Aku adalah seorang siswi di sebuah sekolah negeri di kota x, saya tipikal orang yang tidak percaya soal adanya takhayul ataupun hal-hal mistis lainnya. Memang sih dalam agamaku di ajarkan jika ada kehidupan lain selain di dunia ini dan saya juga percaya adanya hal-hal ghaib yaitu jin dan malaikat, namun di luar itu aku tidak percaya apalagi soal hantu-hantuan.
Seperti biasa, aku bangun cukup pagi untuk melaksanakan shalat subuh, berdoa dan mengaji sambil menunggu datangnya fajar. Setelah itu aku membantu orangtua untuk membereskan rumah sebelum berangkat sekolah, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi, aku bersiap-siap berpakaian dan langsung ke meja makan untuk sarapan. Aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki karena memang sekolahku tidak begitu jauh dari rumah.
Rumahku terletak di pinggiran kota yang masih asri dan masih ada kebun-kebun di sekitarnya terutama kebun pisang, rumahku berdekatan dengan rumah yang lainnya di depan dan sebelah kanan, namun di sebelah kiri terhalang sebidang tanah kosong yang dipenuhi rumput yang tidak terawat sampai merambat ke pohon-pohon disekitarnya. Memang sih ayahku sering membersihkan pinggiran yang rumah saja agar rumput tak merambat ke rumah namun sisanya di biarkan saja, toh itu bukan kebun milik kami.
Kami pun tak tahu itu kebun milik siapa dan kami pun tak ingin tahu juga sih hehehehe. Di sebelah kebun itu terdapat rumah temanku, setiap kali temanku selalu menunggu di depan rumah untuk berangkat bersama ke sekolah. Oh iya aku sampai lupa, temanku namanya Siska dan aku bernama Maya. Kami memang sangat dekat bahkan sangat dekat seperti anak kembar, kami selalu bergandengan tangan saat berjalan menuju ke sekolah. Terkadang jika kami berpapasan dengan tetangga kami selalu menyapa, tapi anehnya beberapa hari belakangan ini hanya nama aku saja yang selalu di sebutkan untuk membalas sapaan kami yang biasanya nama kami berdua yang selalu di sebut.
Hanya menghabiskan waktu 10 menit kami sudah sampai di sekolah, seperti biasanya kami menyapa pak Ujang, satpam sekolah kami. Pak Ujang selalu ramah membalas sapaan kami, karena memang kami tidak pernah datang terlambat ke sekolah. Kami masuk ke dalam kelas, tempat duduk kami bersebelahan karena memang di sekolah kami, pars siswa siswi duduk sendiri-sendiri. Beberapa hari ini, setiap pagi hari selalu saja ada bunga mawar putih yang di letakkan di meja tempat duduk Siska. Aku terkadang menggoda Siska bahwa ada penggemar rahasia yang suka pada Siska, membayangkan seperti apa pria yang menyukai Siska itu, aku terus menggoda dengan menyuruh Siska untuk menebak siapa penggemar rahasianya itu. Karena aku tahu Siska menyukai Arman, ketua kelas kami maka aku sering mengarahkan jika penggemar rahasia Siska itu adalah Arman. Siska terlihat malu-malu jika menyangkut dengan Arman hingga aku senang melihatnya dan kami pun tertawa bersama sampai seisi kelas menatap ke arah kami sehingga kami langsung menghentikan tawa kami dan tersenyum malu. Tak lama bel berbunyi, pak guru pun masuk untuk mengajar, sekarang mata pelajaran matematika, aku anak yang tidak begitu mahir tentang matematika namun sebaliknya dengan Siska yang sangat jago matematika bahkan dia mengikuti perlombaan kejuaraan cerdas cermat dalam bidang matematika se Indonesia dan dia mendapat runner-up, yah walaupun tak bisa menjadi juara satu tapi itu pun sudah sangat baik di bandingkan yang lainnya apalagi dengan aku yang bebal ini.
Waktu istirahat kami selalu pergi ke kantin, seperti biasanya kami duduk di ujung dekat tembok karena itu memang tempat favorit kami, bahkan kami menuliskan nama kami di tembok itu ' Siska & Maya, best friend forever ' dan di lingkari bingkai merah spidol permanen. Hari ini aku memesan bakso sedangkan Siska hanya memesan jus alpukat karena katanya ia tidak lapar. Sepertinya aku tahu, bukannya dia tidak lapar namun dia sepertinya melakukan diet karena memang beberapa hari ini dia terlihat agak kurusan.
Oh iya hampir lupa hari ini adalah hari pertama kami sekolah setelah 2 minggu libur sekolah setelah ujian tengah semester. Tadinya Siska bilang padaku akan liburan 2 minggu di rumah neneknya namun baru satu minggu dia sudah kembali pulang kerumahnya tapi dia hanya pulang sendirian karena orangnya dan kakaknya masih ingin berlama-lama di rumah neneknya, serta ada urusan yang harus mereka urus terkait dengan perkebunan yang mereka kelola disana, dia ingin pulang karena sudah rindu padaku kata Siska. Aku sih percaya saja, malah aku sangat senang karena bisa bermain bersama dengan Siska saat liburan. Aku memang tidak kemana-mana, aku tak akan pernah mudik karena disinilah kampung halamanku, kakek nenekku rumahnya tak jauh dari rumahku. Yah walaupun ayahku berasal dari jawa timur tapi mbah putri dan mbah kakung sudah pindah di rumahku karena kondisi mereka sudah sangat tua dan sakit-sakitan.
Setelah kembalinya Siska, aku memang menjadi sangat senang karena Siska terlihat lebih ceria dari biasanya walaupun terkadang dia selalu terdiam melamun, entah apa yang dia lamunkan setiap kali aku tegur dan tanya dia selalu mengelak. Lagipula aku tak ingin mengetahui lebih jauh, toh walaupun kita bersahabat namun kita juga punya privasi masing-masing. Yang terpenting hari ini aku dan Siska akan pergi ke taman, banyak spot foto yang indah untuk dijadikan background foto kami, aku bersiap-siap menyiapkan kamera, ponsel dan kebutuhan yang lainnya. Serta membawa bekal untuk di nikmati disana bersama Siska, aku pamit pada kedua orangtuaku dan orangtuaku berpesan untuk tak jauh-jauh ataupun ke tempat sepi. Memang di taman itu juga terdapat hutan yang cukup luas dan gelap karena banyaknya pepohonan namun ada pagar di sekeliling taman yang memberikan jarak antara taman dan hutan juga ada papan larangan masuk yang terpampang jelas di sana. Terlihat orangtuaku begitu khawatir tapi kan mereka juga tahu kalau aku tak pergi sendiri, aku pergi bersama sahabatku jadi kekhawatiran itu menurutku tidak perlu.
Ok aku berjalan menuju ke depan rumah Siska dan ternyata Siska sudah menunggu di depan gerbang rumahnya. Dia terlihat cantik dengan kaus putih panjang serta topi putih yang di kenakannya, celana jeans biru favoritnya dan sneaker putih yang kami beli bersama sebagai barang couple. Kami berangkat tepat pukul 9 pagi, Siska tak membawa apapun selain tas kecil di tangannya namun Siska membantuku untuk membawa rantang bekal yang aku siapkan.
Sampailah kami di taman yang dituju, aku menggelar tikar di depan danau yang jernih dan luas. Banyak sekali orang-orang yang menikmati keindahan alam ini, termasuk kami. Aku lalu mulai menyiapkan kamera dan kami pun berfoto bersama dan saling memfoto satu sama lain, ketika selesai dan aku membereskan kameranya, aku terus saja berbicara tanpa melihat Siska namun ketika aku menengok ke belakang tidak ada siapapun disana, aku mengedarkan pandanganku namun tak menemukan Siska. Tapi tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku hingga membuatku tersentak, aku menolehkan kepalaku dan itu ternyata Siska yang tersenyum dengan cantiknya. Dengan masih terkejut aku mencoba senyum, mungkin aku tak melihat jika Siska berada tepat di belakangku yang aku anggap Siska tidak ada di sana.
Siska mengajakku jalan-jalan di taman itu, berkeliling melihat bunga-bunga yang indah menghiasi taman itu. Masih banyak pengunjung yang berfoto, menikmati udara segar disana. Aku pun terhanyut dalam suasana, mengambil beberapa foto yang menurutku indah namun tiba-tiba aku mendengar panggilan dari Siska, aku melihat Siska sudah berada sedikit jauh dariku dia melewati zona terlarang yang di pagar. Dia melambaikan tangannya mengajakku untuk mengikutinya, aku sedikit ragu sehingga aku hanya berdiri terdiam menatap ke arah Siska yang terus melambaikan tangannya mengajakku kesana. Cukup lama dan Siska terus mengajakku sehingga aku mulai berjalan dan hendak melangkahi pagar pembatas namun sebuah tangan menepuk pundakku sehingga aku menoleh dan Siska berada tepat di belakangku. Aku terkejut karena yang aku tahu tadi Siska berada di depanku dan sekarang kenapa dia berada di belakangku? Aku kembali menatap ke depan dan benar saja tak ada siapapun di sana. Aku menurunkan sebelah kakiku yang tadi hendak melangkahi pagar pembatas. Siska kembali mengajakku berkeliling taman, aku yang masih kebingungan berjalan mengikutinya saja.
Sore harinya aku dan Siska pulang, Siska melambaikan tangannya dan masuk kerumahnya, begitupun aku yang cukup kelelahan langsung memasuki rumahku dengan gontai. Sebelum mandi aku menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur, aku memikirkan apa yang baru saja aku alami tadi di taman. Tanpa sadar aku pun memejamkan mataku, entah aku tertidur atau tidak, tapi sebuah suara membuatku tersentak terkejut hingga aku terduduk. Suara yang aku dengar adalah suara teriakan dari seseorang tepat di telingaku, entah siapa. Aku juga tak mengerti apa itu hanya mimpi atau kenyataan, aku pun tak yakin tapi jantungku berdetak kencang. Aku menatap jam dinding, ternyata sudah pukul 6 pagi, aku tak merasa telah tidur selama itu.
Aku mendengar ketukan pintu dari luar dan terdengar pula suara mama yang memanggilku untuk keluar. Aku membuka pintu, terlihat wajah mama yang cemas, mama mengajakku keluar rumah, aku mengikutinya saja. Aku melihat keluarga Siska telah kembali, namun yang anehnya mereka terlihat sangat sedih dan di sana tidak ada Siska. Aku menghampiri mereka dan tiba-tiba ibunya Siska memelukku dan menangis dalam pelukanku, sambil terisak ibunya Siska memberitahuku jika Siska mengalami kecelakaan seminggu yang lalu yang membuatnya meninggalkan dunia. Aku yang mendengarnya sangat terkejut, aku tak percaya karena seminggu terakhir ini aku selalu bersamanya, aku menangis lalu berlari ke kamarku, aku mencari-cari kameraku dimana kemarin kami berfoto bersama. Aku terus mencari dengan air mataku yang terus mengalir, ketika aku menemukan kameraku lalu aku menyalakannya untuk melihat foto-foto yang aku ambil bersama Siska di taman. Tapi apa yang aku lihat tak sesuai harapan, semua foto yang aku ambil di taman kemarin hanyalah fotoku sendiri, tak ada Siska disana hanya ada aku yang berselfie sendiri. Video yang aku ambil pun hanya ada aku sendiri yang terlihat bahagia seolah ada seseorang di sampingku. Aku langsung terduduk lemas di atas tempat tidurku, aku menangis sejadinya, aku tak percaya jika Siska sudah tiada. Mama kembali menghampiriku dan menenangkan aku, mama kembali mengajakku keluar menemui keluarga Siska untuk mengucapkan belasungkawa. Aku berjalan di bantu oleh mama karena aku merasa sulit melangkahkan kakiku, kami berjalan ke rumah Siska kembali yang disana sudah ramai orang-orang yang datang untuk berbelasungkawa. Ketika aku sudah sampai di rumah Siska, aku melihat dari kejauhan Siska yang tersenyum ke arahku dengan baju yang sama seperti baju yang ia kenakan kemarin lalu ia pun menghilang. Aku baru tahu ternyata baju yang Siska kenakan itu adalah baju dimana Siska mengalami kecelakaan, pantas saja setiap kali kami bertemu seminggu ini Siska selalu menggunakan pakaian itu yang katanya itu pakaian favoritnya namun ternyata itu adalah pakaian yang ia kenakan untuk terakhir kalinya.
Tamat