Perkenalan/Awal:
"Hei-hei, kamu tau gak? Ada cerita legenda menarik yang terkenal se-kerajaan Human?" Ucap seorang gadis kecil dengan ekspresi bersemangat pada anak laki-laki yang juga seumurannya.
Anak laki-laki tersebut menatap si gadis kecil dengan datar selama beberapa saat sebelum akhirnya memiringkan kepalanya, pertanda tidak pernah tahu tentang hal itu.
"Ahahaha, sudah aku duga kamu gak tau cerita ini. Dasar kamu ini, dimana selama ini kamu tinggal? Kenapa banyak yang kamu gak tau? Padahal semua itu sering dibahas oleh semua orang di kerajaan ini." Gadis kecil yang ceria kembali mengoceh tanpa henti meskipun mendapatkan reaksi datar dari anak laki-laki.
"A-ku..." Anak laki-laki ingin berkata sesuatu, namun dari caranya berbicara yang terbata-bata pada kata pertama yang terucap dari mulutnya, semua orang bisa menangkap akan butuh waktu yang panjang untuk menyimak semua penjelasannya.
Si gadis kecil yang cerewet tertawa kecil melihat ekspresi anak laki-laki yang sedikit berubah menjadi kebingungan.
"Baik-baik tidak usah dijelaskan sekarang, aku tidak memaksamu, kok!" Gadis kecil memberikan senyuman lebar sembari menepuk-nepuk pundak anak laki-laki dihadapannya.
"Sekarang dengarkan ceritaku dulu ya? Setelah itu baru kita akan membahas hal lain." Gadis kecil menengok ke atas, sinar matahari saat itu cukup terik, membuatnya sedikit gerah.
Segera saja si Gadis kecil menggenggam tangan anak laki-laki dan menariknya menuju ke suatu tempat sembari berkata, "Cari tempat meneduh dulu yuk? Disini cukup panas karena Matahari."
Mendengar si Gadis kecil berkata demikian, ekspresi anak laki-laki di belakangnya kembali berubah, kini menjadi ekspresi dingin saat ia menoleh ke belakang, menatap sosok Matahari secara langsung.
Gadis kecil tidak menyadari perubahan ekspresi anak laki-laki yang ia tarik itu, saat gadis kecil menoleh ke anak laki-laki, ekspresi yang ditunjukkan hanyalah ekspresi datar.
"Sepertinya ini tempat yang pas. Bagaimana menurutmu?" Tanya gadis kecil memiringkan kepalanya sambil tersenyum manis.
Keduanya saat ini berada dibawah pohon cukup besar, suasana di tempat itu begitu sejuk dan damai. Angin sepoi-sepoi ditambah pemandangan alam yang indah dapat menghipnotis siapa saja untuk enggan meninggalkan tempat itu.
"Hm..." Hanya gumaman pelan disertai anggukan kecil yang digunakan anak laki-laki sebagai balasan atas pertanyaan gadis kecil.
"Baiklah kalau begitu mari kita mulai ceritanya!" Seru gadis kecil bersemangat, mengajak anak laki-laki ikut duduk di sebelahnya bersenderkan batang pohon.
Namun sebelum gadis kecil memulai ceritanya, ia segera teringat oleh sesuatu, "Oh iya, siapa namamu? Aku lupa menanyakannya." Gadis kecil menjitak pelan jidatnya sambil tersenyum manis.
Anak laki-laki yang terus menatap gadis kecil sedari tadi membutuhkan waktu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan gadis kecil karena teralihkan oleh sesuatu yang indah.
"A-ku.. Wra-.. Ahh-!" Anak laki-laki tiba-tiba memegang kepalanya dengan ekspresi mengernyit kesakitan. Melihat hal itu gadis kecil menjadi panik.
"Ada apa?! Wra? Kamu gak apa-apa Wra?" Gadis kecil mencoba memeriksa kondisi anak laki-laki, khususnya dibagian kepala karena dia menduga ada semut yang menggigit kepala anak laki-laki.
Ternyata ekspresi kesakitan anak laki-laki berlangsung sangat singkat. Anak laki-laki yang menyebut dirinya Wra segera menggelengkan kepala ringan pertanda bahwa ia baik-baik saja.
Awalnya gadis kecil masih sedikit khawatir, namun setelah beberapa saat mengamati Wra dan tidak menemukan apapun akhirnya gadis kecil menghela nafas lega.
"Untunglah kamu gak apa-apa Wra. Tapi jujur namamu sedikit aneh." Gadis kecil tertawa kecil.
Ekspresi Wra sedikit berubah, kini perubahan sedikit lebih banyak daripada yang sebelumnya. Namun ekspresi yang dikeluarkan oleh Wra saat ini adalah ekspresi sedih
"Lu-ci tak su-ka?" Tanya Wra, masih dengan ekspresi sedih.
Wra sudah mengetahui nama gadis kecil dihadapannya adalah Lucy, lebih tepatnya Lucy Sunheart, sebab dari awal pertemuannya oleh Lucy secara tidak sengaja, Lucy sudah memberitahukan namanya pada Wra.
Mendengar anak laki-laki yang ia anggap manis kini menjadi sedih membuat Lucy buru-buru menjelaskan, "Tidak begitu kok Wra, aku hanya berpikir namamu cukup lucu dan menarik." Lucy tersenyum lembut.
"Ka-lau begi-tu, be-rikan na-ma padaku?" Wra berusaha keras menyelesaikan kalimatnya.
Sungguh baginya yang selama ini hidup seorang diri dan hampir tidak pernah menggunakan suaranya untuk berkomunikasi pada orang lain adalah sebuah tantangan ketika berhadapan gadis secerewet Lucy.
Lucy menyimak sampai akhir kalimat Wra, dia menatap mata Wra yang gelap namun terlihat cerah. Sulit untuk menyebutkan bahwa itu adalah mata anak kecil tidak pernah berbuat dosa atau seorang pria dewasa yang hidupnya penuh dengan masalah.
"Wra mau aku memberikan nama? Apa Wra yakin?" Lucy cukup kebingungan dengan ekspresi Wra. Terlihat anak laki-laki itu sangat berharap ia untuk memberikan nama tidak peduli berapa kali ia menjelaskan bahwa nama Wra saat ini juga sudah bagus.
Wra terlihat sangat yakin dan berharap Lucy memberikannya nama yang bagus. Melihat hal itu membuat Lucy tersenyum canggung.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan... Fred? Aku mendapatkan referensinya dari kata Free, artinya kebebasan, atau Freedom artinya merdeka. Saat aku bertemu dengan mu tadi, aku langsung memikirkan bahwa kehidupanmu begitu bebas. Aku sangat menyukai kebebasan, walaupun itu cukup sulit untuk ku dapatkan." Ujar Lucy tersenyum rumit.
Tanpa pikir panjang anak laki-laki dihadapannya mengangguk setuju. Kini nama lain dari Wra adalah Fred, jujur Wra lebih menyukai nama barunya, sebab itu lebih berarti daripada namanya yang lama.
Melihat Wra yang puas dengan nama pilihannya membuat Lucy menjadi sangat senang. Dia bahkan melompat-lompat gembira karena tidak menyangka Wra akan langsung menyukainya.
Padahal jika saja Lucy tahu, jika ia memberikan Wra rekomendasi nama 'Stupid', 'Crazy', 'Monkey', 'Ikan Hiu Makan Tomat', ataupun 'Goblog' sekalipun, Wra akan tetap setuju dan menyukainya.