TAK AKAN ADA YANG TAHU BAGAIMANA KAU MATI.
***
Pukul 7.15 di rumah Naya.
"Nayaa?!" teriak suara yang sangat familiar di telinga Naya.
"Ya, Bu?" tanya Naya sambil menguap.
Semalam dia mengerjakan tugas sampai pukul 3 pagi. Jadi, sekarang dia masih mengantuk.
"Kamu ga sekolah?" tanya Ibu Naya.
"Hah?!" ucap Naya terkejut sambil melirik jam di ponselnya. "Astaga aku telat!!" teriak Naya memekkan telinga.
"Naya! Jangan teriak-teriak! Cepat mandi. Nanti Ibu antar kamu ke sekolah" ucap Ibunya.
"Baik, Bu" ucap Naya lalu bergegas ke kamar mandi.
***
Selesai mandi dan memakai seragam sekolah, Naya turun untuk sarapan.
"Habiskan makannya cepat!"
"Iya, Bu."
Setelah sarapan, Naya berangkat sekolah di antarkan oleh ibunya.
Sampai di sekolah, gerbang sudah tertutup dan siswa-siwi sudah berbaris rapi di halaman sekolah. Entah ada pengumuman apa yang mengharuskan mereka berbaris dengan rapi. Yang pasti bukan upacara, karena ini adalah hari Kamis.
Naya melirik sekitar. Tak ada orang.
'Ga sia-sia aku manjat pagar' batinnya.
Naya langsung masuk ke kelasnya dan duduk di kursi nya yang terletak di samping jendela. Tanpa terasa, Naya tertidur.
"Nay.. " ucap teman sebangku nya sambil menyenggol lengan Naya.
Namanya Lastri, dia adalah orang yang sangat baik dan keluarga nya sangat percaya hal-hal yang menurut Naya sangat mustahil terjadi. Seperti mitos dan hantu atau apa lah itu.
"Ehmhh!"
Naya membuka matanya.
"Kenapa?" tanya Naya dengan suara khas bangun tidur.
"Ada Pak Gun" ucap Lastri.
"Hahh! Kenapa tidurku selalu terganggu?" tanya Naya dengan suara pelan.
Di luar kelas, Pak Gun, guru bahasa akan memasuki kelas 12 IPA 3. Pak Gun langsung masuk ke kelas dan mengabsen muridnya.
"Kumpulkan tugas kalian di depan meja ini" kata Pak Gun sambil menunjuk meja murid terdepan dan dekat dengan meja nya.
Naya mengumpulkan tugasnya dengan berjalan layaknya zombie. Dan dia juga mengikuti pelajaran Pak Gun sambil terkantuk-kantuk.
Jam istirahat tiba. Naya tetap di kelas untuk tidur, karena tadi dia masih mengantuk.
Pelajaran berikutnya tiba. Naya tak bisa tidur lagi. Sama seperti tadi, dia berjalan sambil sesekali tertidur saat guru tak memperhatikannya.
Kringg! Kringgg!
Bel pulang berbunyi.
Siswa-siswi bergegas pulang karena langit terlihat sangat gelap, pertanda akan hujan.
"Nay.... Aku pulang dulu, ya.. Aku sudah membereskan tas mu. Nanti kamu pulang sendiri, ya" ucap Lastri sambil menepuk-nepuk pipi Naya.
Namun, Naya tetap tidak terbangun dan dia hanya menanggapi Lastri dengan gumaman tak jelasnya.
Pukul 17.00.
Sekolah sudah sangat sepi. Tapi masih ada penjaga yang berpatroli. Takut jika ada siswa yang tertinggal di kelas.
Saat sudah mengecek semua kelas yang sudah di kunci oleh siswa yang piket siang. Penjaga pun menutup pintu gerbang sekolah dan pulang ke rumah.
Malam pun tiba.
Suasana di sekolah itu semakin mencekam dan sangat sunyi.
"Hmh!"
"Aku belum pulang?" tanya Naya yang melihat di sekitarnya, dia berada di ruang kelasnya.
"Ah, untung saja tas ku sudah di bereskan. Pasti Lastri yang mengemasnya. Besok aku akan berterimakasih padanya" ucap Naya.
Tanpa melihat keluar jendela yang sudah gelap, Naya melangkah keluar dari pintu kelasnya.
"Tumben tak terkunci. Mungkin mereka melihatku masih di kelas tadi, jadi pintu tidak di kunci" gumam Naya.
Naya terus berjalan hingga tanpa terasa sekitarnya menjadi sangat gelap, dingin dan mencekam.
Dia merasa sangat berat di bagian pundaknya. Dan kaki nya pun seakan mati rasa.
"Kenapa ini??" tanya Naya pada dirinya sendiri.
Swoshh!
Ada angin dingin yang melewati Naya begitu saja.
"SIAPA?!" teriak Naya dengan badan yang gemetar.
Satu teriakan dari Naya, membuat seluruh penghuni sekolah itu keluar.
Dari balik jendela, terlihat ada bayangan hitam yang membentuk sosok kuntilanak dan ada wajah yang sangat menyeramkan juga hantu tanpa kepala yang kepalanya di pegangnya.
Dari belakang Naya, terlihat bayangan besar dengan mata merah menatapnya dengan tajam. Dari ujung lorong depan, banyak sekali hantu-hantu cilik yang berlarian ke arahnya.
Dan di dekat kakinya, terlihat seperti perawat yang merangkak meminta tolong.
"Ka-kalian hantu?!" tanya Naya dengan raut takut dan terkejut.
"KAU AKAN MATI" ucap mereka serempak.
Mereka memojokkan Naya di pinggir pembatas lorong kelas.
Naya melihat ke bawah.
'Tinggi sekali' batinnya.
"KAU AKAN MATI" ucapan itu terus terngiang-ngiang di kepala Naya, karena tak hanya ada satu. Tapi sangat banyak.
Dari atas plafon, darah menetes dan itu membuat Naya semakin ketakutan.
Naya tak memiliki tenaga lagi untuk berlari, bahkan berjalan. Dia hanya pasrah akan nasibnya.
Tanpa Naya sadari, dia telah berdiri di pembatas lorong. Naya pun terjun bebas ke bawah.
"AAARKHH!" teriak terakhir Naya yang sangat menyayat hati dan memekkan telinga.
***
Keesokan harinya.
Naya, pelajar berusia 17 tahun di sekolah xxx meninggal bunuh diri. Hasil autopsi polisi menunjukkan kalau itu murni bunuh diri dan bukan kecelakaan. Mayat Naya terlihat sudah membiru dan darah berceceran di lapangan sekolah. Dan itu membuat kegiatan sekolah terhenti selama seminggu.
Sahabatnya, Lastri. Dia sangat terpukul karena tak mengajak Naya pulang hari itu. Dia sekarang menjadi pribadi yang sangat pendiam dan selalu murung.
Hari-hari berikutnya menjadi sangat tidak nyaman bagi siswa-siswi di sekolah itu.
Tahun-tahun berikutnya, selalu ada kejadian yang mengorbankan nyawa. Entah itu kerasukan ataupun bunuh diri.
Hal itu menyebabkan terror yang sangat membekas bagi para siswa siswi di sana.
Pemerintah pun memutuskan untuk menutup sekolah itu.
***
Jadi guys'-' cerita ini terinspirasi dari sekolah SMP ku. Di sana ada cerita mistis tentang bunuh diri dan kerasukan.
Untungnya pas persami dulu ga ada hal-hal yang sampe ngorbanin nyawa. Jadi cuma ada salah satu dari kita yang pingsan. Dan ada 1 orang yang hilang selama 2 jam lebih. Tapi akhirnya ketemu kok.
Intinya hati-hati aja ya guys😉