengeratkan dekapan.
Kedua tangan Kaila mendorong Handi hingga pelukan mereka terurai. Si gadis menggeleng. Mengelak dikatai marah. Garis bawahi, hanya sedikit kesal. Melihat kekasihmu mencium gadis lain di depan orang banyak benar-benar mengesalkan.
Handi kembali ingin memeluk Kaila, tapi gadis itu malah menjauh. Dia pun menyuarakan permintaannya.
“Beri aku dua kesempatan. Jika aku bisa membuatmu tersenyum sebanyak dua kali, berhenti mendiamkanku. Hmm?”
Sangat kekanakan. Tapi, Kaila mengangguk. Ia juga sadar sudah keterlaluan. Drama itu untuk acara amal. Handi hanya berniat membantu.
Hampir melompat karena Kaila setuju, Handi langsung mengeluarkan salah satu lollipop rasa vanila yang ia bawa. Dibukanya, lalu dia berikan pada Kaila.
“Kau mau menyuapku dengan ini?” tanya Kaila setelah mencicipi permennya.
Handi menggeleng. Hanya punya dua kesempatan, ia sama sekali tidak ingin gagal. Sembari mengajak Kaila mengobrol, pria itu membuka jaket hingga hanya menggunakan kaos hitam. Menaruh benda tadi di atas pangkuan Kaila dan terus berucap.
“Kau tahu? Karena kau tidak mau bicara padaku, aku akhirnya mengobrol dengan dinding di kamar. Ibu mengataiku gila dan Gian menertawakan.”
Awalnya, Kaila serius menanggapi ucapan Handi. Sesekali dia mengangguk atau menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tapi, saat dirinya iseng merapikan jaket Handi yang ada di atas pahanya, bau itu tiba-tiba tercium.
Terdiam sebentar, Kaila mengerjap pada langit. Ia turunkan lagi pandangan dan akhirnya melebarkan jaket hitam Handi di pangkuannya. Harum itu semakin merebak. Sementara si pria masih bicara, ia lipat benda itu. Permen di mulut Kaila taruh di samping.
Kaila tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi ia suka. Harum parfum yang terkontaminasi dengan keringat Handi selalu berhasil membuatnya bak orang gila. Seperti sekarang. Ia ingin segera menempelkan jaket itu ke hidungnya.
Tidak tahan lagi, Kaila mendekatkan jaket tadi ke wajah. Hati-hati ia baui aroma dari sana. Seperti wangi balita yang berkeringat habis bermain. Agak gila, tapi Kaila suka.
Sementara itu, di samping Kaila, senyum kemenangan terbit di wajah Handi. Dia berhasil. Tidak sia-sia ia ikut Gian main bola tadi. Ia biarkan Kaila melakukan kegiatannya beberapa menit, kemudian dia pun membuka suara.
“Kaila … jaketku tidak bau? Aku berkeringat banyak tadi.”
Rasanya seperti tertangkap basah sedang mencuri. Pelan-pelan Kaila tolehkan kepala ke arah Handi. Dan saat mendapati pria itu tersenyum, kedua ujung bibirnya juga ikut tertarik ke atas. Antara malu dan juga senang.
Handi menopang dagu. “Tidak bau?” tanyanya setengah tertawa.
Tidak bisa mengelak, Kaila menutup wajah dengan jaket. Ia ingin tetap menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Sayang, Handi malah mengambil jaket itu.
“Aku bertanya. Jaketku tidak bau?” Handi menutup pertanyaan dengan tawa.
Si gadis menggeleng sembari menunduk. Malu setengah mati.
Satu berhasil, Handi pindah ke rencana kedua. Ia buka satu lollipop tersisa dan memasukkannya ke dalam mulut. Pria itu keluarkan, lalu bertanya pada Kaila kenapa rasa permennya tidak manis.
“Punyaku manis,” jawab Kaila sembari mengangsurkan miliknya pada Handi.
“Aneh. Dari tempat yang sama kenapa ini tidak manis?”
Menatap lolipopnya sebentar, Handi kemudian memberikannya pada Kaila. Meminta si gadis untuk mencicipi.
Tidak ada yang aneh. Di lidah Kaila, rasa permen Handi sama seperti lolipopnya. Vanila yang manis.
“Ini manis, Han. Kenapa kau bilang tidak?”
Lolipopnya Handi ambil kembali. Setelah memasukkannya ke dalam mulut, pria itu menunjukkan deretan gigi.
Satu alis Kaila menukik. Tadi Handi bilang tidak manis dengan wajah ditekuk. Sekarang pria itu malah tersenyum hingga matanya sedikit menyipit.
Handi menatap Kaila. Senyum pria itu perlahan mengecil. Sambil mengedipkan satu mata, ia berucap, “Manis. Setelah kau makan, rasanya jadi manis.”
Selesai.