Karang Nini dan Bale Kambang adalah sebuah cerita rakyat yang telah melegenda di kalangan masyarakat Desa Emplak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Karang Nini dan Bale Kambang adalah nama sepasang batu karang yang asal muasalnya batu karang tersebut menjadi kisah turun temurun hingga jaman sekarang.
Di Desa Karangtunjang, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Desa Emplak, hiduplah sepasang suami istri bernama Aki Ambu Kolot dan Nini Arga Piara.
Aki Ambu Kolot dan Nini Arga Piara menikah sudah lama menikah. Mereka berdua hidup rukun. Keduanya tetap saling menyayangi walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi. Bahkan mereka berdua berjanji untuk saling setia... sehidup dan semati.
Tapi... walaupun Aki Ambu Kolot dan Nini Arga Piara sudah menikah dalam waktu yang lama, mereka masih belum dikaruniai seorang anak. Hal itulah yang terasa menjadi kekurangan dalam pernikahan mereka.
Aki Ambu Kolot adalah seorang nelayan. Ia adalah seorang pekerja keras. Ia sangat tekun dalam melakukan pekerjaannya. Ia sudah terbiasa pergi pagi hari, dan pulang pada malam harinya, demi mendapatkan tangkapan ikan yang banyak. Hasil tangkapan ikannya sebagian besar ia jual, sebagiannya lagi akan dimasak oleh istrinya dan ada juga yang diolah menjadi ikan asin.
Hingga pada suatu hari, Aki Ambu Kolot meminta ijin pada Nini Arga Piara untuk pergi menangkap ikan ke laut seperti hari-hari biasanya.
"Ni... Aki mau pergi melaut... tolong siapkan bekal untukku... mudah-mudahan kali ini tangkapan ikanku dapat banyak", kata Aki Ambu Kolot sambil menyantap singkong rebus dan air kopi yang telah disediakan Nini Arga Piara.
"Aki... hari ini jangan pergi melaut ya?! Hati Nini kok nggak enak terus... takut ada apa-apa sama Aki nanti ... Lagi pula kemarin Aki kan mengeluh sakit badan, jadi hari ini istirahat saja ya", kata Nini Arga Piara yang saat itu merasa berat mengijinkan Aki untuk pergi melaut.
"Ah itu hanya perasaan Nini saja dan sekarang badan Aki pun sudah terasa lebih sehat... jadi jangan khawatir ya... Kan Aki sudah puluhan tahun jadi nelayan, sudah banyak pengalaman Aki dalam melaut. Nini tenang aja... jangan punya pikiran yang aneh-aneh... do'akan saja supaya Aki selamat dan dapat ikan yang banyak" kata Aki Ambu Kolot berusaha menenangkan istrinya.
"Betulan Aki, perasaan Nini nggak enak terus... deg degan terus... nggak usah pergi ya hari ini?!... beras masih ada, lauknya pun masih ada", Nini Arga Piara masih berusaha menahan suaminya agar tidak pergi.
"Baiklah... kalau Aki tetap keukeuh mau pergi juga. Tapi ingat ya jangan terlalu memaksakan diri. Kalau Aki sudah merasa capek, cepatlah pulang,” walau dengan berat hati, akhirnya Nini memberi ijin kepada Aki untuk pergi melaut.
Setelah mendapatkan ijin dari Nini, maka Aki pun berangkat melaut dengan menggunakan perahu. Setelah tiba di tengah laut, Aki segera melemparkan kailnya yang telah diberi umpan ke dalam air laut. Dengan sabar, ia menunggu kailnya digigit ikan, ... Tapi sampai hari menjadi gelap, tidak ada seekor ikan pun yang tertangkap oleh Aki. Tidak patah semangat, ia pun mengayuh perahunya ke tempat lain dengan harapan segera mendapatkan ikan. Tapi... sampai larut malam, Aki Ambu Kolot belum juga memperoleh ikan.
Tiba-tiba muncul awan hitam di langit yang bergumpal-gumpal. Pertanda cuaca akan menjadi buruk. Tak lama kemudian terjadilah badai yang mengerikan. Aki Ambu Kolot segera mengayuh perahunya ke arah pantai. Namun belum sampai ke tepi pantai dan menyelamatkan diri, kapalnya hancur berkeping-keping terkena badai yang sangat dahsyat. Tubuhnyapun ikut terhempas badai dan hilang ditelan oleh ombak.
Keesokan harinya, setelah menjelang subuh, ia pun menyiapkan sarapan untuk Aki. Tapi Aki yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung pulang.
Nini sangat cemas, apalagi dari semalam hujan turun sangat deras.
"Ya Tuhan, lindungilah Aki... jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Aki".
Tapi sampai pagi, Aki tidak pulang juga. Akhirnya Nini pun pergi ke pantai untuk mencari Aki. Bahkan ada tetangganya yang bersimpati, ikut membantu Nini untuk mencari Aki.
Namun, sampai hari menjelang sore Aki Ambu Kolot tidak berhasil ditemukan. Bahkan sampai berhari-hari kemudian, Nini dengan beberapa tetangganya masih mencari keberadaan Aki. Tapi Aku tetap tidak ditemukan.
Nini Arga Piara sangat sedih ditinggalkan oleh suami yang sangat disayanginya.
Setelah kejadian itu, setiap hari Nini Arga Piara hanya merenung dan berdiam diri di atas batu karang berharap ada keajaiban yang datang kepadanya. Ia masih berharap suaminya bisa pulang dengan selamat.
"Ya Tuhan... pertemukanlah kembali hamba dengan suami hamba", Nini berdoa dengan dengan khusyuk diatas batu karang.
Doa Nini Arga Piara ternyata didengar oleh Tuhan. Tak lama kemudian angin bertiup sangat kencang dan air lautpun bergelombang. Setelah gelombang mereda, tepat dihadapan Nini Arga Piara munculah jasad Aki Ambu Kolot.
Nini pun menangis terisak-isak melihat tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa itu. Suami yang ia sayangi dan ia cintai sudah meninggal.
“Ya Tuhan, hamba ingin bisa bersatu selamanya dengan suami hamba. Mohon penuhilah permintaan hambamu ini sebagai bukti janji suci sehidup semati kami berdua,” Nini Arga Piara berdoa secara terus menerus dengan mengucapkan doa yang sama.
Akhirnya dia Nini Arga Piara dikabulkan, jasad Aki Ambu Kolot lalu berubah menjadi batu karang yang kemudian diberi nama Bale Kambang yang mempunyai arti batu mengambang. Sementara Nini Arga Piara yang tengah bersujud berubah pula menjadi batu karang yang diberi nama Karang Nini oleh masyarakat di sekitar tempat itu. Keduanya kembali bersama walau wujud mereka telah menjadi batu karang.
Selama berabad-abad lamanya, kedua batu karang yang saling berhadapan itu tetap kokoh. Tetapi, kira-kira pada tahun 1918, batu karang yang konon merupakan perwujudan dari Nini Arga Piara tersambar petir hingga terputus.
Sampai sekarang ini, kedua batu karang tersebut masih dapat kita saksikan. Pantai dimana terdapat kedua batu karang tersebut dinamai Pantai Karang Nini.
Kisah cinta mereka terus melegenda hingga sekarang ini.
Pesan yang dapat diambil dari cerita di atas adalah sifat setia yang dimiliki oleh Nini Arga Piara, dimana sebagai seorang istri ia selalu setia kepada suaminya. Karena kesetiaannya, Nini Arga Piara rela mendampingi sang suami walaupun berubah wujud menjadi batu karang.
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************