Malam yang dingin di kota Seoul.
Yuri masih terjaga, ia belum beranjak dari meja kerjanya. Selembar kertas ber materai mengganggu pikirannya, sejak surat itu datang dua hari yang lalu. Yuri masih belum bisa menentukan sebuah keputusan, hingga ia kehilangan napsu makan dan konsentrasi menulisnya menurun, padahal ia harus menyelesaikan ceritanya di sebuah blog.
“Kau masih belum tidur?”
Yuri menoleh, rupanya lampu belajar yang masih menyala mengganggu tidur teman satu kamarnya—Jeanet. Wanita itu terduduk di ranjang sambil memperhatikan Yuri yang masih menimang kertas yang sama, yang Jeanet lihat sewaktu ia pulang bekerja kemarin.
“Masih belum menemukan keputusan?”
“Ku rasa begitu,” Ujar Yuri, menghela napas.
“Dua hari atau penawaran itu akan hangus, Yuri.”
“Aku tahu,”
Jeanet keluar dari kamar sebentar, lalu kembali lagi dengan membawa dua gelas berisi coklat panas di tangannya. Wanita dengan rambut sebahu itu menyodorkan salah satunya pada Yuri. “Kesempatan seperti itu tidak datang dua kali, Yuri,” katanya.
“Ya, dan aku masih harus memikirkan beberapa hal lain juga.”
“Tidak ada salahnya untuk mencoba, lagi pula ini kan pekerjaan yang kau impikan sejak dulu. Ku dengar di perusahaan itu mempunyai pelayanan yang baik dan gaji yang cukup tinggi.”
Yuri menghirup coklat panasnya, “Bagaimana jika aku tidak nyaman?”
“Tinggal keluar.”
Yuri menatap Jeanet sekali lagi, lalu pandangannya beralih pada kertas di atas meja kerjanya yang menunggu untuk diberi kepastian. Tangan Yuri tergerak, untuk mengambil pulpen di samping laptopnya.
Tidak ada salahnya, mencoba.
***
Setelah keputusan berat itu berlalu, akhirnya Yuri resmi menjadi karyawan di salah satu perusahaan penerbitan yang cukup besar di kota Seoul, ia diterima di bagian desain cover. Ini adalah hari kesepuluh ia bekerja dan Yuri sudah menemukan teman baru yang sama cerewetnya dengan Jeanet, bedanya ia tidak sedingin dan sefrontal Jeanet jika berbicara. Namanya—Jikyung.
Makan siang sudah tersaji di depan mereka, dan Jikyung masih sibuk memainkan ponsel. Sementara Yuri ingin segera menyelesaikan makan siangnya karena ia harus segera kembali ke ruangan untuk berkutat dengan laptopnya lagi, karena tugas yang sangat menumpuk.
“Kau dengar tidak, sebentar lagi CEO di perusahaan ini akan ganti.”
Jikyung memang wanita yang suka bergosip.
“Aku baru mendengarnya darimu,” jawab Yuri acuh, ia juga tidak begitu memperhatikan CEO di perusahaan ini sejak masuk kerja.
“Minggu depan akan ada pesta penyambutan, dan semua karyawan akan diundang,” pekik Jikyung senang. “Aku harus membeli gaun baru, dan berdandan,” imbuhnya.
Berbeda dengan Jikyung, Yuri merasa biasa saja. Jika dia juga diundang ia akan memakai gaun yang ia punya dilemari dan tidak terlalu berdandan, karena itu hanya sebatas acara formalitas.
***
“Iya, aku sebenarnya malas sekali mengikuti pesta ini,” Yuri memperbaiki tatanan rambutnya dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
Ternyata acara penyambutan CEO baru itu benar-benar diadakan. Awalnya Yuri tidak berencana untuk ikut jika saja Jikyung tidak memaksanya dan datang ke apartement. Dan di sinilah dia sekarang, sedang berada di pesta.
“Sebentar lagi aku pulang, sampai jumpa Jeanet.”
Yuri memutuskan kembali di tempat ia meninggalkan Jikyung tadi. Lalu Yuri menemukan wanita itu sedang menatap ke arah panggung kecil di depan, dengan tangan yang sedang memegang gelas minuman.
“Jikyung-ah, maaf aku agak lama.”
“Kau ke mana saja Yuri? Aku kira kau pulang sebelum CEO baru itu datang.”
“Aku dari kamar mandi. Bagaimana, apakah dia sudah datang? Aku harus segera pulang Jikyung.”
“Dia sudah datang, baru saja ingin menyampaikan penyambutan. Lihat, di depan sana.”
Tepat saat Yuri mendongak, sekelebat kenangan masa lalu hadir di kepalanya. Kisah kelam itu terputar kembali dan keringat dingin membanjiri pelipis Yuri. Wanita itu meremas gaun putihnya, mencoba menutupi suara bising disekitarnya dengan kedua tangan yang ia taruh ditelinga.
“Yuri, ada apa denganmu?” Jikyung tampak bingung, ia mencoba menenangkan Yuri dengan memeluk tubuhnya yang sudah gemetar.
Sementara orang-orang menatapnya dengan tatapan bingung, dan acara di pesta penyambutan itu kacau karena Yuri. Bahkan CEO baru di depan sana menjatuhkan mikrofon karena sama-sama terkejutnya dengan sosok Yuri.
“Kau tidak apa-apa?”
Yuri menepis tangan itu, tangan besar yang dulu sempat mengisi celah-celah jemarinya, tangan besar yang mengusap rambutnya saat ia sedang bermimpi buruk, tangan besar yang selalu membawanya dalam dekapan yang hangat.
Yuri benci tangan besar itu.
***
“Maafkan saya Tuan, malam ini acara jadi kacau.”
Lelaki dengan balutan jas hitam yang rapi dan pas di tubuh tegapnya itu tidak menggubris sekretarisnya yang meminta maaf berkali-kali karena acara malam ini yang gagal. Yang ia khawatirkan adalah wanita yang tadi begitu histeris saat bertemu dengannya, wanita itu.
“Apakah dia bekerja di perusahaan?” Tanyanya.
“Dia pegawai baru Tuan, yang baru saja tanda tangan untuk kontrak kerja satu tahun. Kau ingin saya memecatnya?”
“Tidak, jangan pecat dia atau kau yang akan ku pecat,” ucapnya penuh penekanan.
Lalu setelahnya lelaki itu pergi dari ruangan.
***
Hampir seminggu lamanya, Yuri tidak masuk kerja karena insiden di malam pesta itu. Ia menghindari semua pertanyaan dari rekan kerjanya mengenai dirinya yang tiba-tiba menjadi histeris. Dan hari ini ia memutuskan untuk bekerja kembali, setelah merasa tenang.
“Kau baik-baik saja, kan?” pertanyaan Jikyung yang hampir diulang sebanyak lima kali.
“Ya, aku sudah lebih baik. Terima kasih sudah mengantarku pulang malam itu,” Yuri tersenyum kecil.
“Sebenarnya, apa yang terjadi sampai kau histeris seperti itu? Aku sangat panik malam itu Yuri, kau seperti bukan dirimu yang aku kenal.”
Yuri lagi-lagi hanya menanggapinya dengan tersenyum, “Tidak terjadi apa-apa.”
Menurut Yuri tidak semua dari masalahnya harus disampaikan, ada kalanya ia harus menyimpan itu untuk dirinya sendiri. Dan Yuri memang bukan tipe wanita yang sering menceritakan sesuatu pada orang lain.
“Kau mau mampir ke mana dulu? Kita, kan habis gajian,” tanya Jikyung mengalihkan pembicaraan, mereka sedang ada di lift yang akan membawa mereka turun ke lantai dasar. Ini sudah waktunya jam pulang.
“Aku ingin pulang secepatnya karena ada janji dengan Jeanet untuk makan malam,” jawab Yuri tidak sepenuhnya berbohong.
“Ah begitu, ya sudah. Aku pergi dulu, ya Yuri. Kau hati-hati di jalan.”
Yuri melambaikan tangan pada Jikyung yang sudah berjalan duluan meninggalkan kantor. Ia menghela napas, menatap senja dengan tatapan sendu. Sampai tiba-tiba tangan hangat seseorang menggenggam jemarinya, dan sekeras apa pun Yuri mencoba menghindar, ia akan ditemukan dengan mudah oleh seorang seperti Jung daehan.
***
Hamparan ombak menggulung dengan ganas di laut biru yang ada di depan Yuri. Deburannya terdengar sampai di telinga wanita itu, menghapus sunyi yang sudah hampir setengah jam terjadi.
Tidak ada percakapan apa pun antara Yuri dan Jung. Mereka sama-sama larut dalam pemandangan laut untuk menghilangkan rasa gugup satu sama lain, setelah bertahun-tahun tidak bertemu—tepatnya sekitar lima tahun.
“Kau masih mengingatku?”
Yuri menarik napas dalam, “Bagaimana mungkin aku melupakan seseorang yang sudah menggores luka pada hatiku?”
“Kau belum merelakan dia?”
“Sampai kapanku aku tidak akan merelakan dia, Jung.”
Jung hampir saja meraih tubuh mungil itu, tubuh yang selalu ia rindukan di setiap waktu. Dengan mudahnya Yuri menolak, menjauh dari Jung dan tidak ingin di sentuh oleh lelaki itu.
“Tidak seharusnya kita bertemu lagi, setelah kejadian itu. Kenapa kau dengan tidak tahu malu menampakkan wajahmu di hadapanku?” teriak Yuri, ia sudah tidak bisa membendung air matanya.
“Takdir.”
“Takdir omong kosong!”
Yuri mencoba lepas dari desakan tubuh Jung yang ingin memeluknya, tetapi tidak bisa. Tenaganya terlalu lemah untuk melawan, dan kini ia berakhir dengan menangis sejadi-jadinya di pelukan Jung. Memukul-mukul dada Jung sebagai bentuk kekecewaannya pada lelaki itu.
“Maafkan aku, aku sangat merindukanmu Yuri.”
Jung dan Yuri adalah mantan suami—istri, ralat bukan seperti itu sebenarnya, mereka belum resmi berpisah, hanya saja Yuri yang memutuskan untuk pergi meninggalkan Jung setelah sebuah insiden mengerikan terjadi.
Malam itu, Yuri melihat dengan mata kepalanya sendiri jasad kedua orang tuanya tergeletak di bawah kaki Jung dengan lelaki itu yang menangis,