Dulu waktu kecil aku pernah punya pengalaman yang menyeramkan. Mungkin pengalaman ini tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Pengalaman menyeramkan ini terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika aku menghabiskan masa kecilku di daerah Batu Nunggal.
Waktu itu aku masih berumur 8 tahun. Dulu aku tidak pernah takut apapun, termasuk kepada hantu. Dulu aku menganggap hantu itu hanya ada di dalam televisi. Akan tetapi perkiraanku itu ternyata salah.
Sore itu aku sedang bermain petak umpet bersama temanku. Aku bersembunyi di sebuah halaman rumah yang kelihatannya seperti biasa saja. Tapi asal kalian tahu, waktu itu aku bersembunyi di sebuah halaman rumah yang tidak berpenghuni alias rumah kosong, dan saat itu aku tidak berpikir apapun. Yang aku tau, aku harus bersembunyi agar tidak diketahui dan ditemukan oleh temanku.
Dari kejauhan aku mendengar suara temanku yang sedang mencariku. Aku semakin panik karena suara temanku semakin dekat. Aku mulai celingak-celinguk mencari tempat yang lain yang sekiranya tidak akan mudah untuk ditemukan temanku, sampai mataku melihat sebuah tempat yang menurutku jika aku bersembunyi di situ, pasti tidak akan pernah ditemukan, yaitu di dalam rumah tersebut. Aku bergegas masuk ke dalam rumah itu tanpa ada rasa takut dan pikiran apa-apa.
Aku masuk ke dalam rumah itu, kebetulan rumah itu tidak dikunci. Pintu rumah sudah terlihat agak rusak untuk dikunci ataupun ditutup. Aku masuk ke dalam rumah itu dan bersembunyi di dekat jendela supaya aku bisa mengintip ke luar.
Dari jendela itu aku dapat melihat jelas temanku sedang mencariku. Di belakangnya berdiri beberapa temanku yang sudah ditemukan, mereka berjalan ke arahku, yang mungkin mereka dapat melihat bayanganku di kaca. Tanpa banyak gerakan, aku pun mencari tempat yang lain untuk bersembunyi. Mataku melihat ke kanan dan ke kiri untuk melihat tempat lain.
Rumah kosong itu cukup besar dan berdebu. Lantainya sudah banyak yang rusak dan selain itu aku melihat ada beberapa furniture yang sudah tidak berbentuk lagi. Kursi tua yang reyot, lampu-lampu tua yang juga kotor.
Tiba-tiba saja mataku mengarah kepada suatu benda. Benda itu seperti kotak panjang dan tidak terlalu besar. Kotak itu tampak tersembunyi di bawah tangga rumah yang sudah hancur di bagian tengahnya, yang membuat siapapun tidak bisa naik ke lantai atas.
Aku lalu menghampiri kotak itu. Kotak panjang yang tampak sangat aman untuk bersembunyi. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalamnya. Kotak ini sangat nyaman, apalagi dasar kotak kurasakan sangat lembut.
Aku merebahkan diri di dalam kotak itu, kepalaku ditopang oleh sesuatu yang seperti bantalan penyangga. Sungguh sangat nyaman dan tenang.
Aku tiduran sambil menunggu teman-temanku menemukanku. 5 menit, 15 menit, aku mendengar suara orang melangkah dan suara teman-temanku mencariku, tapi mereka tidak bisa menemukanku. Aku senyum-senyum sendiri di dalam kotak.
Kotak panjang itu di dalamnya seperti ada kasurnya, perlahan-lahan membuat mataku terkantuk, sampai akhirnya aku pun tertidur di dalam kotak itu.
namun tiba-tiba aku terbangun karena kaget. Entah berapa lama aku tertidur di dalam kotak itu, sekarang yang kurasakan udara di dalam kotak itu semakin pengap dan aku mulai merasakan kedinginan. Tanganku mendorong kotak penutupnya, tetapi kotak yang aku tiduri itu tidak bisa terbuka. Aku terus mendorong dan memukul-mukul kotak itu, tetapi usahaku sia-sia saja.
Di tengah kepanikan tersebut, aku mendengar seperti suara orang sedang menangis. Suara tangisan seorang perempuan, tapi aku tidak tau dari mana asalnya suara itu. Waktu itu aku mengira suara tangisan itu berasal dari luar kotak, tapi ternyata bukan. Suara itu berasal dari dalam kotak ini, dan benar saja, aku baru sadar ternyata di bagian bawah kotak ini bukanlah busa, melainkan aku tidur di atas tubuh seorang manusia, aku bisa merasakan bagian-bagian tubuhnya.
Perlahan aku melihat ke bagian bawah, seraut wajah menyeramkan muncul, wajah itu berwarna gelap dan sangat menyeramkan. Wajah tersebut tertutup sebuah kain putih dengan bagian atas yang terikat. Aku kemudian memperhatikan mukanya yang lebam, dan tiba-tiba mata makhluk itu terbuka lebar menatap ke arahku. Aku tidak tau ini jam berapa, aku juga tidak tau apakah temanku masih berada di rumah ini. Saat itu aku terus teriak minta tolong.
Suasana di dalam kotak ini gelap, tapi kenapa wajah menyeramkan itu bisa terlihat jelas olehku. Samar-samar aku mendengar suara orang menangis lagi, kali ini lebih terdengar karena memang suara tangis itu berasal dari tubuh yang berada tepat di bawah tubuhku.
Aku terus mendorong penutup kotak itu, namun kotak ini masih belum mau terbuka. Aku memejamkan mata, seketika suasana menjadi hening. Aku mulai menggerakan bibirku, mulai membaca doa sambil dengan sekuat tenaga mencoba membuka kotak tersebut, dan dengan satu tendangan akhirnya kotak itu terbuka.
Aku kemudian cepat-cepat keluar sari kotak itu. Suasana dalam rumah ini sangat gelap, sepertinya aku sudah tidur dalam beberapa jam. Aku membuka pintu, dan benar saja memang sudah malam. Aku tidak tau berapa lama aku tertidur di dalam kotak itu.
Cahaya bulan menembus pintu rumah itu dan cahaya langsung menyinari kotak tempat aku bersembunyi tadi. Ternyata kotak tersebut adalah peti untuk orang mati.
Tiba-tiba kotak itu bergerak-gerak dan dari dalam kotak itu muncul sesosok makhluk yang tadi bersamaku di dalam kotak. Sekujur tubuh makhluk itu terbungkus kain kafan putih, dengan muka yang lebam dan mata yang sudah terlihat hanya bulatan hitam. Aku terus berlari dan dalam hitungan detik, dia sudah ada di hadapanku. Aku terus berlari untuk menjauhi makhluk itu. Sepertinya dia terus mengejarku.
Setelah berhasil berlari keluar dari rumah kosong itu, aku sangat kaget ketika aku sampai di rumah, ibuku menyambutku dengan tangis histeris sambil memeluk aku dan bertanya terus menerus dari mana aku, kemana saja aku, sudah makan atau belum. Tapi aku hanya terdiam melihat pemandangan itu, abangku pun lalu memeluk aku dan ayahku berkali-kali sujud syukur.
Ibuku lalu bercerita, kalo waktu itu aku sudah hilang berhari-hari lamanya dan ibu sempat menanyakan kepada semua teman-temanku, dan kata mereka aku sempat terlihat masuk ke dalam rumah kosong itu. Dari situ aku baru tau, kalo hantu itu ada dan katanya aku disembunyikan oleh mereka.
Aku masih sangat ingat kejadian itu, peti mati dan rumah kosong itu sampai sekarang masih ada di Batu Nunggal. Bahkan setiap hari aku masih sering lewat di depan rumah itu, kadang bayangan akan makhluk itu selalu hadir ketika aku melewatinya.