Pagadungan adalah sebuah desa yang awalnya terletak di selatan Desa C, kecamatan B, kab. Brebes. Konon katanya Desa Pagadungan ini menghilang pada masa penjajahan Belanda.
Ada beberapa versi cerita berbeda dari berbagai sumber yang menyebabkan desa tersebut hilang.
cerita dari sumber pertama.
Di desa Pagadungan terdapat seorang sesepuh yang sangat sakti. Saat itu, dikatakan bahwa Belanda sedang menyerang tiga kota yaitu Tegal, Pekalongan dan Brebes, semua warga luntang lantung berlari menyelamatkan diri ke hutan, goa dan gunung kecuali warga Pagadungan yang memilih untuk tetap berada di dalam desa.
Ketika itulah sesepuh desa menaburkan abu yang sudah dibacakan mantra mengelilingi desa. Abu tersebut berguna untuk membuat Desa Pagadungan menjadi kasat mata sehingga Belanda tak bisa menemukannya.
Setelah berhasil "menyembunyikan" desanya sesepuh yang sangat sakti itu memilih untuk ke luar dan ikut berperang melawan belanda. Namun nahas ia harus gugur di medan perang. Karena itulah Desa Pagadungan yang sudah terlanjut disembunyikan tidak dapat dimunculkan kembali karena sang empunya mantera telah tewas.
cerita dari sumber ke dua mengatakan,
ada anak gembala kerbau berusia sekitar 10 tahun yang gemar akan dunia atau hal hal yang berbau mistis, ia selalu bercerita dan bertanya tentang hal hal itu kepada bapa nya, bapa nya hanya memberitahu tentang pengalaman nya saja.
suatu hari saat dia pergi menggembala kerbau di hutan, dia melihat tumbuhan "mangandeh wareng"
(sejenis tanaman benalu). Tidak seperti yang biasanya, benalu ini terlihat berbeda dan juga tumbuh di pohon bambu betung. Karena keanehannya, bocah itu pun penasaran dan memetiknya lalu membawanya pulang.
Tak lupa menggiring kerbaunya masuk ke kandang, setelah itu ia langsung masuk ke rumah.
Ia mengamati benalu itu dengan seksama, daunnya berukuran lebih lebar, bunganya juga merah merekah, sama sekali berbeda dengan benalu pada umumnya. Ia menciumi wanginya dan kemudian mengalungkannya.
Di luar rumah, bapaknya pulang dari sawah dan melihat kerbau-kerbaunya sudah berada di kandang. Ia tersenyum karena anaknya yang baru berumur 10 tahun itu sudah pandai mengembala.
Ia pun segera masuk dan mencari anaknya.
Namun tak ada jawaban.
Ia berkeliling rumah mencari anaknya namun tak kunjung ketemu.
Ujang yang sedari tadi berdiri di depan bapaknya ikut bingung,
" ini saya kan di depan bapak, masak gak kelihatan?"
"di depan mana Jang? Gak ada.
Kamu ada bawa sesuatu ya dari hutan? coba dilepas dulu!"
anak itu pun baru sadar dan kemudian melepaskan benalu yang ia kenakan dan seketika ia baru terlihat oleh bapaknya.
Ia pun meletakkan benalu hutan itu di meja dan pergi ke dapur untuk makan bersama bapak dan ibunya.
"Jang, itu benalu nya jangan dimainkan, dibuang entar, kalo perlu di bakar saja," perintah bapaknya.
Setelah selesai makan, dia pun menuruti perintah bapaknya dan membakar benalu hutan itu, tapi karena kondisinya masih basah jadi sulit untuk terbakar. Ia kemudian mengumpulkan beberapa daun kering dan kayu bakar lagi agar api bisa lebih besar.
namun saat benalu itu terbakar separuh dia berubah pikiran, dan langsung mengambil kembali benalu nya lalu mengumpulkan sisa abu dari benalu yang sudah terbakar. dia berfikir benalu itu akan berguna karena pada saat dia mengenakan nya, dia menjadi tak terlihat, saat itu dia memiliki ide baik namun berakibat fatal.
Abu dari benalu hutan yang ia bakar ia tabur sedikit demi sedikit mengelilingi desa, pikiran bocah itu sederhana, "Jika memang dia bisa menghilang dengan benalu ajaib itu, mungkin ia bisa menyelamatkan desanya dari ancaman Belanda dengan "menghilangkannya".
Apa yang dipikirkannya benar dan memang berhasil. Namun masalahnya, warga yang kala itu berada di luar desa tidak dapat menemukan jalan pulang, begitu juga yang ada di dalam desa mereka belum sadar bahwa apa yang dilakukan oleh bocah 10 tahun itu telah membawa mereka masuk ke dunia lain.
Benar saja suatu hari tentara Belanda datang namun mereka hanya melewati desa begitu saja, mereka tidak berhenti sama sekali seolah-olah tidak ada apa-apa di sana. Saat itulah para warga tersadar dengan apa yang terjadi.
Menurut mitos, orang yang melewati desa tersebut hanya akan melihat lahan kosong yang luas, tidak ada rumah, tidak ada ladang, tidak ada anak itu apalagi kerbau-kerbaunya. Sehingga warga setempat menamainya "Pagadungan" - sebuah desa yang hilang.
Masyarakat sekitar percaya bahwa warga Pagadungan sebenarnya bisa keluar masuk desa dengan leluasa. Hanya saja mereka tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, mereka bahkan hidup abadi.
Setiap hari menjelang Lebaran, Pasar kecamatan B akan sangat penuh sesak dijejali oleh para pedagang kaki lima yang sibuk melayani pembeli mereka yang juga tak kalah banyak. Semua orang berbelanja di sana termasuk warga Pagadungan.
Banyak pedagang yang merasa "sial" jika harus melayani mereka karena tak jarang uang yang mereka bayarkan berubah menjadi uang koin jaman dulu yang tak lagi berharga. Bahkan ada yang berubah menjadi daun kering.
Kisah lainnya tentang warga Pagadungan datang ketika masa panen tiba. Banyak orang yang mengajukan diri menjadi buruh untuk mengarit padi, salah satunya adalah Pak (M).
Pak (M) akan sangat senang setiap bertemu dengan orang yang menawarkannya perkerjaan memanen di ladang. Saking senangnya ia bahkan tidak sadar telah masuk ke Desa Pagadungan.
Pak (M) bekerja hingga petang tiba dan mendapatkan upah berupa dua karung gabah. Tanpa menaruh curiga, Pak (M) memilih untuk membawa karungnya satu persatu karena tubuhnya yang sudah tidak kuat untuk mengangkutnya sekaligus.
Namun, ketika ia kembali untuk mengambil satu karungnya lagi ia tidak dapat menemukannya di manapun. Ia tidak tersesat, ia juga tidak pikun, ia tau persis di mana ia meletakkan karungnya tetapi masalahnya karung itu telah hilang, lengkap bersama desanya.
Warga setempat berpendapat bahwa Pak Mul sebenarnya telah bekerja di Desa Pagadungan dan ia juga sangat beruntung karena tidak ikut menghilang.
note*
cerita ini hanya cerita legenda, yang kebenaran belum pasti. saya harap yang membaca cerita ini untuk tidak terlalu jauh mencari tahu cerita ini. apalagi datang ke tempat tersebut.
terlepas dari itu kini zaman sudah modern.
jadikanlah cerita ini sebagai pengetahuan dan motivasi kita untuk tidak gegabah saat melakukan hal dan memikirkan nya terlebih dahulu.
terimakasih,
JIRAIYA,