Aku berada di sebuah gudang yang gelap dan pengap. Aku tak ingat mengapa aku bisa berada di sini. Udara di ruangan ini terasa sangat dingin dan menyegat. Aku menggosok lenganku berusaha menciptakan kehangatan.
Tiba-tiba lampu gudang menyala temaram. Saat aku berlari untuk menemukan pintu keluar, aku bertemu dengannya. Gadis dengan wajah yang hancur tak berbentuk. Rambutnya kusut, lengket dengan darah yang mengering. Gadis itu tertawa memilukan.
Ia berjalan mendekatiku, sambil membawa sebuah pisau yang di gesekkan dengan rak yang terbuat dari besi. Pisau tersebut menciptakan suara-suara yang membuat ngilu seluruh tubuhku. Semakin dekat ia berjalan ke arahku, semakin lebar pula senyumannya. Gigi-giginya yang sudah rontok sebagian membuat wajahnya tampak lebih mengerikan.
Aku berjalan mundur hingga menabrak tumpukkan kardus di belakangku. Karena rasa takut yang sudah menguasaiku, aku tersandung kakiku sendiri, membuatku jatuh di antara tumpukkan kardus.
Aku ingin berteriak tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Gadis itu semakin mendekat kearahku. Aku menatap ke bawah, ke arah kakinya. Kaki sebelah kanannya hanya sebatas lutut. Seperti di potong dengan sembarangan.
Gadis itu sudah berada di hadapanku. Aku berusaha melawannya, tapi badanku tiba-tiba terasa kaku. Akupun masih tak bisa bersuara. Ia mengangkat pisau di tangannya, dan mengarahkannya kewajahku. Pisau tersebut menggores wajahku. Darah mengalir di pipiku. Rasanya sangat sakit dan perih, hingga membuatku memejamkan mataku. Di saat itulah aku kehilangan kesadaranku.
Saat aku membuka mataku, aku berada di kamarku. Syukurlah semua hanyalah mimpi. Akan tetapi, rasa sakit di pipiku masih terasa hingga aku terbangun. Rasanya sangat nyata. Aku menyentuh pipiku dan kurasakan basah di telapak tanganku. Kulihat sekarang telapak tanganku sudah di penuhi darah.
Aku berlari ke kamar mandi untuk melihat wajahku. Kulihat daging di pipiku sudah terbuka lebar. Tanganku bergetar. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Aku segera menghubungi temanku untuk meminta bantuan.
"Halo anton, tumben banget nelpon. Ada apa?"
"Man, bisa tolong aku gak sekarang?" kataku sambil menahan sakit di pipiku.
"Oke, aku segera ke rumahmu sekarang" kata arman setelah mendengar penjelasan singkatku.
....
Kami pergi ke rumah sakit terdekat. Pipiku segera mendapakan pertolongan pertama. Aku tak pernah membayangkan bahwa aku akan mendapatkan luka jahit di wajahku.
"Kamu ngapain, bisa sampai punya luka di pipimu? Kamu motong mukamu sendiri pakai pisau?" tanya arman setelah kami kembali dari rumah sakit.
"Ya enggak lah. Kamu kira aku gila!" elakku.
"Terus, gimana bisa, pagi-pagi wajahmu sudah terpotong gitu? Apa kamu habis kelai sama maling?"
"Ini mungkin terdengar gila dan kamu gak akan percaya" kataku, dilanjutkan dengan cerita yang kualami semalam.
"Kamu bener banget. Aku gak percaya. Gimana bisa ada orang mimpi wajahnya di lukai tapi, ketika bangun luka tersebut nyata adanya. Mungkin ada orang yang masuk ke apartementmu diam-diam, dan melakukan hal tersebut ke kamu" kata arman yakin.
Kami lalu pergi ke ruang security dan memeriksa kamera cctv di sekitar apartementku. Akan tetapi, nihil. Tak ada satupun orang yang lewat, bahkan hanya sekedar mendekati apartementku pun tak ada.
****
Hari ini aku tak berkerja. Aku meminta izin karena masih memikirkan kejadian semalam. Arman sudah pulang sejak sore. Ia antara percaya dan tak percaya dengan ceritaku.
Sudah larut malam, aku memutuskan untuk memikirkan hal ini esok hari lagi.
....
Sekarang aku berdiri di persimpangan jalan. Lalu lintas berjalan normal seperti biasanya. Malam terlihat lebih gelap dari biasanya. Sebuah mobil yang tak asing, melaju kencang melanggar lampu merah. Terlihat seorang gadis tak jauh dari sana hendak menyebrang jalan. Aku berlari, berusaha mencegahnya menyeberang jalan. Akan tetapi, aku terlambat. Mobil itu lebih dulu menghampiri gadis malang tersebut. Gadis itu terlepar, berlawanan dengan sebuah bus yang melaju ke arah lain. Akibatnya seluruh tubuh gadis itu terlindas bus yang melaju kencang. Supir bus menghentikan busnya dan keluar.
Kerumunan orang-orang memenuhi sekitar gadis tersebut. Mobil yang menabrak gadis tadi, menabrak tiang listrik tak jauh dari sana. Sepertinya pengemudinya pingsan. Karena tak ada tanda-tanda ia akan keluar dari mobil.
Aku berlari kecil menghampiri kerumunan gadis malang tadi. Namun, tiba-tiba keramaian di sekitarku, membeku. Orang-orang tak lagi bersuara atau bergerak. Lalulintas berhenti. Tak ada satupun kendaraan yang lewat.
Seseorang muncul dari arah kerumunan gadis yang kuduga sudah meninggal. Ia adalah gadis berwajah hancur yang ku temui di mimpiku sebelumnya.
Apakah aku kali ini, kembali ke alam mimpi lagi? Kalau benar, aku harus segera bangun, tapi masalahnya aku tak tau bagaumana cara membuatku bangun dari tidurku sekarang.
Gadis berwajah hancur itu berjalan semakin dekat ke arahku. Dia tersenyum menakutkan dengan gigi-giginya yang rontok. Aku berjalan mundur dan berlari. Aku berusaha berlari sejauh mungkin walaupun arah yang kutuju tak tentu. Aku hanya bisa berlari untuk saat ini. Gadis itu terus mendekatiku dengan tenang.
Kakiku sudah terasa kebas. Aku tersandung terotoar dan jatuh tersungkur. Gadis berwajah hancur itu berdiri di hadapanku. Ia meraih tenganku. Kupikir ia akan membantuku untuk bangkit, ternyata aku salah.
"Kretekk.." Ia mematahkan tanganku. Rasanya benar-benar sakit hingga membuatku terbagun dari tidurku.
....
Aku memeriksakan lenganku ke rumah sakit dan melakukan foto rontgent. Ternyata aku benar, tanganku sudah patah. Dokter menyarankanku untuk melakukan operasi, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau menjalani anestesi, yang artinya aku akan terlelap. Jika aku tertidur, aku akan bertemu dengan gadis mengerikan itu. Aku tidak boleh tertidur!
Sesampainya aku di rumah aku teringat lokasi kecelakaan dalam mimpiku. Setelah kuingat lagi, lokasi itu persis seperti lokasi kecelakaan mobil yang kualami setahun lalu. Saat itu aku sedang mabuk dan aku bisa lepas dari tuntutan hukum karena aku memiliki keluarga yang lumayan berpengaruh.
Aku membuka internet di komputer rumahku. Mencari berita tentang kecelakaanku saat itu.
Ternyata dugaanku benar. Aku adalah pengemudi yang menabrak gadis dalam mimpiku tersebut. Pantas saja mobil dalam mimpiku semalam terasa tak asing.
Namanya menik. Ia hendak pulang ke rumah sehabis bimbel, pada saat itu. Naasnya ia tertabrak pengemudi mabuk yang tak bertanggung jawab dan merenggut nyawanya.
Sialnya pengemudi itu adalah aku. Artinya, gadis itu sekarang berusaha balas dendam denganku.
****
Sudah empat hari aku tak tidur karena aku tak ingin bermimpi. Kepalaku sudah sangat pusing dan mataku terasa sangat berat.
"Kamu gila ton! Gak ada orang yang sudah meninggal bisa balas dendam!" Kata arman. Ia sekarang sedang berada di apartemenku.
Arman juga sudah mengetahui semua ceritaku, walaupun ia ragu untuk mempercayainya. Memang cerita ini agak sinting untuk dipercayai.
"Aku pergi keluar dulu deh, cari makan buat kita berdua" kata arman lalu pergi keluar meninggalkanku sendiri.
Tak lama setelah arman pergi, mataku sudah tak tahan lagi untuk terbuka. Aku jatuh terlelap.
....
Aku sekarang berada di sebuah kursi. Terikat kencang hingga tak dapat bergerak.
"Halo, kamu pasti sudah mencari tau tentangku, setelah pertemuan terakhir kita" kata menik sambil tersenyum dengan gigi-giginya yang sudah hancur.
"Maafkan aku, tolong" kataku memohon.
Menik tertawa nyaring seolah-olah aku sedang mengatakan lelucon paling lucu di muka bumi ini.
"Kalau kata maaf bisa membuatku hidup kembali. Aku tidak perlu repot-repot membunuhmu" katanya di sela-sela tawanya.
Menik mengambil pisau di belakangnya. Ia menusukkannya keperutku dan menggeseknya pelan. Aku melakukan hal lain selain berteriak nyaring. Menumpahkan semua rasa sakit akubat tusuka bertubi-tubi di perutku. Menik menggesek perutku seperti menggesek biola.
....
"Ton, bangun. Kamu kenapa?"
Aku terbangun di lantai. Arman berlutut di sampingku. Salah satu tangannya mengguncang pundakku, dan tangan lainnya memegang ponsel.
"Halo, tolong segera ke alamat ini..... " arman sepertinya menghubungi ambulan. Setelah ia melihat perutku sekarang yang sudah di penuhi darah.
Tubuhku sudah lemas, tetapi aku tak boleh jatuh tertidur. Ambulan datang dan membawaku ke rumah sakit.
Dokter hendak membiusku dan menjalankan operasi darurat. Akan tetapi, aku memberontak. Aku tidak boleh tertidur. Aku tak ingin bertemu dengan menik. Ia akan membunuhku di dalam tidurku. Aku terus memberontak hingga membuat perawat memegangi seluruh tubuhku, dan aku tak bisa lagi bergerak.
Dokter lalu menyuntikkan obat anestesi ke tubuhku dan aku kehilangan kesadaranku kembali.
****
Sekarang aku terikat di atas kasur. Kulihat menik membawa sebuah pisau. Pisau itu persis sama dengan pisau yang ia gunakan sebelumnya untuk menusuk perutku. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi sia-sia. Menik sudah membuka lebar perutku. Mengeluarkan organnya dan memotongnya satu persatu menggunakan gunting taman.
Tubuhku rasanya sudah mati rasa. Kesadaranku perlahan hilang.
****
Aku berdiri di ruangan yang terasa sangat dingin. Di hadapanku terdapat sebuah kasur rumah sakut dengan pasien yang badannya di tutupi sepenuhnya dengan kain putih.
Terdapat dokter dan juga keluargaku di sini. Mereka menangis.
"Mengapa mereka menangis? Aku di sini di hadapan mereka!" pikirku.
"..... organnya sudah hancur dan beliau sudah tidak dapat tertolong lagi..... " dokter sedang menjelaskan sesuatu kepada keluargaku.
Ibuku yang menangis segera berlari menghampiri kasur rumah sakit di hadapanku. Ia menyingkap kain putih yang menutupi orang di kasur tersebut.
Aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat saat ini. Aku melihat wajahku sendiri yang pucat. Badanku terbujur kaku. Keluargaku menagis memelukku.
Di seberang ruangan, aku melihat menik berdiri sambil tersenyum bahagia. Ia lalu menghilang.
End/Selesai