Sebelum manusia mengenal roda, sebelum kerajaan memiliki nama, sebelum jalan-jalan dibangun dan sebelum seseorang pernah mengeluh karena batu kecil masuk ke dalam sandalnya...
Ia sudah ada.
Sebuah batu.
Batu itu pada awalnya bukanlah batu kecil.
Ia adalah bagian dari gunung.
Besar.
Tinggi.
Kokoh.
Tubuhnya menyatu dengan batu-batu lain, membentuk dinding tebing yang menjulang ke langit.
Setiap pagi, matahari menyentuh permukaannya.
Setiap sore, hujan membasahinya.
Setiap malam, angin dingin melewatinya.
Ia tidak memiliki nama.
Tidak membutuhkan nama.
Ia hanya ada.
Dan bagi sebuah batu, itu sudah cukup.
Selama ribuan tahun, ia berdiri.
Ia melihat dunia berubah.
Pohon-pohon tumbuh di lereng gunung.
Kemudian mati.
Tumbuh lagi.
Kemudian mati lagi.
Sungai terbentuk di bawahnya.
Awan datang dan pergi.
Burung membuat sarang.
Rusa melintas.
Serigala berlari.
Dan sesekali, manusia datang.
Pada awalnya manusia itu sedikit.
Mereka berjalan kaki.
Mereka mengenakan pakaian sederhana.
Mereka membawa tombak.
Mereka takut pada gunung.
Batu itu melihat mereka dari atas.
Manusia-manusia itu menyalakan api di malam hari.
Api kecil.
Hampir tidak terlihat dari ketinggian.
Namun batu itu selalu memperhatikannya.
Ia tidak tahu apa yang dilakukan manusia.
Ia hanya melihat cahaya kecil itu muncul setiap malam.
Sampai suatu hari, seorang anak kecil mendaki gunung.
Ia berjalan bersama ayahnya.
Anak itu berhenti di depan batu.
Tangannya menyentuh permukaannya.
“Batu.”
Itulah pertama kalinya batu itu diberi nama.
Bukan nama sebenarnya.
Hanya sebuah kata.
Batu.
Anak itu duduk di sana cukup lama.
Ia memakan buah.
Kemudian bersandar pada batu.
“Kalau aku besar nanti, aku mau pergi jauh.”
Ayahnya tertawa.
“Kita lihat nanti.”
Anak itu pergi.
Batu itu tetap tinggal.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu tidak pernah kembali.
Batu tidak tahu ke mana ia pergi.
Tetapi ia tidak sedih.
Batu tidak mengenal kesedihan.
Setidaknya begitulah yang ia pikirkan.
Kemudian zaman berubah.
Manusia mulai membangun rumah.
Desa.
Kota.
Kerajaan.
Batu itu melihat semuanya dari kejauhan.
Dari tempatnya di gunung, ia melihat bendera pertama berkibar.
Kemudian bendera itu hilang.
Digantikan bendera lain.
Kemudian perang terjadi.
Asap naik ke langit.
Suara teriakan terdengar sampai ke lereng.
Batu itu tidak mengerti mengapa manusia selalu membangun sesuatu hanya untuk menghancurkannya lagi.
Tetapi ia melihat.
Ia selalu melihat.
Kerajaan pertama runtuh.
Kerajaan kedua berdiri.
Kerajaan ketiga muncul.
Kemudian semuanya berubah lagi.
Raja-raja datang.
Raja-raja mati.
Prajurit datang.
Prajurit tidak pulang.
Anak-anak lahir.
Anak-anak tumbuh.
Anak-anak tua.
Kemudian anak-anak mereka menggantikan mereka.
Dan batu itu tetap ada.
Ia menjadi saksi.
Saksi yang tidak pernah diminta siapa pun.
Suatu hari, seorang perempuan muda datang ke gunung.
Ia membawa bayi.
Ia duduk di dekat batu.
“Lihat, Nak.”
Ia menyentuh permukaan batu.
“Ini sudah ada sejak zaman kakek buyutmu.”
Bayi itu tentu saja tidak mengerti.
Ia hanya tertawa.
Perempuan itu ikut tertawa.
Kemudian ia pergi.
Batu itu tidak tahu siapa mereka.
Tetapi untuk beberapa alasan...
ia mengingat suara tawa bayi itu.
Waktu terus berjalan.
Ratusan tahun.
Lalu ribuan.
Gunung mulai berubah.
Hujan mengikis permukaannya.
Angin membawa pasir.
Petir memecahkan bagian-bagian kecil.
Dan suatu hari...
KRAAAK!
Batu itu retak.
Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi bagian gunung, ia merasa takut.
Retakan menjalar di tubuhnya.
Sedikit demi sedikit.
Kemudian—
BRUK!
Ia jatuh.
Batu besar itu terlepas dari gunung.
Menggelinding menuruni lereng.
Menabrak batu lain.
Menabrak pohon.
Menghantam tanah.
Sampai akhirnya berhenti di dasar lembah.
Ia terluka.
Sebagian tubuhnya pecah.
Tetapi ia masih besar.
Masih kuat.
Ia mengira semuanya akan kembali seperti dulu.
Ternyata tidak.
Beberapa tahun kemudian, manusia datang.
Mereka membawa alat.
Mereka menggali.
Mereka memindahkan batu.
Batu itu dibawa ke sebuah tempat yang penuh debu.
Ia melihat batu-batu lain.
Ada yang besar.
Ada yang kecil.
Kemudian seorang manusia mengambil palu.
DUK!
Batu itu terkejut.
DUK!
Tubuhnya retak.
DUK!
Bagian besar dari dirinya pecah.
Untuk pertama kalinya, batu itu kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Tubuhnya.
Potongan demi potongan.
Ia dihancurkan.
Tidak ada yang bertanya apakah ia ingin dihancurkan.
Tidak ada yang peduli bahwa ia telah berdiri selama ribuan tahun.
Tidak ada yang tahu bahwa ia pernah melihat kerajaan pertama.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang anak pernah bersandar padanya.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang ibu pernah membawa bayinya ke tempatnya.
Bagi manusia, ia hanya batu.
Dan batu...
adalah sesuatu yang bisa dihancurkan.
Setelah berhari-hari dihantam, batu itu tidak lagi besar.
Ia menjadi lebih kecil.
Lalu lebih kecil lagi.
Sampai akhirnya ia hanya sebesar kepalan tangan.
Ia dimasukkan ke dalam truk.
Truk itu membawanya jauh.
Batu itu melihat dunia dari balik bak kendaraan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kota dari dekat.
Bangunan tinggi.
Lampu.
Mobil.
Orang-orang.
Ia merasa kagum.
Dunia ternyata jauh lebih besar daripada yang selama ini ia lihat dari gunung.
Namun kekaguman itu tidak berlangsung lama.
Truk berhenti.
Batu itu dicampur dengan batu-batu lain.
Pasir.
Aspal.
Panas.
Sangat panas.
Tubuhnya terjebak di dalam jalan.
Ia tidak bisa bergerak.
Hari demi hari, manusia melewatinya.
Mobil melintas.
Sepeda melintas.
Motor melintas.
Orang-orang berjalan.
Tidak ada yang tahu bahwa di bawah kaki mereka...
ada sebuah batu tua.
Batu yang pernah menjadi bagian dari gunung.
Batu yang pernah melihat kerajaan.
Batu yang pernah menjadi tempat seorang anak duduk.
Batu yang pernah mendengar tawa bayi.
Ia berada di sana.
Diam.
Tidak terlihat.
Tidak dikenali.
Tetapi ia tidak keberatan.
Karena akhirnya ia menyadari sesuatu.
Tidak semua hal harus dikenang.
Tidak semua kehidupan harus memiliki nama.
Kadang cukup dengan pernah ada.
Namun bertahun-tahun kemudian...
jalan itu rusak.
Aspalnya retak.
Hujan masuk ke dalam celah.
Batu itu perlahan terlepas.
Hari itu, setelah hujan deras, ia jatuh ke pinggir jalan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
ia bebas.
Ia melihat langit.
Langit yang sama yang pernah dilihatnya ketika masih berada di gunung.
Matahari masih terasa hangat.
Angin masih berembus.
Batu itu hampir merasa bahagia.
Sampai seseorang berjalan melewatinya.
Tendang.
Batu itu menggelinding.
“Duh, batu.”
Orang itu terus berjalan.
Batu berhenti di pinggir jalan.
Ia diam.
Tidak marah.
Tidak sedih.
Ia hanya melihat orang itu pergi.
Kemudian seorang anak kecil datang.
Anak itu berhenti.
Melihat batu.
Mengambilnya.
“Wah.”
Ia membalik batu itu.
“Bagus.”
Batu itu diam.
Anak itu memasukkannya ke dalam saku.
Untuk beberapa jam, batu itu dibawa berkeliling.
Ia melihat dunia dari tangan seorang anak.
Mereka pergi ke rumah.
Anak itu menunjukkan batu itu kepada ibunya.
“Bu, lihat.”
“Batu?”
“Iya. Bagus, kan?”
Ibunya tersenyum.
“Bagus.”
Anak itu menyimpan batu tersebut di atas meja.
Dan malam itu, batu itu berada di tempat yang hangat.
Tidak ada hujan.
Tidak ada palu.
Tidak ada roda kendaraan.
Hanya lampu kecil dan suara keluarga yang sedang berbicara.
Batu itu merasa tenang.
Namun keesokan harinya...
anak itu kehilangan minat.
Batu tersebut dibawa keluar.
Diletakkan di halaman.
Kemudian ditinggalkan.
Hujan turun.
Matahari datang.
Hari berganti hari.
Batu itu kembali sendirian.
Sampai suatu sore, seorang laki-laki dewasa menyapu halaman.
Ia melihat batu itu.
“Ini dari mana?”
Ia mengambilnya.
Melemparkannya ke jalan.
Klek.
Batu itu kembali ke tempat semula.
Di pinggir jalan.
Sekarang ukurannya sudah jauh lebih kecil.
Hujan terus mengikisnya.
Sepeda melewatinya.
Mobil melewatinya.
Sepatu menendangnya.
Anjing kadang mengendusnya.
Anak-anak kadang mengambilnya.
Dan setiap kali seseorang menendangnya—
klek.
Ia menggelinding sedikit.
Lalu berhenti.
Suatu hari, seorang anak perempuan berjalan pulang dari sekolah.
Ia melihat batu kecil itu.
Ia menendangnya.
“Eh.”
Batu menggelinding.
Anak itu tertawa.
Kemudian ia menendangnya lagi.
“Jalan!”
Batu menggelinding lebih jauh.
Anak itu terus menendang.
Sampai akhirnya ia bosan.
Ia pergi.
Batu itu terdiam.
Namun sebelum anak itu benar-benar menghilang, ia menoleh.
“Dadah, batu!”
Batu itu tentu saja tidak bisa menjawab.
Kalau bisa...
mungkin ia akan berkata,
Dadah.
Tahun-tahun berlalu.
Batu itu semakin kecil.
Dulu ia sebesar rumah.
Kemudian sebesar manusia.
Kemudian sebesar kepalan tangan.
Kemudian sebesar telur.
Sekarang...
hanya sebesar kuku.
Ia sudah lupa rasanya menjadi bagian dari gunung.
Tetapi sesekali, ketika hujan turun dan udara membawa aroma tanah basah...
ia teringat.
Ia teringat angin di puncak.
Teringat burung.
Teringat anak kecil yang pernah bersandar padanya.
Teringat seorang ibu.
Teringat bayi yang tertawa.
Ia tidak tahu ke mana mereka semua pergi.
Tetapi mungkin itu tidak penting.
Karena setiap kehidupan memang memiliki waktunya sendiri.
Dan setiap batu...
akhirnya akan berubah menjadi sesuatu yang lebih kecil.
Suatu pagi, sebuah truk datang.
Jalan itu sedang diperbaiki.
Aspal lama dikeruk.
Tanah digali.
Batu-batu kecil dikumpulkan.
Batu itu ikut tersapu.
Ia dibawa bersama ribuan batu lainnya.
Kemudian dituangkan ke dalam mesin.
KRAK.
Ia pecah lagi.
Kali ini...
ia tidak merasakan apa-apa.
Tubuhnya sudah terlalu kecil untuk disebut batu.
Ia menjadi serpihan.
Bercampur dengan aspal.
Diletakkan kembali di jalan.
Mobil-mobil kembali melintas.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang bertanya.
Namun kalau seseorang memperhatikan dengan sangat teliti...
di antara aspal hitam itu terdapat sebuah serpihan kecil.
Tidak lebih besar dari butiran pasir.
Ia tidak lagi berada di gunung.
Tidak lagi di lembah.
Tidak lagi di pinggir jalan.
Tetapi ia masih ada.
Setelah ribuan tahun...
ia masih ada.
Dan mungkin itu adalah hal paling luar biasa tentang dirinya.
Ia pernah menjadi bagian dari gunung.
Pernah menjadi saksi sejarah.
Pernah menjadi tempat seorang anak beristirahat.
Pernah dibawa seorang anak lain sebagai harta karun.
Pernah ditendang.
Pernah diinjak.
Pernah dihancurkan.
Dan akhirnya...
menjadi bagian dari jalan yang dilewati semua orang.
Tidak ada patung untuknya.
Tidak ada buku sejarah.
Tidak ada nama.
Tidak ada yang tahu kisahnya.
Tetapi setiap pagi, ketika matahari terbit dan ribuan manusia mulai melewati jalan itu...
serpihan kecil tersebut tetap berada di sana.
Diam.
Menahan berat dunia.
Dan mungkin...
setelah menjalani ribuan tahun kehidupan,
ia akhirnya mengerti.
Bahwa menjadi penting tidak selalu berarti dikenang.
Kadang, menjadi bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar...
sudah cukup.
Karena dulu ia adalah gunung.
Sekarang ia hanya kerikil.
Dan besok mungkin...
bahkan kerikil itu akan menjadi debu.
Tetapi selama ia masih ada—
ia akan tetap menjadi saksi.
Saksi bagi langkah-langkah manusia.
Saksi bagi hujan.
Saksi bagi matahari.
Saksi bagi anak-anak yang tertawa.
Saksi bagi orang-orang yang terburu-buru.
Dan sesekali...
bagi seseorang yang berjalan sambil menggerutu,
“Duh, batu!”
Lalu—
tendang.
Kerikil itu menggelinding sedikit.
Berhenti.
Diam.
Dan entah mengapa...
kalau ia bisa tersenyum,
mungkin ia akan tersenyum.
Karena setelah melewati ribuan tahun...
akhirnya ia punya satu kesimpulan sederhana:
“Setidaknya aku masih berguna.”