Seorang wanita saat ini tengah berdiri di rooftop apartemennya menatap lurus kedepan, tak terasa air matanya terus jatuh membasahi pipinya.
Namanya Arabella Amira, seorang wanita yang sangat cerewet dan ceria dulunya namun sesaat setelah kepergian sahabat satu satunya yang sangat berarti bagi dirinya sifatnya mulai berubah.
Nama Sahabatnya adalah Adam Nicolas, Mereka sudah kenal sejak kelas 1 SD sampai 3 SMA saat itu. Mereka merantau dari Bandung ke Jakarta berdua dan tinggal di apartemen yang sama.
***
**Empat Tahun Yang Lalu..**
Di depan tv yang menyala terdapat Ara dan Adam tengah melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Adam tengah duduk di lantai sembari memperhatikan laptop dan buku pelajarannya karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian nasional sementara Ara tegah asik tiduran di sofa tangan kanan memegang cemilan sementara tangan kirinya memegang handphone dan melihat Instagram.
"Dam.. kalau Ara pakai baju ini bagus gak?" Ara menunjukkan baju model Sabrina kepada Adam. Adam melirik sedikit lalu menggeleng.
"Kenapa? Ara gendut ya?" Ara dengan cepat duduk dan memegang tangan Adam.
"Bukan gendut tapi memang gak cocok.." Singkat padat namun kita Jelas Fikir Ara.
"Alasannya? semua yang ada di dunia ini butuh alasan kan?!" Setelah mengucapkan itu Ara menunggu jawaban dari Adam beberapa saat sampai..
"Kalau kamu nyaman pakaiannya beli saja tapi aku yakin kamu gak pernah nyaman untuk memakai pakaian seperti ini" Setelah mengucapkan itu Adam kembali konsen ke laptopnya.
Ara hanya mengangguk anggukan kepalanya lalu menyimpan handphonenya dan memperhatikan laptop yang sedang di tatap Adam.
"Kamu sudah pintar Adam kenapa belajar lagi sih?" Celetuk Ara, Adam melirik sebentar lalu kembali memfokuskan dirinya.
"Iya juga ya, seharusnya yang belajar itu orang bodoh seperti mu!" Ara yang mendengar perkataan Adam pun langsung membelalakkan matanya dan memukul kepala Adam dengan bantal sofa.
"Aku bukan gak pintar tapi kurang di asah aja! Mau makan apa biar aku masakin" Ara berjalan ke dapur untuk memasak makan siang.
"Ayam krispi enak juga nih" Sahut Adam
"Ayam gak ada! Masak udang saja ya" Teriak Ara saat sudah berada di dapur
1 Jam berlalu Ara berjalan ke ruang tamu dengan udang saus tiram di tangannya, Ara kembali Menuju dapur dan mengambil 2 piring yang berisi nasi di dalamnya.
"Ini makan dulu, nanti sakit Lo" Ara menutup laptop Adam dan Adam mendekat ke Makana yang sudah terhidang.
"Wah enak nih.. makasih" Ara selalu tersenyum saat mendengarkan pujian dari Adam untuk makanan yang di masaknya.
Mereka makan sembari menonton siaran TV perlahan tapi pasti udang saus tiram habis mereka makan. Ara mengangkat piring menuju wastafel untuk di cuci sementara Adam kembali menuju layar laptopnya.
Tiba tiba Handphone Ara berdering, Handphone Ara yang sedang berada di atas meja di samping laptop Adam membuat Adam sedikit terkejut dan melirik siapa yang menelepon ternyata text name nya adalah 'BIDADARI' berarti yang menelfon adalah Mama Ara.
"Ara.. Mama kamu nelfon" Adam mengambil handphone itu lalu mengangkatnya.
"Sini Dam, tolong letakkan di kuping aku" Ara berbicara di telfon sembari mencuci piring sementara Adam berdiri di sampingnya untuk memegang Handphone Ara.
_Telfon_
"Halo Ma.."
"------------"
"Iya Ara sama Adam baik kok, Mama sama Papa apa kabar?"
"------------"
"Sebentar lagi kami ujian Nasional Mama belum bisa pulang"
"-------------"
"Iya Mama, Ara janji akan pulang"
"-------------"
"Iya nanti Ara salami"
"--------------"
"Waalaikumsalam" Sambungan telfonpun terputus.
"Mama kamu ngomong apa?" Adam membantu Ara untuk menyusun piring yang sudah bersih
"Nanya kabar dan nyuruh pulang, oh ia Mama kirim salam sama kamu" Ara menyampaikan pesan yang tadi di sampaikan Mama untuk Adam
"Iya Waalaikumsalam.."
Tugas cuci piring selesai mereka kembali menuju ruang tamu untuk membahas soal-soal bersama.
*
*
*
3 bulan berlalu, mereka sudah melewati ujian Nasional dengan baik dan tepat. Ara mendapatkan nilai bagus semua itu berkat Adam sementara Adam sudah tidak perlu di ragukan lagi, nilai Adam adalah yang paling tinggi di antara pada siswa siswi yang lain. mereka sangat senang setelah menerima keras yang bertuliskan kata Lulus dan mereka semua merayakannya.
Mulai dari mencoret coret seragam SMA dan pergi Turing. Saat ini sudah jam 8 Malam, Ara dan Adam baru saja sampai di apartemen. Rasanya sangat capek namun sangat bahagia.
"Dam.. makasih ya, karena kamu nilai ujian aku bisa bagus" Ara memeluk tubuh Adam dan Adam hanya tersenyum tipis
"Itu semua berkat di kamu sendiri jadi gak perlu berterima kasih" Adam mengelus rambut Ara.
"Pokoknya aku mau berterimakasih kepada kamu" Adam hanya menganggukkan kepalanya.
Ara tak melepaskan pelukannya sementara Adam hanya fokus kepada layar TV.
Namun keheningan itu terpecah saat Adam buka suara..
"Oh ia aku mau bilang, kalau aku sudah daftar kuliah di Prancis" Seperti Sambaran petir, Ara tak bersuara menanggapi perkataan Adam.
"Kenapa diam? bukannya bisanya kamu yang selalu heboh?" tanya Adam yang membuat senyum kecut di bibir Ara.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Ara dengan suara kecil
"Nanti jam 9 malam keluar hasilnya dari Internet, kamu masak gih aku lapar nih" Adam memegang perutnya.
"Kamu pesan aja deh, hari ini aku capek banget. aku ke kamar dulu mau mandi nanti kalau makanannya sudah datang bilang ya" Ara melangkah menuju kamarnya.
Semangat yang tadinya membara kini hilang di telan Tsunami kenyataan! Ara merendam dirinya dengan air dingin rasanya sangat nyaman untuk berlama-lama berendam di dalamnya. Namun ketukan di pintu membuat Ara sedikit terkejut.
"Ara makanannya sudah datang dan Informasi dari universitasnya sudah keluar aku ingin membukanya bersama mu. ayo cepat lah" Ucap Adam dari luar.
"Iya sebentar aku pakai baju dulu" Ara keluar dari kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya.
Adam sudah duduk bersama laptop dan makanan pesanan yang terbuka di ruang keluarga, Ara melangkah gontai namun tetap memasang senyum di wajahnya.
"Gimana hasilnya? di terima?" tanya Ara memasang senyum selebar mungkin.
"Kita buka sama sama oke.. 1.. 2.. 3.." David membuka file dan ternyata isinya.
*Selamat Anda di terima*
David sangat senang melihat tulisan itu, David memeluk erat tubuh Ara, sementara Ara hanya meneteskan air mata membaca laporan itu.
"Arabella!! aku di terima" Teriakan David memenuhi Apartemen itu. David melepaskan pelukannya dan menatap ku lekat, bisa ku lihat di wajahnya sangat senang namun keningnya berkerut.
"Kamu kenapa? kamu gak senang aku di terima?" tanya Adam dengan cepat Ara menggelengkan kepalanya.
"Aku masih syok aja melihat sahabat aku akan kuliah di Prancis, mana mungkin aku gak senang. Selama Ya semoga kamu sukses di Prancis, tetap ingat aku sahabat mu yang bodoh ini" Ara memaksakan senyumannya berharap semua ini hanya mimpi.
***
**Kehidupan Ara yang sekarang..**
Setelah kejadian Hari itu Mood Ara tak pernah kembali menjadi baik, semuanya tampak biasa saja.
Ara sudah berkuliah di Universitas Di Jakarta dan mengambil jurusan kedokteran. Sudah 4 tahun Ara berkuliah di universitas itu, dengan tekun Ara mendalami semua mata kuliah yang di terimanya.
Banyak laki laki yang mendekatinya karena Ara sudah tumbuh menjadi wanita yang modis, sangat cantik dan terkenal karena kepintarannya.
Ara dan Adam sudah tidak pernah berkomunikasi semenjak Ara mengganti Handphone dan Email nya, Ara sudah tak menggunakan akun Instagram dan Akun Twitter semenjak hari pertama kuliahnya di mulai.
Ara masih tinggal di Jakarta namun sudah pindah apartemen, Mama dan Papanya bahkan tidak tau dimana tempat tinggal Ara tepatnya dimana tapi Ara meyakini kedua orang tuanya kalau dirinya baik baik saja.
Dan saat ini Ara sendang melakukan praktek di sebuah rumah sakit yang terkenal di Jakarta.
"Dokter Ara ada pasien gawat darurat di ICU" Ucap suster yang memecahkan keheningan di dalam ruang kumpul para mahasiswa. saat itu hanya ada Ara dan Verrel.
Ara dan Verrel berlari menuju ICU dan benar saja sedang ada seorang perempuan yang baru saja mengalami kecelakaan. penuh luka dan banyak mengeluarkan darah.
Ara dan Verrel melakukan kerjasama dengan sangat baik sampai akhirnya pasien kembali sadar.
Ara dan Verrel keluar ruang ICU dan memutuskan untuk pergi keluar mencari makanan malam.
"Dokter Ara sangat hebat" Puji Verrel, Ara yang mendengarnya hanya tersenyum simpul
"Aku belum jadi dokter jadi tidak perlu di panggil dokter Verrel!"
"Tapi kau benar-benar keren Ara, sangat cepat tanggap" Kembali Verrel memuji Ara.
"Kan kita belajar jadi bisalah melakukan hal yang seperti ini" Jawab Ara santai.
Sesampainya di depan sebuah kafe Ara seperti melihat siluet tubuh yang sangat Ara rindu kan namun Ara tak menghiraukannya dan kembali menuju ke dalam kafe tersebut.
Ara memesan nasi goreng cumi dan minuman teh hangat.
"Gimana sama yang namanya Adam" Celetuk Verrel yang membuat Ara tersedak makanannya sendiri
"Pelan pelan dong" Verrel mengambil minuman Ara den memberikannya kepada Ara.
"Gimana mau pelan pelan! lu yang cari masalah Verrel!!" Jawab Ara
"Ya tinggal jawab aja" Verrel menimpali,
"Sudah lama tidak komunikasi berarti sudah tidak ada hubungan apapun" Jawab Ara asal.
"Kamu yang menjauh Ara bukan dia!" Celetuk Verrel lagi. Ara tak menjawab, hanya fokus dengan makanannya.
"Aku besok libur cuti, mau ke Bandung. kangen Mama" Ara menghentikan makannya
"Kok tiba-tiba?"
"Gak ada yang tiba-tiba.. aku sudah hampir tidak pernah pulang" Ara pergi ke kasir untuk membayar makanan dan meninggalkan Verrel.
Verrel menyusulnya dan mengikutinya.
***
Sesampainya di Bandung Ara langsung menuju rumahnya namun entah mengapa ada mobil orang lain yang terparkir di halaman rumah Ara.
Ara tak menghiraukannya dan langsung memencet bel..
Ding.. Dong...
Pintu terbuka..
"Ara?" Ternyata Mama yang membukakan pintu Ara tersenyum dan langsung memeluk Mama
"Mama Ara kangen" Ucap Ara, setelah itu melepaskan pelukan dari Mama.
"Kamu sudah bangun berubah sayang, kamu sekarang sudah cantik pakai banget" Celetuk Mama yang membuat aku tersenyum.
Mama membawa ku masuk namun saat berada di dalam ruang keluarga pandangan ku beralih kepada 3 orang yang selam ini aku rindukan. Ayah, Bundanya Adam dan Adam nya sendiri.
"Bunda.. Ayah.. apa kabar?" tanya ku mengalami kedua orang tua Adam.
"Baik, Kia apa kabar? kamu makin cantik sekarang.." Aku hanya menanggapinya dengan senyuman manis. aku memeluk Papa yang sedari tadi menatap ku.
"Papa Kia kangen" ucap Ara
"Udah ingat pulang Teteh sekarang?" Sepertinya Papa masih marah
"Sudah atuh Pah.. nanti kia kabur lagi nih" Ancam Ara.
"Ya sok atuh kabur, gak usah pulang sekalian"
"Papa anaknya mau pergi malah gak di tahun" Ara mengeratkan pelukannya dan akhirnya Papa luluh dan akhirnya membalas pelukan dari ku.
"Ara.." Suara itu memanggil ku Fikir Ara, Ara melirik sedikit
"Ma.. Pa.. Bun.. Yah.. Ara ke kamar dulu ya capek banget" Aku berjalan menuju lantai 2 di rumah ku ini.
Sebenarnya Ara sangat pengertian memeluk Adam namun perasaannya kembali hancur begitu saja.
*Tok.. Tok..*
"Iya sebentar" Ara membuka pintunya dan ternyata itu Adam dengan cepat Ara menutup pintu namun kaki Adam sudah menahan pintu dan akhirnya pintu terbuka. Ara terdiam sementara Adam mengunci pintu.
"Mau apa ke sini? ini kamar aku?! lagian ngapain pulang sih!!" Ara menatap sinis ke arah Adam
"Kamu yang kenapa Ara? kenapa Semua akun sosial media kamu memblokir aku aku?" Adam menatap Ara
"Aku sudah tidak main sosial media apapun itu!" Jawab Ara penuh penekanan
"Email, WA aku kenapa tidak pernah di balas?" Tanya Adam lagi
"Aku ganti handphone baru dan semuanya jadi baru, Wa dan Email" Jawab Ara santai.
Adam menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya kasar
"Kamu kenapa menghindari aku? kenapa waktu itu gak antara aku ke bandara? kenapa setiap aku ke Bank pulang kamu tidak pernah mau pulang ke Bandung?! Kamu marah sama aku?" tanya Adam
"Tidak ada yang marah sama kamu! Aku hanya menghindari kamu!!" Ara tersenyum Kecut
"Kenapa?! Jangan bilang tidak ada alasannya karena kamu sendiri yang bilang semua yang ada di bumi ini punya alasan" Adam menekan perkataannya
"Bahkan kamu gak tau alasannya?! memang aku terlalu bodoh karena sudah mencintai kamu Adam!! Aku tau seharusnya perasaan ini salah makanya aku waktu itu memutuskan untuk pergi meninggalkan kamu tapi malah kamu yang pergi. jadi baguslah. Semuanya di antara kita sudah selesai" Ara sudah emosi mengingat kejadian waktu itu.
"Ka.. Kamu juga punya perasaan sama aku?" tanya Adam, Ara mengerutkan keningnya
"Apa maksud mu dengan mengatakan juga punya perasaan?!" Tanya Ara
"Aku dulu berfikir kalau kau hanya menganggap aku sebagai sahabat saja, aku membuang semua keegoisan ku dan perasaan ku. menguatkan diri sendiri lalu pergi meninggalkan kamu" Jawab Adam.
Ara tersentak mendengar itu perasaan tak percaya dan senang bercampur aduk membuat mereka berpelukan.
..**Selesai**..