Apa kali ini gue boleh egois dalam berharap? I wish ... you were love me.
♡|<•>|♡
Cakrawala bersinar terang, seolah ikut merasa bahagia. Bel sekolah baru saja berkumandang, mengizinkan para murid untuk berhamburan pulang. Termasuk bagi dua insan yang menyebut diri mereka sepasang sahabat. Namun sayangnya, tidak ada yang mengakui hal itu.
Tentu saja mereka sama sekali tak merasa keberatan. Siapa pun tidak membutuhkan pengakuan orang lain untuk memiliki sahabat.
"Pokoknya bubur yang diaduk itu najis! TITIK!" tegas gadis tomboy berjerawat pada orang yang berjalan di sebelahnya. "Udahlah, Rin! Capek debat mulu. Lagian gue kalo makan bubur juga pake nasi lagi kok," ucap Rezvan—si pria idaman—mengakui kekurangannya.
Gadis kurus itu sontak tertawa remeh. "Haha! Gak heran. Lu makan semangka aja pake sambel terasi!" ketusnya. Mendengar hinaan berbalut pujian itu, Rezvan langsung terbahak-bahak.
Zerin tersenyum penuh arti. Menatap intens ke arah teman masa kecilnya yang sibuk memegangi perut. Entah kenapa, lagi-lagi beban berat menghantam lubuk hatinya.
Terasa seperti, suara tawa yang menjengkelkan tetapi sangat dia sukai itu akan segera menghilang.
Untuk selamanya.
"Hai, Rezvan! Main bareng kita bentar, yuk?" Seorang gadis cantik berseragam ketat menghampiri mereka. Tiba-tiba Rezvan bersikap tenang dan keren, kemudian mengangguk dengan senyuman tipis. "Aahh! Dia mauuu!" Gadis tadi berteriak histeris, lalu berlari menuju kerumunan siswi yang memperhatikan dari jauh.
"Zerin, lo pulang sendiri dulu, yah? Gue mau—"
"Iya, iya, tau. Gue duluan," ucap Zerin tanpa ekspresi. Dia langsung melangkahkan kaki, meninggalkan pekarangan SMA AMUBA yang berhasil kembali mempertemukannya dengan Rezvan.
"Hati-hati yah sahabatku sayaaang!!" teriaknya sembari melambaikan tangan, lalu berjalan santai menuju kerumunan gadis yang mengajaknya.
Ahh ... Zerin terlalu naif. Sekeras apapun dia berusaha menjaga Rezvan, lelaki itu tetap saja memiliki kehidupannya sendiri. Menjadi sahabat dari seorang Rezvan Adhitama, tidak cukup untuk memenuhi hasrat di dalam hatinya.
Entahlah Zerin yang terlalu berlebihan, atau memang Rezvan yang terlalu bodoh untuk menyadari semuanya. Tetapi, gadis itu sudah menaruh hati bahkan sebelum takdir memisahkan mereka saat kecil.
Padahal dulu, Rezvan tidak lebih dari seorang bocah gemuk yang menjadi bahan bully siswa lain di sekolah mereka. Sedangkan Zerin adalah bidadari cantik nan baik hati yang membebaskan si malang dari penjara mental itu. Namun sekarang ....
Zerin malah terjebak di dalam kurungan cinta yang tanpa sadar dia ciptakan sendiri.
"Gue memang sahabat lo. Tapi ternyata ... gue gak sepenting itu di dalam hidup lo. Gue ... pergi aja yah ...?"
♡|<•>|♡
"Lo jelek! Lo gak layak jadi sahabatnya Rezvan!"
"Cuih! Kebanyakan mimpi lo! Mana mungkin si Rezvan pernah dekat sama orang yang suka pansos kayak lo!"
"Jangan halu! Rezvan pas kecil pasti udah ganteng! Justru Rezvan kan yang ngelindungin lo?!"
Untuk kesekian kali, Zerin menghela napas berat. Teriakan-teriakan itu kembali merasuki pikirannya. Semenjak dia memutuskan untuk bungkam, perlahan orang-orang mulai melupakan kebenaran yang pernah ia gaungkan. Daripada menanggapi pertanyaan dan tuduhan mereka, Zerin lebih memilih diam dan meratapi nasib sendirian.
Bahkan Rezvan tak pernah mengetahui hal ini. Lagi-lagi entah karena dia yang terlalu bodoh, atau memang dia tidak peduli sama sekali.
Hari demi hari berlalu. Rasa sakit ini terus mencekik Zerin hingga dia mencapai titik terendah. Namun, kecelakaan yang murni tidak disengaja mempertemukannya dengan seorang lelaki culun berkacamata. Singkatnya, jauh lebih buruk rupa dan 'aneh' dibandingkan Zerin.
"Aku Raka! Nama kamu Zerin, yah? Oh! Zerin yang sering digosipin sama akun lambe turah SMA AMUBA, kan?!" ucapnya menggebu-gebu.
Si kutu buku ini dua kali lipat lebih menyebalkan dari Rezvan saat kelaparan. Dia tidak berhenti mengoceh, menasihati Zerin (padahal dia jauh lebih butuh nasihat), bahkan mengikuti Zerin ke mana pun seolah mereka adalah sahabat yang paling akrab di dunia.
Belum lagi cita-cita barunya yang sangat ingin menjadi teman Zerin. Sungguh menguji kesabaran.
"Aku bisa ngelakuin apa aja kok! Kamu butuh teman curhat? Butuh teman belajar? Tapi aku gak punya banyak duit sih ... yang penting aku bisa jadi teman kamu, Rin!" Sejujurnya Zerin sangat geli dan 'sedikit' jijik mendengar kalimat itu. Namun, ia melihat ada kesempatan dan keuntungan yang bersembunyi di balik tawaran Raka.
"Oke, deal."
♡|<•>|♡
Hidup Zerin mulai berubah total. Bisa dibilang dia semakin jarang berkomunikasi dengan Rezvan. Tetapi bukan berarti dia terbebas dari kurungan cinta itu. Hanya saja, Raka benar-benar sudah berusaha keras untuk memenuhi semua keinginannya. Bahkan, mungkin dia rela memotong tumpeng untuk mengubah namanya menjadi Rezvan.
Perlahan tapi pasti, pagar besi yang selama ini mengekang Zerin berangsur dipenuhi karat. Dan semua itu berkat Raka yang tulus ingin berteman dengannya.
Namun, ia masih saja merasa kosong. Kenangan masa kecil, indahnya pertemuan setelah bertahun-tahun terpisah, dan semua kebahagiaan yang sudah mereka bagi bersama, tidak cukup jika hanya digantikan oleh niat seorang asing yang ingin berteman.
Zerin memang terus merangkak keluar, tetapi di saat yang bersamaan malah semakin jatuh terjerumus.
"Rezvan ... gue ada satu permohonan ...." Wajah tampannya terlihat kebingungan. Ekspresi sedih tak lagi bisa Zerin palsukan. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk memutuskan. Hancurkan harapan yang sempat dibangun, atau terus berjuang untuk mewujudkannya.
"Apa kali ini gue boleh egois dalam berharap? I wish ... you were love me."
♡|<•>|♡
Cerpen ini adalah penggalan sinopsis dari novel baru saya yang berjudul 'Wish You Were Love Me'. Jika kamu tertarik, silakan intip karya tersebut di profil saya. Jangan lupa klik follow, ya!^_^
Terima kasih sudah membaca!;)