Halo, namaku Luna, berusia dua puluh tahun. Aku memiliki kisah yang mungkin bisa menginspirasi orang tua maupun anak-anak yang bernasib sama.
Dulu, saat aku berusia enam tahun, sudah sewajarnya jika anak sekecil itu merasa sakit, aku selalu mengeluh kepada Ibu saat merasa sakit, suatu hari, aku mengeluh saat di dapur.
"Ibu, badanku terasa panas."
Ibu yang sedang menggoreng lauk pun menghampiriku, dia memegang dahi untuk memastikan ucapanku.
"Berhentilah mengeluh! Anak penyakitan sepertimu bisanya hanya mengeluh! Sakit sedikit mengeluh, sakit sedikit mengeluh, seperti kakakmu itu, dia tidak pernah sakit!" Itu suara Ayahku, ya, sebagai anak berumur enam tahun apa yang bisa aku lakukan kecuali patuh.
Setelah itu, aku tidak pernah mengeluh lagi meskipun aku sakit, setiap kali aku merasa tidak enak badan, Ibu pasti sudah mengetahuinya dan bertanya langsung.
Saat aku lulus SD, aku dipaksa untuk memasukin pondok pesantren, aku hanya bisa patuh, mengikuti semua keinginan Ayahku, bagaimana dengan pilihanku? Jujur saja, itu bukan keinginan dari diriku. Aku ingin sekolah biasa, memiliki banyak teman dan lain sebagainya, tetapi, itu tidak bisa.
Setiap liburan aku selalu pulang, selayaknya libur sekolah biasa, seperti kali ini, saat pagi menjelang, suara itu, suara saling berteriak satu sama lain kembali memasuki gendang telingaku, mereka tidak berubah, mereka tetap seperti dulu, selalu bertengkar setiap hari.
Sebagai anak berusia dua belas tahun, aku mengerti rasa tidak nyaman itu, rasa sedih saat mendengar mereka bertengkar.
"Kapan aku bisa memiliki keluarga damai?" lirihku dengan tangisan.
Sejak saat itu, aku selalu merasa tidak nyaman saat mendengar mereka bertengkar, suatu malam, malam yang begitu aku ingat hingga berusia dua puluh ini. Ayah dan Ibu bertengkar hebat, mereka bertengkar hanya karena uang.
"Kau boleh memberikan uang kepada keluarga atau anakmu, tapi, setidaknya beri tahu aku! Aku ini istrimu, kenapa kau harus menyembunyikan uang seperti ini!"
Uang lagi, kenapa mereka selalu bertengkar karena uang? Apa tidak ada hal lain?
Ah, aku belum bercerita tentang Ayahku, sebelum menikah dengan Ibu, dia sudah menikah lebih dulu dan memiliki dua anak. Sedang Ibu, dia sebelum menikah dengan Ayah sudah menikah lebih dulu dan memiliki satu anak. Jadi, aku punya tiga saudara.
"Apa salah jika aku menyimpan uang untuk keluargaku sendiri?! Apa salah?!"
Ayah mengambil lembaran uang ratusan ribu dan menyebar begitu saja, sungguh, aku terasa menonton film yang ada di Tv, tapi, kali ini kenapa menyakitkan? Aku melihat Ibu menangis seiring dengan kepergian Ayah yang keluar rumah.
Aku merasakan sakit saat melihat dan mendengar semuanya, sakit saat berada di posisi Ibu, aku tidak tega melihatnya seperti itu. Jika terus seperti ini, kenapa mereka tidak pisah saja? Kenapa mereka harus bertahan? Aku sudah muak dengan pertengkaran mereka!
Liburan semester datang, aku kembali pulang, kembali mendengar pertengkaran mereka setiap saat, aku hanya bisa menangis saat mendengar mereka bertengkar. Siang itu, aku mendengar Ayahku bertelepon ria dengan seseorang.
"Iya, Sayang, tenang saja, aku selalu mencintaimu."
Siapa? Sayang? Siapa orang itu? Aku terus kebingungan, percakapan mesra mereka masuk ke dalam telingaku, rasa tidak terima muncul, Ayah dengan Ibu selalu berbicara kasar, kenapa dengan wanita itu dia lembut, kenapa?
Sore itu, sepulang Ibu dari ladang aku menceritakan semua yang terjadi tadi, dia hanya tersenyum dan berkata. "Ah, jadi kamu cemburu ayahmu bertelepon dengan orang lain?"
Aku bungkam, Ibu tidak tahu, bukan karena itu, aku tidak merasakan cemburu, aku merasa tidak terima dia memperlakukan Ibu semaunya!
Ke esokan harinya, aku mencoba mencari nomor yang Ayah hubungi kemarin, aku menemukannya, aku tahu betul itu nomor siapa, itu adalah nomor dari sahabat Ibu, sahabat yang selalu Ibu temani, kenapa menjadi seperti ini? Kenapa?
Seakan Tuhan terus memberi setiap cobaan ke dalam keluargaku, tidak ada ketenangan, setiap saat aku selalu mengingat kata-kata Nenekku. Ayahku tidak pernah mencintaiku atau menyayangiku, dia tidak pernah memberiku kasih sayang layaknya seorang kepala rumah tangga, dia hanya peduli dengan anak laki-lakinya, anak yang sangat dia banggakan.
"Dulu, saat kamu masih kecil, kamu nakalnya minta ampun, dia hampir membuangmu ke jalanan karena kamu tidak mau berhenti menangis. Dia bahkan tidak peduli dengan anak pertamanya, yang dia pedulikan hanya anak laki-lakinya. Bahkan aku sering protes karena dia hanya memberi kasih sayang penuh kepada anak laki-lakinya itu, tapi, dia tidak pernah mendengarkan perkataanku."
Setiap mengingat perkataan itu, aku selalu bertanya-tanya, kenapa aku terlahir sebagai perempuan? Kenapa tidak laki-laki? Apa menjadi perempuan memang seperti ini, tidak diberi kasih sayang penuh? Semua pertanyaan itu masih ada hingga sekarang.
Saat ujian kelulusan sudah selesai, di situ aku sangat bahagia, aku ingin melanjutkan sekolahku ke tempat yang lebih tinggi, menggapai segala cita-cintaku. Bersamaan dengan itu, berita itu muncul, berita tentang perceraian Ayah dan Ibu. Aku mencoba untuk tidak memikirkan itu, dalam hati aku terus berpikir, apa perceraian ini ada hubungannya dengan wanita yang ditelepon ayah?
Sore itu, aku meminta izin kepada kepala pengurus pondok, aku harus pulang untuk meminta persetujuan melanjutkan pendidikanku. Setelah mendapat izin, aku pulang dijemput Kakakku, anak dari Ibu.
Sampai di rumah, hal menyakitkan kembali terdengar, Ayah meminta harta gono gini atas perceraian mereka.
"Aku tidak mau tahu! Aku menginginkan sebagian dari rumah ini!"
"Sebagian rumah?! Apa anakmu kau suruh tinggal di bawah pohon pisang?!"
"Aku tidak peduli! Aku tidak mau tahu! Yang jelas, aku menginginkan sebagian dari rumah ini."
Air mata jatuh, aku menangis, aku melihat Kakakku sudah pergi menjauh, langkahku seakan terhenti saat itu juga.
Dia keluar, aku harus bersikap seoalah tidak mendengar apa pun, aku mengeluarkan kertas yang harus Ayah tanda tangani, aku harus bisa melanjutkan sekolahku, aku tidak akan putus di tengah jalan hanya karena perpisahan mereka! Dia berjalan begitu saja melewatiku. Sakit, sangat sakit.
"Ayah, aku ingin melanjutkan sekolah, tolong setujui."
Aku mendengar dia mendengkus, apa dia tidak suka? Apa dia tidak ingin aku melanjutkan sekolahku?
"Anak bodoh sepertimu tidak akan bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi, kodrat seorang wanita akan berakhir di dapur! Lebih baik kau melanjutkan memondokmu!"
Aku meremas kertas yang aku sodorkan, memangnya kenapa jika wanita akan berakhir di dapur? Memangnya kenapa jika bersekolah tinggi.
"Aku tidak mau melanjutkan mondok, sudah cukup aku melakukan semua ini, sudah cukup aku tertekan karena masalah pondok juga sekolah, aku tidak mau!"
"Dasar anak tidak berguna! Kalau begitu cari uang lebih baik!"
Dia pergi, dia meninggalkanku begitu saja, kecewa, aku tidak tahu harus melakukan apa, terlebih aku tidak ingin terus-terusan menerima semua keputusannya, Ibu memelukku saat aku memasuki rumah dengan tangisan, dia pasti mendengarnya, mendengar semuanya.
"Tidak perlu cemas, tidak melanjutkan sekolah bukan berarti kau bodoh, Sayang."
Tangisanku semakin kencang, aku tidak punya harapan untuk melanjutkan sekolahku. Pikiran demi pikiran, spekulasi demi spekulasi muncul, rasa tidak terima muncul, semua itu menyebabkan aku yang selalu berpikir lebih keras dari biasanya, karena hal itu, aku harus mendapatkan segala macam penyakit satu demi persatu.
Saat kelulusan di depan mata, aku harus menerima fakta di mana aku terkena gejala gagal ginjal, kekurangan minum saat berada di pondok selama tiga tahun membuatku harus menderita penyakit itu, aku masih berpikir itu hal yang wajar, aku pasti bisa melewati semua ini, ini hanya gejala, bukan gagal ginjal.
Seiring berjalannya waktu, obat demi obat, hutang demi hutang, telah Ibu ambil, mencari pinjaman sana dan sini demi mencari uang untuk kesembuhanku. Setiap aku menanyakan tentang itu, dia selalu mengatakan.
"Uang bisa dicari, sedangkan kesehatan dan nyawamu tidak bisa dicari, tidak perlu cemas."
Menangis, aku menangis mendengar perkataannya, dia begitu menyayangiku, aku harus bersyukur bisa mendapatkan seorang Ibu yang menyayangiku.
Enam bulan berlalu, Ibu bersyukur aku bisa sembuh, tetapi, itu hanya berlangsung sementara, sebelum aku kembali untuk melakukan pemeriksaan terakhir, penyakit yang membuatku harus merasa titik kepedihan muncul. Aku menderita kista kandungan, dokter mengatakan, itu penyakit yang normal untuk remaja atau lansia, bukan masalah sudah menikah atau belum, tetapi, semua wanita memiliki cikal bakal dari penyakit itu. Kenapa? Kenapa harus aku?
Beberapa dokter dari rumah sakit besar mengatakan aku harus melakukan operasi untuk pengambilan bibit kista yang berada di sel telur. Operasi? Uang dari mana lagi? Ibu sudah banyak menerima hutang untuk pengobatanku.
Lagi-lagi aku hanya bisa menangis mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut dokter itu. Aku hanya bisa menangis, ibu juga hanya bisa menangis, lagi-lagi Ibu mengatakan itu, dia akan terus berusaha untuk kesembuhanku.
Ibu kembali rujuk dengan Ayah demi bisa mendapatkan kembali ladang yang sudah ia berikan sebagai pengganti rumah, ini terasa lebih menyakitkan, dia berkorban banyak untukku. Hari itu tiba, hari di mana aku harus melakukan operasi, sebelum melakukan operasi, aku harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, harapan itu muncul saat dokter kandungan itu mengatakan, aku tidak perlu melakukan operasi, aku bisa sembuh dengan mengkonsumsi obat secara rutin, kenapa begitu? Dia mengatakan bahwa aku belum pernah menikah, juga, aku belum terkena obat KB atau semacamnya, senang? Tentu saja, tentu saja aku senang.
Hubunganku dengan Ayah tidak ada kemajuan, yang ada hanya semakin menjauh, rasa benci semakin mendalam saat mendengar kembali pertengkaran mereka, setengah tahun pengobatan, semua orang selalu mencibirku, menghinaku.
Satu tahun lebih, satu tahun lebih aku bertahan dari hinaan Tetangga sampai aku dinyatakan sembuh total dan bisa bekerja untuk mencari uang. Bekerja dan terus bekerja untuk mengumpulkan uang. Hingga akhirnya, Nenekku harus meninggal, aku tidak bisa berada di sisinya saat dia tiada, di situ, aku melihat Ayah, ayahku menangis saat memelukku, untuk pertama kalinya aku merasakan pelukan dari seorang Ayah, dia menangis dan mengatakan sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi, Tuhan berkehendak lain.
Setelah kejadian itu, hubungan keluarga di rumahku menjadi damai, aku yang mencoba untuk selalu memaafkan agar bisa terasa indah. Memaafkan tidak semenyakitkan dia menyakitiku.
Untuk kalian, saat sudah menikah atau yang belum menikah, selalu bersikap baiklah kepada keluargamu, entah itu anak kandung, atau anak tiri. Entah itu anak laki-laki atau perempuan. Sayangi mereka, limpahi mereka dengan kasih sayang. Jangan pernah bertengkar dengan keluargamu sendiri, terlebih bertengkar di hadapan anakmu sendiri.
.
.
.
Salam sayang
Author L