Imel menatap rumah tua dihadapannya, ini pertama kali dia mendatangi rumah kediaman keluarga Andien sahabatnya tetapi kenapa hatinya merasa begitu familiar..
****************
Bangunan tua dari jaman belanda milik keluarga Andien terawat dengan baik, jendela besar terbuka lebar. Jalan setapak dari conblock mengarah ke teras rumah, sisi kiri kanan jalan setapak ditumbuhi miana warna warni yang dipangkas dengan rapi. Halaman berumput kontras dengan warna dinding putih bangunan. Menyejukkan sekali melihatnya. Andre saudara Andien harus memarkirkan mobil di sisi rumah karena garasi terletak terpisah dari rumah.
"Sebelum pademi rumah ini disewakan untuk guest house atau bisa juga per-kamar tapi selama pademi sepi jadi kita bisa menginap disini. Biasanya selalu ramai oleh tamu". Andien menjelaskan sembari kami menyusuri jalan setapak ke arah teras utama bangunan.
Ria dan Nina sibuk membuat story di gawai masing-masing sambil berceloteh pas banget buat momen foto ala nostalgia sedangkan Aku sibuk menggali ingatan apakah pernah menginap disini sebelumnya karena semua tampak tidak asing.
Aku memperhatikan keadaan sekitar dan ketika sedang merunduk Aku terkesiap conblock berubah menjadi batu kali tersusun membentuk jalan setapak. Aku terdiam terpaku.
"Imel..Imel". Teriakan cempreng Nina menyadarkan Ku ketika mengangkat kepala dan memandang ke depan Aku melihat mereka sudah berada dj teras depan.
"Sini cepatan". Nina berkata tidak sabar. Aku segera menyusul mereka.
"Neng Andien sudah lama tidak melihatnya, semakin cantik". Wanita paruh baya itu mengelus lembut bahu Andien.
"Iya dong Bik, masa tambah ganteng hehee.. Teman-teman teman kenalkan Bibik Sur dan Mang Ujang. Dari Aku belum lahir mereka lah yang selama ini mengurus rumah jadi tetap terawat". Andien tampak akrab dengan Bibik sur, dia bergelayut manja kayak bocah padahal tahun ini usia Andien sudah 19 tahun. Selisih dibawah Ku setahun.
"Iya Neng.. Bibik sudah siapkan makanan karena Ibu dan Bapak sudah menghubungi akan ada Andien dan temannya".
" Asyik kebetulan lapar nih, Oh ya ntar kita bantu Bik Sum beberes ya karena pegawai lain sementara dirumah kan dulu karena pademi ini". Andien begitu bersemangat sama halnya dengan kami.
"Eh tidak usah,Neng". Bibik Sum berkata sambil mengarahkan Mang Ujang untuk membantunya menyiapkan keperluan di dapur. Aku baru menyadari Mang Ujang dari tadi hanya diam tapi tatapan matanya ke arah Ku tidak pernah lepas.
Masakan sederhana buatan Bik Sum memang lezat, Selesai makan kami langsung ke halaman belakang. Jambu air dan mangga sedang berbuah. Bik Sum sigap membuat cocolan rujak, halaman belakang yang ditumbuhi jambu air, mangga, rambutan terawat dengan baik. Suasana adem begitu menyenangkan.
Aku sedang berniat mengambil foto ketika Nina menyenggol gawai Ku dan terjatuh di rerumputan. Aku menunduk mengambil gawai dan ketika berangkat dari posisi merunduk seketika mata Ku menangkap hal berbeda. Teman-teman Ku tidak ada, pohon jambu air dan mangga tidak berbuah. Sebuah kolam ikan dengan kursi kayu tidak jauh berada di pohon jambu padahal sebelumnya Aku tidak melihatnya.
"SERUNI.. SERUNI. AKHIRNYA AKU MENEMUKAN MU KEMBALI". Aku mendengar suara wanita yang tidak tahu memanggil siapa, suara yang begitu jelas dan membuat Ku bergidik ngeri.
Aku berlari mencari teman-teman Ku, Bik Sum tapi tidak diketemukan. Jantung Ku serasa berhenti berdetak ketika berada di halaman depan. Jalan setapak yang semula conblock sekarang berubah menjadi batu kali yang disusun dengan rapi, tidak ada tanaman miana. Apakah Aku salah rumah??.. Telapak tangan Ku terasa dingin, untuk sekian lama Aku baru terlintas untuk menghubungi Andien segera Ku ambil gawai tapi baru hendak menelan nomor Andien. Seseorang menyenggol Ku.
"Mel.. Imel.. yaelah dia melamun". Aku tersentak ketika melihat sekeliling semua kembali ketempat semula. Teman-teman Ku memandang kesal.
" Ih kamu kekenyangan ya jadi ogeb gitu". Nina mencolek pipi Ku. Aku membalas dengan senyuman canggung. Apa yang terjadi..
******************
Malam ini suara jangkrik bersaing dengan detak jam dikamar. Ria, Nina dan Andien sudah terlelap. Kami memang berada dalam satu ruangan yang luas. Ada dua kamar, ruang tamu kecil, kamar mandi dan pintu yang langsung menuju teras samping. Andien bilang biaya permalam lebih mahal dibandingkan ruangan lain, furniture kamar yang kami gunakan modern bukan furniture kuno seperti ruangan dan kamar lainnya. Menurut Andien ada tamu yang tidak nyaman berada dengan furniture antik.
Aku beranjak dari ranjang dan menuju ke ruang tamu mungil. Rumah peninggalan Belanda milik keluarga Andien ini luas, kakek nenek buyut Andien pastilah orang kaya dimasanya. Andien memang beruntung terlahir dari keluarga kaya berapa generasi, dia tidak pernah dicampakkan seperti Aku.
Patah hari lah yang memutuskan Ku mengikuti liburan bersama Andien,Ria,Nina dan Andre. Aku mencari remote televisi untuk menghilang kebosanan ketika Aku menunduk mencari di laci meja. Aku mendengar suara orang berjalan di depan teras, refleks Aku menoleh.
Kembali lagi ruangan ini berubah seakan menarik Ku ke masa lalu lagi. Tidak ada AC, sofa semua furniture jati kuno. Aku gemetaran apakah ini mimpi.
"SERUNI.. SERUNI TAK KU SANGKA KAU BERANI KEMBALI LAGI KE SINI. Aku mendengar suara berbisik yang begitu nyata di telinga dari balik jendela yang menghadap teras tampak bayangan samar wanita dalam balutan kebaya, kain dengan rambut di sanggul kecil. Aku membeku tidak bisa menggerakkan tubuh apalagi berteriak.
Trrttttttrtttttttt.. Suara gawai yang berbunyi ribut menyadarkan Ku. Aku kembali lagi berada dalam ruangan yang sama dan duduk disofa dengan gemetar Ku raih gawai yang berada disamping.
"Imel, ini Aku Andre. Pintu depan terkunci bisa tolong buka gak ya. Aku lihat kamu belum tidur". Aku bergegas membuka pintu teras.
"Maaf Mel kayaknya Mang Ujang lupa meninggalkan kunci tadi Aku keluar bentar main ke rumah Tio, teman kecil Ku. Tio kenalkan ini Imel".
"Hmm apakah kita pernah ketemu sebelumnya?".
" Ah modus kamu Tio, belum lah. Yuk kita lewat pintu ruangan ini. Gak enak lama2 kamar para gadis. udah malam pula". Andre menarik paksa tangan Tio.
Sepeninggalan mereka Aku membanting diri, apakah tadi Aku bermimpi. Ini kali kedua Aku merasakan hal sama seakan kembali ke masa lalu.
****************
Sore yang cerah, seharian ini Aku tidak mengalami kejadian aneh lagi seperti hari kemarin. Sepertinya kesedihan karena patah hati membuat Aku berhalusinasi walau Aku heran dengan cara pandang Mang Ujang dan Tio ketika melihat Ku, apakah mereka tahu apa yang Ku alami. Entahlah.
"Tio itu naksir kamu kali ya". Ria mulai menggoda Ku.
"Eh mayan juga ya si Tio, lebih ganteng dari mantan mu. Tukang selingkuh". Nina berkata ketus.
"Apaan sih kalian". Aku melotot kesal dari pagi mereka bertiga mereka berceloteh hal sama.
"Tio itu menatap mu mulu lho, Mel. Dia anaknya baik. Aku tahu banget, ah jangan karena satu cowok kamu jadi patah hati gini. Bawaan bengong dan melamun mulu".
Andien menjatuhkan diri disamping Ku. kami sedang duduk dihalaman dengan pemandangan sungai yang tidak jauh dari kediaman Andien. Sedari pagi kami menghabiskan hari dengan berjalan didesa, mencoba berbagai kuliner sehingga kelelahan sore harinya.
Aku hanya diam tak berani mengatakan kejadian yang Ku alami dari pertama kali menginjak kaki dikediaman Andien. Aku seakan terlempar ke masa lalu, suara yang berbisik di telinga, panggilan Seruni, semua hal yang membuat Ku diliputi rasa takut dan penasaran tetapi sukar untuk Ku katakan.
Bagaimana pun rumah ini difungsikan sebagai penginapan jika tersebar akan merusak reputasinya. kebaikan Andien mengajak kami menginap tak mungkin Ku hancurkan yang Ku ingat pada diri sendiri untuk tidak menundukkan kepala karena kejadian berulang ketika pandangan Ku ke arah bawah.
"Eh masuk ke dalam yuk, bantuin Bik Sum siapin makan malam".Andien berangkat di ikuti Ria dan Nina.
"Jepit rambut Ku mana ya?". Aku mencari jepit rambut di pakaian biasanya suka Ku cantol saat tak dikenakan.
"Deuh uda gak usah di pake, Aku kebelet nih. Aku masuk dulu ya?". Ria tergesa ke dalam rumah, diikuti Andien dan Nina.
Aku baru hendak menyusul ketika berdiri, kaki Ku kesemutan sehingga kehilangan keseimbangan dan Aku terjerembab.
"SERUNI.. SERUNI TAK KU SANGKA KITA BERTEMU KEMBALI".
Aku refleks berangkat dari posisi terjatuh, kembali halaman belakang yang telah berubah. Pagar kayu yang mengelilingi halaman, kursi kayu dan ayunan di pohon mangga serta kolam ikan disebelah pohon jambu". Di hadapan Ku berdiri seorang wanita cantik, bermata hitam pekat. Sudut bibirnya tampak darah mengental, tubuhnya terlihat samar tetapi tampak kuat. Rambutnya panjang berkibar perlahan padahal Aku tak merasakan adanya angin.
"Kau siapa? .. Aku memberanikan diri bertanya. Rasa takut menjalari seluruh tubuh Ku.
"KAU MELUPAKAN AKU? INGATLAH KAU MERACUNI KU SERUNI. HANYA KAU TAKUT SUAMI MU MENDEKATI KU, KAU HARUS MATI KALI INI SERUNI". Dia mulai mendekati Ku, Aku melangkah mundur.
"Kau salah, Aku bukan Seruni". Aku melangkah mundur tapi wanita itu semakin mendekat, tangannya menjulur ke arah Ku. Semakin Aku mundur, dia semakin mendekat dengan kuku-kuku jari panjang hitam. Kaki Ku tersandung pinggiran kolam ikan, keseimbangan Ku hilang. Aku menguatkan diri mengatakan bahwa semua ilusi. Kolam ikan tidak ada tapi nyatanya. Kepala Ku terbenam dan Aku kesulitan bernapas.
"SERUNI KAU DATANG MENGANTARKAN NYAWA".
"Dia bukan Seruni, dia imel". Aku mendengarkan suara berat seorang laki-laki.
"Kau salah Nyai, itu terjadi sudah 100 tahun lalu. Ini sudah berbeda jaman dan kau salah orang. Kau lah yang menaruh racun untuk membunuh Seruni tetapi kau salah meminumnya, kau berlari panik dan terjatuh di kolam ikan itu". Suara laki-laki lain menimpali.
Aku merasakan tubuh Ku lemas.
"IMEL LAWAN IMEL. DIA TIDAK BISA MENYENTUH MU, DIA TIDAK NYATA. AKU TIO,IMEL. HANYA DIRIMU LAH YANG BISA MENOLONG MU. BERANGKAT IMEL, DIA TIDAK NYATA". Suara wanita itu mengeram. Aku merasakan suara lembut tapi tegas Tio mendatangkan keberanian dari tekanan dalam air yang seakan hendak mencekik Ku.
"Dia sudah mati, dia tidak nyata". Seketika keberanian Ku muncul. Aku merasakan tubuh Ku menguat dan segera keluar dari kolam ikan.
Wanita itu menjerit melihat Ku keluar. Dia kembali hendak mencekik Ku.
" TATAP DIA IMEL. TATAP, KUMPULKAN KEBERANIAN MU". AKU menatap makhluk didepan Ku yang kembali menjulur tangannya. Aku menguatkan hati , Lama-lama kelamaan wanita itu menyerupai bayangan semakin lama tampak kabur lalu menghilang seperti asap yang tertiup angin. Tubuh Ku lemas dan pandangan Ku mengelap. Samar Aku mendengar suara berat Mang Ujang dan suara lembut Tyo memanggil Ku.
************************
Teman-teman Ku tidak tahu apa yang terjadi. Aku memilih merahasiakan mereka hanya tahu kalau Aku pingsan dihalaman belakang dan di tolong okeh Tio dan Mang Ujang.
Dari Tio, Aku tahu dia melihat kemiripan wajah Ku dengan foto nenek buyut Andien yang pernah terpajang di kediaman keluarga Andien ketika rumah tersebut belum difungsikan sebagai penginapan.
Aku heran kenapa Andre dan Andien tidak pernah mengatakan bahwa Nenek buyut mereka mirip dengan diriku. Menurut Tio karena penampilan modern Ku berbeda dengan penampilan buyut mereka. Tio mengaku terkadang dia bisa melihat makhluk astral walau tidak selalu dan dari pertama dia melihat Ku, ada bayangan wanita dibelakang Ku.
Dari Mang Ujang Aku mengetahui bahwa wanita itu adalah selingkuhan kakek buyut Nenek Andien. Nenek Andien bernama Seruni. wanita itulah yang hendak meracuni Seruni tetapi ketahuan oleh Seruni sehingga dia panik dan tanpa sadar salah mengambil gelas yang di isi racun olehnya sendiri.
Mang Ujang sudah mengetahui cerita ini dari penunggu rumah terdahulu. Sebuah cerita yang diturunkan turun temurun kepada setiap penjaga rumah. Sebuah rahasia masa lalu. Dendam wanita itu membuat arwahnya tidak tenang tapi menurut Mang Ujang selama ini tidak pernah ada gangguan dari wanita tersebut.
"Mungkin pikiran Neng sedang kosong jadi ya mudah di ganggu oleh makhluk seperti itu". Aku menatap Mang Ujang dan membenarkan dalam hati, patah hati membuat Ku sering melamun. Selain kemiripan di wajah mungkin faktor itulah penyebabnya.
"Maaf Seruni eh maaf Imel sudah waktunya kita bergabung bersama yang lainnya". Tio tampak gugup ketika mengatakan itu. Mang Ujang berdehem melihat Tio.
"Mamang juga pernah muda". Mang Ujang terkekeh yang disambut senyum kikuk Aku dan Tio.
Ah mengapa gara-gara tenggelam dalam kesedihan karena patah hati. Aku harus mengalami hal yang membuat Ku hampir celaka.
Bukankah hidup harus dinikmati selagi kehidupan masih dalam genggaman. Jangan menyedihkan sampai harus mendendam selama 100 tahun hanya karena satu pria. Bukankah terlalu tragis? Aku menatap Tio dan tatapan kami bertemu penuh arti.
-End