Di Simpang Lima tiba-tiba, “Priit....priiiittt.
Win, ada Bapak. Berhenti, berhenti!” kucolek pinggang Wiwin dengan keras. Tapi dia terus saja menjalankan Mio Soelnya.
Bapak mendekati kami. Di sini para aparat terutama Polisi Lalu Lintas kami sebut Bapak.
“Selamat pagi, “Bu.
“Kami sedang melaksanakan razia kelengkapan surat-surat kendaraan. Bisa saya lihat surat-surat motor anda?”
Wiwin diam saja karena itu kucolek dia.
“Win, keluarkan SIMmu?”
Wiwin menoleh ke belakang dan menjawabku pelan, “Tidak punya.”
“Aduh bagaimana ini? “jawabku.
Bapak tiba-tiba dipanggil temannya. Dia menyuruh kami menunggu sebentar. Saya mengeraskan suara saya.
“STNK saja dah Win supaya kita tidak terlalu salah”.
“STNK mati juga, “jawab Wiwin pias.
“Ah tenang saja, “lanjut dia kemudian.
“Nanti aku bicara. Kamu diam saja.”
Saya mengangguk. Tiba-tiba sebuah pikiran yang mungkin bisa membuat kami tak ditilang terlintas di benak saya. Tergopoh-gopoh saya mencari dompet di tas.
“Nah, ini Win.”Saya mengeluarkan sebuah kartu kecil.
“Apa? “toleh Wiwin ke belakang. Saya memajukan muka sehingga muka kami hampir bertemu.
“Ni pakai SIM saya.” Saya mengacungkan kartu kecil itu. Wiwin tersenyum. Kami berdua tertawa kecil lalu segera berubah serius karena pak Polisi sudah tiba di depan kami lagi.
Wiwin memberikan SIM. Pak polisi mengamati SIM itu lalu dia menatap Wiwin kemudian matanya yang jenaka berputar ke muka saya, kembali lagi ke Wiwin,...begitu seterusnya sampai beberapa kali. Saya berdoa dalam hati semoga foto saya di SIM itu tak dikenalinya. Wiwin memperhatikan muka pak Polisi sambil memainkan kunci motor.
“Ini kan Ibu yang dibonceng? “dia memperlihatkan bagian muka SIM saya kepada kami.
“Ini SIM ibu....Nur? Sama mukanya.”
“Hehe iya, “jawab saya.”
Wiwin memperlihatkan muka tidak setuju dengan jawaban saya tapi dia tak sempat mencegah saya.
“Begini, Pak. Tadi yang bawa motor ini ibu Nur. Di tengah jalan dia mengeluh pusing. Saat telapak tangan ini kutempelkan di dahinya, dahinya panas. Mukanya juga pucat. Karena itu kami lalu bertukar posisi, “jelas Wiwin pada Bapak.
“Iya. Tapi ibu harus punya SIM juga saat membawa kendaraan. Ibu-ibu tahu kan SIM itu apa? ”dia menatap kami.
“Surat Ijin Mengemudi. Sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya ibu-ibu taat pada peraturan. Apalagi ibu berdua ini guru. Guru adalah panutan...bla bla bla”.
Panjang sekali ceramah Bapak pada kami. Bicaranya kadang-kadang dicampur bahasa Jawa. Logat Beliau berbeda dengan kami di Lombok. Saya pikir beliau dari Jawa.
“Sekarang kami boleh jalan, Pak? “tanya Wiwin.
“Mana bisa begitu? Coba lihat STNKnya? “tanya pak Polisi.
Aku melirik Wiwin.
“Aku tak bawa STNK, lupa. “jawab Wiwin.
“Usahakan Bu STNK motor ini ada di sini sekarang. Minta tolong ma suaminya atau putranya untuk diantar ke sini”.
“Suami saya kerja Pak. Anak saya belum sekolah, “jawab Wiwin.
“Ibu usahakan dah bagaimana pun caranya yang penting STNK saya terima hari ini. “Beliau tampak kesal.
“Bagaimana kalau kami pulang sebentar Pak ambil STNK? “usul Wiwin.
Saya tersenyum dalam hati. Alangkah polosnya pak Polisi ini kalau usul Wiwin ini Beliau terima.
“Iya sudah pulang saja dulu. Sini kunci motornya dulu, “jawab Beliau.
Saya yang sudah senang karena diijinkan untuk pulang saat mendengar lanjutan kalimat beliau langsung lesu. Wiwin diam saja. Ekspresi wajahnya sulit ditebak. Dia menyerahkan kunci motor polos tanpa gantungan itu pada pak Polisi. Matahari semakin tinggi. Kulirik jam di pergelangan tanganku, jam 11.00. Sudah satu jam kami di sini. Simpang lima cukup ramai.
“Ini surat tilangnya”. Pak polisi menyerahkan secarik kertas.
“Motor ibu berdua kami tahan”.
Kami turun dari motor lalu berteduh mepet di dinding pos. Jarum jam bergerak pasti. Jam 12 siang matahari sedang terik-teriknya seperti berada persis di atas kepala. Saya haus dan lapar. Dari rumah tadi jam 8 pagi tanpa sarapan. Rencananya akan ke Dinas Pertambangan. Orang yang akan kami temui di sana sedang tidak berada di tempat. Kami memutuskan untuk kembali jam 2 siang.
“Mau pulang? “tanya pak Polisi mengagetkan kami.
“Tentu saja, “jawab kami senang.
“Punya uang 50 ribu?”
Saya merogoh-rogoh tas mencari dompet sebelum menjawab. Saya temukan pecahan 2 ribu 5 lembar dan selembar pecahan seribu rupiah. Saya bisiki Wiwin.
“Win, uangmu berapa? Saya cuma punya ini. Dompet saya di tas laptop. Saya lupa pindahkan ke tas ini”.
“Aku tak bawa uang Nur”.
Aduh Mak!
“Maaf pak Polisi kami lupa bawa duit, “jawab saya malu-malu. Kalau dalam hal begini diam saja, cuek.
“Ya sudah berapa adanya saja,”gerutu pak Polisi.
Saya mengeluarkan uang temuan saya di kantong tas itu.
“Ini, Pak”.
Pak Polisi menoleh. Beliau memandangku entah heran atau bagaimana saya tak tahu.
“Berapa itu?”
“Sebelas ribu”.
“Ya Allah masa ibu-ibu guru kere begini?”
“Iya namanya juga guru honorer, Pak. “jawabku.
“Haha. Ini bukan pungli ya. Ini hanya untuk memberi efek jera pada pengendara yang tidak taat aturan berlalu lintas”.
Saya juga tertawa tetapi Wiwin tetap diam.
“Iya sudah kalian pulanglah. Motor ibu simpan dulu pada kami. Dan bisa diambil setelah persidangan.”
Saya mengangguk, tak ada gunanya lagi berdebat. Saya mengajak Wiwin untuk pulang naik angkot tapi Wiwin menolak. Dia memilih tetap di Simpang Lima sampai kunci motor dikembalikan hari itu. Adzan zuhur sudah terdengar membahana. Perut saya bertambah keroncongan. Rasa haus pun mendera dengan sangat. Wiwin pun begitu. Bibirnya terlihat kering.
“Nur.”panggil Wiwin. Suaranya lemas.
“Ada apa? “tanyaku.
“Kau terlihat lemas.”
Wiwin mengangguk lesu.
“Aku belum minum susu dan sangobion Nur. Kalau aku pingsan nanti aku dimarah Bu Bidan lagi di klinik. Lagi pula kasihan calon bayiku. “terang Wiwin sambil mengelus perutnya.
“Memang Wiwin hamil ya? Wah Tia akan dapat adik, “jawabku gembira.
“Kan sudah kukasitahu minggu lalu? Gimana sih cepat sekali lupa? “gerutu Wiwin sambil mengedipkan matanya padaku.
Wiwin sengaja berbicara dengan keras supaya pak Polisinya dengar.
“Siapa yang hamil, “tanya beliau sambil berdiri dan menghampiri tempat kami duduk.
“Aku Pak. Lapar sekali Pak, “jawab Wiwin. Tampak sekali matanya meredup memohon dimaklumi.
“Owh. Ibu Nur juga hamil?”
“Iya, Pak. “jawabku cepat. Semoga pak Polisi ini belum sempat membaca status pernikahanku di kartu SIM itu.
“Kurus begitu seperti tidak hamil. “sanggah beliau.
“Baru sebulan Pak. Belum kelihatan, “jelasku.
“Iya sudah beli nasi di warung itu”. Mata beliau ke arah warung nasi di seberang pos.
“Sejak ngidam kami hanya bisa makan roti dengan air putih Pak”.
Pak polisi berguman sendiri bahwa tidak ada toko atau kios yang dekat dengan pos. Lalu Beliau masuk ke Pos dan keluar lagi. Di tangan beliau ada sebungkus roti. Wah rotinya mantab. Mirasa! Dan sebotol air mineral 500 ml. Kami makan siang dengan roti gratis dari pak polisi. Sambil makan saya memperhatikan setiap kendaraan yang keluar dari arah pasar siapa tahu ada kenalan yang cukup disegani pak Polisi melintas untuk kami minta bantuannya agar kami tidak kena tilang. Rumah makan di seberang pos polisi juga saya perhatikan. Intinya kelima simpangan itu saya perhatikan baik-baik. Tapi sampai roti habis jam 2 siang tidak ada teman yang melintas. Saya amat bosan tapi Wiwin bertahan. Saat kami hampir menyerah tak kami duga pak Polisi memberikan kunci motor kami.
“Ibu berdua ngidam roti. Jangan bilang sekarang ngidam kunci motor”. Mata beliau mengerling jenaka.
“Kenyataannya kami ngidam kunci juga, “jawab saya sambil tertawa.
“Iya benar Bapak. Suer! “tambah Wiwin dengan mengacungkan dua jari tangannya.
“Iya sudah. Ini kuncinya!”
Wiwin menerima kunci itu dengan gembira lalu mencium tangan Bapak yang masih singel itu dengan takzim.
“Terima kasih Pak.”
“Terima kasih Pak, “kataku juga. Kujabat tangan Bapak dengan gembira.”
“Terima kasih kembali. “jawab Bapak. Beliau tersenyum lalu melanjutkan bicaranya.
“Lain kali jangan diulangi lagi Bu”.
“Iyaaa Pak, “jawab kami bersamaan.
Ternyata Bapak baik berbeda dengan tampang sangarnya. Hehe.