SELAMAT MEMBACA
"Ojek payung, Pak?"
Seorang bocah lelaki berusia 14 tahun berjalan di tengah derasnya hujan dengan payung digenggamannya lalu menghampiri pria berjas yang hendak keluar restaurant.
Pria itu berjalan dan mengambil payung milik bocah lelaki itu dan segera memakainya, sedangkan sang bocah berjingkrak dengan senang seraya berjalan di belakang pria berjas kantor itu, tak peduli tubuhnya yang basah kuyup yang terpenting ia mendapat upah.
"Ini bayaranmu, Nak." Pria itu menyerahkan payung serta uang bayaran hasil ojek payung saat dirinya sudah di dalam mobil.
"Ini banyak sekali, Pak," ujar anak itu menatap uang 100 ribu yang disodorkan kepadanya.
"Anggap saja ini rezekimu."
Anak kecil itu kembali tersenyum dengan riang. "Terima kasih banyak, Pak! Semoga anda selalu dilindungi oleh Tuhan!"
Pria berjas itu bernama Ganendra Sanjaya, pemuda tampan yang sudah sukses bahkan ia kini menjadi pengusaha tersuskses di dunia dan masuk dalam rating pertama.
Ia tersenyum menatap bocah lelaki tadi, masa lalu kembali terlintas di benaknya, dulu ia juga pernah menjadi ojek payung saat berusia 14 tahun.
Ganendra sebenarnya anak dengan keluarga yang kacau, ayahnya orang berkecukupan dulu dan menikahi ibunya yang miskin lalu, ayahnya tergoda dengan seorang wanita penggoda padahal saat itu ibunya sudah memiliki seorang anak, Ganendara dan Olivia. Yah, Ganendra memiliki saudara perempuan dulu, namun saat ayahnya bosan pada ibunya, mereka bercerai, ayah tak peduli pada keluarga kecilnya, mereka diusir, saat itu ibu ganendra menjadi stress dan frustasi hingga akhirnya melakukan bunuh diri sampai akhirnya ganendralah yang berjuang mati-matian untuk menjaga Olivia yang baru berusia 5 tahun.
Ia mencari uang dengan Jasa ojek payung dan malam itu na'as nya saat ia kembali dari mencari uang, ia menemukan tubuh Olivia mati dengan cara mengenaskan, seseorang yang suka menjual organ anak kecil sukses mengoyak tubuh adiknya.
Menyedihkan bukan.
Ini belum selesai, setelah itu Ganendra luntang-lantung, ia sempat ingin mengakhiri hidupnya juga, wajar jika anak berusia 14 tahun memikirkan hal yang mengerikan seperti percobaan bunuh diri, dia trauma akan kejadian itu, namun rasa dendam saat itu lebih besar dari tekad mengakhiri hidupnya sendiri hingga akhirnya ia kembali bekerja melanjutkan ojek payungnya untuk biaya sekolah.
Di lain sisi saat itu seorang pria tua yang selalu memperhatikan Ganedra setiap hari bekerja tampak tertarik dengan tekad tak pantang menyerah, gigih dan kerja keras Ganendra, yah pria itu adalah orang kaya, ia mengajak Ganendra untuk ikut dengannya dan menyekolahkan Ganendra hingga mendapat gelar sarjana.
Dan dari situlah kini Ganendra menjadi pengusaha sukses berkat pria tua yang kini telah meninggalkanya, batu loncatan yang amat ia hargai.
Sebab masa lalunya pula Ganendra menjadi sosok misterius dan parahnya ia sangat tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya kecuali ia pernah mengalaminya, Ganendra dikenal sebagai sosok angkuh yang tak berperasaan di kantor.
Ganendra mulai menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya dengan laju tinggi.
***
"Dasar pelacur!"
Gadis berusia 19 tahun itu meringis keras saat tamparan mendarat di pipinya berkali-kali.
"S- sakit ibu"
Ibunya meludah lalu berseru, "Kenapa kau menggoda ayah tirimu sendiri!"
Gadis itu melotot kaget lalu menggeleng pelan. Dia sama sekali tak pernah menggoda ayah tirinya namun, sepertinya saat tatapannya bertemu dengan sang ayah tiri pria itu menyeringai licik.
"Dia menipumu ibu!" Tunjuk gadis itu dengan mengusap air matanya kasar.
Pria yang ditunjuk gadis itu hanya menggeleng lalu menghampiri istrinya dengan ekspresi sedih. "Sudahlah sayang, lagipula dia anak kita, mungkin saat malam itu dia memang tak sengaja."
Ibu gadis itu tetap tak bisa meredam emosinya walaupun sang suami terus menjelaskanya dengan kalimat tak sengaja, Putrinya bernama Evelyn Manora mencoba menggoda ayah tirinya sendiri.
"K-kau pintar sekali membalikan fakta!" teriak Evelyn dengan nada tinggi.
"Jaga perkataanmu!" bentak ibunya.
Ini sudah bukan seperti ibunya, semenjak pria itu ada di rumah ini, ibunya menjadi seperti musuh bagi Evelyn, terlebih lagi karena jebakan pria brengsek yang berstatus sebagai ayah tirinya, bukan jebakan tapi memang sengaja.
Malam itu sekitar jam 9, Evelyn sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dia sudah mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower, kamar mandinya hanya dilapisi kaca Hingga membuat lekuk tubuh Evelyn terlihat, ia mandi dengan air hangat hingga membuat kaca menjadi seperti berembun.
Dan sialnya sejak ia mandi, Heri yang merupakan ayah tirinya, memasuki kamar putrinya itu dan masuk ke kamar mandi tanpa suara dan memperhatikan Evelyn dari luar.
Hingga akhirnya Evelyn keluar dari kamar mandi menggunakan handuk, hingga sebatas paha membuat Heri cepat-cepat keluar namun, sialnya saat dia keluar Istrinya sudah ada di depan pintu dengan Evelyn yang terkejut melihat ayah tirinya ada di dalam kamar mandi serta ibunya di depan pintu membuat kesalah pahaman itu menjadi makin runyam dan parahnya pria itu mengatakan bahwa Evelyn menelpon dirinya untuk memasuki kamar mandi lalu mengajak dirinya mandi bersama.
Evelyn merasa dilecehkan oleh Heri yang mengintipnya sedang mandi dan sekarang ia harus bertengkar dengan ibunya, tapi pria itu selamat dari segala amukan sang ibu.
"Pergi!" teriak ibunya.
Evelyn menangis sesegukan, matanya menatap benci Heri yang tengah tersenyum sinis ke arahnya.
Ia bangkit lalu menatap ibunya sekilas.
"Suatu saat nanti Ibu akan sadar. Dan kau!"
Evelyn menunjuk Heri kemudian melanjutkan perkataannya. "Aku akan menyingkirkanmu dari ibuku!" ujarnya sebelum lari meninggalkan rumahnya sendiri namun, ada sesuatu hal yang ia ketahui.
Heri Damayanto yang sekarang menikah dengan ibunya adalah seorang mantan dukun dan ia yakin ibunya telah diguna-guna hingga harus membencinya dan bahkan ibunya rela mengorbankan semua hartanya demi Heri.
"Semoga Tuhan selalu melindungi, Ibu," ujar Evelyn sebelum benar-benar pergi.
🔪🔪🔪🔪
Ganendra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menyeringai licik saat membawa sekretaris untuk dibawa ke mansion miliknya.
"Kau harus tinggal selama seminggu di rumahku," ujar Ganendra dingin.
Sekretaris itu tersenyum puas, dia merasa berhasil menggoda bos barunya. Dia baru saja dipekerjakan tiga hari oleh bos yang ia akui sangat tampan dan sekarang dirinya sudah langsung mau dibawa ke mansion milik bosnya.
"Aku akan melayanimu juga kalau perlu," ujar sekretaris bernama Sintia.
Ganendra mengukir senyum samar. "Kaulah yang akan kulayani."
Sintia kini bergelayut manja, ia sangat senang mendengar perkataan Ganendra seakan-akan dirinya ini adalah seorang ratu di mata pria itu.
Dan ia tak menyadari bahwa mansion yang kini tengah ia datangi adalah neraka baginya.
Bagi Ganendra wanita penggoda, hanya akan menjadi mainan dan juga tumbal untuk adiknya.
Sintia keluar dari mobil dan memasuki mansion ditemani Ganendra yang berjalan di depanya. Sintia menelan salivanya kasar saat merasakan aura mencekam saat memasuki mansion, dii sana ada empat pelayan dan juga duapuluh pengawal kalau dihitung oleh Sintia.
Dan tatapan para penghuni mansion sangat menusuk namun, dengan angkuhnya Sintia menggandeng lengan Ganendra lalu menatap sinis para pelayan.
"Mereka tak sopan!" desis Sintia saat melihat tatapan mengejek dari dua orang pelayan yang ia lewati.
"Abaikan saja," jawab Ganendra enteng dan Sintia hanya bisa mendengus kasar.
Ganendra mengedarkan pandanganya untuk mencari seseorang.
"Pak Kimar, tolong antar tamuku Ke kamarnya," ujar Ganendra saat melihat pria tua yang sedari tadi ia cari.
Kimar menghampiri Ganendra lalu tersenyum ke arah Sintia.
"Mari non saya antar ke kamar anda," ujar kimar.
Sintia bergelayut pada lengan Ganendra lalu merengek, "Aku tak mau diantar oleh pria tua ini, aku hanya ingin diantar olehmu."
Sintia mengelus dada bidang Ganendra dengan gerakan seksual namun, Ganendra hanya menunjukkan ekspresi dinginya pada Sintia.
"Aku masih ada urusan." Setelah itu Ganendra meninggalkan Sintia.
"Mari, Non, " ajak Kimar lagi.
Sintia menatap Kimar dengan sinis. Dia menghentakan kakinya kesal lalu mengekori Kimar.
***
Sudah seminggu Sinti disini namun, Ganendra tak pernah ingin berhubungan denganya setiap malam padahal Sintia selalu menggoda Ganendra setiap malah, tapi pria itu tampak enggan dengannya. Dan malam ini, Sintia berniat mengunjungi Ganendra ke kamar namun, dia tidak melihat Ganendra di manapun.
Sehingga akhirnya Sintia memutuskan untuk berkeliling mencari Ganendra dan akhirnya dia menemukan Ganendra berdiri di tempat yang tidak jauh dari perkarangan belakang mansion.
"Ganendra..."
"Ada apa?"
Sintia bergidik ngeri saat tatapan dan nada bicara Ganendra tak seperti biasanya.
"Ayolah ke kamar, aku ingin bersamamu sampai pagi," ajak Sintia mengebu-ngebu.
Ganendra menyeringai penuh makna dan Sintia tersenyum lebar melihat ekspresi Ganendra yang berubah seperti semula.
"Mau kemana?" tanya Sintia saat Ganendra mengulurkan tangan padanya.
"Ke pekarangan belakang"
"Bukankah kau selalu melarangku ke sana?"
"Sebelum ke kamar, alangkah baiknya kita berjalan-jalan," ujar Ganendra.
Sintia menyambut uluran tangan itu dan mengikuti Ganendra namun, betapa terkejutnya Sintia saat mendapati 20 peti mayat yang terbuat dari kayu berjajar indah dan menyiptakan ruas jalan yang kecil. Tubuh Sintia gemetar bahkan dia memandan Ganendra dengan pandangan ketakutan.
"Ini semua apa mak-maksudnya?" tanya Sintia.
"Kau takut, hm?"
Sintia mundur menjauhi Ganendra kemudian Ganendra memanggil Kimar yang selalu berjaga di tempat ini setiap akan ada wanita yang ia bawa. Kimar keluar dari persembunyiannya bersama lima orang pengawal bertubuh besar.
"Setelah kalian bersenang-senang, buatlah dia terbaring cantik dalam peti yang kosong," titah Ganendra dan meninggalkan perkarangan namun, Sintia mencekal lemgan Ganendra dengan derai air mata.
"Apa maksudnya ini?!"
"Aku bencin wanita penggoda sepertimu, enyah dan jadilah tumbal," bisik Ganendra kemudian menepis cekalan Sintia dan pada waktu berikutnya, Kimar dan lima orang pengawal tersebut memegangi Sintia.
Dan pada detik berikutnya, makian dan raungan penuh kesakitan terdengar dari mulut Sintia dan Ganenra tidak menoleh sama sekali.
Perkarangan itu adalah tempat ia menumbalkan para wanita penggoda untuk adiknya, di sana sudah banyak peti mati yang berisi wanita penggoda yang diawetkan setelah ditumbalkan.
Sebenarnya Ganendra adalah sosok pria baik dan juga ceria namun, sekarang ia telah berubah menjadi pria tanpa hati, hati nuraninya mungkin sudah hilang bersama masa lalu kelamnya.
Setelah ini, dia akan mencari sekretaris baru lagi untuk tumbal dan selanjutnya mungkin ia akan ke klub malam.
****
Evelyn memberontak saat seorang pria paruh baya dengan perut buncit mencoba menyentuhnya. Saat ini dia telah berada di dalam kamar dengan pakaian ketat dan terbuka, Evelyn suka tidak menyangka akan berakhir akan berakhir di tempat ini setelah diusir oleh ibunya. Semuanya bermula dari wanita glamor yang menawarkan pekerjaan padanya kemudian menipunya
"Dasar bau tanah!" teriak Evelyn lalu menendang pusaka milik pria itu.
Orang itu merintih kesakitan sedangkan Evelyn segera melarikan diri dari kamar namun, setengah dari perlariannya untuk keluar, dia menabrak tubuh seorang pria .
"Gunakan matamu," ujarnya dingin.
Manik kelam pria itu seakan megunci iris obisidan milik Evelyn.
"Kau mau kabur lagi?!" bentak seseorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walaupun umurnya sudah 52 tahun.
"Madam Remora," cicit Evelyn.
Evelyn menatap pria dihadapanya dengan tatapan memohon, dia tak sudi kembali ke tempat ini.
"Kumohon bawa aku pergi. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku padamu asal jangan buat aku berada disini, kumohon."
Evelyn menatap nanar pria di hadapannya tanpa memikirkan konsekuensi dari perkataanya barusan, pria tampan itu tersenyum samar, melihat gadis menawan yang membuatnya tertarik.
"Dia akan ikut bersamaku," ujar pria itu sambil menatap Madam Remora.
Madam remora melempar atensinya ke arah pria tampan yang tengah menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi, Madam Remora merutuki sikapnya yang langsung naik pintam tanpa melihat orang di depannya.
"T.. tan Ganendra, tapi dia Itu tidak pandai dalam melayani, menggoda saja dia tidak tau!" jelas Madam Remora.
Namun pria itu langsung menatap tajam Madam Remora, membuat wanita paruh baya itu langsung bungkam dan menunduk.
Ganendra sanjaya, merupakan pria yang amat ditakuti di tempat ini walaupun bukan dialah pemiliknya, tapi jika satu kali permintaan Ganendra ditolak maka tempat ini akan langsung hancur dalam semalam atau mungkin setelah ia keluar dari tempat ini.
"Mulai sekarang dia wanitaku," tegas Ganendra.
Evelyn menatap pria yang kini menatapnya dengan tatapan dingin, sosok tampan yang tampak seperti Iblis.
"Keputusan yang tepat," ujar Ganendra sambil tersenyum miring membuat Evelyn bergidik ngeri.
🔪🔪🔪🔪
Evelyn mengerjapkan matanya berkali-kali, sambil erentangkan tangannya dan mengerang pelan, kini dia tengah dalam posisi setegah duduk di atas kasur dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Tidak elegan," sahut Ganendra.
Evelyn melotot saat pria bernama Ganendra yang semalam menyelamatkanya tengah duduk di sofa sambil menatapnya intens. Kemudian dengan cepat, Evelyn mengecek pakaian dan tubuhnya sebab semalam dia ketiduran dan tidak ingat apapun sehingga saat bangun sudah ada di kamar ini.
Ganendra mendengus sebal lalu berujar, "Aku tak menyentuhmu."
Evelyn yang mendengar itu langsung menghela napas lega.
"Dimana kau membawaku?"
Gadis itu terlihat begitu cantik walaupun wajahnya tak dipoles make-up, rambut berantakan dan juga pakaian lusuh.
"Mansionku."
"Siapa sebenarnya kau? Bagaimana Madam Remora langsung setuju dengan keputusanmu bahkan dia terlihat takut padamu?" tanya Evelyn.
Bukanya menjawab, Ganendra malah memerintahnya untuk mandi jika tidak mau, maka Ganendra akan membantunya mandi. Evelyn menatap Ganendra dengan raut kesal kemudian dia turun dari kasur.
"Setelah ini aku pergi dari rumahmu!"
Ganendra tersenyum tipis melihat Evelyn berdiri di hadapannya dengan ekspresi kesal.
"Kau tak akan kemana-mana bahkan selangkah pun kau tak akan bisa keluar dari wilayah mansionku."
Evelyn membelalakan matanya Tak percaya. "Tapi kenapa?"
Ganendra berdiri, tubuh Evelyn hanya sebatas dadanya kemudian dia memeluk pinggang Evelyn dengan posesif membuat gadis itu menahan napasnya saat jarak wajah mereka terlalu dekat
Ganendra menundukan wajahnya tepat di atas wajah Evelyn yang mendongkak pria itu berbicara tepat di atas bibir Evelyn.
"Sekarang kau milikku."
"Bersihkan dirimu, aku akan mengajakmu berkeliling mansion setelah ini," sambung Ganendra seraya menjauhkan diri dari Evelyn.
****
Sebab Ganendra belum muncul juga, akhirnya Evelyn memutuskan untuk berkeliling sendiri di mansion.
"Kau tak sabar rupanya."
Evelyn tersenyum kikuk, saat melihat Ganendra sudah berada di belakangnya dengan ekspresi datar seperti biasa. Kemudian Ganendra meraih tangan Evelyn dan membawa gadis itu ke suatu tempat.
Ganendra berhenti lalu berdiri tegap dengan sorot mata penuh kepedihan, Evelyn terdiam cukup lama sambil memandang wajah tampan Danendra dari samping.
"Lihatlah," ujar ganedra.
Sebuah lukisan gadis kecil imut dengan tatapan sendu dan terluka mungkin umurnya baru lima tahun.
"Dia adikku."
Evelyn langsung menatap Ganendra.
"Apa yang terlintas di otakmu saat melihat foto adikku?" tanya Ganendra tiba-tiba.
Evelyn kembali menatap lukisan yang menjulang tinggi dan besar di dinding mansion milik Ganendra sedangkan pria itu tak pernah melepaskan tatapanya dari Evelyn, menunggu pendapat yang keluar dari mulut wanita di sampingnya.
"Dia cantik..."
Evelyn menatap Ganendra dengan ragu lalu melanjutkan perkataannya, "Tapi, tatapanya terlihat seperti kesepian dan menderita."
Ganendra mengulum senyum lalu menepuk pelan puncak kepala Evelyn.
"Kita sarapan dulu, sebelum berkeliling lagi, mansion ini sangat luas kau akan lelah nanti," ujar ganendra.
Dan evelyn hanya menatap pria itu bingung, bagaiamana bisa hanya perlakuan kecil seperti ini jantungnya sudah berdebar tak karuan terlebih lagi saat Ganendra tersenyum padanya.
🔪🔪🔪🔪
"Namanya Evelyn manora, ayahnya seorang pengusaha namun sudah lama meninggal dan ibunya menikah kembali dengan pria bernama Heri yang merupakan mantan duku."
Ganendra mendengarkan Kimar yang menyampaikan informasi tentang Evelyn. Beberapa hari lalu, Ganendra memerintahkan Kimar untuk menggali informasi tentang gadis itu.
"Berapa usianya?"
"19 tahun."
Ganendra tersenyum puas, umur gadis itu 19 tahun sedangkan dirinya 26 tahun.
"Aku sudah memiliki tumbal baru, nanti malam dia akan menginap jadi siapkan kamar untuknya," ujar ganendra.
"Apakah itu Nona Evelyn?" tanya Kimar.
"Bukan, ada wanita lain yang akan kujadikan tumbal, bukan Evelyn."
"Jadi Nona Evelyn?"
"Keluarlah dan lakukan tugasmu," sela Ganendra.
Kimar mengangguk paham lalu segera keluar dari ruang kerja tuannya.
"Evelyn Manora, sebentar lagi namamu akan menjadi Evelyn sanjaya," gumam Ganendra dengan Sudut bibir yang terangkat.
****
Merasa bosan, akhirnya Evelyn berjalan-jalan di luar mansion dan berakhir di bagian belakang mansion, ada pagar bunga yang tinggi di hadapannya.
"Apa di sana taman belakang?" gumam Evelyn kemudian hendak melewati pagar bunga tersebut.
Namun, seorang pelayan menepuk pundaknya dan mengatakan bahwa itu adalah tempat yang tidak boleh dikunjungi oleh Evelyn. Sejujurnya itu membuat Evelyn jadi penasaran, tapi dia memutuskan untuk kembali ke dalam mansion.
"Kau habis dari mana?" tanya Ganendra ketika Evelyn telah masuk ke dalam mansion.
"Ke Pekarangan belakang."
Ganendra sontak melebarkan matanya kemudian mencekal lengan kanan Evelyn dengan kuat sehingga wanita itu meringis.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku hanya berjalan-jalan."
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada, hanya pagar bunga yang tinggi."
"Jika kau pergi ke sana tanpa sepengetahuanku lagi maka, kau akan mendapatkan hukuman," ujar Ganendra kemudian melepaskan cekalannya pada Evelyn dengan kasar sehingga gadis itu tersunggur di lantai.
Evelyn memutuskan untuk kembali ke kamar kemudian duduk di kasur sambil mengamati lututnya yang menjadi agak kebiruan, terlihat jelas sebab kulitnya putih dan tampak seperti porselen.
"Nona, anda dipanggil untuk saran di bawah, oleh Tuan."
"Aku tidak mau."
"Jika Nona menolaknya, maka kami akan dihukum."
Evelyn mengepalkan tangannya kemudian turun menuju ruang makan namun, dia menemukan Ganendra tengah bersama seorang wanita dan bermesraan. Mungkin itu adalah kekasih Ganendra, pikir Evelyn.
Menyadari kehadiran Evelyn, dengan celat Ganendra menjauhi wanita di dekatnya kemudian tatapan tajam milik Ganendra jatuh ke lulut Evelyn yang lebam.
"Setelah makan obati lututmu," titahnya.
Evelyn hanya mendengus kasar dan duduk di salah satu kursi, dia tidak menyentuh makanannya karena tudak napsu makan.
Ganendra meletakkan garpunya dengan kasar sehingga Evelyn tersentak.
"Makan," kata Ganendra pada Evelyn.
"Memang dia siapa sih, sampai perlu kau perhatikan!" ketus wanita yang sedari tadi duduk di samping Ganendra.
Ganendra menatap Evelyn cukup lama lalu beralih pada wanita itu.
"Dia Pelayan pribadiku," jawab Ganendra dan tentunya jawaban Ganendra membuat wanita itu mengangkat sebelah alisnya, jawaban Ganendra tidak masuk akal.
"Aku tidak lapar Tuan, lagi pula seorang pelayan tak pantas duduk dan makan bersama Tuannya," ujar Evelyn lalu pergi dari sana sedangkan Ganendra mengamati punggung Evelyn dengan tatapan sulit diartikan.
🔪🔪🔪🔪
Evelyn bermimpi bertemu adik Ganendra, dan mereka berbincang. Bocah itu memohon padanya untuk membuat Ganendra sadar akan perbuatanya yan selalu menumbalkan wanita-wanita untuk dirinya, sejujurnya Evelyn tidak menganggap mimpi tersebut serius namun, itu terus berlanjut sehingga Evelyn memutuskan untuk pergi ke perkarangan belakang yang sempat membuat Ganendra begitu marah, mungkin saja dia bisa mendapatkan petunjuk.
Namun, saat hendak kesana langkahnya terhenti ketika mendapati Ganendra bersama wanita yang ia ketahui bernama Elsa itu. Evelyn pikir wanita itu telah pulang namun, ternyata masih di sini hal itu membuat Evelyn tersakiti karena dia sudah mulai menyukai Ganendra.
Tidak tahan melihat kedekatan keduanya membuat Evelyn mendekati Ganendra.
"Aku ingin pergi ke rumah orang tuaku, bisakah kau mengantarku," pinta Evelyn.
"Ck, jelas dia bukan pelayan pribadinya, siapa wanita ini?" pikir Elsa.
"Aku sibuk, sebaiknya pergilah sendiri," jawab Ganendra kemudian melewati Evelyn.
Evelyn menahan tangisnya kemudian langsung pergi juga. Dia akan mengunjungi ibunya sendiri.
****
Saat sampai di rumahnya, Evelyn tidak disambut dengan baik oleh ibunya bahkan dia di dorong keluar dari rumah setelah ditampar. Ibunya berpikir bahwa Evelyn berniat menggoda suami ibunya. Jelas sekali bahwa ibunya diguna-guna membuat Evelyn membenci Heri. Akhirnya Evelyn memilih kembali ke mansion Ganendra. Dia melangkah dengan gontai saat memasuki halaman depan mansion, hujan turun dengan deras dan Evelyn tidak sadar bahwa dia telah berada di perkarangan belakang, ada sebuah jalan terbuka di sana dan Evelyn memutuskan untul melihat ke dalam. Namun, betapa terkejutnya Evelyn saat melihat puluhan peti berjajar indah di sana dan setiap peti terdapat sebuah tulisan yang berisi nama serta umur, saat membuka salah satu peti, Evelyn berjengit kaget mendapati seorang jasad wanita tanpa busana berada di dalamnya.
"Apakah ini yang hendak disampaikannya?" gumam Evelyn.
Kemudian dengan cepat, Evelyn meninggalkan perkarangan dan berlaru dengan tungkai yang terasa lemas.
"Nona? Anda dari mana saja? Tuan mengkhawatirkan anda," kata pelayan yang mendekati Evelyn.
Sedangkan Ganendra terkejut mendapati Evelyn yang telah basah kuyup dan pandangan kosong yang terarah kedepan kemudian pada detik berikutnya tubuh Evelyn limbung dan tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi padanya?" kata Ganendra kemudian menraih tubuh Evelyn. Raut khawatir terlihat jelas pada wajah Ganendra dan saat hendak masuk ke kamar Evelyn, Kimar berdiri di hadapannya.
"Ada apa?"
Kimar terdiam sejenak, kemudian menggeleng sebab melihat Ganendra yang terlihat begitu marah. Dia ingin melapor bahwa salah satu peti terbuka di perkarangan. Namun, dia mengurungkan niatnya sebab bisa-bisa dia yang kena amuk.
****
Evelyn terbangun dari tidurnya dan mendapati Ganendra yang tidur di sampingnya sambil merengkuh tubuhnya. Evelyn ingat bahwa semalam dia tidak sadarkan diri.
Evelyn memandang wajah Ganendra dengan lekat, pria itu sangat tampan saat tertidur namun, siapa sangka pria tampan ini adalah seorang pembunuh.
"Kau terlihat nyaman memandang wajahku, ya," celetuk Ganendra masih dengan mata terpejam.
Sontak Evelyn melepaskan diri dari Ganendra dan segera turun dari kasur.
Ganendra ikut terbangun kemudian dia memandang Evelyn. "Maaf, kan aku karena tidak menemanimu ke rumah orang tuamu, pasti sesuatu buruk telah terjadi padamu."
"Bagaimanapun dia adalah pria baik, apakah aku bisa membawanya kembali ke jalan yang benar?" batin Evelyn sambil mengamati raut bersalah yang Ganendra tunjukkan kepadanya.
Evelyn yang termenung membuat Ganendra makin merasa bersalah kemudian pria itu menuntun Evelyn untuk berbaring kembali sebab Evelyn masih demam.
"Berisitirahatlah, malam ini mungkin aku sibuk jadi tidak bisa menemanimu lagi," kata Ganendra sambil menepuk pelan punyak kepala Evelyn, perlakuan kecil yang sangat Evelyn sukai dari Ganendra.
****
Malam, sekitar pukul 23.10 wib
Evelyn terbangun dari tidurnya saat mimpi itu kembali menyergapnya, dengan napas terengah-engah, Evelyn memandang jam dinding, dia tidak sangka bahwa hampir tidur selama seharian penuh dan saat ini di luar sedang hujan deras.
Evelyn melangkah keluar dari kamar dan hendak mencari Ganendra namun, matanya melebar saat melihat Ganendra keluar dari kamar Elsa dan mengajak wanita itu keluar.
Evelyn langsung bersembunyi kemudian mengikuti Ganendra dan Elsa yang keluar menggunakan payung
"Ganendra, tidak akan melakukannya pada Elsa, kan?" batin Evelyn.
"Yaampun," lirih Evelyn sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Ganendra membawanya masuk ke dalam perkarangan itu dan sesaat setelah itu dia mendengar jerit ketakutan dari Elsa.
Evelyn tidak tinggal diam, gadis itu langsung masuk ke perkarangan dan menemukan Ganendra memegang sebuab belati kemudian fokusnya teralihkan pada Evelyn yang berdiri tidak jauh darinya dengan tubuh basah kuyup serta ekspresi yang sulit diartikan.
"Ev- elyn?"
"Ganendra, hentikan tindakanmu," tutur Evelyn kemudia berdiri di depan Elsa yang bersimpuh di rerumputan.
"Kau sudah tahu?" tanya Ganendra yang kemudian melepaskan payung pada genggamannya sehingga hujan mengguyurnya.
"Ya, kumohon hentikan. Perbuatanmu ini tidak akan menyenangkan adikmu," kata Evelyn berusaha sebisa mungkin agar Ganendra tidak emosi.
"Apa yang kau tahu tentang adikku? Lalu kenapa kau tetap di sisiku jika tahu semuanya?"
"Adikmu... dia terus muncul di mimpiku dan selalu berkata bahwa dia tidak ingin kau melakukan hal keji ini."
Mendengar penjelasan Evelyn, tidak membuat Ganendra luluh, pria itu justru menautkan alisnya kemudian menyuruh Evelyn menyingkir dari hadapannya.
"Menyingkirlah, Evelyn. Aku tidak ingin melukaimu," kata Ganendra sebab Evelyn menghalangi Ganendra mendekati Elsa.
"Kau hanya akan membuat adikmu makin menderita," kata Evelyn dengan suara lantang sebab hujan kian deras.
"Kau tidak tahu apapun tentangku, jadi menyingkirlah," kata Ganendra kemudian mendekati Evelyn dan menyingkirkan wsnita itu dari hadapannya dan saat itu Ganendra siap menghujamkan belatinya pada Elsa, namun Evelyn menahan tangan Ganendra dengan semampunya.
Ganendra berusaha melepaskan tangan Evelyn namun, pergerakan tangannya justru membuat belati yang ia pegang menyayat dalam batang leher Evelyn hingga gadis itu berdiri dengan kedua tangan yang mencoba menahan darah yang mengucur dari lehernya.
Tubuh Ganendra gemetar kemudian dia meraih tubuh Evelyn yang limbung. Dengan lembut, Evelyn menyentuh wajah Ganendra dengan tangan yang berlumur darah, Evelyn tersenyum saat menyadari bahwa pria itu menangis.
"Hiduplah dengan bahagia," lirih Evelyn sebelum tangannya luruh dan matanya tertutup membuat Ganendra menangis sambil memeluk tubuh Evelyn, berulang kali dia mengatakan maaf dan saat itu Kimar dan penghuni lainnya baru hadir.
Sejujurnya Ganendra ingin menumbalkan Elsa dengan tangannya sendiri sebab pernah mengatai Evelyn namun, dia tidak menyangka bahwa Evelyn yang terbunuh oleh tangannya sendiri.
TAMAT...