"Kau-tahu, pulpenku hilang lagi, mahal lagi aku belinya... kalian bisa bantu nggak?" tanya Candra dengan raut wajah serius.
"Serahkan itu pada kami!" sahut Miku yakin.
"Terima kasih! Terima kasih!" ujar Candra tampak senang, lalu segera beranjak pergi.
"Apaan sih kamu Miku, aku sudah lelah memecahkan kasus kelas ikan teri begini!" Lisa menyilangkan tangannya di dada. Sebab dia tahu betul, dirinya dan Miku akan terlambat pulang lagi hari ini.
"Loh, kita kan emang detektif kelas teri, kenapa kau-sewot? kalau mau kasus yang besar, sana gih cari om-om intel," Miku sedikit terkekeh. Sedangkan Lisa hanya bisa berdecak kesal.
***
"Miku aku sudah lelah... bukankah kita detektif? kenapa malah jadi petugas pencari barang?" keluh Lisa, dia menyandarkan bahunya ke dinding.
"Bentar lagi deh!" Miku menyahut dengan santai. Gadis itu masih menyisir seluruh bagian kelasnya Candra. Sudah berjam-jam Miku dan Lisa melakukan pencarian.
"Dapat! lihat Lisa!" pulpen Candra yang hilang tampak sudah berada di genggaman Miku. Gadis itu langsung melompat kegirangan, sebab dia sudah tidak sabar untuk menerima bayaran dari Candra.
"Apaan sih!" respon Lisa sinis.
***
"Nih imbalan buat kalian!" ucap Candra seraya menyerahkan uang pada Miku dan Lisa.
"Wah! makasih Can! kalau ka..."
"Tidak! .... kami akan break untuk sementara, aku dan Miku ingin fokus belajar!" Tiba-tiba Lisa menyambar perkataan Miku.
"Eh..." raut wajah Miku terlihat sedih, dia merasa kecewa dengan pernyataan sahabatnya.
"Benarkah?..." respon Candra dengan kernyitan dahi dan beberapa anggukan kepala.
Wush!
Tanpa sepatah kata pun, Lisa melingus begitu saja meninggalkan Miku. "Lisa! kamu kenapa sih akhir-akhir ini?" tanya Miku dangan nada tinggi.
Lisa pun berpaling, "Aku capek Miku, kita sudah bukan anak-anak lagi, aku benar-benar ingin fokus belajar!" ujar Lisa, kemudian langsung beranjak pergi.
Kedua sahabat itu memang telah bersama sejak kecil, karena keduanya hidup di panti asuhan yang sama. Keduanya semakin terikat ketika telah membentuk klub detektif di sekolah saat SMP.
Namun sekarang, tampaknya kedewasaan membuat Lisa perlahan merasa jenuh. Berbeda dengan pemikiran Miku yang polos dan agak kekanak-kanakan, gadis itu selalu bersemangat dalam melakukan hal apapun.
Hari itu, wajah Miku terus tertunduk lesu. Matanya tak henti menatap Lisa yang tempat duduknya tidak terlalu jauh darinya. Bahkan ceramah dari Bu Wita seakan angin lalu di telinganya.
Booom!
"Aaaaaaaaarrkkkh!!!"
Suara ledakan mengagetkan semua orang di kelas, karena bukannya bom yang meledak. Melainkan teman sekelas Miku dan Lisa yang bernama Devi.
Miku yang tempat duduknya tepat di belakang Devi, tubuhnya terlihat mematung saat darah dan organ Devi menciprat ke arahnya. Seragam gadis itu berubah warna menjadi merah.
Boom!
Semua orang semakin berteriak histeris ketika Bu Wita tubuhnya juga ikut-ikutan meledak dan hancur berkeping-keping. Semua murid langsung berdesakan untuk pergi keluar kelas.
"MIKU!!!" pekik Lisa sembari menarik paksa Miku untuk keluar kelas.
Boom! Boom! Boom!
Tak! Tak! Tak!
Lisa menyeret Miku berlari bersamanya, melewati orang-orang yang meledak satu per satu. Sekarang setiap sudut bangunan sekolah di penuhi dengan genangan darah dan organ-organ yang berhamburan.
"Lisa... hiks! hiks!" Miku tiba-tiba menghentikan larinya, gadis itu tampak gemetaran dan menangis ketakutan.
"Miku! kau-harus kuat! bukankah seorang detektif harus kuat menghadapi segalanya?" Lisa mencoba menenangkan sahabatnya, padahal dia sendiri pun merasa sangat ketakutan.
"Tapi ini berbeda Lis!" rengek Miku sembari menghentakkan sebelah kakinya.
"Ayo! kita harus menyelamatkan diri lebih dulu!" Lisa kembali menyeret Miku untuk berlari bersamanya.
***
Kedua sahabat itu sekarang tiba di gerbang sekolah. Tetapi bukannya merasa lebih tenang, keduanya malah dibuat semakin panik ketika melihat semakin banyak orang yang meledak dengan sendirinya. Kepingan tubuh dan tulang belulang berhamburan di jalanan.
"Ini benar-benar aneh! apa yang terjadi?" tanya Lisa dengan nafas yang naik turun.
"Lisa... bagaimana jika kita juga meledak?" ujar Miku sembari menggenggam erat jari-jemari Lisa.
"Tidak Miku! itu tak akan terjadi! karena itulah kau-harus bisa menenangkan dirimu... kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, oke!" sahut Lisa yang perlahan membawa Miku ke dalam pelukannya.
***
24 jam berlalu, semakin banyak tubuh yang meledak. Alasan ledakan itu hingga kini masih belum diketahui penyebabnya. Lisa dan Miku sudah sedikit tenang, meskipun mereka tidak bisa memungkiri, bahwa mereka juga bisa meledak di waktu tak terduga. Sebab itulah keduanya mencoba mencari cara agar bisa selamat dari ledakan tersebut.
Keduanya mencari info lewat manapun, termasuk dari televisi, buku, internet dan media lainnya. Hingga akhirnya Miku menemukan info yang sangat membantu dari majalah terbaru.
"Lisa! lihat!" pekiknya seraya menunjuk ke salah satu artikel tentang penemuan bahan kimia terbaru dan sangat berbahaya.
"Bahan kimia Sulfa atau SUF 02 telah ditemukan, bahan ini bisa digunakan sebagai pengawet makanan terbaik yang sekarang sedang berusaha dikembangkan ke seluruh dunia, para ilmuwan dan politik juga menyetujui rencana tersebut, dan..."
"Miku, itu tak ada hubungannya sama sekali dengan ledakan yang terjadi kepada semua orang!" imbuh Lisa dengan kernyitan di dahi.
"Tapi bukankah itu mencurigakan?" tanya Miku dengan wajah polosnya.
"Miku, kita tidak punya waktu untuk basa-basi seperti dulu!" sahut Lisa, yang langsung membuat Miku menundukkan kepalanya seketika.
Klik!
Lisa pun menekan tombol remot televisi, untuk mencari berita terkait kasus ledakan yang terjadi pada semua orang.
"Ledakkan yang terjadi kepada semua orang masih belum diketahui penyebabnya. Namun para ilmuwan telah menemukan vaksin untuk semua orang yang belum menjadi korban ledakan. Pemerintah pun telah menyetujui hal tersebut, dan mengutamakan anak-anak dan perempuan yang lebih dulu untuk menerima bantuan vaksin. Saya harap, untuk kalian yang masih selamat, datanglah ke pusat kota untuk segera menerima vaksin!" jelas reporter di channel telivisi.
Berita itu pun sontak membuat Lisa dan Miku segera bersiap-siap untuk pergi ke pusat kota.
***
"Lis jangan makan itu!" tegur Miku pada Lisa yang hendak memasukkan cokelat ke dalam mulutnya. Keduanya telah duduk di ruang tunggu untuk mendapatkan vaksin.
"Kenapa?" dahi Lisa mengernyit.
"Itu terbuat dari bahan Sulfa!"
"Astaga Miku, kau-masih memikirkan info dari majalah itu..." respon Lisa sembari melayangkan cokelat ke mulutnya.
"Yaahh..."
"Kenapa? kamu mau?" tawar Lisa, yang langsung dibalas Miku dengan gelengan kepala. "Kau-tahu kan aku nggak suka cokelat!" jelas Miku.
"CEPAT PERGI KALIAN SEMUA!!! PEMBERIAN VAKSIN INI HANYA JEBAKAN!!!" pekik seorang pria yang keluar dari ruang operasi. Darah tampak berlumuran di tubuhnya, perlahan pria itu ambruk dan tak sadarkan diri di lantai.
Kejadian itu sontak membuat semua orang panik dan berhamburan untuk segera melarikan diri dari gedung serbaguna tersebut.
"Ayo!" Lisa mencoba menyeret Miku untuk berlari. Namun sahabatnya itu kali ini menahannya. "Tidak Lisa! kita sekarang tidak boleh lari, bukankah jawabannya ada di depan mata?" ucap Miku, raut wajahnya tampak serius. Lisa pun memalingkan wajahnya untuk melihat pria yang tergeletak di lantai.
"Kau-benar..." Lisa menggenggam erat jari jemari sahabatnya. Keduanya pun berjalan bersamaan melewati koridor.
"Cepat selesaikan!" titah seorang pria dari dalam ruangan, yang langsung membuat Miku dan Lisa berhenti. Dan betapa kagetnya mereka, ketika menyadari pria itu adalah Pak Walikota.
"Baik Pak!"
"Lakukanlah dengan baik, buat semua orang memakannya!" ucap Pak Walikota yang langsung membuat mata Miku dan Lisa membola.
BRAK!
"Apa maksud Bapak?!!" pekik Lisa yang menerobos pintu begitu saja, di ikuti Miku dari belakang.
"Siapa kalian?" tanya Walikota yang terlihat terkejut.
"Apa yang telah Bapak lakukan?!" Miku ikut bertanya. Namun lelaki itu hanya menyeringai lalu menggelengkan kepala, seakan meremehkan kedua gadis di hadapnnya.
"Bawa mereka!" Walikota itu bertitah kepada pengawalnya. Miku dan Lisa pun langsung dikurung di sebuah ruangan.
***
Di ruangan itu mereka tidak berdua, terlihat juga seorang wanita yang mengenalkan dirinya dengan nama Aline. Penampilannya tampak seperti seorang pekerja kantoran.
"Bukaaaa!!! Tolong!!" pekik Miku dan Lisa yang saling bersahutan, sembari menggedor-gedor pintu.
"Tidak ada yang akan menolong kita.." ucap Aline santai.
"Apa maksudmu?" tanya Lisa.
"Para petinggi politik itu merencanakan sesuatu yang sangat buruk!" jelas Aline ambigu.
"Jadi apa yang orang-orang alami sekarang adalah ulah pemerintah?" Miku mencoba memastikan.
"Iya, semuanya ulah mereka!" jawab Aline.
"Kita harus keluar dari sini!" usul Lisa.
"Itulah yang sedari tadi aku rencanakan, tadi aku tidak sanggup melakukannya sendiri. Tapi sekarang karena ada kalian, ayo kita mencoba!" ujar Aline, dia langsung memberitahukan jalan keluar melalui saluran udara. Ketiganya saling bekerjasama untuk meraih saluran udara yang cukup tinggi itu.
Aline yang pertamakali masuk ke saluran udara. Sedangkan Miku masih mencoba menarik Lisa yang masih berusaha naik.
"Lisa ayo.... Mmmmmmphh!" jerit Miku karena mengerahkan semua tenaganya. Tanpa di duga Lisa melepaskan genggamannya dari Miku, dan terjatuh ke bawah.
"LISA! Apa yang kau lakukan?" Miku merasa khawatir pada sahabatnya.
"Miku, tubuhku serasa sangat panas dan terbakar, aku rasa kau-benar mengenai cokelat itu..." keluh Risa dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Lisa apa maksudmu! jangan berpikiran yang tidak-tidak!!" Miku mulai merengek karena semakin khawatir.
"Miku berjanjilah..."
BOOM!
Tubuh Lisa langsung meledak, bahkan sebelum dirinya menyelesaikan kalimatnya untuk Miku. Lantai dan dinding di penuhi dengan genangan darah dan organ Lisa.
"LISAAA!!" Miku berteriak histeris, tubuhnya melemah karena merasa tak sanggup melihat apa yang ada di depan matanya. Tubuh sahabatnya sekarang hancur berkeping-keping.
Rahasia di balik ledakan terungkap. Namun sudah terlambat, semua cokelat yang mengandung bahan SUF 02 telah tersebar ke seluruh dunia.
~TAMAT~
*Bahan kimia SUF 02 adalah buatan penulis semata.