Malam ini langit diatas kastil Romawi kuno dipenuhi kerlip kembang api warna-warni yang menghiasi langit malam. Pesta meriah ini dilaksanakan untuk menyambut putra bangsawan Kerajaan yang usai berperang. Ksatria ini sangat tersohor dikalangan Bangsawan dan menjadi buah bibir kalangan rakyat biasa. Iringan Pasukan mulai masuk pintu gerbang, disambut dengan sorak sorai yang gegap gempita. Rakyat jelata memberikan tepuk tangan dan menaburkan bunga. Sehingga jalan yang ia lewati bagai karpet permadani yang terbuat dari bunga.
“Padahal pedang kami aroma darahnya tak bisa dihilangkan oleh bunga yang bertaburan.” Bisik temannya.
“Lemparkan saja senyum kemenangan, beritahu kepada rakyat kita bahwa kita pahlawan yang pulang membawa kemenangan.”
“Hemmm,” mengiyakan perintah dan melambaikan tangannya.
Ksatria turun dari atas kudanya, beberapa yang terluka diangkut dalam gerobak dan kereta kuda. Barang jarahan dan sandra perang yang masih hidup dibawa sebagai barang bukti. Mereka dimasukkan dalam penjara untuk mencari informasi lagi.
“Tua bangka seperti ini hendak diapakan?”
“Terserah kau, mau kau jadikan pijakan kaki tidak masalah.”
“Heh, buang saja di sel penjara sebagai pandai besi.” Kemudian para pengawal membawa tawanan perang yang tua renta ke penjara yang bab dan gelap.
*
*
*
Suara musik sudah mulai dimainkan, para penyanyi melantunkan lagi kemengan. Tamu undangan dari kalangan Kerajaan dan keluarga bangsawan sudah berdatangan. Tampak mereka memakai pakaian terbagusnya.
“Apakah Tuan Muda sudah siap membersihkan diri?”
“Bantu aku membuka baju zirah ini.” Para pelayan mulai mencopoti atribut yang menempel di tubuh Ksatria.
“Lukanya harus segera diobati Tuang Muda,” terdapat luka goresan pada pinggang Ksatria yang masih basah.
“Luka ini sudah biasa aku dapatkan sebelumnya, tapi aku tidak akan lupa siapa yang memberikan luka ini.” Dia mengingat adu pedang dipadang pertumpahan darah.
“Sepertinya Tuan Muda melawan orang yang lihai memainkan pedang, hingga dia tahu celah yang bisa dilumpuhkan.” Ksatria itu hanya memandangi tubuhnya didepan cermin.
Sebuah kolam pemandian air panas diberi taburan parfum dan bunga segar untuk pewangi. Beberapa buah dan anggur disiapkan guna menemani ritual pemandiannya. Para gadis cantik mulai masuk kedalam ruang pemandian guna melayani Ksatria ya hendak membersihkan dirinya. Dengan lembut mereka membasuh bagian tubuh Ksatria itu hingga perlahan-lahan tubuhnya tampak bersinar dan mulus kembali. Setelah selesai membersihkan diri, dia memakai handuk baju dan berjalan ke ruang ganti pakaiannya.
Baju bersulam benang emas dan kancing dari logam mulia menghiasi pakaiannya. Ketika satu persatu bagian baju itu menempel ditubuhnya yang gagah perkasa. Datanglah seorang dayang membawa sisir merapikan rambutnya yang masih basah. Rambutnya yang sudah panjang dipangkas tipis, serta jenggot panjang dan kumisnya juga ikut tercukur habis rapi.
“Tuan muda sudah sangat sempurna, silahkan.” Pelayan menyerahkan pedang kebanggaan Ksatria tersebut.
Diraihnya pedang yang dibawanya berperang itu, dicabut dari sarungnya. Sudah kembali bersih dan bersinar kembali, tidak ada bekas bercak darah maupun aroma anyir bekas pertumpahan darah.
“Bersihkan ini juga,” perintah Ksatria memberikan gelang bergerigi.
“Ini seperti tidak asing, tapi saya tidak tahu apa namanya.” Kebingungan.
“Itu bukan milikku, melainkan orang yang berduel denganku. Bersihkan kemudian simpan untukku.” Pelayan itu mengambil gelang yang tampak kotor.
Dia meninggalkan kamarnya yang mewah menuju aula utama tempat pesta dirayakan. Semua orang memberikan senyuman terbaiknya, para gadis-gadis berlomba menjadi yang tercantik untuk bergantian berdansa dengannya.
“Cristiano Julian, perkenalkan dirimu Nak.” Ayahnya memanggil nama sang Ksatria.
“Chistiano Julian,” ucapan tegas dari mulut pria berbibir tipis yang basah.
Lawan bicaranya tersihir dengan aura kuat yang terpancar dari dalam jiwa seorang Christiano. Ketika pesta tengah berada dipuncak acara yaitu pesta dansa, seorang gadis datang menghampirinya bernama Gabriella. Dialah gadis yang digadang-gadang akan menjadi istri sah Chistiano. Mereka adalah pasangan serasi dan sedang kasmarang. Setelah sekian lama Christiano pergi berperang.
*
*
*
Di daratan Asia lain lebih tepatnya suku no maden yang sedang melakukan perjalanan. Suku ini bertahan hidup dari berjualan kain dan karpet, serta beberapa obat-obatan herbal dari rempah-rempah. Suku ini tengah melakukan perjalanan ke Eropa, melewati padang pasir yang luas. Malam ini mereka melihat rasi Bintang untuk mencari Oase berada. Karena bekal air minum semakin menipis, dan hewan ternak mereka juga tampak lemas.
“Apakah jarakanha masih jauh?”
“Setelah kita melewati gurun ini jika kita ke Timur menemukan Oase pada siang. Sedangkan, jika ke Timur laut ada lembah. Disana ada padang rumput serta penduduk yang bermukim.”
“Sebaiknya kita kesana saja, karena persediaan logistik kita sudah menipis. Selain butuh air, kita juga butuh makanan.” Para saudagar itu memilih pergi ke lembah yang dimaksud itu.
Mereka tiba di Lembah itu sudah keadaan larut malam, dan akhirnya mereka jatuh dari pingsan dari kendaraan Onta dan kuda mereka. Sepertinya kedatangan saudagar itu diketahui penduduk setempat yang usai melakukan ibadah bersama disebuah tempat yang suci. Beberapa dari mereka bersembunyi di dalam rumah ibadah. Hanya para lelaki yang diperbolehkan keluar melihat tamu tak diundang tersebut.
“Mereka masih hidup!” teriak salah satu pemuda yang mengecek nafas saudagar yang pingsan.
Mereka lantas menyelamatkan dan merawat musyafir yang lolis dari maut. Mereka mengatakan jika sedang melakukan perjalanan ke Eropa, namun kehabisan logistik. Dan terjadilah pertukaran barang-barang. Lembah ini tidak memiliki nilai tukar dari barang yang dibawa para saudagar, hanya beberapa bongkahan batu mulia yang mereka miliki. Bagi suku pedalaman lembah, batu ini banyak ditemukan ditempat asalnya. Jarang sekali ada Musyafir yang selamat sampai tempat mereka.
Saat saudagar itu sudah tiba di Eropa cerita ini sampai ke Kerajaan. Maka, dipanggilah sang Ksatria pedang Christian Julian ini pergi ke Lembah berlian yang sedang ramai dibicarakan. Selama pergi berperang memperluas tanah jajahan Kerajaan Christian tidak pernah tahu dimana tempat itu. Bahkan dirinya sempat menolak dengan keberadaan lembah batu mulia itu, namun ketika Saudagar itu memperlihatkan batu safir biru di depan matanya. Christian merasa harus mencarinya untuk membuktikannya.
Setelah menyiapkan bekal yang cukup, Christian berniat pergi kesana dengan menyamar sebagai Saudagar itu lagi. Rencananya mereka akan singgah ke Lembah itu, dengan alih-alih untuk bersinggah. Namun sangat disayangkan ialah ketika Lembah yang dimaksud itu ternyata sudah kosong rumah penghuninya. Sepertinya ditinggalkan pergi penduduknya, Christian menyuruh pasukannya untuk mengeploitasi tanah dari Lembah Indah itu.
“Kau kau berbohong kepadaku maka kepalamu menjadi taruhannya!” Saudagar itu ketakutan dan memohon ampun.
Sudah satu bulan berlangsung tetapi pasukan Christian tidak menemukan apapun, saat hendak memberikan hukuman kepada si Saudagar itu. Terjadi penyerangan hingga seluruh prajurit Christian tewas. Dan Christian yang selamat, karena anak panah tersebut terkena tubuh si Saudagar. Berteman seorang prajuritnya yang terluka, Christian melanjutkan perjalanan melewati gurun pasir. Beberapa hari mereka berdua berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. Dan terjadi badai gurun, yang sudah menelan tubuh mereka.
“Apa kalian sudah siuman?” Christian membuka matanya.
Dilihatnya sudah berada di rumah orang asing. Dan ada wanita tua yang membawakan bak berisi air membasuh wajahnya. Ternyata dia diselamatkan suku no maden yang dicarinya. Ciri fisik dan kebiasaan yang diceritakan Saudagar itu mirip dengan keadaan yang kini ia singgahi.
*
*
*
Dibawah pohon ini Christiano tengah bersantai menunggu anak buahnya kembali ke Roma mengabarkan berita dan membawa pasukan lebih banyak. Tanpa sengaja Christiano melihat perempuan membuka cadar wajahnya. Kemudian membasuh wajahnya dan sebagian tangannya. Kemudian melakukan ritual gerakan yang aneh. Ketika perempuan itu menoleh, Christian buru-buru berpaling kemudian bersembunyi.
“Sedang apak kau!” belati tajam diujung leher Christiano.
“A-aku sedang menunggu temanku, dia katanya akan kembali.” Jawabnya ketakutan.
“Kenapa kau tidak ikut pergi dengan temanmu tapi masih disini?”
“Karena aku seorang pencuri yang menjadi buronan, aku tidak mau di Penjara.” Dia terpaksa berbohong untuk kelangsungan hidupnya.
“Aku mencuri sepotong roti untuk keluargaku yang kelaparan.” Christian bermuka sedih dan memelas.
Kemudian perempuan itu memakai cadarnya untuk menutupi wajahnya yang sangat cantik. Kulitnya yang putih itu sudah terbalut lagi oleh kain yang gelap. Jantung Christiano seolah bergejolak mau meledak terpesona gadis lembah batu berlian. Sejak saat melihat wajah perempuan itu yang tak lain anggota suku. Dirinya menjadi jatuh Cinta seperti orang mabuk. Kemanapun perempuan itu pergi, dia selalu membuntutinya. Saat memerah susu domba, mengajar mengaji anak-anak dan beribadah. Sekarang Christian tahu kalau gelang yang dulunya dia dapatkan ketika perang adalah benda bernama tasbih. Bagaimana bisa, suku kelompok kecil ini ikut berperang daerah kekuasaannya. Ini adalah hal yang konyol, tetapi saat Fransisco kembali menemuinya. Christiano memerintahkan agar menunda menyerang suku kecil yang lemah, bisa jadi itu hanya benda yang dijual belikan. Christiano meyakini bahwa suku Lembah batu berlian ini hanya kumpulan orang-orang lemah. Tapi Fransisco meyakinkan bila suku ini adalah pelarian keluarga perang.
Saar Christiano hendak menggeledah tenda kepala rombongan dirinya menemukan medali yang sama dengan yang dipakai prajurit yang ditawannya. Tak ingin perempuan yang ditaksirnya mati saat penyerangan, Christiano menggelandang Zhafira yang tengah beribadah.
“Apa yang kau lakukan Julian?” dia memanggil nama samaran Christiano yang terus men gelandang nya.
“Kau harus pergi malam ini juga, naik ke atas kuda!” Zhafira dinaikkan diatas kuda putih milik Christiano.
“Aku tidak mau, disini ada ibu dan adik-adikku. Aku tidak bisa pergi meninggalkan mereka, karena mereka sudah berjanji akan membawaku kembali ke tempat asalku.”
“Dengarkan aku Zhafira, tanah kelahiranmu yang berada di lembah itu sudah hancur tak bersisa lagi.”
“Darimana kau tahu?” Zhafira turun dari pedati kuda.
Pada kesempatan ini Christiano mengungkapkan kejujuran bahwa demi betu mulia yang dari Lembah. Pasukannya menjarah dan mengeploitasi tempat tersebut. Padahal, Zhafira hanya pergi mengantar rombongan melewati gurun pasir lalu kembali ke Lembahnya kembali. Pekerjaan ini sebenarnya yang dilakukan turun temurun oleh suku Lembah batu berlian itu berasal.
“Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu, bila kau masih ingin hidup. Turutilah kemauanku, dan pergi naik kuda ini. Aku tidak ingin kau terbunuh, karena pasukanku sudah mengepung rombongan kalian.”
“Apa? Jadi kau mata-mata bukan pencuri?” Zhafira tertipu dengan cerita bualan Christiano.
“Maafkan aku Zhafira, aku melakukannya karena kau bersama pemberontak yang sedang aku Buru.”
Ketegangan itu terjadi kalau, suara terompet bergema. Sudah tak ada waktu lagi bagi Christian untuk menahan Zhafira lagi. Akhirnya, Christiano membawa kabur Zhafira kembali ke Kastilnya dengan menunggangi kuda yang sama.
*
*
*
Setelah tiba di Kastil Christiano, Dirinya mengunci Zhafira di menara yanh disekelilingnya ada buaya air dalam parit. Setelah berita penyerangan malam itu menyebar, tidak ada lagi yang tersisa dari suku maupun rombongan yang mengungsi. Sekarang Zhafira menangis kala bersujud, bahkan tidak mau makan dan minum. Christian yang marah dengan protesnya Zhafira datang menjenguknya. Dia masuk ke menara yanh tinggi tempatnya mengurung Zhafira. Dari cawan yang berisi madu dan susu, ia minum dan menelankan ke mulut Zhafira yang sudah sekarat. Kedua bibir keduanya saling beradu dan bertukar cairan. Zhafira menampis asupan cairan madu dan susu itu, dengan mendorong Christiano dan mengancam akan loncat dari menara jika masih mengurungnya.
“Jika kau meloncat, aku akan tetap mengawetkan tubuhmu kembali.” Ternyata Christiano sudah buta mencintai wanita yang berbeda keyakinan dengannya.
“Baiklah, aku akan merubah pikiranku.” Zhafira menarik pedang dari pinggang Christiano dan menodongkan didadanya.
“Lakukanlah! Bahkan jika kau meminta tubuhku, akan kuberikan nyawaku.” Zhafira semakin bingung dengan ucapan Christiano yang tidak takut mati.
Saat Fransisco mendengar kegaduhan dari dalam kamar tahanan Zhafira. Tenyata Christiano sudah tertusuk ujung pedangnya yang dipegang Zhafira. Rembesan darah itu sudah mulai membasahi baju Christiano. Lalu, Fransisco melempar vas bunga mengenai lengan Zhafira.
Setelah kejadian itu, Zhafira diseret ke Penjara yang sama dengan tahanan perang. Disanalah dia bertemu pria tua renta yang sudah berjenggot putih dan kurus. Namun, Zhafira langsung mengenali suara ayahnya ketika melantunkan syair-syair.
“Ayah, apakah itu kau masih hidup?” teriak Zhafira dari balik jeruji besi.
Pertemuan dramatis itu terjadi, dan penjaga penjara itu melaporkan kejadian tersebut kepada Christiano. Esok harinya Christiano mengeluarkan keduanya, dan membawanya ke tengah-tengah lapangan.
“Jika aku yang salah mendengar rumor kalian memiliki hubungan darah, maka aku akan habisi Prajurit ini.”
“Tidak! Dia adalah ayahku, dan akulah putrinya.” Zhafira tanpa takut menantang Christiano.
“Apa kau tidak takut melawanku?” memandanh wajah wanita terkasihnya.
“Kau, adalah orang kejam yang merebut tanah dan nyawa orang yang tidak berdosa. Seharusnya kau malu berdiri diatas bumi ini yang bukan milikmu.” Christiano merasa terhina oleh ucapan Zhafira.
Kemudian dia meraih pedangnya dan membunuh ayah Zhafira yang tua renta itu, tangisan Zhafira itu pecah melihat ayahnya yang tangan dan kakinya terikat. Sedangkan dadanya ada pedang yang menancap, Zhafira berteriak dan berontak dari belenggu besi yang melilitnya.
“KAU KEJAM!” cucuran air mata wanita cantik itu mengalir sederas darah ayahnya.
“Jadilah milikku, maka nyawamu akan aku ampuni.” Tawaran christiano terakhir kepada perempuan yang ia cintai sepenuh hatinya.
Rasa Cinta yang mendalam kepada Zhafira membutakan mata hati dan logika seorang Christiano sang Ksatria pedang. Jika Zhafira menyerahkan diri kepada Christiano, maka dia harus rela meninggalkan kepercayaannya. Dan berkhianat kepada tanah kelahirannya dan keluarga yang sudah dimusnahkan karena penjajahan. Dengan sabar, Christiano menunggu jawaban dari Zhafira yang masih meratapi kepergian ayahnya. Hati Christiano teriris dan menyesali perbuatannya. Dia membuka cadar dan penutup kepala Zhafira, sehingga bagian kepala gadis cantik itu terlihat. Semua pria terpana kecantikan murni gadis yang taat beribadah itu. Pedang yang jatuh ke tanah itu, seolah melemahkan iman bagi mata yang memandang. Pantaslah Christiano takluk dengan wanita tercantik di bumi ini, karena dia memilik semua kebaikan yang didamba seluruh wanita dibumi.
“Aku akan membungkam orang-orang yang mengetahuimu, asal kau mau menjadi milikku.” Bisiknya kepada Zhafira yang tangannya merayap meraih pedang di tanah.
“Tidak akan, lebih baik kau matikan rasa cintamu itu bersama matinya dirimu!”
Saat lengah itulah Zhafira berhasil menghunuskan pedangnya dan melukai tubuh Christiano. Walupun tubuhnya terbelenggu rantai besi, ternyata Zhafira ialah orang yang melukai Christiano saat perang terdahulu. Dirinya baru sadar dengan gerakan yang sama, dan sorot mata tajam yang hampir merenggut nyawanya dulu. Dari belakang, ada Pemanah yang sudah mengarahkan busurnya tepat dikepala Zhafira. Dan dalam kedipan mata, tubuh Zhafira sudah tergeletak lemas menyusul ayahnya. Kepalanya sudah ditembak panah, dan meninggal berlinang air mata.
“TIDAAAKKKKKKKKKKKKKKK!!!” teriak Christiano memeluk tubuh Zhafira yang sudah dingin memucat.
Tangisan itu pecah dan menggema, semua orang yang menyaksikan hal itu berpikir kalau Christiano sudah dibutakan oleh Cinta. Tangan Zhafira yang semula menggenggam barang, akhirnya melepaskan tasbihnya. Benda yang sama persis, ketika dia usai kembali berperang.
“Aku mencintaimu sayang, aku sangat mencintaimu sayangg...” kalimat yang diucapkan Christiano ketika memasukkan jasad Zhafira kedalam peti kaca.
Cintanya yang begitu besar kepada Zhafira, membuatnya harus menebus dosanya dengan mencintai musuhnya. Seumur hidup Christiano menyesali perbuatannya dalam malam dan anggur yang memabukkan.
TAMAT.