Ting
Begitu lift terbuka, aku langsung menghambur keluar, karena teman temanku sudah menungguku di kantin kantor tempat aku bekerja.
Aku berlari dengan terburu buru ke arah kantin, Aku berlari hingga lepas kendali ,dan ketika akan berbelok , tanpa aku sengaja ,menabrak seorang pelayan yang sedang membawa dua mangkok bakso di atas nampan.
Seketika aku menjerit, karena kuah bakso yang berada di mangkok itu tumpah ke tanganku.
"Ah...panas..panas...hup..hup..hup..", teriakku merasakan kulitku terbakar, dan reflek aku segera meniup tanganku itu.
" Kalau jalan hati hati dong,..nich..lihat tangan aku sampai terbakar..", omelku tidak terima.Padahal aku yang lari begitu kencang dan ceroboh.
" Maaf,...." Balas pelayan itu dengan berlalu.
" Eh..malah nyelonong aja gak tanggung jawab, obatin atau gimana kek.." protesku tidak terima, karena pelayan itu mengabaikanku.
Kini aku berjalan menuju kantin, dan sepanjang perjalananku ke kantin, aku terus meniup luka bakar di tanganku yang rasanya kini menembus daging dan masuk ke tulang.
" Tuh Tiya udah datang, eh..lama bener kamu" , sambut Cantika dan kedua teman kerjaku ,ketika aku hampir mendekati mereka di meja kantin.
Tanpa menghiraukan mereka, aku segera menarik kursi dan seketika duduk, sambil masih meniupi tanganku.
" Sedang apa kamu tya, kenapa tangan kamu, sampai di tiup tiup terus?" , tanya Rara temenku yang lain di bangku itu.
" Nich..tanganku terluka , tadi habis ketumpahan kuah bakso." jawabku menjelaskan.
Sontak ketiga temanku menatap luka di tanganku, yang sekarang sudah terlihat sangat merah.
" Mana...tangan kamu baik baik saja kok, gak ada luka sama sekali, jangan bercanda di siang bolong gini tya." lanjut Cantika, dengan sedikit masam.
" Ini..masa kamu gak lihat sih.., yang ada tuh kalian yang bercanda.., panas banget rasanya tau gak sih.." , eyelku , dengan pandangan kecewa.
cekrek...
Rara segera mengambil handphonnya dan memotret tanganku yang terluka, lalu memperlihatkan hasil foto itu kepadaku.
" Nich..lihat, siapa yang bohong.." ujarnya kemudian.
" Hah?" Aku terperanga, ketika melihat foto itu, memang ternyata dalam foto tanganku tidak terdapat terluka sama sekali , kulitku pun masih utuh.
" Hah?" Aku terheran.
" Tadi emang aku ngalamin kejadian itu kok, beneran, tapi...sekarang kok jadi gini ya?" Aku masih bingung dan terheran sendiri.
" Ah...kamu tuh ,ngagetin kita aja...,lainkali bercandanya yang seriusan dikit ya.." Sindir Rara. Temenku yang satu ini memang orangnya suka sewot, tapi dia baik hati.
***
Di rumah ,Aku masih memikirkan kejadian yang aku alami tadi siang di kantor, tapi anehnya kenapa seolah aku merekayasa kejadian itu. Aku makin tambah penasaran.
***
Pagi berikutnya, Aku berangkat paling awal di kantor itu, ini adalah hari ke 15 harinya aku bekerja di kantor ini.
Aku baru saja duduk hendak menghidupkan komputer di mejaku, ketika pelayan bakso yang kemarin itu lewat , sambil membawa ember yang berisi air.
Aku berpikir sejenak, kemudian memutuskan mengikutinya, menanyakan kepada pelayan itu, menyuruhnya bersaksi nanti di depan teman temanku , bahwa peristiwa yang kami alami kemarin itu benar, agar teman temanku tidak menganggapku berbohong. Dan aku juga ingin tahu, kenapa lukaku cepat sekali sembuhnya.
" Hei..tunggu ," Aku berteriak memanggil pelayan itu, tapi pelayan itu seakan tidak mendengarku, dia tetap saja berjalan tanpa terganggu sedikitpun.
Aku masih saja berjalan, mengikutinya di belakang. Dan tibalah kami di kantin bakso. Aku terheran, kenapa baru saja tahu ,kalau ternyata ada juga kantin bakso di kantor, jujur aku mulai bosan dengan menu yang di sediakan di kantin biasanya.
Banyak pengunjung yang datang, bahkan ada juga orang luar , yang juga menikmati bakso di kantin ini. Hal itu membuatku lupa tujuanku semula , karena tiba tiba perutku bergemuruh, karena belum sarapan.
Aku hendak memesan , dan akan memanggil pelayan tadi, ketika handphonku seketika berdering. Aku segera menjawab panggilannya.
" Halo Tya, kamu di mana, cepetan, pak Direktur datang, dan akan mengadakan meeting pagi ini.". Cantika memanggilku untuk segera ke kantor.
" Oh iya...tunggu sebentar, aku segera sampai." Sambil berlalu aku menjawab panggilan Cantika.
***
Meeting pun akhirnya selesai, dan seperti biasa, kami akan pergi ke kantin.
"Eh..kita makan bakso aja yuk, di kantin sebelah sana, " Ajak ku kepada mereka.
" Kantin bakso,..perasaan aku baru dengar kalau di kantor kita ada kantin bakso" Lina angkat bicara, biasanya dia selalu pendiam.
Diantara kami ,Lina adalah paling senior, sudah 3 tahun Lina bekerja di kantor ini.
" Iya...aku lihat kok tadi pagi, malahan pengunjungnya sudah banyak" Aku ngotot, karena memang aku melihat kantin itu ada. Aku tidak mau mereka menganggapku berbohong lagi.
" Kalau tidak percaya , mari aku tunjukkan" ucapku, sambil menarik Cantika agar ikut bersamaku.
" Ya udah...kita ikut kamu juga", balas mereka, memilih percaya kepadaku.
Akhirnya kami bersama sama menuju kantin itu, dan aku sebagai penunjuk jalannya, berada di barisan paling depan.
Aku celingukan mencari lift yang tadi pagi aku naiki, tetapi kenapa sekarang aku tidak melihatnya.
Rupanya gelagatku mengundang mereka jadi penasaran padaku.
" Tya, kamu sedang cari apa?" tanya Rara, kemudian teman teman yang lain ikut memandangku.
" Tidak cari apa apa, aku cuma lupa, lift yang mana yang tadi aku naiki tadi pagi" jawabku jujur.
" ck..Tya..tya...kamu tuh emang hobby ngerjain kita, jangan jangan, kantin bakso yang akan kamu tunjukan itu ,hanya ada dalam mimpimu saja.." Sahut Rara sinis.
Aku marah dengan ucapan Rara yang menuduhku berbohong, aku melemparkan tatapan marahku pada mereka.
" Aku tidak bohong,..aku jelas jelas kesini tadi pagi, dan melihat kantin itu, kenapa kalian tidak percaya..?" Aku ngotot ,karena aku tersinggung dengan kata kata mereka, yang menuduhku suka berbohong.
" Tya...bukannya kami menuduhmu berbohong, tapi emang kantin bakso sejak dulu tidak pernah ada di kantor..." Sambar Lina dengan ngotot juga
" Sudah sudah, kalian jangan bertengkar lagi, tidak baik kalau sampai Atasan tahu kita bertengkar" Lerai Cantika.
Kami jadi hening ,karena masih meredakan emosi yang tadi meledak ledak.
" Daripada penasaran dan kita jadi bertengkar lagi, lebih baik kita tanyakan pak Satpam saja." Cantika akhirnya memberi saran solusinya.
Aku masih memalingkan muka, emosiku belum sepenuhnya hilang.
" Kita tanya pak Santo, beliau sudah lama bekerja di sini." Lina kembali angkat bicara.
Kami_pun akhirnya menemui pak Santo saat ini juga.
***
" Pak...apa benar di kantin kita ada kantin bakso?" Tanya Lina kepada pria paruh baya, yang sudah 10 an tahun bekerja di kantor ini.
Pak Santo kemudian nampak berpikir, mengingat ingat masa lalu.
" Seingat bapak, kalau sekarang tidak ada, tapi dulu memang pernah ada ,tapi bukan kantin, melainkan warung bakso."
" Warung bakso itu milik teman saya yang bernama Diman, dan warung itu di namakan "Bakso Mang Diman".
"Setiap harinya, warung itu selalu ramai pengunjung ,hingga suatu hari warung itu terbakar habis, beserta orang orang/ pengunjung yang waktu itu ada di sana, ceritanya tragis, katanya sih, dari pembicaraan warga sekitarnya, warung itu sengaja di bakar oleh saingannya, ck..ck..ck...kadang manusia itu kejamnya melebihi binatang, ...saya juga heran."
Mendengar cerita pak Santo ,seketika badanku merinding, tidak di sangka ternyata aku mengalami peristiwa horor di kantor ini.
Dan Aku jadi teringat pelayan yang aku temui, sambil gugup aku menanyakannya pada pak Santo.
" Lalu pelayan yang aku sering jumpai di lift, itu ...." Aku tidak sanggup melanjutkan pertanyaanku. Karena badanku merasa lemas seketika.
Misteri......
* tamat*