Alkisah... pada zaman dahulu... di Kahyangan, ada Dewa dan Dewi yang telah membuat kesalahan. Mereka dihukum dan diturunkan ke bumi.
Di bumi Sang Dewi berubah menjadi seekor babi hutan yang bernama Wayung Hyang dan Sang Dewa berubah bentuk menjadi seekor anjing yang bernama Tumang dan menjadi anjing peliharaan seorang Raja bernama Sungging Perbangkara.
Pada suatu ketika, Raja Sungging Perbangkara dan para pengawalnya serta anjing kesayangannya yang selalu setia, Tumang... berburu ke suatu hutan yang berada di perbatasan kerajaan.
Didalam perburuannya, Raja Sungging Perbangkara buang air kecil di sebuah daun caring. Ia meninggalkan begitu saja daun caring yang berisi air seninya didalam hutan.
Tidak lama kemudian, datanglah seekor babi hutan yang sedang kehausan. Babi hutan tersebut meminum air yang tergenang pada daun caring, ia menyangka itu adalah genangan air hujan... padahal itu adalah air seni Raja Sungging Perbangkara.
Tanpa terduga, setelah meminum air dalam daun caring itu... Wayung Hyang... sang babi hutan itu hamil!
Hari berganti hari ... bulan berganti bulan... akhirnya Wayung Hyang melahirkan seorang anak perempuan yang berparas sangat cantik. Dijilatinya tubuh sang bayi, dengan maksud membersihkan tubuhnya dari kotoran dan meletakkan sang bayi pada batu besar. Wayung Hyang mengharapkan agar Raja Sungging Perbangkara dapat menemukan keberadaan sang bayi.
Raja Sungging Perbangkara sangat gemar berburu. Ketika sang Raja bersama anjingnya, Tumang dan para pengawalnya sedang dalam perburuan, ia mendengar suara tangisan bayi.
Awalnya ia keheranan, kenapa ada suara bayi di tengah hutan. Tetapi karena penasaran ia pun mencari sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya sang Raja ketika menemukan seorang bayi perempuan yang tergeletak diatas sebuah batu besar. Sang Raja lalu membawa bayi perempuan tersebut kembali ke kerajaannya. Bayi itu kemudian diangkat anak olehnya dan dinamai Dayang Sumbi.
Bertahun-tahun kemudian, Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mempesona. Sehingga banyak pangeran dan pria bangsawan yang datang untuk melamar Dayang Sumbi. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang lamarannya diterima. Sehingga banyak dari mereka terlibat perselisihan dan perkelahian.
Akhirnya, untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Dayang Sumbi meminta ijin kepada ayahnya Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri dan tinggal jauh dari kerajaan. Dengan berat hati Sang Raja mengijinkan, ia menyuruh Dayang Sumbi untuk membawa anjing sang Raja yang bernama Tumang untuk menjaga dirinya.
Dayang Sumbi dibuatkan sebuah gubuk di tepi hutan oleh pengawal Raja Sungging Perbangkara. Ia dibekali alat tenun oleh Sang Raja, sehingga dalam kesehariannya, Dayang Sumbi menghabiskan waktu dengan menenun.
Suatu ketika... Dayang Sumbi sedang menenun, tiba-tiba gulungan benang terjatuh dan menggelinding keluar dari gubuknya. Karena Dayang Sumbi malas sekali untuk mengambilnya, akhirnya ia pun berkata....
‘’Barangsiapa yang mengambilkan gulungan benang itu untukku, jika perempuan maka ia akan aku jadikan saudara, sedangkan bila ia laki-laki akan aku jadikan sebagai suami".
Setelah Dayang Sumbi berkata demikian, tiba-tiba si Tumang datang menghampiri sambil membawakan gulungan benang itu.
Betapa terkejutnya Dayang Sumbi, karena yang membawakan gulungan benang itu adalah anjing yang menemaninya, si Tumang. Tapi karena ia sudah berjanji, ia harus menepati kata-kata yang telah terlanjur diucapkannya.
"Karena aku sudah berjanji, meskipun kamu seekor anjing, aku tetap bersedia menjadi istrimu, Tumang", Dayang Sumbi berkata sambil mengusap-usap kepala si Tumang.
Keajaiban terjadi, tiba-tiba wujud si Tumang berubah, yang awal seekor anjing hitam ia menjelma menjadi seorang pria yang sangat tampan.
"Siapa engkau? Kenapa tiba-tiba engkau ada dihadapanku?"
"Saya adalah Tumang yang merupakan jelmaan Dewa".
Akhirnya Dayang Sumbi menikah dengan Tumang. Ia merahasiakan pernikahannya tersebut dari Sang Raja.
Selain Datang Sumbi, tidak ada lagi yang tahu bahwa Tumang adalah jelmaan Dewa. Tumang berubah wujud menjadi seorang pria tampan hanya setiap malam bulan purnama.
Satu tahun kemudian setelah Dayang Sumbi dan Tumang menikah, Dayang Sumbi melahirkan bayi laki-laki yang dinamai Sangkuriang.
Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang tampan, pintar serta mahir memanah. Sangkuriang sering berburu di dalam hutan.
Pada suatu hari, Dayang Sumbi mempunyai keinginan untuk menyantap hati rusa.
"Nak... pergilah ke hutan... dan tangkaplah seekor rusa! Entah kenapa, Ibu ingin sekali memakan hati rusa".
"Baik ibunda... bagaimana pun caranya aku pasti akan membawakanmu hati rusa".
Tetapi walau sudah seharian berburu, tidak ada satu ekor pun hewan yang berhasil ia dapatkan. Karena hari menjelang malam, Sangkuriang pun berniat akan pulang ke gubuk ibunya. Namun tiba-tiba, ia melihat seekor babi hutan yang tak lain adalah Wayung Hyang... melintas di dekatnya. Sangkuriang segera melepaskan anak panahnya kearah babi hutan tersebut. Tapi meleset karena Wayung Hyang berlari cepat sekali. Sangkuriang marah sekali dan memerintahkan Tumang untuk mengejar babi hutan itu.
’Tumang, kejarlah babi itu!... Cepat!’’ Sangkuriang berteriak dengan marah.
Tumang sudah tahu bahwa babi hutan itu adalah Wayung Hyang, sehingga Ia diam saja tidak menuruti apa yang diperintahkan oleh Sangkuriang. Beberapa kali Sangkuriang berteriak mengulangi perintahnya, tapi Tumang tidak bergeming, ia diam saja.
Kemudian Sangkuriang mengarahkan anak panahnya kearah Tumang. Ia berharap Tumang menjadi takut dan menuruti perintahnya untuk mengejar babi hutan itu. Tetapi tanpa terduga, anak panas terlepas dan mengenai kepala si Tumang. Tumang pun mati seketika. Sangkuriang merasa takut dan sangat bersalah. Kemudian ia mengiris tubuh Tumang dan mengeluarkan hatinya.
Sangkuriang membawa hati tersebut pulang dan dberikan kepada ibunya. Sangkuriang tidak mengatakan apapun ketika menyerahkan hati itu. Dayang Sumbi menerima hati pemberian Sangkuriang dengan gembira, karena ia mengira itu adalah hati rusa. Ia pun memasak hati itu dan memakannya bersama dengan Sangkuriang.
‘’Sangkuriang anakku ... apa kamu melihat Tumang? Apakah ia tertinggal di hutan ketika berburu tadi?’’ Dayang Sumbi bertanya tentang keberadaan Tumang, karena sedari tadi ia tidak melihatnya.
Sangkuriang kebingungan dan ia sangat merasa bersalah. Akhirnya ia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Maafkan aku ibu, aku tidak sengaja membunuh Tumang... Hati yang kita makan itu adalah hati si Tumang". Sangkuriang berkata sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar perkataan Sangkuriang, Dayang Sumbi terkejut dan menjadi marah. Sangkuriang telah tega membunuh ayah kandungnya sendiri.
"Apa?... Kenapa kamu sampai hati membunuhnya? si Tumang itu adalah ayah kandungmu.... Anak durhaka kau! Pergi kamu dari rumah ini’’ teriak Dayang Sumbi sambil memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengeluarkan darah, lukanya membekas dan tidak dapat hilang. Sangkuriang sangat sedih dan ia pun pergi meninggalkan gubuk itu.
***
Setelah meninggalkan gubuk ibunya, Sangkuriang berjalan ke dalam hutan dengan luka di kepalanya yang masih mengeluarkan darah. Karena tidak kuat menahan rasa sakit, Sangkuriang pun akhirnya pingsan. Ketika siuman, Sangkuriang terkejut melihat ada seorang kakek tua didekatnya.
‘’Siapakah gerangan Kakek ini? Sekarang aku ada dimana?”
‘’Aku adalah seorang petapa. Namaku Ki Ageng. Aku menemukanmu pingsan dan terluka parah. Sekarang kamu berada di dalam gua tempatku bertapa".
"Siapa namamu Nak?... Kamu berasal dari mana?" Sangkuriang diam tak menjawab pertanyaan kakek tua itu, karena ia tidak ingat namanya dan masa lalunya
Ki Ageng memanggil Sangkuriang dengan nama Jaka. Luka Sangkuriang dirawat oleh Ki Ageng sampai sembuh, Ki Ageng mengajari Sangkuriang ilmu bela diri dan kesaktian mandraguna.
Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda sangat tampan dan sakti mandraguna. Ia juga mempunyai kemampuan memanggil makhluk gaib.
***
Dayang Sumbi sangat menyesal telah mengusir dan memukul Sangkuriang. Dayang Sumbi sangat merindukan Sangkuriang, karena Sangkuriang tidak kunjung pulang.
Setiap hari Dayang Sumbi selalu berdoa kepada Tuhan agar dipertemukan kembali dengan anaknya. Akhirnya doa Dayang Sumbi dikabulkan.
Dayang Sumbi juga dianugerahi kecantikan yang abadi. Walaupun tahun-tahun sudah berlalu, kecantikan Dayang Sumbi tidak berkurang sedikitpun, ia tetap awet muda dan tidak menua.
***
Setelah Sangkuriang mendapatkan ilmu yang cukup dari Ki Ageng, ia pun meninggalkan pertapaan Ki Ageng dengan menyandang nama baru yaitu 'Jaka'.
Sampai suatu ketika... Sangkuring berjalan ke pinggir hutan... sampailah ia di sebuah gubuk, karena merasa haus, ia memberanikan diri untuk datang ke gubuk itu untuk meminta minum. Ternyata penghuni gubuk itu adalah seorang perempuan yang sangat cantik... yang tak lain perempuan cantik itu adalah Dayang Sumbi, yaitu ibunya sendiri.
Sangkuriang mengenalkan dirinya sebagai 'Jaka'. Dayang Sumbi tidak menyangka kalau pemuda yang mengaku bernama Jaka itu adalah anaknya... Sangkuriang.
Sangkuriang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dayang Sumbi karena kecantikannya. Dan ia ingin menjadikan Dayang Sumbi sebagai istrinya.
Sejak saat itu, Sangkuriang sering menemui Dayang Sumbi. Hingga pada suatu hari, ikat kepala yang selalu dipakai oleh Sangkuriang, untuk menutupi bekas luka di dahinya, terlepas. Dayang Sumbi yang melihat bekas luka itu, lalu bertanya kepada Sangkuriang. Karena ia teringat kalau anaknya akan mempunyai bekas luka ditempat yang sama.
‘’Ini bekas luka apa Jaka?’’ tanya Dayang Sumbi.
"Aku tidak bisa mengingat kejadian yang lalu... aku tidak ingat luka ini karena apa...", jawab Sangkuriang.
"Aku hanya mulai mengingat... ketika aku diselamatkan oleh Ki Ageng didalam hutan karena pingsan akibat luka dikepalaku ini, aku tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya..."
Setelah mendengar penuturan Jaka, Dayang Sumbi sangat terkejut. Dia merasa yakin bahwa pemuda yang mengaku bernama Jaka adalah Sangkuriang, anaknya yang telah lama meninggalkan rumahnya.
"Jaka... ternyata kau ini adalah Sangkuriang, anakku...aku adalah ibumu nak...", kata Dayang Sumbi.
"Tak mungkin kau ibuku... kita pasti seumuran... ibuku pasti lebih tua", Sangkuriang tak percaya pada perkataan Dayang Sumbi.
"Aku memang diberi karunia oleh Tuhan menjadi awet muda... mungkin agar aku bisa bertemu dengan anakku kembali".
"Aku tidak percaya dengan semua alasanmu... Aku akan tetap memperistri kamu dan kamu harus bersedia menerimanya"
Dayang Sumbi sangat bingung, tidak mungkin baginya untuk menikahi anak sendiri. Setiap hari ia berpikir bagaimana caranya agar Sangkuriang tidak jadi menikahi dirinya.
Setelah berpikir sangat keras, Dayang Sumbi mendapat akal agar pernikahan batal.
"Baiklah... kalau kamu tetap dengan pendirianmu, dan tetap akan menikahiku, kamu harus memenuhi dua syarat yang kuajukan kepadamu".
"Katakanlah apa saja persyaratan yang kamu ajukan... pasti akan aku penuhi".
"Buatlah sebuah danau dan sebuah perahu! Keduanya harus selesai sebelum matahari terbit!"
"Syarat darimu pasti akan aku bereskan", jawab Sangkuriang dengan penuh keyakinan
Dengan menggunakan kesaktiannya, Sangkuriang segera mengumpulkan pasukan yang terdiri dari berbagai makhluk halus untuk membantunya. Mereka mulai melakukan berbagai jenis pekerjaan... ada yang menggali tanah, ada yang mengumpulkan batu-batu besar, kemudian menumpuknya untuk membendung aliran sungai. Ada juga diantara mereka yang bertugas menebang pohon yang sangat besar dan memotong-motongnya menjadi kayu berbagai ukuran untuk membuat perahu yang besar.
Di gubuknya, Dayang Sumbi gelisah, ia takut kalau Sangkuriang bisa menyelesaikan syarat yang diajukannya.
Ketika tengah malam... Dayang Sumbi mengintip pekerjaan Sangkuriang dan pasukan gaibnya. Betapa terkejutnya Dayang Sumbi melihat danau dan perahu yang hampir selesai.
Datang Sumbi lari ke perkampungan, kemudian ia meminta bantuan kepada masyarakat disitu. Ia dan penduduk kampung membentangkan kain merah kearah timur...
Sehingga terlihatlah cahaya kemerahan dari arah timur... seakan fajar mulai muncul. Tak lama kemudian terdengar suara kokok ayam jantan bersahutan.
Para makhluk gaib pun mulai menghilang satu persatu, mereka melarikan diri kembali ke alamnya, karena mengira hari sudah pagi. Mereka meninggalkan pekerjaannya... padahal danau dan perahu itu hampir saja selesai.
Ketika Sangkuriang mengetahui bahwa yang telah menggagalkan usahanya itu adalah Dayang Sumbi, ia menjadi sangat murka.
Dengan ilmu kesaktian yang dimilikinya... Sangkuriang menjebol kembali bendungan yang telah dibuat oleh pasukan makhluk gaibnya. Hingga, terjadilah banjir bandang!
Tidak hanya itu... Sangkuriang pun menendang perahu yang sudah hampir jadi... sehingga perahu itu melayang dan jatuh tertelungkup. Perahu itulah yang konon katanya menjelma menjadi Gunung Tangkuban Parahu.
Pesan yang bisa diambil dari cerita ini adalah... kita jangan memaksakan kehendak kepada orang lain, hargailah keinginan orang lain.