"Aaaaaa ... aaaaaa ...." Suara jeritan menggema hampir di seluruh ruang kelas. Suara yang begitu memekakkan telinga bagi manusia normal pada umumnya.
Arin mulai merasakan nyeri pada bagian gendang telinganya. Ia tak tahan dengan jeritan seseorang yang sedang kerasukan. Sakit yang dirasakan bukan karena jeritan itu dapat memekakkan telinganya, tapi dalam pendengaran Arin, suara itu terdengar seperti jeritan iblis yang sedang terbakar.
Tubuh Arin mulai merasakan reaksi dari kepanikannya, setelah mendengar jeritan lantang yang bersumber dari ruang kelas sebelah. Hawa dingin seketika menjalar menembus sepatu yang ia kenakan. Kedua telapak kakinya seperti menyentuh balok es. Perlahan kedua lututnya mulai bergetar dan tangan kanannya pun ikut bergetar. Tangan kiri Arin mencoba menghentikan getaran yang tak terkendali dari tangan kanannya.
Kini tubuhnya terasa ringan dan seakan tak menyentuh bangku tempatnya duduk. Pandangannya menjadi kabur dan rasa menusuk di telinga membuatnya memejamkan mata dan seketika ambruk tak sadarkan diri.
"Arin ...." Tia, teman sebangku Arin terkejut saat temannya tiba-tiba pingsan.
Dalam sekejap semua murid dikelas itu beranjak dan menghampiri tubuh Arin yang tergeletak di lantai kelas.
"Ada apa itu?" Bu Diah yang kala itu sedang mengisi jam pelajaran, ikut terkejut dengan teriakan Tia. Ia segera mengecek keadaan Arin dan menyuruh teman-temannya untuk membawa ke ruang UKS.
Teman-teman Arin merasakan keganjilan saat menggotong tubuh gadis itu. Entah mengapa tubuh kurus Arin justru terasa sangat berat. Bahkan keempat anak laki-laki yang berbadan jauh lebih besar dari badan Arin, pun harus merasakan sakit kram di bagian lengan mereka saat menggotong tubuh gadis itu.
Arin lalu dibaringkan di dalam ruang UKS dan dijaga oleh Tia. Tak berapa lama, ruang UKS dipenuhi dengan puluhan murid perempuan yang menjerit-jerit. Bahkan ada yang menangis dan tertawa dengan suara besar.
Tiba-tiba, Tia melihat tubuh Arin bereaksi dengan suara-suara tersebut. Dengan mata yang masih terpejam erat, Arin menutup telinganya. Bahkan tangan yang menutupinya bergetar dan ditekan erat untuk mencegah ia mendengar jeritan-jeritan tersebut.
Tia mulai panik, dan segera memanggil bu Ulya, guru penjaga UKS yang sedang ikut menangani murid-murid lain.
"Ibu, Bu, Arin, Bu ... Arin!" Tia dan Bu Ulya segera menghampiri Arin yang masih tak sadarkan diri dengan tubuh bergetar.
Bu Ulya meminta Tia untuk membuka sepatu yang masih dikenakan Arin. Tia pun melepaskan sepatu tersebut dan menyentuh telapak kaki Arin yang terasa sangat dingin.
"Bu, kaki Arin dingin," ucap Tia pada Bu Ulya. Bu ulya segera memastikan ucapan Tia dengan ikut mengecek suhu telapak gadis itu.
"Aaaaaa ... Aaaaaaa ...." Tiba-tiba Arin menjerit dengan sangat kencang. Kedua tangannya menjambak kerudung yang dipakainya hingga terlepas. Tubuhnya memberontak dengan sangat kuat.
Tia dan Bu Ulya melepas cengkraman tangan Arin yang mulai menarik-narik rambutnya sendiri hingga rontok.
"Aaaaaa ... aaaaa. ..." Arin kembali menjerit, bahkan ia menjerit lebih keras lagi. Tubuhnya menggelinjang hebat dan membuatnya hampir terjatuh dari atas tempat tidur.
"Itu tangannya jangan dibiarkan mengepal, karna semakin dia mengepal, jin dalam tubuhnya akan semakin kuat," ucap Pak Imam yang langsung menghampiri Arin saat mendengar jeritannya.
Pak Imam lantas membacakan ayat-ayat Suci al-Qur'an dan diusapkan pada wajah Arin. Sementara bu Ulya dan Tia dengan sekuat tenaga berusaha membuka genggaman tangan Arin yang begitu erat.
"Aaaa ... aaaa ... panas ... panas ... aaaaa." Arin mendadak membuka matanya yang memerah. Pandangan kosong dan membelalak tertuju ke arah pak Imam yang tak henti hentinya membaca lantunan ayat-ayat Suci al-Qur'an, sembari menekan jempol kaki Arin.
"Sakit ... sakit! Hentikan ... aaaaaaaa ...." Suara Arin mendadak berubah.
Pak Imam tak menghiraukan jeritan dari Iblis yang merasuki tubuh Arin. Ia semakin menyaringkan suara lantunan doa yang dibacanya.
"Panas, panas, berhenti ... aaaa .... " Arin terus menjerit dan tubuhnya memberontak karena merasakan hawa panas yang membakar, sehingga membuat badan Arin berkeringat.
Sementata itu Tia dan bu Ulya tetap menggenggam kedua tangan Arin agar tak mengepal. Meski merasakan perih akibat luka lecet di jarinya karena terkena cakaran saat gadis itu memberontak.
"HAHAHA!" Arin tertawa keras saat kakinya berhasil menendang pak Imam yang tak henti membaca ayat-ayat suci al-Qur'an, sembari membulatkan mata merahnya ke arah tiga orang yang menanganinya.
Merasa kewalahan, Bu Ulya berteriak dari dalam ruangan Arin, memanggil rekan guru yang lain untuk menahan tubuh Arin yang semakin Tak terkendali.
Beberapa Siswa yang telah sadar dipindahkan ke Musholla untuk menghindari kesurupan berulang pada mereka.
Guru mulai mendatangi Ruangan Arin, dan membantu Bu Ulya serta Tia untuk menangani Arin. Perlahan energi tubuh Arin mulai melemah dan bisa dikendalikan.
"Assalamualaikum ...." Pak Imam mencoba berkomunikasi dengan Jin tersebut, namun tak digubrisnya selain tatapan dan tawa sinis yang keluar dari lisan Arin.
"Assalamualaikum, Anda islam? Tolong keluar dari tubuh anak ini!" ucap pak Imam sembari menekan-nekan jempol kaki Arin.
"Tidak ... hahah." Suara Arin berubah menjadi parau dan besar. Ia hanya tertawa sinis dan terus menatap tajam ke arah pak Imam.
Berkali-kali pak Imam mencoba meminta secara baik pada jin yang sedang merasuki tubuh gadis itu untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun Jin tersebut menolak dan mengeluarkan berbagai macam umpatan. Tanpa basa-basi lagi Pak Imam melanjutkan bacaannya yang sempat terhenti.
"Aaaaa .... aaaa ... panas ... panas ...." Arin mulai memberontak dengan energi yang sangat kuat. Keringat mulai membasahi tubuhnya yang terasa bagai terbakar.
Tia dan para Gurupun memegangi Tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga. Setelah hampir 3 jam, akhirnya energi Arin terkuras habis. Tubuhnya lemas dan tak sadarkan diri. Tia merasa sedikit lega, dan beristirahat sejenak di kursi samping tempat tidur teman sebangkunya itu.
Karena merasa haus, Tia berjalan mengambil air minumnya di dalam kelas. Setelah kembali ke ruang UKS, Tia melihat Arin belum sadarkan diri. Karena penasaran gadis itu kemudian berjalan memeriksa satu persatu kamar dalam UKS, yang baru saja ditempati oleh siswa yang mengalami kesurupan.
Namun seluruh kamar telah kosong. Dan sekarang hanyatl tinghal dia berdua dengan Arin yang masih terbaring tak sadarkan diri di ruangannya. Tak ingin terlalu lama meninggalkan teman sebangkunya, Tia segera kembali ke ruangan Arin.
"Loh, Arin sudah sadar ya?" Tia terkejut melihat teman sebangkunya itu sudah dalam posisi duduk tegak dengan tatapan kosong. Padahal saat ia mengecek kondisi Arin barusan, gadis itu masih belum sadarkan diri. Tia merasa aneh saat melihat Arin. Ia lalu menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Arin aku ambilin kamu minum dulu ya." Ia langsung berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari teman sebangkunya itu.
Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, beberapa teman sekelas Arin menjenguknya di UKS.
"Hai, Arin ...." Ucap salah seorang dari mereka sembari melambaikan tangan, mencoba mencairkan suanana yang hening dalam ruangan.
Arin tak memberi respon apapun kecuali tatapan kosong yang membuat teman-temannya yang menjenguk merasa merinding seketika.
"Nih, Rin, aku buatin air gula supaya badanmu gak terlalu lemes." Tia menyodorkan segelas kecil air gula kepada Arin. Namun gadis itu tetap tak bergeming. Bahkan tak mengedipkan matanya sekalipun. Ia hanya terus menatap lurus dengan tatapan kosong yang mengerikan.
"Rin, minum dulu ya," paksa Tia sembari kembali menyodorkan gelas tersebut kepada Arin. Namun Arin tetap tak merespon melainkan hanya menatap mereka satu persatu. Tia dan beberapa teman sekelasnya yang lain saling menatap karena merasa Aneh dengan perilaku Arin.
"Ih, Rin, rambutmu kok rontok semua sih, kasian rambut cantikmu," ucap salah seorang gadis yang mencoba memecah keheningan dengan guyonannya. Ia memunguti satu persatu helaian rambut Arin yang tersebar di kain alas tempat tidur dan memberikannya ke tangan Arin.
Arin tetap tak merespon kata-kata temannya. Ia hanya menatap helaian rambut-rambut rontoknya yang dipegang.
"Laa ... laa ... laa ... laa ... laa ..." Arin bersenandung dengan suara lirih, sembari menyisirkan rambut menggunakan jari-jarinya.
Tia dan yang lainnya dibuat terheran-heran saat tangan Arin menyisir hingga ke bagian bawah pinggangnya. Padahal rambut asli Arin hanya lebih panjang sedikit dari bahunya.
Kemudian Arin memiringkan kepalanya, sehingga rambutnya menjuntai menutupi setengah wajah gadis itu.
Tia segera merapikan rambut Arin yang menghalangi wajahnya. Namun ia terkejut saat menyibak rambut gadis itu. Wajah Arin berubah menyeramkan dengan seringai yang kian melebar.
"Hihihi ... hihihi ... hihihihi ...." Dengan mata yang merah melotot, Arin tertawa cekikikan seperti tawa khas kuntilanak. Sedang tangannya tak berhenti menyisir rambutnya yang berantakan.
"Aaaaaa ...." Tia dan yang lainnya menjerit. Mereka pun berhamburan keluar meninggalkan Arin sendiri.
-TAMAT-