Rikka moe, gadis cantik berambut hitam pendek dan bertubuh pendek.
Dia memasuki kehidupan sebagai siswa SMP kali ini.
Hari yang ia tunggu-tunggu adalah hari MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).
Sehari sebelum MPLS Rikka sudah membayangkan apa yang ia inginkan terjadi ketika pertama kali memasuki lingkungan sekolah barunya.
“Aku berharap semoga akan ada teman sebaya ku yang tampan atau kakak kelas tampan yang mendekatiku dan bertanya siapa namaku dan bahkan meminta nomor telepon atau id line ku, kyaa~”
Rikka membayangkannya sambil cengar-cengir di pojokan kamar.
Hari ini telah tiba, hari yang paling ditunggu oleh Rikka moe, yaitu hari MPLS.
Rikka bangun lebih awal dan bersiap dengan penuh semangat.
“Jam 06.30, Yosh! Berangkat makk!!”
Rikka berteriak dengan penuh semangat
Pukul 06.50
Parkiran SMP Terang Bulan.
Mulai dari parkiran hingga lapangan basket sudah ramai.
Mulai dari Osis dan beberapa murid baru itupun belum semuanya.
Berbagai macam siswa baru mulai dari yang tampan, yang cantik, yang imut, pendiam, dan yang suka di pojokan.
“Aku benar-benar menyukai wajah-wajah tampan seperti itu”
Gumam Rikka.
Dengan ekspresi yang tidak karuan, Rikka benar-benar bersemangat.
Hingga beberapa saat kemudian.....
“Hah~”
Rikka menghela napas.
“Gila. Ini benar-benar gila. Panas banget, pengarahannya lama banget.”
Rikka bergumam disertai dengan ekspresi yang amat jengkel.
Tak satupun pengarahan yang disampaikan bisa dipahami oleh Rikka.
Hingga beberapa saat berlalu dan siswa baru diperbolehkan untuk istirahat.
Mata Rikka yang setengah terpejam kembali terbuka lebar.
“Nice! Makanan adalah yang terbaik”
Ucap Rikka dalam hati sembari menuju ke kantin.
Satu minggu berlalu.
Sekolah seperti biasa telah dimulai.
Seperti yang diperkirakan Rikka.
Perkenalan seluruh siswa di kelas, perkenalan wali kelas, dan waktunya berburu teman baru.
Rikka memang siswa yang agak menonjol sejak sekolah dasar.
Bahkan ketika Rikka menawarkan diri untuk membantu wali kelasnya membuat grup chat untuk kelas.
Ada beberapa anak laki-laki yang membicarakannnya.
Bukan membicarakan hal buruk melainkan mereka terdengar penasaran dengan Rikka.
Rikka bukan tipe gadis yang polos dan lembut melainkan lebih terlihat bar-bar dan tidak bisa diam.
Hingga suatu ketika ada anak laki-laki yang suka mengganggu Rikka, dia adalah hiro suteja.
Meskipun tidak kelewat batas Rikka mudah emosi dan merasa agak jengkel.
Namun di dalam hatinya iya merasa senang entah karena hiro cukup tampan atau karena Rikka memang lebih suka berteman dengan anak laki-laki dibanding anak perempuan.
Bukan karena mengapa atau bagiamana, tapi rikka sejak kecil lebih banyak berinteraksi dengan anak laki-laki.
Rikka sering mengirim pesan tidak jelas di grup chat yg beranggotakan teman perempuan sebaya nya.
Pesan itu menjelaskan seolah-olah Rikka sedang jatuh cinta.
Namun Rikka tidak berani mengatakan pada teman sebaya nya karena takut dibocorkan atau akan jadi bahan ejekan di kelas.
Hingga suatu hari, ketika Rikka mengikuti kemah Osis, Rikka menyadari bahwa Rikka memiliki perasaan dengan anak laki-laki yang sering mengganggunya itu.
Rikka sudah tak tahan dan memutuskan untuk menceritakan tentang perasaannya terhadap salah satu temannya yaitu Miliya.
Miliya yang mendengar ocehan tentang perasaan yang dimiliki Rikka terhadap tejo membuat miliya tidak bisa menahan tawanya.
Suatu ketika pendeketan mulai terjadi antara Rikka dan Hiro.
Mulai dari Hiro yang tiba-tiba mengirim pesan kepada rikka.
Membuat rikka merasa antara senang dan khawatir.
“Rikka kamu suka ya sama aku?”
Tanya Hiro melalui chat.
“Tau darimana kamu?”
Rikka bertanya balik.
“Miliya yang ngasi tau aku”
Jawab Hiro.
Seketika pipi Rikka memerah, ia benar-benar tak tahan dan mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.
Benar-benar masa remaja.
“Rikka aku mau nanya”
Hiro mengirim pesan.
“Apa?”
Tanya rikka dengan ekspresi gak karuan.
“Kamu...”
Hiro membalas chat rikka.
“Apa sih”
Rikka membalas dengan cepat.
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
Pesan yang dikirim Hiro membuat rikka merasa senang sambil memukul bantal di kasurnya berkali-kali.
“Iya aku mau”
Jawab Rikka.
Namun rikka dan hiro masih malu untuk mengakui tentang hubungan mereka kepada teman-teman di sekolah.
Sehingga mereka seperti saling melirik bahkan tersenyum satu sama lain secara diam-diam.
Mereka tak berani menatap mata satu sama lain lebih lama atau berbicara lebih lama.
Itu membuat mereka canggung.
Hingga suatu hari hubungan antara Rikka dan Hiro diketahui oleh semua orang di kelas entah sumbernya darimana.
Itu membuat Rikka dan Hiro semakin canggung dan malu-malu.
Ketika mulai tamasya, Rikka mengalami hal memalukan yaitu terpeleset di jalan turunan di tempat wisata yang mereka kunjungi.
Hiro dengan berani mengulurkan tangannya meskipun agak terlambat.
Ketika mengetahui rikka terjatuh teman teman perempuan sebaya nya meminta hiro pergi berdua dengan rikka.
Hiro dan Rikka menghabiskan waktu berdua berkeliling.
Meskipun rasanya canggung dan sulit memulai pembicaraan.
Rikka merasa senang dan hatinya tak berhenti berdegup kencang.
Hingga di suatu waktu hiro memberanikan diri mengenggam tangan rikka.
Mereka berdua tak berani menatap mata satu sama lain dan suasana terasa lebih awkward dibanding sebelumnya.
Itu adalah momen yang tidak pernah bisa dilupakan rikka hingga saat ini.
Namun.....
Kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Rikka memutuskan untuk berhenti berhubungan dengan hiro.
Alasannya karena orang tua rikka tak ingin anaknya pacaran di usia muda.
Rikka tak ada pilihan lain. Karena jika ia melanjutkan hubungannya diam-diam, ia tak bisa membohongi kedua orang tuanya dan justru akan menjadi beban yang sulit ditanggung oleh Rikka.
Melalui pesan chat hiro memaklumi alasan rikka.
Namun rikka tau bahwa hiro akan sangat kecewa.
Hingga esok harinya ketika kembali sekolah setelah beberapa minggu libur.
Perubahan sikap hiro terhadap rikka terlihat.
Diluar rikka memang terlihat tidak peduli dan kesal.
Tapi di dalam hati rikka merasa sedih dan menyesal.
Rikka adalah tipe tsundere yang sulit mengungkapkan perasaan sesungguhnya.
Hingga suatu ketika hiro mengganggu rikka dan gangguan itu benar benar kelewat batas.
Rikka tak tahan dan selalu mulai emosi apabila hiro mengganggunya.
Rikka tak mengerti kenapa hiro bisa berubah se-drastis ini.
Rikka tau, dirinya salah karena setelah hubungan mereka berakhir rikka terlihat cuek dan tidak peduli. Bukan berarti rikka membenci hiro tapi rika takut akan reaksi hiro setelah mereka putus hubungan.
Gangguan itu membuat rikka sedih, rikka pernah berpikir bahwa tidak seharusnya ia berbicara kasar setiap diganggu oleh hiro dan teman-temannya.
Hingga Rikka sudah kelas 9 SMP, Gangguan yang ditimbulkan oleh Hiro dan teman-temannya sedikit meredam.
Salah satu teman rikka yaitu kaori dan indi pernah meminta hiro dan rikka untuk berbaikan.
Mereka memang berjabat tangan seolah berbaikan tapi hiro masih terlihat kesal ketika menatap wajah rikka.
Terkadang hiro terlihat lembut dan baik dan ia juga pernah meminta tolong pada rikka untuk membantunya mengerjakan tugas yang ia kurang pahami.
Namun setelah beberapa hari, hiro kembali gila dan mengganggu rikka.
Rikka melalui tiga tahunnya di sekolah menengah pertama dengan sabar.
Hingga suatu ketika setelah ujian nasional usai. Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada petir hiro duduk satu bangku dengan rikka.
Seketika hal tersebut menjadi perhatian seisi kelas.
Salah satu teman hiro, kris tiba-tiba berbicara
“Sekarang aja kalian berantem, nanti pas kuliah tiba-tiba kalian ketemu terus jatuh cinta lagi dah. Bisa jadi kalian jodoh”
Hiro yang mendengar hal tersebut hanya diam dan memandangi kris dengan tatapan tajam.
Sedangkan rikka hanya bisa menjawab
“Ah apasih, mana mungkin~”
Hingga semua sudah berlalu.
Rikka, Hiro dan semua teman sebaya nya sudah lulus dan menempuh pendidikan di sekolah masing-masing.
Beberapa tahun berlalu.
Rikka memutuskan untuk menempuh pendidikan di universitas A.
Ketika ospek, Rikka tak menyangka akan kembali bertemu dengan masa lalunya.
Yaitu Hiro.
Mereka memilih jurusan yang sama dan sempat berada di kelas yang sama.
Hiro terlihat lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
Hiro bukan lagi anak laki-laki kasar yang suka mengganggu.
Rikka yang selalu diam-diam memperhatikan hiro, hatinya kembali berdegup kencang.
Hingga suatu ketika hiro menghampiri rikka dan meminta nomor teleponnya.
Hirro mengatakan dengan berani dan berbicara secara langsung dengan rikka.
“Dia bukan lagi anak laki-laki pemalu seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya”
Ucap rikka dalam hati.
Hingga beberapa bulan berlalu.
Hubungan hiro dan rikka kembali membaik setelah hiro sering mengirim pesan kepada rikka.
Di salah satu mata pelajaran kuliah, ketika kelas telah usai.
Hiro mengirim pesan dan meminta rikka untuk menunggunya di kantin.
Hiro memberanikan diri menyatakan perasaannya terhadap rikka.
Hiro mengatakan
“Rikka maafin aku ya dulu udah keterlaluan gangguin kamu.
Aku cuma sedih dan gabisa terima kalo kita harus putus secepat itu.
Tapi aku sebenarnya masih suka sama kamu.
Bahkan sekarang aku sekali lagi suka sama kamu rikka”
Rikka mendengar kata-kata itu keluar dari mulut hiro.
Membuat rikka berpikir ini hanya khayalannya saja.
Rikka masih ragu dan takut jika hiro akan berubah menjadi anak laki-laki yang kasar lagi.
Namun rikka memberanikan diri untuk memulai kembali hubungan antara dia dan hiro.
“Iya terus kenapa?”
Rikka tak bisa menahan sifat tsundere nya.
“Rikka, kamu mau pacaran lagi kan sama aku”
Hiro tersenyum.
Rikka tak bisa menahan bahwa ia sangat bahagia melihat senyuman hiro yang sudah lama tak telihat.
“Iya aku mau”
Rikka tersenyum dan hampir menangis.
Mungkin inilah yang disebut ‘omongan adalah doa’.
Kata kata yang terucap dari salah satu teman hiro dan rikka ketika smp kini menjadi nyata.
- Tamat -