Malam itu, seluruh tubuhku terasa hangat dan lelah. Pundakku terasa berat, bahkan untuk nafas sekalipun. Tapi, aku masih menghiraukannya. Ku pikir aku hanya kelelahan bekerja.
Namaku Kinimo Kinanti, seorang mahasiswi jurusan Manajemen Informatika dan juga seorang pekerja disebuah swalayan. Demi melanjutkan kuliahku, aku terpaksa harus bekerja part-time.
"Aduh, padahal udah di koyo, masih aja pegel," keluhku, kalian bisa panggil aku Kimo.
~Hari kedua~
Kubuka mataku perlahan-lahan selepas tidur. "Ugh!" masih saja pundakku terasa sakit. Aku pun turun dari kamarku, kutengok kearah kanan, teryata ada Ibu kos.
"Bu, kok pundak saya dari kemarin pegel ya?" tanyaku kepada Bu Weird selalu Ibu kos.
"Kemarin ngapain aja, Neng? Coba diinget inget" tanyaku balik Ibu kos.
"Saya sih seperti biasa, Bu kerja." jawabku sembari mengingat-ingat kejadian yang kualami 1 hari yang lalu. Namun, aku memang tak melakukan hal yang aneh, aku hanya melakukan hari hariku seperti biasa.
"Bener, Neng? Kamu beneran gak mengusik sesuatu 'itu'? Atau gimana" tanya Bu Kost sekali lagi.
"Kemarin sih Bibi dikampung saya meninggal. Cuma saya gak dateng ngelayat, abis gak ada duit. Yah... ntar aja akhir tahun" jawabku dengan santai.
"Waduh, jangan-jangan diikutin, Neng" jawab Bu kost.
"Ahh Ibu ini, udah jaman modern masih aja percaya yang begituan" bantaku. Memang sih aku sendiri tak percaya hal hal yang berbau mistis. "Toh itu paling hanya imajinasi" gumanku dalam hati.
Bik Suci, begitulah aku memanggilnya. Sejak kecil aku telah ditinggal pergi orang tuaku. Hanya Bik Sucilah yang merawatku. Ia bagaikan Ibu kandung bagiku.
"Haduh, kamu ini, Neng. Yasudah coba saja ke Dokter" pinta Bu kost.
"Iya juga ya. Makasih ya, Bu" kataku. "Kenapa gak dari kemaren aku kepikiran ya" batinku.
Aku pun bersiap-siap diri dan berangkat ke kampus. Dijalan sempat sesekali aku mendengar suara seseorang sedang membisikiku beberapa saat. "Paling cuma angin" batinku.
"Kimo, Bibi kangen" bisik suara itu berkali-kali. Suaranya memang terdengar tak terlalu jelas. Tapi aku bisa mendengar bahwa suara itu mirip sekali dengan Alm. Bibi Suci.
"Bibi?" batinku.
"Ahh, sudahlah, lupakan saja" ku gelengkan kepalaku dan berusaha melupakan suara bisikan itu.
Langkahku seketika terhenti ketika sampai didepan kampus. Bukan berhenti karena telah tiba, melainkan pundakku yang kumat lagi. "Ugh!"
BRUKK!! Tubuhku terjatuh tak tahan dengan pundakku yang sakit. Rasanya aku seperti mengendong seseorang.
"Ugh!" kubuka mataku perlahan-lahan, tengok kanan dan kiri. "Rumah kost?" gumanku. Aku terbangun mendapati diriku berada di ranjang tidurku. Kukucek mataku perlahan-lahan. "Siapa yang mengantarkanku kerumah kost? Dan kemana dia sekarang? Dan kenapa sepi sekali disini?" beribu-ribu pertanyaan muncul di benakku. Pasalnya saat aku terjatuh pingsan aku berada di pojok pintu masuk Universitas.
Ku lirik jam dinding diatas pintu. "Jam 7?" tunggu, aku pingsan 12 jam?" batinku.
Aku tau mau hanya dihantui beribu-ribu pertanyaan. Aku pun memutuskan untuk kebawah, dan menanyakannya kepada Bu kost.
"Bu, tadi yang anterin saya pingsan siapa ya?" tanyaku sembari menghampirinya yang sedang memasak untuk makan malam.
"Hah? Nganterin pingsan? Neng, tadi pulang jalan kaki kok," jawab Bu kost.
"Aku serasa makin dibuat binggung. Jalan? Tadi sudah jelas jelas aku pingsan dijalan. Jangan-jangan..." gumanku. Bulu kudukku seketika berdiri, dan hawa dingin menyelimuti diriku.
Malam harinya, pukul 21.00
Tik Tok Tik Tok
Suasana diasrama serasa sunyi. Tak ada yang begadang, begitu juga dari luar rumah. Hanya kesunyian yang ada, bahkan aku sampai bisa mendengarkan suara jarum jam yang bergerak.
Ingin tidur, tapi rasanya tak bisa. Biasalah, tidur ayam. Tidur enggak, bangun pun enggak.
Tok!! Tok!! Tok!! Aku dikejutkan oleh suara seseorang mengetuk jendela. Ingin kubuka gordennya. Tapi... inikan lantai 2?!
"Ah paling cuma burung nabrak" gumanku.
Aku masih diam, dan diam didalam kesunyian.
TOKK!! TOKK!! TOKK!! Kali ini suara ketukannya jauh lebih keras. Seakan-akan seseorang meminta paksa untuk kubukakan jendelanya.
"Ganggu aja tuh suara" geramku. Aku pun beranjak dari tempat tidur menuju jendela kamarku.
Namun sebelumnya, entah mengapa leherku serasa menenggok kearah kanan dengan sendiri. Rasanya seperti ada seseorang yang paksa menggerakan leherku.
"AAAHHH!!"
***
[Cu, tadi malam Bibimu meninggal. Kamu kesini ya, melayat Bibimu untuk terakhir kalinya] pinta seorang wanita tua dari dalam telepon.
Mbah Icha, begitulah orang-orang memanggilnya. Sesosok yang menjadi sesepuh didesa Adem Ayem.
"Nek, nenek tau kan biaya pesawat kesitu mahal. Kimo tau, Bibi itu orang yang merawat Kimo. Tapi Kimo gak punya duit Nek, tolong lah" banta Kimo yang membuat hati neneknya menjadi sedih.
[Tapi-]
"Udahlah, Nenek mau Kimo gak lulus kuliah?"
[Yasudah]
***
"Bi-bik Suci?!" aku terkejut melihat sesosok makhluk mirip Bik Suci menemplok tepat dileherku. Rasanya ingin kabur, namun percuma. Aku merasa berat, dan lagi makhluk itu menemplok ditubuhku. Tak peduli seberapa jauh aku kabur ia tetep mengikutiku.
Tubuhku bergemetar, bulu kudukku berdiri, dan hawa dingin menyelimuti seluruh kamarku. Aku hanya bisa berdoa. Ya benar.
Ku ucapkan beberapa doa doa, syahadat. Ku ambil kalung yang tergantung dileherku. Dan menunjukkan kepada makhluk itu. Berharap makhluk itu cepat pergi.
Dan benar, makhluk itu pergi. Namun sebelum pergi
ia berkata, "Jangan lupa datang ke makam Bibi ya, Kimo"
Aku syok dan terjatuh pingsan. Bu kost dan anak lainnya membantuku. Sejak saat itu setiap hari aku mendoakan bibiku Dua bulan kemudian aku mengunjungi makam bibi ku yang berada di kampung.
Setelah itu, aku tak pernah lagi diganggu sesosok hantu yang mirip bibiku. Dan, aku hanya bisa berdoa semoga ia tenang di sana.
[Tamat]
Sosok hantu di sini sebenarnya berasal dari dua jenis hantu yang berbeda, namun saya jadikan satu.
1. Hantu Pamitan
Fenomena ini terjadi ketika sesosok jin/hantu meniru seseorang/arwah untuk mendatangi kerabatnya yang masih hidup. Biasanya ia datang hanya untuk menyampaikan pesan, mengembalikan barang, atau sekedar bertemu untuk terakhir kalinya.
Jadi bisa dibilang si Jin ini disuruh sama di Arwah untuk menyampaikan pesan.
2. Diikuti hantu
Fenomena ini terjadi ketika sesosok arwah mengikuti/menempel pada anggota keluarganya yang masih hidup. Biasanya ia mengikuti keluarganya itu karena masih ini melindungi orang itu. Namun tak jarang sosok hantu/arwah ini justru malah ingin mencelakakan orang yang ia ikuti.